“Raquille Noroh…? Apa maksudmu? Orang itu sudah dinyatakan mati sejak sepuluh tahun yang lalu,” kata prajurit itu tampak terkejut dengan apa yang dikatakan oleh pemuda itu.
“Mati katamu…? Bagaimana kau bisa percaya dengan hal tersebut? Aku bahkan masih sehat bugar saja sampai sekarang ini.” Dengan agak bergurau Raquille merespon pernyataan yang tidak dipercayainya oleh pemimpin prajurit itu.
Para prajurit lain yang melihat Raquille mengancam pemimpin mereka seketika langsung mengangkat senapan mereka dan menodongkan padanya.
“Tunggu dulu…! Jangan lakukan hal itu, kalian semua bukan tandingan orang ini.” Sontak pemimpin perampok itu langsung mencoba untuk menghentikan apa yang dilakukan oleh para anak bawahannya tersebut.
“Hei kalian… Kenapa kalian mau menyerangnya?”
“Apa yang kalian lakukan, dia itu telah menyelamatkan kami dari para perampok.”
“Kalau saja dia tidak ada, bagaimana nasib kami?”
“Tidak peduli walaupun jika dia bukanlah prajurit negeri ini, tapi dia yang menyelamatkan kami.”
Para warga yang melihat para prajurit yang menodongkan senapan mereka pada Raquille, sontak menjadi tidak senang dan langsung memarahi para prajurit tersebut.
Mendengar pernyataan dari para warga, prajurit-prajurit tersebut menjadi ragu untuk menembak Raquille.
“Mereka benar, orang ini yang sudah menyelamatkan para warga. Jika tidak ada dia pasti para warga akan mengalami hal yang buruk. Jadi tolong turunkan senjata kalian,” kata prajurit itu memerintahkan anak buahnya untuk menurunkan senapan mereka.
Para prajurit pun langsung mendengarkan perkataan dari pemimpinnya tersebut dan langsung menurunkan senjata mereka ke arah Raquille.
Melihat para prajurit telah menurunkan senapan mereka, Raquille pun kemudian memutar pedang yang dipegangnya tersebut, yang perlahan-lahan mulai menghilang.
“Kau belum menjawab pertanyaanku tadi tuan prajurit. Apakah Achilles Noroh adalah prajurit di negeri ini?” Tanya Raquille lagi pada prajurit itu karena pertanyaannya masih belum dijawab oleh pemimpin prajurit tersebut.
“Itu benar. Achilles Noroh adalah prajurit negeri ini sejak sembilan tahun lalu. Bahkan dia juga pernah datang kemari untuk menghentikan para perampok gunung ini,” jawab pemimpin prajurit itu.
Nampak raut wajah dari Raquille tidak terlihat terkejut, karena hal tersebut memang telah didengarnya dari Fluke. Alasannya bertanya pada pemimpin prajurit tersebut adalah untuk memastikan kembali kebenaran akan hal tersebut.
“Apa ada lagi yang ingin kau tanyakan?” Lanjut pemimpin prajurit itu bertanya balik pada Raquille.
“Tidak… Hanya itu saja yang ingin kutanyakan untuk sementara,” jawab Raquille.
Merasa Raquille sudah puas dengan jawabannya tersebut, pemimpin prajurit itu kemudian pergi mendekati pemimpin dari perampok tersebut, yang kini telah diikat oleh para warga.
“Bohrneer Flaus… Tidak kusangka setelah mengalami kekalahan karena berani melawan tuan Achilles waktu itu, sekarang pun kau mengalami hal yang lebih buruk karena telah berani melawan saudaranya. Asal kau tahu saja, orang itu bahkan jauh lebih kuat dari orang kau lawan sebelumnya.”
“Heh, sudahlah… Ini memang hari sialku. Jawab aku, apa aku akan dibawah ke Wattao dan dieksekusi disana?” Tanya Bohrneer pada pemimpin prajurit itu.
“Kurasa tidak, karena lebih baik kau berhenti menjadi perampok dan mendedikasikan dirimu pada negeri ini.”
Mendengar perkataan prajurit itu, Bohrneer sontak terkejut.
“Apa maksudmu? Mendedikasikan dirimu pada negeri ini?”
“Yah… Lebih baik kau menjadi prajurit negeri ini, karena dengan hal itu kau bisa terbebas dari semua kesalahanmu sebelumnya,” kata prajurit itu menjelaskan hal tersebut pada Bohrneer.
“Tidak… Aku tidak tertarik menjadi seorang prajurit.” Bohrneer pun sontak langsung menolak dengan mentah-mentah permintaan dari pemimpin prajurit itu.
“Hmph… Keras kepala juga kau ini yah… Tapi tenang saja, mungkin saat di perjalanan ke Wattao nanti kau mungkin akan berubah pikiran,” kata pemimpin prajurit itu sambil menarik berdiri Bohrneer dan membawanya ke dalam kendaraan.
**
“Tuan, apakah benar sebenarnya kau bukanlah prajurit negeri ini?” Tanya seorang warga pada Raquille.
“Eh… Sebelumnya maafkan aku karena sudah berbohong. Aku… sebenarnya adalah seorang pengembara. Yah… Aku sebenarnya hanya lewat di kota ini dan bertemu dengan paman Fluke. Dia mengatakan bahwa warga kota sering diganggu oleh para perampok gunung. Jadi, aku berinisiatif untuk membantu kalian yang ada disini,” kata Raquille mencari-cari alasan agar bisa dipercayai oleh orang yang bertanya itu.
“Iya itu benar, aku bertemu dengan dia kemarin. Sebenarnya aku yang pertama mengatakan bahwa dia adalah prajurit.” Lalu Fluke kemudian langsung menyambung pembicaraan mereka dan juga beralasan agar dipercayai oleh orang yang bertanya itu.
Salah satu warga itu pun nampak menganggukkan kepalanya langsung mempercayai perkataan mereka. Melihat hal tersebut Raquille dan Fluke pun terlihat langsung merasa legah.
“Paman, apa tidak usah mengatakan yang sebenarnya pada mereka?” Tanya Raquille berbisik pada Fluke.
“Tidak usah katakan pada mereka, itu juga tidak penting bagi mereka,” jawab Fluke pada Raquille dengan berbisik juga.
“Hei semuanya…! Bagaimana kalau kita membuat sebuah pesta. Karena kota kita sekarang telah terbebas dari perampok gunung?” Tiba-tiba seorang warga mengusulkan untuk membuat sebuah pesta perayaan karena kini mereka telah terbebas dari para perampok gunung.
“Itu ide yang bagus!”
“Benar sekali, aku setuju!”
Seru para warga yang setuju dengan usulan salah seorang warga tersebut.
**
“Lihat mereka semua. Mereka sekarang mau membuat perayaan atas bebasnya kota ini dari kita,” kata petinggi perampok yang bernama Heinz terlihat kesal dengan apa yang para warga katakan.
“Jadi kita semalaman akan terikat disini?” Tanya salah satu perampok.
“Yah… Ini sudah jadi nasib kita,” jawab salah satu perampok lain.
**
“Apa…? Mengadakan sebuah pesta?” Respon Raquille nampak terlihat bersemangat Raquille mendengar kata pesta.
Para warga juga terlihat mengajak para prajurit untuk membantu mereka menyiapkan pesta yang akan mereka adakan.
“Tuan, kau juga, pasti kalian masih lelah dari perjalanan kemari. Ayo ikut dengan kami.” Salah seorang warga itu sontak menarik-narik pemimpin prajurit tersebut untuk ikut dengan mereka.
“Ah tidak… Aku masih haus mengurus para perampok ini,” kata pemimpin prajurit itu ditarik oleh salah seorang warga untuk bergabung ke pesta.
“Sudalah… Ayo ikut saja dengan kami,” kata warga tersebut, memaksa pemimpin prajurit itu mengikuti pesta mereka.
“Hei… Tunggu dulu.”
***
Beberapa waktu yang lalu, setelah Raquille melepaskan serangan apinya di langit Fuegonia. Pada suatu tempat tepatnya di negeri yang bernama Blueland, negeri yang merupakan negeri asal dari Raquille. Di sebuah kastil terlihat seorang perempuan mudah berparas rupawan dengan rambut putih panjang seputih salju dan iris mata berwarna biru, yang wajahnya serta ciri-cirinya tersebut mirip dengan Raquille nampak sedang duduk pada salah satu jendela yang berada di kastil tersebut.
“Kekuatan ini…? Apakah itu dia…?” Perempuan itu seperti merasakan sebuah tekanan kekuatan yang dihempaskan oleh Raquille sebelumnya, yang dapat dia rasakan walaupun sedang berada di tempat yang jauh.
Terlihat juga, seorang perempuan cantik lain, yang penampilannya hampir sama dengan perempuan yang duduk di jendela tersebut, datang menghampirinya.
“Ada apa ibu? Apa kau merasakan sesuatu?” Tanya perempuan itu pada perempuan yang duduk di jendela, yang ternyata merupakan ibunya.
“Aku baru-baru ini merasakan tekanan kekuatan dari Raquille adikmu. Aku rasa ini memang benar adalah dia,” kata perempuan yang duduk di jendela.
“Setelah sepuluh tahun lamannya, hanya aku yang percaya bahwa dia masih hidup. Sebenarnya selama ini kemana saja kau?” Lanjut perempuan itu berkata, yang juga merupakan ibu dari Raquille.
“Apa katamu ibu? Raquille…?” Tanya anaknya tersebut, yang merupakan kakak dari Raquille, merasa terkejut dengan apa yang ibunya katakan.
“Iya, aku sangat yakin dia adalah Raquille. Aku merasakan kekuatannya berada di negeri seberang,” jawab ibunya.
“Apa kau yakin?” Tanya perempuan itu sekali lagi pada ibunya.
“Iya anakku, aku sangat yakin itu adalah adikmu Raquille,” jawab ibunya.
“Kalau begitu akan kusuruh mereka untuk menghubungi negeri seberang untuk memastikan bahwa itu memang adalah dia.”
Perempuan tersebut kemudian langsung memanggil prajurit yang berjaga di pintu masuk ruangan tersebut. Terlihat dua prajurit masuk ke ruangan tersebut saat dipanggil oleh perempuan itu.
“Ada apa tuan putri?” Tanya seorang dari mereka berdua.
“Ratu Lorraine mengatakan bahwa dia baru-baru ini dia merasakan sebuah tekanan kekuatan dari pangeran Raquille dari negeri seberang. Aku minta kalian untuk menghubungi mereka yang ada di negeri Fuegonia untuk mencari tahu apakah itu adalah dia,” jawab kakak dari Raquille.
“Tuan muda Raquille…? Eh, baik… Sesuai perintah anda, akan saya laksanakan,” kata salah satu prajurit, yang kemudian keduanya langsung pergi dari ruangan itu untuk melaporkan hal tersebut.
“Aku juga rasa bahwa beberapa World Venerate di benua ini akan merasakan tekanan kekuatan tersebut. Mereka pasti akan merasakan sebuah tekanan kekuatan yang sudah lama tidak mereka rasakan selama ini” kata ibu dari Raquille, yang bernama Lorraine.
“Aku tidak percaya ternyata dia bisa kembali lagi,” kata kakak dari Raquille, masih setengah percaya oleh perkataan ibunya.
Seorang Venerate memang sudah bisa menggunakan kekuatan observasi saat berada pada tingkatan Regional Venerate. Namun, baru pada tingkatan World Venerate kekuatan observasi mereka meningkat tajam hingga dapat merasakan tekanan kekuatan dari jarak yang sangat jauh.
Jarak kekuatan observasi dari tingkatan World Venerate sendiri bisa mencapai puluhan ribu kilometer jauhnya, sehingga bukan hal mustahil dapat merasakan tekanan kekuatan besar, yang juga dikeluarkan oleh World Venerate juga.
***
Kemudian di negeri Asimir, salah satu negeri yang berada di benua yang sama dengan negeri Fuegonia.
“Tidak kusangka… Orang ini ternyata masih hidup.” Nampak pemimpin mereka yang merupakan ras Dwarfman, yang merupakan seorang World Venerate juga merasakan tekanan kekuatan yang sama seperti yang dirasakan oleh ibunya Raquille.
***
Di negeri lain yang bernama Neodela. Seorang Fairyman juga merasakan hal yang sama.
“Selama ini, orang-orang mengira dia sudah mati. Akhirnya dia keluar dari persembunyiannya,” kata Fairyman tersebut dengan memasang ekspresi senyuman menyeringai.
***
Dan bahkan di negeri Fuegonia pun, tepatnya di kota Wattao, yang jaraknya paling dekat dari lokasi Raquille. Seorang Elfman, sama seperti Raquille merasakan hal yang sama.
“Raquille…? Ini tekanan kekuatannya…. Tempatnya tidak jauh dari sini,” kata Elfman tersebut yang sepertinya mengenal Raquille.
“Raquille katamu…?” Tanya seorang Elfman lain yang bersamanya.
“Iya, aku merasakan kekuatannya, lokasinya tidak jauh dari sini. Sepertinya dari daerah Barat Laut.”
“Barat Laut? Belum lama ini aku mengunjungi daerah tersebut, sewaktu aku berurusan dengan para perampok gunung. Bagaimana mungkin…?” Tanya salah satu dari mereka yang ternyata merupakan Achilles, orang yang sebelumnya dibicarakan oleh Raquille.
“Tidak salah lagi, ini adalah dia. Kemana saja kau selama sepuluh tahun terakhir?” Kata Elfman World Venerate itu.
Beberapa saat kemudian, seorang prajurit memasuki ruangan dari dua Elfman tersebut untuk melaporkan sesuatu.
“Salam tuan Aguirre dan tuan Achilles. Kami baru saja dihubungi dari negeri Blueland, bahwa…” Belum sempat prajurit itu menyelesaikan apa yang dia katakan, tiba-tiba perkataannya dipotong.
“Iya aku sudah tahu itu. Pasti ibuku dari negeri seberang merasakan sebuah tekanan kekuatan. Aku juga merasakannya,” kata Elfman itu, yang bernama Aguirre, yang merupakan kakak dari Raquille juga.
“Iya benar tuan, itu yang ingin aku sampaikan…. Kalau begitu aku pergi dulu tuan Aguirre dan tuan Achilles.” Setelah mengatakan hal tersebut, prajurit itu sontak langsung pergi meniggalkan ruangan tersebut.
“Aku dengar bahwa kota yang berada di Barat Laut sana sering diserang kembali oleh para perampok gunung. Kenapa kau tidak pergi kesana untuk menghentikan mereka?” Tanya Elfman yang bernama Aguirre tersebut.
“Beberapa hari lagi aku akan berangkat ke benua Greune untuk membantu mereka disana. Jadi aku memerintahkan Drakon untuk mengurus para perampok gunung itu,” jawab Elfman yang bernama Achilles.
“Greune yah… Ternyata mereka sulit sekali meruntuhkan negeri itu, sampai harus memanggil bantuan dari negeri di benua lain.”
“Iya benar juga, mungkin situasi disana memang sudah sangat parah.”
“Kalau begitu aku mau menemui tuan Barbiond dulu. Setelah itu aku mau menghubungi Drakon, untuk memastikan bahwa disana tidak terjadi sesuatu yang buruk.”
“Eh, baiklah.”
Elfman bernama Achilles itu pun kemudian langsung meninggalkan ruangan tersebut.
Pria Elfman yang bernama Aguirre tersebut adalah kakak keempat dari Raquille, serta pangeran ketiga negeri Blueland. Aguirre yang sebelumnya Raquille ketahui merupakan Venerate pada tingkatan Continent saja. Namun, kemungkinan pada sepuluh tahun terakhir saat Raquille menghilang, saudaranya itu telah berhasil menerobos ke tingkatan paling tinggi tersebut.
Dalam rana Venerate, menerobos dari tingkatan satu ke tingkatan yang lebih tinggi merupakan hal yang sulit. Bahkan, hal tersebut menjadi sangat sulit untuk Venerate yang berada pada tingkatan Continent untuk menerobos ke tingkatan World. Butuh energi yang sangat besar bagi seorang Continent Venerate untuk dapat naik ke tingkatan teratas tersebut.
***
Kembali di kota D’Swano. Terlihat Raquille, Fluke, dan pemimpin prajurit tersebut sedang duduk bersama di tengah sebuah pesta.
“Hei tuan prajurit, aku belum mengetahui namamu?” Kata Raquille menanyakan nama dari pemimpin prajurit itu.
“Namaku… Drakon… Magchora. Aku… berasal dari negeri Geracie…” Kata pemimpin prajurit itu nampak terbahak-bahak karena sedang mabuk.
“Geracie… Jauh sekali asalmu. Hei, apakah negerimu itu masih berseteruh dengan negeri Tsureya? Konflik kedua negeri merupakan salah satu yang paling terkenal,” tanya Raquille pada pemimpin prajurit yang sedang mabuk itu.
“Entahlah… Aku sudah tidak tahu… Aku pergi dari negeri itu… Karena benci perlakuan mereka pada… Orang-orang Tsureya...” Kata pemimpin prajurit itu.
“Hei nak, kau belum mabuk yah? Padahal banyak minuman yang sudah kau habiskan dari tadi,” Sontak Fluke bertanya tentang keadaan dari pemuda tersebut, yang sudah menghabiskan lebih banyak minuman dibandingkan dengan pemimpin prajurit yang bernama Drakon tersebut.
“Iya… Ini karena sihirku yang tidak bisa membuatku tidak bisa mabuk walaupun sudah menghabiskan banyak minuman dari tadi,” jawab Raquille.
Kemudian terlihat salah seorang prajurit datang menghampiri pemimpin prajuritnya yang sedang mabuk tersebut.
“Tuan Drakon, ini dari tuan Achilles, dia mau berbicara dengan anda,” kata prajurit itu pada Drakon sambil memberikan sebuah alat komunikasi.
Mendengar bahwa yang menghubunginya adalah Achilles, pemimpin prajurit itu seketika menjadi tersadar dari mabuknya.
“Apa…? Tuan Achilles…? Berikan padaku,” kata Drakon langsung mengambil alat komunikasi tersebut.
Kemudian Drakon pun menaruh alat komunikasi itu di atas meja. Saat dia membuka alat komunikasi itu, terlihat wajah dari Achilles pada layar alat komunikasi tersebut.
“Tuan Achilles…”
Mendengar bahwa orang yang menghubungi pemimpin prajurit itu adalah Achilles, Raquille pun sontak terkejut.
“Apa…? Itu adalah Achilles…?” Ucap pemuda itu agak pelan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 335 Episodes
Comments