“Ternyata yang aku lupakan tadi adalah orang ini...” Melihat pemuda bernama Rourke tersebut, Drakon kini akhirnya mengingat sesuatu yang sempat dia lupa tadi.
“Apa yang anda maksud, Tuan Rourke? Apakah kalian berpapasan dengan rombongan tuan Drakon di jalan?” Tanya salah satu orang dari anggota clan Drown.
“Sebenarnya iya… Tapi, bukan apa-apa… Lupakan saja. Lagipula walau tidak mendapatkan tumpangan, aku tetap bisa kembali sendirian kemari,” ucap pemuda dengan sedikit angkuh.
“Dan, dimana ayahku? Bukankah tadi kalian menghubungi dan mengatakan bahwa dia ingin bertemu denganku?” Lanjutnya, bertanya.
“Beliau mungkin sekarang sedang berada di ruangannya,” jawab salah satu anggota clan.
“Baiklah… Kalau begitu aku akan menemuinya sekarang.”
Kemudian pemuda itu pun turun dari kendaraannya, lalu masuk kedalam bersama dengan kedua saudaranya.
**
“Maafkan aku yang baru saja menghiraukan kalian karena tuan Rourke tadi,” kata salah satu anggota clan tersebut.
“Eh, tidak-tidak apa-apa,” balas Drakon.
“Kalau begitu akan kuantarkan kalian ke tempat istirahat kalian. Mari tuan-tuan,” kata anggota clan Drown tersebut, yang langsung mengajak mereka beranjak ke tempat peristirahatan mereka.
**
Berpindah pada pemuda bernama Rourke tersebut, yang kini memasuki sebuah ruangan. Terlihat seseorang sedang duduk di dalam ruangan tersebut, yang merupakan ayah dari pemuda itu.
Pria yang sedang duduk tersebut adalah ketua dari clan Drown, dan juga merupakan salah satu orang yang berpengaruh di negeri tersebut, dimana pria itu memiliki jabatan sebagai Premier, kepala eksekutif dari daerah Camburstile, salah satu daerah Fuegonia.
Wilayah Fuegonia sendiri terbagi atas empat belas daerah, dimana sepuluh dari keempat belas daerah tersebut, dipimpin oleh seorang Premier, yang juga merupakan pimpinan dari clan yang berada di masing-masing daerah tersebut.
“Salam ayah… Ada apa kau ingin bertemu denganku?” Tanya pemuda bernama Rourke.
“Darimana saja kau dari hari kemarin? Kenapa kau tidak terlihat di sekitar sini?” Tanya balik ayahnya.
“Aku…? Aku bersama Dierill dan Afucco pergi bermalam di pegunungan Galbrid untuk berlatih disana,” jawab pemuda itu.
“Bermalam di pegunungan Galbrid untuk berlatih...? Kau itu sudah mencapai tingkatan Venerate tertinggi… Untuk apa lagi kau harus berlatih lagi,” kata ayahnya menanggapi perkataan pemuda itu.
“Walaupun aku sudah berada di tingkatan World Venerate, namun aku tetap harus banyak berlatih lagi untuk bisa menandingi para World Venerate lain yang telah lama berada dalam tingkatan ini.” Pemuda itu sontak menanggapi balik perkataan ayahnya dengan mengatakan bahwa dirinya berlatih untuk dapat mengimbangi kekuatan dari World Venerate lainnya.
“Tapi… Kau kan tahu bahwa besok itu adalah hari yang penting untukmu,” kata ayah dari Rourke itu.
“Lupakan saja… Setelah ini persiapkan dirimu untuk besok,” lanjutnya.
Mendengar perkataan dari ayahnya, pemuda bernama Rourke tersebut hanya menanggapinya dengan senyuman tipis.
“Baik ayah… Apa sekarang aku sudah bisa pergi?” Tanyanya.
“Iya… Kau boleh pergi,” kata ayahnya.
Mendengar persetujuan dari ayahnya itu, pemuda tersebut sontak pergi meninggalkan ruangan tersebut.
**
Berpindah pada Drakon dan yang lain. Nampak mereka kini telah berada di sebuah paviliun yang berada di kediaman tersebut.
Tiba-tiba Bohrneer datang menghampiri Drakon dan bertanya. “Hei tuan prajurit… Boleh aku bertanya padamu?”
“Hmph… Apa yang ingin kau tanyakan?”
“Aku ingin bertanya, kenapa kau merahasiakan identitas kami pada orang tadi? Apa itu tidak akan terjadi masalah jika mereka mengetahui siapa sebenarnya kami ini? Lagipula, bila orang yang tadi menyerangku memang sudah mengetahui identitasku yang sebenarnya. Jika dia mengatakan kepada clannya bahwa siapa aku sebenarnya pasti kau akan terkena imbasnya,” ucap Bohrneer.
“Aku akan berbicara dengan tuan Rourke nanti, aku yakin dia masih belum mengatakan hal tersebut pada anggota clannya.”
“Karena itu… Kau mulai sekarang kau harus hormat padaku, karena secara tidak langsung kau sudah diselamatkan olehku juga. Untuk kedepannya jangan sampai identitasmu yang sebenarnya terbongkar.”
“Apa maksudmu…? Satu-satunya orang yang aku hormati sekarang adalah tuan Raquille. Untuk apa juga aku menghormatimu.” Mendengar ucapan dari pemimpin prajurit itu untuk menghormatinya, mantan pemimpin perampok itu langsung menanggapinya dengan nada tinggi.
“Apa kau bilang…? Aku ini adalah seniormu sekarang, jadi tentu kau harus menghormatiku,” balas Drakon dengan nada tinggi juga.
“Hmph… Sampai kapanpun aku tidak mau menghormatimu.”
“Oh iya… Dari tadi, saat memasuki ruangan ini, aku tidak melihat tuan Raquille bersama dengan kita.” Seketika Bohrneer menyadari bahwa Raquille tidak bersama dengan mereka.
“Benar juga… Mungkin dia berada di luar. Coba kau lihat saja.”
Bohrneer pun kemudian berjalan keluar ruangan untuk memastikan Raquille berada diluar.
Baru saja pria itu mau melangkah keluar ruangan, seketika seorang perempuan masuk dan langsung menabraknya sampai terjatuh.
“Drakon…! Ternyata kau datang kemari,” kata perempuan yang barusan datang tersebut.
Perempuan itu kemudian melompat ke arah Drakon, yang langsung membuatnya kehilangan keseimbangannya lalu terjatuh.
“Uwaah…!” Teriak Drakon.
“Nona Neyndra… Ada apa kemari…?”
“Ada apa aku kemari…? Sudah jelas aku mau menemuimu karena aku merindukanmu,” kata perempuan itu, yang sekarang berada di atas Drakon.
“Uh…” Keluh Bohrneer yang kemudian berdiri kembali.
“Hei perempuan bodoh… Berani-beraninya kau menabrakku sampai terjatuh,” keluhnya lagi, merasa kesal pada perbuatan perempuan tersebut padanya.
“Hah…? Itu salahmu sendiri kenapa menghalangi jalanku. Dan siapa juga kau?”
“Apa kau bilang? Menghalangi jalanmu…? Sini kau, biar kuberi kau pelajaran.” Mendengar perkataan kasar dari perempuan itu, Bohrneer pun langsung menarik salah satu kakinya lalu mengangkatnya.
“Aahh…! Lepaskan aku bodoh…!” Teriak Neyndra diangkat diangkat Bohrneer dari kakinya.
“Hei… Hei… lepaskan dia, kalau mereka sampai melihat ini, kau akan dalam masalah.” Drakon pun langsung menyuruh Bohrneer melepaskan perempuan bernama Neyndra itu agar tidak terjadi hal yang buruk kedepannya.
Mendengar perkataan Drakon, Bohrneer pun seketika langsung melepaskan kaki Neyndra, yang membuatnya langsung terjatuh ke lantai.
“Argh…!” Teriak perempuan bernama Neyndra tersebut jatuh ke lantai.
Melihat perempuan tersebut dijatuhkan oleh Bohrneer, Drakon kemudian dengan cepat membantu perempuan itu berdiri kembali.
“Nona Neyndra… Kau tidak apa-apa?” Tanya Drakon tentang keadaannya.
Nampak perempuan yang bernama Neyndra tersebut merasa kesakitan saat dijatuhkan oleh Bohrneer.
“Hei… Beraninya kau berbuat seperti ini padaku,” kata Neyndra yang kini bertatapan dengan Bohrneer.
“Heh… Memangnya apa yang ingin kau lakukan sekarang?” Tanya Bohrneer membalas menatap perempuan itu.
“Sudah-sudah tolong jangan seperti ini…” Drakon yang tidak tinggal diam sontak memisahkan mereka berdua.
“Kau sudahlah… Dia ini adalah putri dari pemimpin clan disini, kau tidak mau terkena masalah jika terjadi sesuatu yang buruk padanya akibat perbuatanmu… Dan nona Neyndra, kumohon maafkan orang ini. Dia ini masih baru,” lanjut Drakon memisahkan mereka.
“Kalau untukmu baiklah… Aku akan memaafkan perbuatan orang ini padaku.”
“Ayo, lebih baik sekarang kita jalan-jalan ke kota saja. Sudah lama aku tidak jalan-jalan bersamamu.” Perempuan itu sontak menarik Drakon keluar.
“Tunggu nona… Kenapa malam-malam begini kita harus jalan-jalan,” kata Drakon ditarik oleh perempuan itu.
***
Berpindah di kawasan perkotaan Novacurve. Nampak Raquille yang kini telah berada disana sedang berjalan-jalan. Ternyata selama mereka menuju ke paviliun, pemuda tersebut sudah di berada perkotaan ini.
“Waah… Padahal ini saatnya orang-orang untuk tidur... Kenapa mereka semua masih beraktivitas di luar seperti ini?” Kata Raquille terkejut melihat orang-orang yang masih beraktivitas di malam hari.
Seketika perhatian Raquille tertuju pada sebuah papan reklame besar. Dia kemudian datang menghampiri seorang pria yang berada di dekat situ untuk menanyakan tentang papan reklame tersebut.
“Permisi paman, aku ingin bertanya, apa itu sebenarnya?” Tanya Raquille menunjuk papan reklame tersebut.
“Oh itu… Itu adalah turnamen yang biasa di ikuti oleh para Venerate di setiap tahunnya,” jawab pria tersebut.
“Turnamen Venerate? Aku belum pernah mendengarnya sebelumnya,” kata Raquille.
Turnamen tersebut memang sudah diselenggarakan sejak sepuluh tahun terakhir. Setiap tahunnya negeri-negeri di benua Aizolica berpartisipasi mengutus perwakilannya untuk mengikuti turnamen Venerate tersebut.
Namun, sayangnya dikarenakan perbuatan Raquille pada sepuluh tahun lalu, membuat negeri Blueland tidak dapat berpatisipasi dalam turnamen tersebut.
Alasan lain kenapa negeri Blueland tidak dapat berpartisipasi dalam turnamen tersebut, karena ras Elfman itu sendiri. Ras Elfman dikenal memiliki kemampuan yang lebih hebat dibanding ras campuran lainnya, sehingga negeri-negeri lain di benua Aizolica menjadi ragu dan merasa akan dipecundangi oleh ras Elfman nantinya di turnamen tersebut. Namun, hal tersebut hanya sekedar rumor yang berada di dalam masyarakat.
“Turnamen itu sudah beberapa kali diselenggarakan di kota ini setiap tahunnya. Bagaimana bisa kau tidak mengetahuinya?” Tiba-tiba seseorang menyambung pembicaraan Raquille dengan seorang warga dari belakang.
Mendengar seseorang berbicara padanya dari belakang, Raquille pun sontak menoleh ke belakang melihat orang yang berbicara tersebut. Nampak seorang pemuda berambut cokelat dan mata kelabu dengan sebuah pedang menggantung dipinggangnya, yang berbicara pada Elfman itu.
“Siapa kau?” Tanya Raquille pada pemuda tersebut.
“Pertanyaan yang sama juga. Siapa kau ini? Kau tidak terlihat seperti berasal dari sini?” Tanya balik pemuda itu.
“Oh, aku baru ingat... Kalau dilihat-lihat lagi dengan seksama, kau ini mirip ras keturunan campuran yang berasal dari negeri Blueland. Apakah Elfman sebutan kalian itu?”
“Memangnya kenapa?” Tanya Raquille agak angkuh.
“Bukan apa-apa... Hanya saja agak heran jika orang sepertimu tidak mengetahui turnamen bergengsi ini.”
“Apa mungkin negerimu itu sangat terkebelakang di benua ini, sampai-sampai kau tidak mengetahuinya?” Kata pemuda tersebut menyindir Raquille dengan sedikit menghina negerinya.
“Hah…? Apa kau bilang…? Memang orang sepertimu itu harus diberi pelajaran.” Dengan kesal pemuda Elfman langsung terpancing emosinya saat mendengar perkataan pemuda tersebut.
Kemudian dia langsung menghampiri pemuda tersebut dan hendak memukulnya. Melihat hal tersebut, sontak dengan refleks pemuda itu langsung menghindarinya. Dia kemudian mengeluarkan pedangnya dan langsung menodongkannya ke leher Raquille.
“Kau mau menyerangku yah…? Sayang sekali kau salah memilih lawan,” kata pemuda itu dengan senyuman menyeringai.
Raquille yang tidak tinggal diam, langsung memegang tangan dari pemuda itu. Namun, dengan cepat pemuda itu pun kemudian langsung memutar tubuhnya, hingga membuat pegangan Raquille pada tangannya tersebut terlepas.
“Hei… Apa yang mereka lakukan?”
“Apakah ada pertengkaran?”
Respon orang-orang di sekitar datang mendekat melihat konflik dari Raquille dan pemuda tersebut.
Pemuda itu yang sekarang nampak berada di belakang Raquille sambil menodongkan kembali pedangnya ke leher Elfman itu.
“Aku penasaran dengan kemampuan ras kalian yang katanya memiliki kekuatan sihir yang setara dengan clan Silkbar,” ucap si pemuda.
“Clan Silkbar?” Tanya Raquille yang kemudian memegang pedang serta kerah baju dari pemuda itu lalu membantingnya ke depan.
“Argh…!” Teriak si pemuda terkapar setelah dibanting oleh pemuda Elfman itu.
“Aku pernah mendengar tentang mereka. Bukankah clan itu berasal dari negeri di seberang sana? Memang benar clan itu bisa menjadi saingan kami dalam hal sihir,” kata Raquille yang kemudian mengangkat kakinya hendak menginjak pemuda tersebut.
Sontak dengan cepat pemuda itu langsung memutar tubuhnya dan berdiri kembali. Dia lalu dengan cepat melompat ke belakang untuk menjaga jarak dengan Raquille.
“Aku lupa… Ternyata pedang biasa tidak bisa melukai kalian para ras campuran.”
“Kalau begitu aku harus melakukan ini.” Pemuda itu kemudian langsung mengalirkan energi pada pedangnya lalu melompat ke arah Raquille untuk menyerangnya.
“Teknik meningkatkan serangan pada senjata yah…?” Kata Raquille yang dengan santainya menanti serangan pemuda itu.
“Hentikan itu Gerhanther…!” Teriak seseorang.
Mendengar seseorang berteriak padanya, si pemuda sontak berhenti.
“Apa yang kau lakukan…? Beraninya kau mencari masalah dengan orang disini,” kata orang yang berteriak sebelumnya, mendekati itu pemuda.
“Ah, tidak… Aku hanya mau mengetes kemampuannya saja. Ternyata dia tidak seberapa,” ucap pemuda bernama Gerhanther itu.
“Apa kau bilang… Mengetesnya?” Kata orang itu dengan nada tinggi.
Kemudian orang itu mendekati pada Raquille untuk meminta maaf. “Tuan… Tolong maafkan perbuatan rekanku ini, dia ini benar-benar tidak sopan padamu.”
“Baiklah... Itu tidak masalah. Lagipula kekuatanku itu memang tidak seberapa… Tidak seberapa yang kukeluarkan.” Sontak Raquille pun memaafkan pemuda itu.
“Maafkan temanku ini karena ketidaknyamanan yang dia lakukan. Aku harap kau bisa melupakan apa yang terjadi hari ini.”
“Ayo kita pergi dari sini.” Orang itu pun kemudian langsung menarik pemuda bernama Gerhanther tersebut pergi dari tempat itu.
“Heh… Aneh sekali orang itu, beraninya dia mencari masalah denganku di depan umum seperti ini,” kata Raquille.
***
Di tempat yang tidak jauh dari lokasi Raquille, terlihat Drakon bersama dengan perempuan yang bernama Neyndra.
“Nona Neyndra, kenapa kita kemari malam-malam begini?” Tanya Drakon.
“Hei, jika kau ingin melihat-lihat keindahan kota ini, kau harus datang di malam hari,” jawab Neyndra sambil menggandeng tangan pria itu.
”Tetapi… Aku tidak tertarik pada keramaian.”
“Tak usah takut, aku akan melindungimu dari keramaian.”
“Apa? Aku hanya tidak suka berada di keramaian saja, bukannya merasa takut,” kata Drakon.
Lalu terlihat tiga orang yang mereka lewati, seperti mengenal mereka berdua.
“Ternyata itu kau yah, Drakon,” kata seorang perempuan dari tiga orang tersebut.
Mendengar seseorang seperti berbicara padanya dari belakang, pria itu pun menoleh ke belakang. Nampak ekspresi dari Drakon tiba-tiba terkejut setelah melihat orang-orang itu.
“Dimira… Erklis… Athira…”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 335 Episodes
Comments