“Ada apa tuan menghubungi kami saat ini? Apakah terjadi sesuatu?” Tanya pemimpin prajurit yang bernama Drakon itu pada atasannya Achilles.
“Aku ingin mengatakan bahwa sebelumnya Aguirre merasakan tekanan kekuatan yang besar dari daerah Barat Laut sana. Apakah disana terjadi sesuatu yang aneh?” Tanya Achilles pada pemimpin prajurit yang bernama Drakon itu.
Mendengar hal tersebut, seketika pemimpin prajurit itu teringat pada serangan elemen api dari Raquille yang sempat melubangi awan siang tadi.
“Tuan Achilles, sebenarnya sebelum kami sampai di kota ini, para perampok gunung itu telah dikalahkan oleh seseorang.”
“Dikalahkan oleh seseorang? Apa mungkin dia…”
Tiba-tiba perkataan Achilles terpotong saat melihat seseorang yang dia kenal telah berada di layar alat komunikasi tersebut.
“Orang itu adalah aku,” kata Raquille kini telah berdiri di sebelah Drakon tepat di depan layar alat komunikasi tersebut.
“Raquille…. Itukah kau?” Tanya Achilles, nampak tidak percaya melihat saudaranya dari layar komunikasi.
“Kakak… Aku tidak menyangka, ternyata kau sudah menjadi prajurit Fuegonia,” gumam Raquille.
“Tuan Achilles, dia benar adalah Raquille. Dan dia yang mengalahkan para perampok…”
Perkataan Drakon sontak langsung terpotong saat menjelaskannya pada Achilles karena tiba-tiba Raquille mematikan sambungan komunikasi mereka.
***
“Hei… Tunggu dulu…” Kata Achilles terkejut karena sambungan komunikasi mereka tiba-tiba terputus.
***
“Hei… Kenapa kau mematikannya?” Tanya Drakon terkejut, tiba-tiba pemuda itu mematikan sambungan komunikasinya dengan Achilles.
“Aku tadi mendengar bahwa kakakku Achilles menyebut Aguirre. Apakah kakakku Aguirre juga telah menjadi prajurit Fuegonia? Jawab aku?” Tanya Raquille dengan ekspresi yang serius pada Drakon.
“Itu benar, tuan Aguirre juga sekarang merupakan prajurit Fuegonia,” jawab Drakon.
“Dan juga, sejak kapan seorang Continent Venerate bisa merasakan tekanan kekuatan dari tempat yang jauh? Ibukota Fuegonia jaraknya sekitar tiga ribu mil dari tempat ini, Continent Venerate tidak bisa merasakan tekanan kekuatan dari jarak sejauh itu.”
“Jadi kau belum mengetahuinya yah… Bahwa tuan Aguirre merupakan wakil pemimpin negeri ini,” kata Drakon menjelaskannya pada Raquille.
“Wakil pemimpin negeri ini?”
“Iya tuan Aguirre menjabat sebagai letnan jendral gubernur negeri Fuegonia.”
“Begitu yah, kukira para saudaraku menjadi budak di negeri ini.” Mendengar hal tersebut Raquille seketika memasang ekspresi tersenyum menyeringai dan nampak menjadi bersemangat.
“Tapi, yang membuatku lebih tertarik adalah dia sekarang telah menerobos ke tingkatan World Venerate… Jadi selama ini dia tidak mau kalah denganku yah... Aku penasaran bagaimana caranya dia bisa menerobos ke tingkatan World Venerate,”
“Hei, kapan tepatnya Aguirre Noroh menjadi World Venerate?” Tanya Raquille lagi.
“Aku tidak tahu pastinya. Setahuku saat aku menjadi prajurit Fuegonia sekitar lima tahun yang lalu, tuan Aguirre merupakan World Venerate,” jawab Drakon.
“Memangnya ada apa kau menanyakan hal itu?”
“Tidak… Aku hanya penasaran saja bagaimana dia bisa mencapai tingkatan tertinggi. Itu kan merupakan hal yang sulit.”
“Benar juga aku juga penasaran,” kata Drakon dengan menganggukkan kepalanya.
“Tapi, disamping itu, kenapa kau tiba-tiba mematikan sambungan komunikasi kami tadi?”
“Ah, tidak… Aku hanya merasa canggung saja, jadi kumatikan saja sambungannya.” Dengan tersenyum sambil menggaruk-garuk kepalanya dengan polosnya dia mengatakan hal tersebut pada pemimpin prajurit itu.
“Apa…! Apa kau bodoh…! Kami masih mau membicarakan sesuatu, dan kau berani-beraninya mematikan sambungan komunikasi kami.” Dengan nada tinggi Drakon memarahi Raquille karena memberikan alasan mengada-ada padanya.
“Hei tenang dulu, tadi itu aku tidak sengaja melakukannya,” kata Raquille sambil menepuk-nepuk punggung Drakon yang terlihat marah.
***
Kembali pada Achilles, yang berada di kota Wattao. Nampak dia datang menemui Aguirre dalam suatu ruangan untuk mengatakan apa yang dia lihat sebelumnya.
“Itu benar dia, aku melihatnya bersama dengan Drakon berada di kota D’Swano. Selain itu, Drakon juga mengatakan bahwa Raquille lah yang telah mengalahkan para perampok gunung sebelum sampai disana.”
“Hanya melawan para perampok gunung saja dia bahkan sampai mengeluarkan kekuatan yang besar. Apa mungkin dia mau menunjukkan kepada para World Venerate di benua ini bahwa dia telah kembali?”
“Mungkin saja dia berniat ingin membuktikan pada dunia bahwa dia telah kembali setelah menghilang entah kemana selama sepuluh tahun terakhir.”
Setelah mendengar yang dikatakan oleh Achilles, Aguirre pun terpikir akan sesuatu.
“Kakak… Apa mungkin jika lebih baik dia tidak usah kembali ke Blueland, dan lebih baik kita merekrutnya saja menjadi prajurit negeri ini?” Tanya Aguirre pada Achilles.
“Apa? Bergabung menjadi prajurit Fuegonia maksudmu?” Tanya Achilles terkejut mendengar apa yang dikatakan oleh Aguirre.
“Iya benar, dengan dia bergabung menjadi prajurit Fuegonia itu dapat meningkatkan kekuatan tempur negeri ini.”
“Memangnya hal itu bisa disetujui oleh tuan Barbiond?” Tanya Achilles tidak yakin dengan yang dikatakan oleh Aguirre.
“Soal itu biar aku yang urus.” Kata Aguirre meyakinkan Achilles.
“Tunggu dulu… Apa tujuanmu dengan dia bergabung menjadi prajurit negeri ini? Apa hanya untuk menambah kekuatan Fuegonia?” Tanya Achilles dengan serius.
“Alasan lain aku ingin merekrutnya menjadi prajurit Fuegonia adalah untuk menambah kekuatan tempur kubuh barat pada perang di benua Greune. Kau tahu kan bahwa Raquille memiliki banyak kekuatan besar yang disembunyikannya.”
“Apa…? Jadi tujuan utamamu adalah itu?” Mendengar hal yang dikatakan oleh Aguirre, Achilles pun nampak lebih terkejut lagi.
“Yang kita ketahui saat ini bahwa kekuatan kubuh timur itu tidaklah main-main, jumlah World Venerate mereka yang turun ke medan perang itu bahkan lebih banyak dari kubuh barat,” kata Aguirre menjelaskan hal tersebut pada Achilles.
“Hmph… Kurasa kau ada benarnya, mungkin juga jika dia ikut dalam perang ini dan berhasil meraih kemenangan mungkin itu akan membersihkan pendapat buruk orang-orang tentang dia,” kata Achilles tersenyum mengerti dengan penjelasan yang dikatakan oleh saudaranya tersebut.
“Benar sekali… Itu juga yang telah kupikirkan,” kata Aguirre tersenyum menyeringai.
***
Kembali di kota D’Swano, terlihat para warga kota tersebut masih belum selesai berpesta. Tampak raut wajah ceria dari para warga yang sudah lama tidak mereka rasakan karena ancaman dari para perampok gunung.
Beberapa warga kota tersebut, terlihat berpesta sambil menari bersama dengan ekspresi wajah yang ceria.
Lalu di dekat lokasi pesta tersebut nampak Drakon serta para prajurit bawahannya sedang membawakan makanan untuk para perampok yang tertangkap.
Beberapa prajurit membuka pintu belakang pada beberapa kendaraan mereka, yang merupakan tempat ditahannya para perampok gunung. Mereka kemudian mengeluarkan para perampok yang telah terbelenggu dengan sebuah borgol di tangan mereka semua.
Para perampok tersebut kemudian diarahkan untuk duduk berjejer di tanah lalu para prajurit kemudian memberikan wadah yang telah berisi makanan di atasnya tepat di depan para perampok itu.
“Ayo makanlah, bagaimana pun juga kalian masih tetap manusia, kalian harus makan,” kata Drakon menyuruh para perampok untuk makan.
“Bagaimana kami bisa makan jika tangan dan kaki kami masih diborgol seperti ini?” Bohrneer pun langsung beralasan agar borgol mereka dilepaskan.
“Benar juga yah… Lepaskan borgol mereka semua.” Mendengar hal itu Drakon pun mengikuti perkataan dari pemimpin perampok itu, dia kemudian memerintahkan para prajuritnya untuk melepaskan borgol para perampok agar mereka dapat memakan makanan yang diberikan tersebut.
“Tapi, bagaimana jika mereka melarikan diri?” Tanya salah satu prajurit ragu untuk melepas borgol dari para perampok.
“Memangnya kau mau menyuapinya?” Kata Drakon.
“Tak perlu khawatir, aku akan memperhatikan mereka sampai mereka selesai makan. Terutama untuk kedua orang ini,” lanjutnya sambil menunjuk Bohrneer dan Heinz.
Mendengar hal tersebut, para prajurit kemudian satu per satu melepaskan borgol dari para perampok.
“Kalau saja bukan karena borgol ini, kau pasti sudah…”
“Sudah apa…?” Tiba-tiba Raquille datang menghampiri mereka semua.
Terlihat raut wajah dari pemimpin perampok itu langsung menjadi ketakutan saat melihat Raquille berada di dekatnya.
“Ada apa kau datang kemari? Kau tidak berpesta dengan para warga?” Tanya Drakon pada Raquille, yang memperhatikan para perampok gunung.
“Aku mau juga mau berjaga disini, sekaligus memperhatikan mereka yang sedang makan, supaya mereka tidak mencoba untuk melarikan diri,” kata Raquille.
“Heh… Dengan aku saja disini, mereka itu sudah ketakutan. Bagaimana bisa mereka mau mencoba untuk melarikan diri?”
“Kau yakin?” Kata Raquille agak meledek.
“Iya…” Balas Drakon dengan nada agak tinggi.
“Oh iya, memangnya mereka setelah ini mau diapakan?” Tanya Raquille pada Drakon.
Mendengar pertanyaan dari Raquille, Drakon pun langsung mengeluarkan pedangnya dan langsung menodongkan kepada salah satu leher perampok.
“Kami akan menjual mereka ke benua seberang untuk dijadikan objek penelitian para manusia disana.” Pemimpin prajurit itu sontak menakut-nakuti para perampok dengan gurauannya tersebut.
“Tuan… Tolong jangan mengirim kami ke benua seberang, kami masih ingin untuk hidup. Kalau begitu biarkan kami bergabung menjadi prajurit saja.” Para perampok sontak menjadi sangat ketakutan dan meminta ampunan pemimpin prajurit itu setelah mendengar bahwa mereka akan dibawah ke benua seberang.
Bohrneer, pemimpin mereka yang tidak terpengaruh akan perkataan dari Drakon, sontak langsung memukul kepala salah satu dari anak buahnya disebelahnya itu, yang memohon ampunan kepada Drakon.
“Dasar bodoh…! Dia itu hanya menggertak kita agar kita mau bergabung menjadi prajurit negeri ini.” Kata Bohrneer dengan nada yang tinggi.
“Hahahaha…! Bagaimana jadinya jika memang benar kalian akan dikirim ke benua seberang. Mungkin kalian akan memiliki dua pasang tangan, dua pasang kaki atau bahkan lebih buruk lagi.” Dengan tertawa pemuda itu tampak mengejek para perampok tersebut.
“Ternyata kau masih berpegang kuat dengan prinpsipmu itu yah… Tapi aku pasti akan membuatmu berubah pikiran agar kau mau menjadi prajurit negeri ini,” kata Drakon pada pemimpin perampok itu.
“Sudahlah… Tak usah banyak omong, aku sudah selesai makan. Ini cepat kau borgol lagi tanganku, selagi aku masih belum memiliki niatan lagi untuk kabur dari tempat ini,” kata pemimpin perampok itu yang mengangkat tangannya untuk diborgol kembali.
“Cepat sekali kau selesai makan,” kata Drakon, yang kemudian langsung memborgol tangan pemimpin perampok itu kembali.
**
Setelah para perampok selesai makan dan kemudian diborgol kembali serta dimasukkan kembali ke dalam kendaraan, Raquille lalu menarik Drakon mengikuti pesta kembali.
“Hei, tuan prajurit, mereka kan sudah selesai makan, kalau begitu ayo kita lanjutkan pestanya,” kata Raquille sambil menarik Drakon.
“Hei… Apa yang kau lakukan?” Kata Drakon, ditarik oleh Raquille.
–7 Juni 3029–
Beberapa saat kemudian kembali ke dalam pesta. Disitu terlihat Raquille, Drakon serta Fluke duduk bersama.
“Hahahaha…! Tuan prajurit kau mabuk lagi kan?” Raquille nampak tertawa setelah melihat pemimpin prajurit itu kembali mabuk.
“Apa…? Tidak… Aku…” Kata pemimpin prajurit itu terlihat sudah mabuk berat.
“Paman… Kapan pesta ini berakhir?” Tanya Raquille pada Fluke yang duduk bersama-sama dengan mereka.
“Entahlah… Mungkin sebentar lagi, karena sepertinya matahari sudah mulai terbit?” Kata Fluke.
“Tapi paman, dari tadi malam kau tidak minum?” Tanya Raquille.
“Tidak, aku tidak menyukai minuman keras, kalian saja yang minum. Itu kan tidak menyehatkan,” kata Fluke.
“Hahahaha…! Paman walaupun kau tidak minum minuman keras, tapi dari tadi malam kuperhatikan kau tidak berhenti memasang rokokmu. Itu kan juga tidak menyehatkan.” Mendengar gurauan dari pria itu, Raquille sontak kembali tertawa.
“Hei… Aku… Tidur dulu…” Kata Drakon yang telah mabuk berat dan langsung tertidur.
Belum lama prajurit itu tidur, alat komunikasi di kantongnya pun berbunyi.
“Hei nak, alat komunikasi dari prajurit itu berbunyi,” kata Fluke.
“Iya, coba kulihat dulu.” Raquille kemudian mengambil alat komunikasi di dalam kantong baju Drakon, lalu membukanya.
Setelah dia mencoba membuka alat komunikasi itu, dia melihat bahwa yang orang menghubungi ke alat komunikasi itu adalah Achilles.
“Ini dari Achilles, atasannya.”
“Coba kau yang angkat saja, mungkin itu penting, lagipula itu juga adalah saudaramu kan?” Kata Fluke menyuruh mengangkat panggilan tersebut.
“Baiklah, akan kuangkat.” Raquille pun langsung menerima panggilan dari Achilles tersebut.
“Raquille…? Kenapa kau yang mengangkatnya? Dimana Drakon?” Tanya Achilles.
“Dia sedang tidur, karena sudah mabuk berat,” jawab Raquille.
“Dia sedang tidur?” Tanya Achilles lagi.
“Percuma saja membangunkannya, dia sudah mabuk berat. Dia tidak akan langsung tersadar seperti tadi malam saat kau menghubunginya.”
“Kalau begitu aku tutup saja yah...” Kata Raquille, ingin menutup sambungan komunikasi mereka.
“Tunggu… Jangan dimatikan dulu, ada yang ingin aku bicarakan denganmu sebenarnya.” Mendengar hal tersebut, Achilles pun sontak menghentikan Raquille untuk mematikan sambungan komunikasi mereka.
“Ada apa? Apa yang kau bicarakan denganku?”
“Iya, tujuanku menghubungi Drakon kembali sebenarnya adalah ingin berbicara denganmu.”
Mendengar bahwa tujuan dari Achilles menghubungi Drakon karena ingin berbicara dengannya, pemuda itu seperti menduga sesuatu.
“Ah, aku tahu itu. Kau menghubungi pasti untuk mengatakan bahwa ibu ingin aku kembali ke Blueland secepatnya? Iya-iya aku secepatnya pasti akan…”
“Bukan… Bukan itu yang ingin aku katakana,” kata Achilles, yang memotong perkataan Raquille.
“Hah…? Lalu apa yang ingin kau bicarakan?” Tanya Raquille bingung.
“Begini… Jadi saat ini di benua Greune telah terjadi sebuah peperangan yang besar. Dan negeri Fuegonia membantu salah satu kubuh pada peperangan itu. Kami berniat…”
“Hei… Apa yang kau bicarakan ini? Tak usah bertele-tele, langsung saja apa tujuanmu menghubungiku. Kalau tidak akan kumatikan sambungan komunikasi ini,” kata Raquille membalas memotong perkataan Achilles.
“Baiklah, aku akan langsung ke intinya saja… Hari ini kau ikut dengan rombongan prajurit Fuegonia yang ada di kota D’Swano sekarang menuju ke kota Wattao, ibukota Fuegonia. Karena aku ingin kau bergabung menjadi prajurit Fuegonia,” kata Achilles yang langsung mengatakan tujuannya pada Raquille.
“Apa…? Kau ingin aku menjadi prajurit Fuegonia katamu?” Mendengar perkataan dari Achilles, sontak langsung membuat pemuda itu terkejut.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 335 Episodes
Comments