“Iya, bergabunglah ke Fuegonia,” kata Achilles pada Raquille.
“Tidak… Aku tidak mau.” Raquille pun langsung menolak mentah-mentah permintaan dari Achilles tersebut.
Nampak ekspresi dari Achilles terlihat tidak terkejut karena sebenarnya dia sudah menduga bahwa adiknya tersebut memang akan berkata seperti itu.
“Hei… Aku bukan hanya sembarangan mengatakan hal ini. Semua ini demi kebaikanmu.” Namun Achilles pun langsung meyakinkan Raquille.
“Apa yang demi kebaikanku?” Tanya Raquille dengan nada yang tinggi.
“Dengar… Kemarin kau mengeluarkan tekanan kekuatan yang besar saat bertarung dengan para perampok gunung kan? Itu cukup kuat untuk dapat dirasakan oleh para World Venerate yang berada benua ini.”
“Jadi…? Memangnya kenapa?” Dengan angkuh pemuda itu menanggapi perkataan dari saudaranya tersebut.
“Memangnya kenapa…? Apa kau itu bodoh? Apa kau sudah lupa tentang apa yang kau perbuat sepuluh tahun yang lalu? Bagaimana kau membunuh rekan-rekan Guardianmu, dan apakah orang-orang yang berhubungan dengan mereka itu akan melupakan hal yang kau lakukan tersebut?” Kata Achilles dengan nada tinggi menjelaskan hal tersebut pada Raquille.
Mendengar Achilles mengatakan hal tersebut, Raquille pun sontak langsung terdiam dan tidak bisa mengatakan apapun.
“Dengar… Kau harus menjadi prajurit Fuegonia dan pergi ke benua Greune. Saat ini, hanya itu yang bisa menghilangkan… Setidaknya sedikit pemikiran buruk orang-orang terhadapmu,” kata Achilles memohon pada Raquille.
“Jadi seperti itu yah…” Mendengar hal tersebut, Raquille termenung memikirkan peperangan tersebut.
“Raquille, ini juga demi Blueland. Aku dan Aguirre pada awalnya hanya terpaksa bergabung dengan Fuegonia, demi untuk bisa melindungi Blueland,” kata Achilles meyakinkannya.
“Baiklah akan kupikirkan dulu… Kalau begitu aku tutup dulu sambungan komunikasinya.” Setelah mengatakan hal tersebut pemuda itu langsung mematikan sambungan komunikasi mereka.
“Majulah… Fuegonia,” kata Drakon mengigau.
“Heh… Sialan dengan Fuegonia mu itu.” Mendengar pemimpin prajurit itu tiba-tiba mengigau, Raquille langsung pun mengumpatinya.
***
“Jadi, apakah dia setuju dengan hal tersebut?” Nampak Aguirre pun datang menemui Achilles di suatu ruangan dan langsung bertanya padanya.
“Entahlah… Dia mengatakan bahwa dia akan memikirkannya terlebih dahulu,” jawab Achilles, sedang duduk di ruangan tersebut.
“Tapi, aku memiliki firasat bahwa dia akan bergabung dengan kita.” Aguirre pun percaya bahwa saudaranya itu akan menerima usulan mereka.
“Kuharap seperti itu juga.”
Tak lama kemudian terlihat seorang prajurit datang tergesa-gesa menemui mereka berdua. Sepertinya, prajurit tersebut akan melaporkan sesuatu yang penting pada mereka berdua.
“Maaf mengganggu tuan Aguirre, dan tuan Achilles.”
“Iya, ada masalah apa?” Tanya Achilles.
“Para pasukan kubuh barat baru saja mengalami kekalahan dari kubuh timur di kota Swaraw, negeri Frieden. Fuegonia diminta untuk mengirimkan bantuan segera mungkin,” jawab prajurit tersebut.
“Apa…? Secepat inikah? Padahal baru beberapa hari lagi persiapan kita selesai untuk berangkat kesana.” Achilles pun langsung berdiri dari kursinya dan terkejut mendengar laporan dari prejurit itu.
“Ini darurat... Tuan Barbiond meminta anda untuk segera mengerahkan pasukan untuk berangkat ke benua Greune sekarang juga untuk membantu tuan Cyffredinol dan pasukannya disana.”
“Separah itukah keadaan disana?” Achilles nampak bertanya-tanya tentang keadaan peperangan yang berada di benua Greune tersebut.
“Baiklah… Kau boleh pergi sekarang,” lanjutnya menyuruh pergi prajurit tersebut.
“Baik tuan.” Prajurit sontak langsung pergi meninggalkan mereka berdua.
“Jadi kau harus pergi yah...? Ternyata kubuh barat memang sudah sangat terdesak.”
“Aku malah lebih mengkhawatirkan Cyffredinol yang berada disana. Apa dia baik-baik saja?”
“Bagaimana keadaannya disana yah…?” Kata Aguirre bertanya tentang salah satu prajurit Fuegonia yang bernama Cyffredinol, yang berada di benua Greune.
Prajurit yang bernama Cyffredinol tersebut juga merupakan saudara dari Raquille, dimana dalam urutan usia dari saudara-saudara Raquille, Cyffredinol lah yang merupakan kakak tertua, kemudian dilanjutkan Ackerlind, yang merupakan satu-satunya saudara perempuan Raquille, yang juga satu-satunya saudaranya yang masih berada di negeri mereka. Lalu Achilles, yang merupakan kakak ketiga serta Aguirre kakak termuda dari Raquille.
Selisih usia dari Raquille serta saudara-saudaranya tersebut, semuanya terpaut tiga tahun. Namun, dikarenakan Raquille telah melompati waktu ke sepuluh tahun kemudian, selisih usia Raquille dengan Aguirre menjadi terpaut tiga belas tahun.
“Kalau begitu, nanti kau urus Raquille, jika dia memang akan datang kemari,” kata Achilles.
“Tapi… Jangan sampai kau menantang tuan Barbiond kembali saat kalian berbeda pendapat tentang Raquille. Aku tidak mau kota Wattao ini hancur akibat pertarungan kalian, apalagi jika anak itu juga ikut campur,” lanjutnya.
“Tenang saja kakak, itu tidak akan terjadi… Dan kau hati-hati disana. Jangan sampai aku yang harus turun tangan juga untuk datang kesana menolongmu,” kata Aguirre pada Achilles.
“Kau tenang saja itu juga tidak akan terjadi.” Dengan percaya diri pria itu mengatakan hal tersebut pada adiknya itu, kemudian meninggalkannya.
***
Kembali lagi di kota D’Swano, terlihat Raquille sedang duduk santai menatap langit pagi, memikirkan tentang apa yang dikatakan oleh saudaranya tadi.
Tak berapa lama kemudian, Fluke datang menghampirinya.
“Hei nak, apa yang sedang kau pikirkan?” Tanya Fluke melihat pemuda tersebut seperti memikirkan sesuatu.
“Tidak paman… Aku hanya merasa ragu,” jawabnya.
“Merasa ragu?”
“Iya, aku ragu apakah aku harus mengikuti apa yang dikatakan saudaraku tadi atau tidak?” Katanya yang masih memikirkan hal yang dikatakan oleh Achilles.
“Memangnya, apa yang dia katakan padamu sebenarnya?”
“Kakakku mengatakan bahwa aku harus menjadi prajurit Fuegonia. Awalnya aku menolaknya, tapi setelah dia mengatakan tentang perbuatanku, yah… Sekitar sepuluh tahun lalu, aku pun merasa tidak punya pilihan lagi selain harus menerima permintaannya itu,” kata Raquille menjelaskannya pada Fluke.
“Jadi begitu rupanya, kenapa kau sekarang bisa terlihat murung seperti ini?”
“Paman... Apa pendapatmu tentang ini?” Tanya Raquille.
“Pendapatku? Untuk apa mendengar pendapat dari seorang pria tua sepertiku ini?”
“Maksudku, pendapatmu sebagai seorang manusia… Yang sudah mengetahui tentang perbuatanku sebelumnya.”
“Dari pandanganku… Yah… Apa yang pernah kau perbuat itu, memanglah sangat sulit untuk bisa dimaafkan. Tetapi, ini masih belum terlambat untuk mengubah pandangan buruk orang-orang terhadapmu. Kau harus membuat orang-orang mempercayaimu lagi bahwa kau ini sebenarnya merupakan orang yang baik,” kata Fluke menasehati pemuda itu.
“Hah… Mendengar apa yang kaukatakan, membuat kegelisahanku menjadi berkurang. Terima kasih paman, sudah membuatku agak lebih bersemangat lagi.” Nampak Raquille sekarang terlihat kembali bersemangat setelah mendengar nasehat dari pria itu.
“Sudahlah… Itu bukan apa-apa, dibandingkan dengan apa yang kau lakukan untuk menyelamatkan kami di kota ini.”
“Baiklah paman… Sudah kuputuskan bahwa aku akan bergabung dengan Fuegonia.” Pemuda itu kemudian berdiri.
“Jadi… Kau mau pamit sekarang?” Tanya Fluke.
“Iya paman, maaf yah aku pergi terlalu cepat. Aku akan pergi bersama-sama dengan rombongan prajurit itu.”
“Hah…? Para prajurit? Mereka kan sudah berangkat dari tadi.” Kata Fluke.
“Apa? Sudah pergi dari tadi? Kenapa mereka tidak bilang-bilang padaku?” Raquille nampak terkejut mendengar rombongan prajurit tersebut telah meninggalkan kota D’Swano dari tadi.
“Dari tadi kan kau berada disini.”
“Aku harus menyusul mereka, mungkin mereka masih belum jauh.”
“Paman… Sampai jumpa lagi.” Raquille kemudian langsung berlari meninggalkan Fluke sambil melambaikan tangannya.
“Iya… Sampai jumpa. Kuharap kau baik-baik saja.” Fluke lalu membalas lambaian tangan pemuda itu.
Raquile pun langsung berlari sekencang mungkin untuk mengejar para prajurit yang telah berangkat dari tadi.
**
Di jalan, terlihat kendaraan-kendaraan dari rombongan prajurit tersebut.
“Hei, bukannya itu si pemuda berambut putih?” Drakon melihat bahwa ada seseorang yang berlari mengejar mereka dari belakang.
“Iya benar. Ada apa dengan dia?” Kata prajurit yang sedang mengemudi di sampingnya.
**
“Hei kalian…! Tunggu aku…! Aku juga mau ikut dengan kalian…!” Teriak Raquille sambil melambaikan tangannya, berusaha me mengejar rombongan para prajurit tersebut.
Melihat Raquille masih terus mengejar, mereka kemudian menghentikan kendaraan-kendaraan mereka. Nampak Drakon kemudian turun dari kendaraan yang dinaikinya.
“Ada apa? Kenapa kau mengejar kami? Dan juga, ini sudah jauh dari kota D’Swano, kau sampai berlari sejauh ini apakah hanya untuk mengucapkan selamat jalan pada kami?” Tanya Drakon agak bergurau.
“Tidak bodoh… Aku mengejar kalian untuk ikut bersama dengan kalian ke ibukota.”
“Kau mau ikut dengan kami ke Wattao? Memangnya kenapa? Apa kau mau bertemu dengan saudaramu?” Tanya Drakon.
“Iya, itu benar... Tapi lebih dari itu, aku mau menjadi prajurit Fuegonia.”
“Menjadi prajurit Fuegonia…?” Mendengar perkataan dari Raquille, Drakon pun langsung terkejut.
“Iya benar, kakakku Achilles yang memintaku untuk bergabung,” kata Raquille.
“Tuan Achilles memintamu untuk bergabung?” Tanya Drakon lagi.
“Sudah dulu… Nanti aku jelaskan di dalam perjalanan. Ayo masuk dulu, aku sudah kelelahan mengejar kalian.” Pemuda itu pun langsung mendorong Drakon untuk masuk ke dalam kendaraan kembali.
“Hei… Tunggu dulu, memangnya segampang itu kau bisa menjadi prajurit Fuegonia,” kata Drakon, yang didorong masuk ke dalam kendaraan.
**
Kemudian setelah kendaraan-kendaraan mereka berjalan kembali, pada salah satu kabin kendaraan terlihat Raquille dan Drakon sedang berbincang.
“Jadi begitu yah... Sewaktu aku tertidur, tuan Achilles menghubungiku kembali. Dan kau yang mengangkatnya,” kata Drakon duduk bersebelahan dengan Raquille di kursi depan samping pengemudi.
“Awalnya ingin ku matikan sambungan komunikasinya. Tapi, dia bilang bahwa dia menghubungimu untuk berbicara denganku.”
“Tetapi, mengapa kau mengejar kami. Padahal mungkin kau bisa terbang dengan kecepatan tinggi dan sampai ke Wattao dalam waktu yang singkat?”
“Memang benar. Namun, daripada terbang dengan kecepatan tinggi aku lebih suka menempuh perjalanan yang lebih lama, sekaligus melihat-lihat pemandangan indah di sepanjang perjalanan,” katanya dengan senyuman tipis.
“Heh… merepotkanku saja,” kata Drakon terlihat kesal.
“Hei… Apa seperti ini sikapmu pada calon atasanmu? Kau seharusnya hormat dan patuh kepadaku karena jika aku menjadi prajurit negeri ini, pastinya kau akan menjadi bawahanku,” kata Raquille dengan nada tinggi.
“Apa…? Calon atasan katamu…?” Balas Drakon dengan nada yang tinggi juga.
“Heh, kalau saja kau diterima. Asal kau tahu, kemungkinan kau akan ditolak dan langsung ditendang dari negeri ini oleh tuan Barbiond, pemimpin negeri ini, karena orang itu bukan tipe orang yang sembarangan menerima prajurit yang setara dengannya.”
“Apa kau bilang, orang sembarangan…? Aku ini sebenarnya adalah putra mahkota dari negeri Blueland, yang tentu saja kelak akan menjadi kandidat raja Blueland yang selanjutnya. Apa itu terlihat meragukan bagimu?” Kata Raquille masih dengan nada yang tinggi.
“Heh… Terserah kau saja.”
“Heh… Terserah kau saja...” Pemuda itu pun sontak mengajukan perkataan dari Drakon dengan nada mengejek.
–9 Juni 3029–
Dua hari kemudian. Di lain tempat, nampak beberapa pesawat tempur raksasa sedang mengudara, pesawat tersebut merupakan armada dari pasukan Fuegonia yang dipimpin oleh Achilles.
Terlihat Achilles berada di dalam ruang kontrol salah satu armada pesawat tempur tersebut.
“Sebentar lagi kita akan sampai di kota Swaraw, aku ingin kalian menghubungi pasukan Cyffredinol untuk mengetahui bagaimana keadaan disana,” kata Achilles meminta untuk menghubungi pasukan yang dipimpin oleh prajurit Cyffredinol, yang merupakan saudaranya.
Beberapa saat kemudian, mereka langsung terhubung dengan pasukan yang berada di kota Swaraw.
“Achilles… Dimana kau?” Tanya orang yang menerima panggilan tersebut, yang merupakan Cyffredinol.
“Kakak, kami sebentar lagi sampai disana. Bagaimana keadaan disana?” Tanya Achilles pada saudaranya tersebut.
“Tidak… Jangan kemari… Pasukan kami telah mengalami kekalahan. Salah satu dari World Venerate kubuh timur telah turun ke medan peperangan, dan karena itu banyak pasukan dari kubuh barat telah ditangkap oleh mereka…” Tiba-tiba sambungan komunikasi mereka langsung terputus.
“Kakak… Apa yang terjadi…?” Achilles pun terkejut sambungan komunikasi mereka tiba-tiba terputus.
“Tuan Achilles… Coba lihat di bawah sana,” kata salah satu prajurit menunjuk pada kota yang berada di bawah mereka.
“Apa…? Bagaimana ini…?”
Betapa terkejutnya Achilles setelah melihat kota yang berada dibawah mereka telah hancur porak-poranda.
“Sialan separah inikah peperangan disini?” Kata Achilles bertanya-tanya melihat keadaan kota tersebut yang telah hancur.
“Cepat putar balik. Kita ke Nerbil,” Achilles pun sontak memerintahkan armada kapal terbang mereka untuk putar balik.
Namun, belum sempat mereka melakukan hal tersebut, salah satu prajurit musuh tiba-tiba muncul di depan armada pesawat tempur mereka. Prajurit tersebut nampak terlihat sedang melayang di udara.
“Dia pasti… World Venerate yang dikatakan oleh kakakku. Sialan…” Achilles nampak terkejut dan sedikit mengumpat setelah melihat apa yang ada di depannya.
Prajurit yang sedang melayang itu kemudian mengangkat tangannya, yang kemudian sebuah petir yang besar muncul dari langit dan seketika menghantam armada pesawat tempur mereka sehingga terjatuh.
*
“Aguirre... Raquille... Kuharap kalian bisa kemari untuk membantu kami,” kata Achilles dalam hati, saat dia terpental keluar dari pesawat tempur tersebut.
***
“Eh… Apa ini?” Kata Raquille terkejut nampak merasakan sesuatu.
“Ada apa?” Tanya Drakon melihat reaksi Raquille.
“Tuan prajurit, aku ingin bertanya… Memangnya peperangan di benua Greune sana separah apa?” Tanya Raquille.
“Peperangan itu... Hmph… Jika harus dibandingkan, peperangan itu bahkan hampir sama parahnya dengan peperangan para Venerate dengan para makhluk suci yang dulu pernah terjadi. Karena perang itu telah merenggut banyak korban jiwa, baik dari kubuh barat maupun kubuh timur, serta para orang awam.”
“Memangnya, kenapa kau menanyakan hal itu?” Tanya Drakon, penasaran.
“Tidak… Aku baru saja merasakan tekanan kekuatan yang kuat dari arah sana.”
“Hah…? Tekanan kekuatan…?”
“Iya… Sepertinya asal kekuatan ini dari World Venerate yang melepaskan sebuah serangan yang besar.”
“Sehebat itukah kau, sampai bisa merasakan tekanan kekuatan dari benua lain?”
Melihat Raquille seperti memikirkan sesuatu, Drakon pun kembali bertanya.
“Kau seperti memikirkan sesuatu? Memangnya baru kali ini kau merasakan tekanan kekuatan yang besar?”
“Tidak… Hanya saja… Kenapa aku seperti merasa cemas?”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 335 Episodes
Comments