“Eh… Tekanan kekuatan ini berasal dari Greune.” Nampak Aguirre juga merasakan tekanan kekuatan yang sama seperti Raquille.
*
“Apa yang terjadi disana?” Gumam Elfman itu dalam hati, yang juga tampak merasa cemas.
“Semoga mereka baik-baik saja disana.”
***
“Kukira kalian akan tinggal sekitar beberapa hari lagi di sana?” Tanya Raquille.
“Sebenarnya kami berniat tinggal beberapa hari di kota itu. Karena dari informasi yang kami dapatkan sebelumnya bahwa pemimpin perampok itu telah mencapai tingkatan Land Venerate. Hal itu pasti akan memakan waktu jika aku harus melawannya, ditambah juga jika dia melarikan diri,” jawab Drakon, menjelaskan hal tersebut pada Raquille.
“Aku tetap berterima kasih padamu, karena telah memudahkan pekerjaan kami dalam menangkap para perampok itu.” Tiba-tiba pemimpin prajurit itu berterima kasih pada Raquille.
“Hei… Lihat kau. Kenapa baru sekarang kau menghormatiku, seharusnya sewaktu masih di kota itu, kau melakukan hal yang seperti ini.”
“Hah…? Untuk apa juga harus aku hormat padamu? Kau ini bahkan bukanlah prajurit Fuegonia,” ucap Drakon dengan nada tinggi.
“Apa…? Kan sudah kukatakan padamu, bahwa aku akan bergabung menjadi prajurit Fuegonia. Bahkan nantinya jika aku diterima, kau pastinya akan menjadi bawahanku, prajurit bodoh,” balas Raquille dengan nada tinggi juga.
“Heh… Terserah kau saja.” Mendengar ocehan dari pemuda Elfman itu, si pemimpin prajurit itu pun hanya mengiyakan saja perkataannya.
“Permisi tuan-tuan… Aku mohon tenang dulu, karena aku sedang fokus mengemudi. Jika tidak, mohon maaf kalian harus pindah ke kendaraan lain.” Tiba-tiba pengemudi yang berada disamping mereka sontak merasa terganggu dengan perselisihan mereka.
“Eh… Baiklah...” Kata Drakon.
*
“Lihat dia… Berani-beraninya dia tidak hormat pada calon atasannya,” gumam Raquille dalam hati.
“Heh… kau pikir kau akan diterima menjadi prajurit Fuegonia. Lihat saja nanti, pasti kau langsung ditendang dari negeri ini,” gumam Drakon yang juga berbicara dalam hati.
***
Di kota Wattao, nampak Aguirre memasuki suatu ruangan kerja untuk menemui seseorang. Di dalam ruangan tersebut, terlihat seorang pria yang sedang duduk menghadap meja kerjanya.
Pria tersebut merupakan Barbiond, pemimpin negeri Fuegonia yang sebelumnya dibicarakan oleh Drakon.
“Tuan Barbiond… Kau juga merasakan hal yang sama kan? Tekanan kekuatan yang dikeluarkan seorang World Venerate dari benua seberang sana?” Tanya Aguirre pada seseorang yang bernama Barbiond itu.
“Hmph… Iya… Aku juga merasakannya. Kurasa memang itu salah satu World Venerate kubuh timur yang telah maju untuk menyerang,” jawab orang yang bernama Barbiond itu.
Pria tersebut nampak sedang melihat berkas-berkas yang dipegangnya dan dengan santai menanggapi perkataan Aguirre.
“Kalau begitu, biarkan aku pergi juga. Aku merasa khawatir kepada para prajurit yang dikirim kesana.”
Mendengar perkataan Aguirre selanjutnya, pria yang bernama Barbiond itu langsung melepas berkas-berkas yang dipegangnya lalu menatap Aguirre.
“Tidak… Kau ini adalah prajurit yang sama penting denganku bagi negeri ini. Aku tidak mau mengambil resiko jika terjadi hal yang buruk padamu disana,” kata Barbiond melarang pria itu untuk berangkat pada peperangan tersebut.
“Kau tahu kan bahwa para World Venerate di kubuh barat itu memanglah pengecut, mereka bahkan tidak mau maju berperang dan hanya banyak beralasan saja.”
“Tapi… Aku tidak mau membiarkan para prajurit yang dikirim kesana mengalami hal yang buruk.” Namun, Aguirre tetap memaksa dengan beralasan mengkhawatirkan para prajurit Fuegonia yang berada di peperangan tersebut.
“Apa kau mengkhawatirkan mereka sebagai seorang prajurit, atau sebagai seorang saudara?” Tanya Barbiond pada Aguirre.
“Aku mengkhawatirkan mereka sebagai seorang prajurit, karena itu lebih baik akulah yang harus berangkat sekarang untuk menghentikan perang tersebut. Aku yakin dengan kekuatanku juga…” Jawab Aguirre, namun seketika dipotong oleh Barbiond.
“Menghentikan perang itu...? Apa kau yakin bisa berhadapan dengan World Venerate jika mereka lebih dari satu orang? Bahkan sebenarnya dikalangan World Venerate, kau masih terbilang baru.”
Mendengar perkataan dari Barbiond, Aguirre pun sontak langsung merasa ragu.
“Karena itu, kau harus percaya pada kemampuan mereka. Khususnya kedua saudaramu itu… Tidak mungkin seorang Continent Venerate bisa dikalahkan dengan mudah. Jika mereka mengalami kekalahan, mereka pasti akan mundur dan pulang kemari dengan selamat. Kau tidak usah mengkhawatirkan hal tersebut.”
Mendengar penjelasan dari pemimpin negeri Fuegonia itu, si Elfman tersebut nampak terdiam dan tidak bisa berkomentar apa-apa.
“Jika kau sudah selesai, kau boleh meninggalkan ruangan ini. Masih banyak yang harus ku kerjakan.” Pria tersebut sontak menunjukkan pintu keluar pada Elfman itu.
“Baiklah kalau begitu, aku pergi dulu.” Walaupun agak kesal karena tidak bisa mendapatkan persetujuan dari pemimpin negeri Fuegonia itu, Aguirre pun terpaksa harus meninggalkan ruangan tersebut.
*
“Dikalangan World Venerate aku masih baru katamu? Jika kau tahu alasan bahwa aku bisa menjadi World Venerate, pasti kau akan berlutut didepanku, dasar tua Bangka,” kata Aguirre dalam hati, mengumpati pria itu.
***
Pada malam harinya, kembali pada rombongan prajurit Drakon dan Raquille. Nampak rombongan mereka kini telah berhenti di suatu tempat dan sedang mendirikan tenda untuk bermalam di tempat tersebut.
Terlihat Drakon yang sedang kesulitan untuk menyalahkan api dengan korek yang dipegangnya untuk membuat api unggun.
“Hahahaha… Lihat tuan prajurit, kau bahkan kesulitan membuat api. Hei… Memangnya kau tidak bisa menciptakan api dengan kekuatanmu sendiri?” Raquille pun langsung mengejeknya saat melihat orang itu mengalami kesulitan mencoba menyalahkan api dengan korek yang dipegangnya.
“Diam kau... Kalau saja aku bisa melakukannya, untuk apa aku memakai korek ini?”
“Argh…! Dasar korek sialan.” Pemimpin prajurit itu nampak mengumpat pada korek yang dipegangnya karena sedari tadi tidak bisa dinyalakannya.
“Hei sudah-sudah… Sini biar aku saja yang melakukanya. Singkirkan korek itu.” Raquille pun menyuruh pria itu untuk berhenti mencoba menyalahkan api dengan korek tersebut.
“Hei… Apa yang ingin kau lakukan? Apa mau membekukan kayu bakar ini? Kalau begitu, akan sulit untuk dibakar nantinya,” kata Drakon melarang Raquille agar tidak mengeluarkan kekuatannya.
“Sudah kau mundur dulu dan diam saja… Aku bukan mau membekukan kayu bakar ini.” Pemuda itu pun nampak sedikit mendorong Drakon agar menjauh dari tumpukkan kayu yang akan dibakar.
Raquille kemudian terlihat menarik nafas panjang. Seketika sebuah api menyembur dari dalam mulutnya, yang pada saat itu juga langsung membakar kayu-kayu tersebut.
“Uwaahh…!” Teriak Drakon terkejut melihat apa yang dilakukan oleh Raquille.
“Kenapa kau terkejut? Memangnya kau belum pernah melihat Achilles mengeluarkan kekuatannya selain es?”
“Kurang ajar… Apa kau ini naga atau semacamnya?” Tidak menjawab pertanyaan Raquille, Drakon malah bertanya balik.
“Naga atau semacamnya? Apa kau bergurau? Kau kira orang-orang sepertiku ini hanya bisa menggunakan elemen es saja. Kami juga merupakan seorang penyihir, mengeluarkan api untuk hal seperti ini bukanlah hal yang sulit untuk kami,” jawab Raquille menjelaskan pada Drakon.
Para prajurit yang melihat hal yang dilakukan oleh Raquille barusan nampak datang mendekatinya.
“Tuan, apakah kau bisa membantu kami juga? Korek yang kami miliki ini juga susah sekali untuk menyalah. Mungkin karena udara di sekitar tempat ini sangatlah dingin? Apa kau juga bisa menggunakan kekuatanmu itu untuk menyalahkan kayu bakar kami juga?” Tanya salah satu prajurit meminta tolong untuk menyalahkan api.
“Baiklah… Sesuai permintaan kalian,” jawab Raquille pun menyetujuinya.
Kemudian pemuda itu pun langsung mengangkat tangannya. Seketika sebuah api muncul dari tangan yang diangkatnya lalu menghempaskannya ke arah kayu-kayu yang akan dibakar.
“Woaah…! Kau hebat tuan.”
“Tuan, kau ini memang yang terbaik.”
Seru para prajurit tersebut bertepuk tangan memuji apa yang dilakukan oleh Raquille.
**
“Elemen es, angin… Dan sekarang elemen api… Aku yakin pasti dia juga memiliki kemampuan untuk mengendalikan elemen air.” Melihat aksi yang dilakukan oleh Raquille, Bohrneer si pemimpin perampok yang berada di dekat situ sontak merasa penasaran.
“Tuan Bohrneer… Aku ingat sekarang,” sambung salah satu perampok yang bernama Heinz seperti mengingat sesuatu.
“Apa yang kau ingat?” Tanya Bohrneer.
“Aku pernah mendengar ras rambut putih dari negeri seberang, yang merupakan ras dari orang itu. Salah satu clan mereka itu...” Jawab Heinz, yang tiba-tiba perkataannya dipotong oleh Bohrneer.
“Apa yang ingin kau katakan sebenarnya…? Langsung saja pada intinya.”
“Dengar aku dulu... Salah satu clan dari ras itu, bukan hanya memiliki kemampuan untuk dapat mengendalikan elemen es. Mereka itu juga sering disebut sebagai clan penyihir,” kata Heinz menjelaskan hal tersebut.
“Clan penyihir katamu…?” Nampak ekspresi penasaran terlihat dari raut wajah pemimpin perampok itu.
“Iya clan penyihir... Clan yang bisa memanipulasi kekuatan sihir, dan bahkan kemampuan sihir dari ras tersebut bisa dikatakan merupakan jenis sihir yang terkuat dari antara clan-clan penyihir yang lain.”
“Sekuat itukah kekuatan sihir mereka itu?” Tanya salah satu perampok yang lain.
“Namun… Walaupun ras itu memiliki kekuatan yang kuat sekalipun. Mereka itu tidak luput dari sebuah kelemahan.”
“Kelemahan? Apa kelemahan mereka?” Tanya Bohrneer, yang semakin penasaran.
“Konon, mereka akan kehilangan total kekuatan mereka dan menjadi manusia biasa saat gerhana bulan terjadi. Bahkan walaupun mereka telah berada di tingkatan Continent Venerate serta World Venerate sekalipun, mereka akan menjadi makhluk yang lemah,” jawab Heinz menjelaskan hal tersebut pada pemimpin dan rekan-rekannya.
Mendengar hal yang dikatakan oleh Heinz tersebut, si pemimpin perampok itu sontak langsung memasang senyuman menyeringai dan nampak serta memikirkan sesuatu.
“Sepertinya pengetahuanmu lebih baik dariku. Memang tidak salah jika kau sampai sekarang tidak kubuang,” kata Bohrneer masih tersenyum menyeringai.
“Tuan Bohrneer… Menurut informasi yang kudengar beberapa hari yang lalu, seharusnya gerhana bulan akan terjadi, kemungkinan pada besok malam.”
“Hmph… Jika itu memang akan terjadi, apa rencanamu kedepan?”
“Pastinya itu akan menjadi kesempatan kita untuk dapat melawan mereka. Dan kali ini biar kuurus pria berambut putih itu, dan kau urus pemimpin prajurit itu.”
“Hmph… Benar sekali... Mari kita lakukan rencana tersebut, aku juga ingin segera melepaskan diri dari mereka, mwahahahaha…!” Pemimpin perampok yang sedang diborgol itu sontak langsung tertawa dengan liciknya setelah tiba-tiba mendapatkan sebuah rencana untuk melepaskan dirinya dari para prajurit Fuegonia.
“Benar sekali, tuan, mwahahaha…!” Heinz pun sontak langsung mengikuti pemimpinnya tertawa dengan liciknya.
Mendengar kedua orang tersebut nampak tertawa dengan liciknya, salah satu prajurit datang mendekati mereka, kemudian langsung memukul kedua orang tersebut.
“Hei bodoh... Apa yang kalian tertawakan itu? Apa kalian ini sudah menjadi tidak waras karena diborgol sejak dua hari yang lalu?” Tanya prajurit tersebut.
Bohrneer dan Heinz pun seketika langsung terdiam setelah prajurit tersebut memukul kepala mereka berdua.
Informasi yang dikatakan oleh Heinz bahwa ras Elfman memiliki sebuah kelemahan bukanlah hal yang salah. Namun, sebenarnya informasi yang disampaikan oleh Heinz tersebut, mengenai kelemahan ras Elfman yang merupakan gerhana bulan adalah sesuatu yang salah.
Ras Elfman akan kehilangan seluruh kekuatan mereka, termasuk kemampuan dalam memanipulasi elemen es serta kekuatan sihir pada saat terjadinya gerhana matahari. Alasan kenapa hal tersebut bisa terjadi dikarenakan pada zaman dahulu saat Elfman pertama dari persilangan Elf murni dengan manusia yang memiliki kemampuan sihir pertama kali lahir ke dunia, Elfman tersebut nampak memiliki kekuatan yang sangat besar. Dikarenakan kekuatan Elfman tersebut, para manusia sontak merasa terganggu akan keberadaannya. Para manusia kemudian meminta kepada para dewa untuk memberikan sebuah kutukan pada Elfman tersebut serta para keturunannya.
Sampai saat ini pun kutukan dari ras Elfman tersebut tidak bisa hilang, kecuali dihilangkan oleh para dewa yang memberikan kutukan itu sendiri.
**
Kembali pada Raquille dan Drakon, yang kini telah duduk didepan api unggun.
“Jadi… Apakah besok kita sudah bisa sampai ke ibukota Fuegonia?” Tanya Raquille.
“Sebenarnya perjalanan kita sekarang bukanlah mengarah ke ibukota Fuegonia,” jawab Drakon.
“Haah… Apa maksudmu? Lalu sekarang kita mengarah kemana?” Mendengar hal yang disampaikan oleh pemimpin prajurit itu, Raquille pun nampak terkejut dan sontak bertanya kembali.
“Sebenarnya kami memiliki perubahan rencana,” jawab Drakon lagi.
“Perubahan rencana? Apa kita akan kembali ke kota D’Swano lagi?” Tanya Raquille, bergurau.
“Tidak bodoh, untuk apa kita kembali lagi kesana,” kata Drakon dengan nada tinggi.
“Kalau begitu… Apa perubahan rencananya?”
“Saat perjalanan ke D’Swano, kami mendapat perintah dari Wattao, bahwa setelah menangkap para perampok, kita harus pergi ke kota Novacurve terlebih dahulu sebelum ke kota Wattao.”
“Kita akan menjadi perwakilan dari Wattao, untuk menghadiri acara penobatan World Venerate baru dari salah satu anggota clan Drown,” kata Drakon menjelaskan panjang lebar agar pemuda itu tidak bertanya lagi.
“Memangnya… Kenapa juga harus menghadiri acara penobatan bodoh seperti itu? Itu hanya membuang-buang waktu saja,” kata Raquille.
“Kau ini, memang selalu ingin mencari masalah dengan orang lain yah…? Asal kau tahu saja, clan Drown itu merupakan salah satu clan yang sangat berpengaruh di negeri ini. Dan bahkan pemimpin negeri ini tidak bisa menolak perintah dari mereka,” kata Drakon nampak merasa kesal, dan kemudian pergi meninggalkan Raquille dan masuk ke dalam tenda.
“Heh… Acara penobatan seorang World Venerate baru…? Aku saja yang dulu baru menjadi World Venerate tidak pernah dibuatkan upacara penobatan seperti itu,” Gumam Raquille sendirian karena pemimpin prajurit itu telah meninggalkannya sendiri.
***
Di tempat lain di sebuah pegunungan, terlihat seseorang pemuda sedang berdiri pada salah satu puncak pegunungan tersebut.
“Kakak…! Ayo kita kembali ke tenda…!” Teriak seseorang yang berada dibawah, memanggil pemuda tersebut dengan sebutan kakak.
“Sebentar lagi aku kesana!” Teriak balik pemuda itu.
Pemuda itu kemudian menatap sebuah puncak gunung lain yang berada di pegunungan itu.
Pemuda itu lalu menutup kedua matanya dan kemudian berkonsentrasi. Beberapa saat kemudian dia membuka matanya, tiba-tiba sebuah api perlahan-lahan keluar dari tubuhnya. Api yang keluar dari tubuhnya tersebut lalu berkumpul menjadi satu di atas pemuda itu.
**
Terlihat seseorang datang menghampiri pemuda, yang sebelumnya memanggil pemuda yang berdiri di atas puncak gunung.
“Haah… Mau berapa puncak gunung lagi yang mau dihancurkannya?” Gumam orang itu, melihat pemuda yang berada atas puncak gunung itu.
**
Api yang berkumpul di atas pemuda itu kemudian berubah menjadi seekor Phoenix api raksasa.
Nampak kepakkan sayap dari Phoenix api itu sontak langsung membuat salju yang menyelimuti gunung tersebut seketika menguap.
**
“Uh… Panas sekali…” Ucap salah satu dari kedua pemuda itu.
Kedua pemuda yang berada di bawah tersebut sontak merasakan hawa panas dari kepakkan sayap Phoenix api tersebut.
**
“Meluncurlah…!” Teriak pemuda yang berada di puncak tersebut.
Seketika Phoenix api raksasa itu dengan cepatnya terbang dan menabrak puncak gunung yang dilihat pemuda itu sebelumnya.
Sontak terciptalah sebuah ledakan yang besar hingga membuat puncak gunung tersebut hancur.
“Heh… Kurasa ini akan menjadi serangan pamungkasku,” kata pemuda tersebut, dengan tersenyum menyeringai.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 335 Episodes
Comments