Mata Nana dan Ayu langsung saja berbinar menatap sekolah baru mereka. Bagaimana tidak sekolah baru mereka adalah sekolah terbesar dan ternama di kota mereka. Jangankan berharap bisa menginjakkan kakinya di sekolah itu bahkan mereka tidak berani memimpikannya.
"Bagaimana, apa kalian suka sekolahnya?" ucap Aldyanta menatap Ayu dan Nana hanya diam mematung.
"Dik, Kakak tidak mimpikan? Coba cubit Kakak" ucap Ayu tidak percaya.
"aw" ucap Ayu ketika Nana mencubit tangannya.
"Sakitkan? berarti kakak tidak mimpi" ucap Nana polos.
"Benaran kami akan sekolah di sini, Kak?" Ucap Ayu masih tidak percaya.
"Ia, Sayang. Kalian akan sekolah di sini"
"Terima kasih banyak ya, Kak" Nana dan Ayu langsung saja memeluk Aldyanta dengan penuh kebahagiaan.
"Selamat pagi Tuan Muda. Terima kasih banyak karna anda mempercayakan kedua adik anda untuk menuntut ilmu di sekolah kami" ucap Kepala Sekolah menyambut kedatangan mereka dengan hangat.
"Sama sama. Saya titipkan kedua adik saya. Saya harap anda bisa mengawasinya dengan baik. Saya juga akan menyuruh kedua pengawal mereka untuk selalu berjaga jaga" ucap Aldyanta memberikan pengawasan yang ketat kepada Ayu dan Nana.
Karna dia tau jika musuhnya dapat menyerangnya secara tiba tiba. Apalagi dengan kehadiran ketiga bidadarinya yang telah tersebar keseluruh pdnyuru kota membuatnya semakin khawatir dengan keselamatan Ayu dan Nana yang masih kecil.
"Tidak masalah, Tuan. Sayang, ayo masuk" ucap kepala sekolah langsung mengengam tangan Ayu dan Nana.
"Sudah, kalian belajar yang rajinnya. Kakak mau ke kantor dulu" ucap Aldyanta langsung saja mencium lembut kening kedua adiknya.
"Siap, Kak" Nana dan Ayu langsung saja memasuki perkarangan sekolah bersama kepala sekolah mereka.
"Kalian awasi kedua adikku. Jika ada orang yang mencurigakan lakukan saja sesuka hati kalian" perintah Aldyanta kepada kedua pengawal yang dia percayakan untuk menjaga Ayu dan Nana.
"Siap, Tuan" ucap keduanya patuh.
Aldyanta langsung saja membawa Delissa kembali ke mobilnya. Mereka berdua duduk bersampingan dalam keheningan. Tidak tau mengapa semenjak tinggal di mension Aldyanta Delissa terlihat lebih pendiam dari sebelumnya.
"Ada apa, Sayang?" ucap Aldyanta tersenyum sambil memegang dagu Delissa sehingga kedua manik mata mereka bertemu.
"Tidak ada" ucap Delissa singkat lalu mengarahkan wajahnya ke arah kaca jendela mobil.
"Apa kamu cemburu dengan Vina?" tebak Aldyanta.
Mendengar tebakan Aldyanta yang sangat tepat Delissa langsung saja salah tingkah "Ti..tidak. Untuk apa aku cemburu pada tunanganmu"
"Kamu tidak bisa menyembuyikan apapun darimu. Apa kamu lupa jika dia sekarang adalah adik iparku?" ucap Aldyanta tersenyum manis.
"Ta...tapi dia pernah singah di hatimu"
"Itu dulu, Sayang. Tapi, sekarang hanya namamu yang ada di dalam hatiku"
"Idih, sejak kapan Tuan Muda bisa mengombal seperti itu? Bukannya yang dia tau hanya merintah dan marah marah" batin Ervan menatap kebucinan Tuan Mudanya dari kaca spion depan.
"Tapi tetap saja di pernah mengisi hatimu. Kamu juga cemburukan ketika melihat mereka berduaan. Aku perhatikan kakak sering menatapnya" ucap Delissa memayunkan bibirnya sambil melipat tangannya di dadanya.
"Jadi Kakak tidak boleh menatapnya?"
"Tidak, boleh" ucap Delissa tidak mau di bantah.
"Siap, Tuan Ratu. Mulai sekarang aku tidak akan melihatnya. Aku hanya akan melihat calon istriku yang sangat cantik ini" ucap Aldyanta mencubit gemas dagu Delissa.
"Janji" ucap Delissa tersenyum sambil menunjukkan jari kelingkingnya.
"Janji" Aldyanta langsung saja menyatukan jari kelongkingnya dengan jari kelingking Delissa menyatak jika mereka telah mengikat janji bersama.
Setibanya di kantor mereka Ervan langsung saja membuka pintu untuk kedua majikannya. Aldyanta langsung saja berdiri dengan Arogantnya dengan Delissa yang berdiri di sampingnya.
Aldyanta menatap perusahaan peningalan Deddynya dengan penuh kerinduan. Sudah tiga bulan lebih dia meninggalkan perusahaan yang dua rintis bersama Deddynya dahulu.
"Kak, kenapa di kota begitu banyak bangunan bangunan tinggi? apa tidak akan roboh ya kak?" ucap Delissa polos menatap bangunan mewah yang begitu tinggi di depannya.
"Tidak, Sayang. Bangunan bangunan ini sudah di disain sebaik mungkin. Jadi tidak mungkin roboh dengan mudahnya" Jelas Aldyanta.
"Gitu ya, Kak" ucap Delissa terus saja menatap kagum kantor Aldyanta.
"Ya, sudah ayo kita masuk" ucap Aldyanta langsung saja mengandeng tangan Delissa dengan begitu mesranya.
Melihat Tuan Muda mereka telah datang kembali, semua pegawai di sana langsung saja menyambut kedatangan Aldyanta dan juga Delissa. Banyak para pengawai wanita yang menatap kemesraan Aldyanta dengan Delissa dengan penuh kecemburuan.
Harapan mereka menjadi Nyonya Kusuma telah pupus. Mereka hanya bisa mengangumi ketampan Bos besar mereka dari kejauhan saja.
Masih sama seperti dulu, Aldyanta tetap saja terlihat dingin dan arogant kepada orang orang sekitarnya. Tapi, sangat harmonis dan lembut kepada Delissa dan kedua adiknya.
Mata Delissa terus saja menatap kagum semua hal baru yang dia lihat di dalam kantor Aldyanta. Hingga akhirnya mereka memasuki lift untuk menuju ke ruangan Aldyanta yang berasa di lantai atas.
"Kak, ngapain kita masuk ke dalam kotak besi ini?" ucap Delissa bingung.
"Kita akan ke lantai atas mengunakan ini, Sayang"
"Apa ini kotak ajaib yang bisa terbang ke lantai atas?"
"Bukan, sayang. Ini namanya lift yang mengunakan tenagan listrik. Kita tingal tekan saja tombol ini untuk menuju lantai yang kita inginkan. Ruangan Kakak ada di lantai sebelas maka kita tingal tekan saja sebelas maka lift ini akan berhenti di lantai sebelas"
Mendengar penjelasan Aldyanta, Delissa langsung saja menganguk patuh lalu menatap tombol tombol di depannya. Namun, saat liftnya mulai berjalan Delissa langsung saja memeluk Aldyanta karna takut.
Melihat kepolosan Delissa, Aldyanta langsung saja tersenyum lalu membalas pelukan Delisa dengan harapan Delissa tidak takut lagi. Hingga akhirnya lift itu berhenti di lantai yang mereka tuju.
"Sayang, kita sudah sampai" ucap Aldyanta meluhat Delissa terus saja menengelamkan wajahnya di dada bidang Aldyanta.
"Sudah sampai, Kak?" ucap Delissa langsung saja menatap ke arah luar lift.
Aldyanta langsung saja menganguk lalu berjalan ke luar lift itu. Delissa terus saja mengikuti langkah Aldyanta sambil terus saja celingukan kesana ke mari karna baru melihat semua benda yang ada di sana.
Melihat sikap Delissa yang begitu polos Arvan terus saja tersenyum gemas melihatnya. Apa lagi ketika melihat ekspresi wajah Delissa ketika melihat semua hal hal baru membuat Ervan semakin gemas di buatnya.
Hingga akhirnya mereka sampai di ruangan Aldyanta. Delissa langsung saja berlari ke arah jendela kaca kaca yang begitu besar dan tembus pandang ke pemandangan luar.
"Kak, ini indah sekali" ucap Delissa tersenyum bahagia menatap pemandangan kota yang begitu indah.
Bersambung....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 73 Episodes
Comments
Ruk Mini
del .ga ush buru2 takut nyungsep 😋😋😋
2024-06-23
0