Setelah melihat Delissa telah tertidur kembali Ahmad langsung saja menyelimuti tubu Delissa dengan selimut. Setelah itu Ahmad mencoba menelus lembut puncak kepala Delissa.
"Kamu cepat sembuh ya. Kakak rindu dengan ocehanmu" gumam Ahmad sambil menatap lekat wajah pucat Delissa.
Ahmad mencoba untuk mencuri ciumannya di kening Delissa dengan pelan karna takut si punya kening terusik dan akan memarahinya. Ahmad terus saja menatap wajah Delissa dengan penuh kekaguman.
"Ya Allah jika aku boleh meminta sesuatu maka aku meminta agar statusku yang sebenarnya masih single. Karna aku ingin hidup selamanya dengan Delissa. Kau yang telah mempertemukan kami dan menumbuhkan rasa cinta ini di hatiku. Maka aku mohon satukanlah kami" ucap Ahmad dengan penuh permohonan.
Dari detak jantungnya yang berdetak kencang setiap kali berdekatan denga Delissa membuat Ahmad sadar jika dia telah mencintai Delissa. Ahmad juga menyadari jika cintanya kepada Delissa sangatlah besar.
Setelah pusa menatap wajah Delissa, Ahmad langsung saja keluar dari kamar Delissa lalu mencoba membersihkan rumah. Ahmad memang suka kebersihan. Hingga keadaan rumah yang kotor sangat mengangu matanya.
Karna terlalu sibuk membersihkan rumah Ahmad sampai tidak sadar jika hari telah siang. Nana dan Ayu yang baru pulang sekolah langsung saja menghampiri Ahmad yang sedang menyapu halaman.
"Kakak" ucap Ayu dan Nana semangat lalu menyalim tangan Ahmad
"Kalian sudah pulang?"
"Sudah, Kak. Kak Delissa mana?" ucap Nana yang tidak melihat sang kakak.
"Delissa sedang sakit. Jadi, kalian jangan ribut ya. Nanti, kakak kalian tergangu" nasehat Ahmad.
"Siap, Kak" ucp Ayu dan Nana patuh.
Karna hari sudah siang Ahmad langsung saja menitipkan Nana kepada Bu Inah yang baru pulang. Lalu Ahmad pergi ke kebun seorang diri. Ahmad sudah tau jadwal Delissa memanen hasil kebunnya. Jadi dia mencoba memanen hasil kebun seorang diri.
Ahmad memanen hasil kebun Delissa dengan sangat baik. Walaupun lelah Ahmad mencoba untuk kuat. Dia tidak mau membuat Delissa semakin lelah karna dia tidak bisa memanen hasil kebun seorang diri.
Matahari yang begitu terik berlahan membakar kulit putih Ahmad. Kulit yang dulunya putib bersih kini berubah agak gelap karna setiap hari harus menghadapi panasnya sinar matahari.
Ahmad mencoba menghapus keringatnya yang bercucuran dengan deras dengan legan bajunya sambil menatap triknya matahari. Setelah selesai memanen hasil kebun Ahmad langsung saja duduk di gubuk sambil menunggi pak Somat datang menjemput barang dagangannya.
"Eh, nak Ahmad. Delissa mana? kok manennya sendirian?" ucap Pak Somat melihat Ahmad seorang diri.
"Delissa sedang deman, Pak. Makanya aku memanennya sendiri" jelas Ahmad.
"Delissa demam? gadis itu memang pekerja keras sehingga dia tidak sayang pada tubuhnya sendiri. Pasti dia demam karna kelelahan" tebak Pak Somat.
"Ia, Pak. Delissa memang gadis yang kuat dan pekerja keras"
"Nak, apa kamu tidak ingin menikahi Delissa?
Mendengar ucapan Pak Somat, Ahmad langsung saja terdiam. Karna jujur saja dia sangat inggin menikahi Delissa. Tapi, dia takut karna dia tidak mengingat siapa dirinya yang sebenarnya.
"Nak, Bapak hanya inggin mengatakan jika Delissa itu adalah wanita yang sangat baik. Banyak pemuda di desa ini yang ingin menjadikannya istri. Tapi, dia tolak semua karna dia takut mereka tidak bisa menerima kedua adiknya. Bapak lihat kau sangat menyayangi Delissa dan kedua adiknya seperti adik kandungmu sendiri. Maka Bapak hanya ingin mengatakan jika kamu segeralah memperjelas hubunganmu dengan Delissa. Selain menghindari Fitnah, Bapak juga takut jika Delissa jatuh ke tangan pria yang tidak tepat"
Mendengar ucapan Pak Somat, Ahmad nampak berpikir. Benar apa yang di katakan Pak Somat dia tidak bisa terus terusan hidup satu atap dengan Delissa tanpa status apapun. Tapi, dia juga tidak mau bertindak gegabah karna masa depan Delissa di pertaruhkan di sini.
"Kamu pikirkan omongan Bapak ya Nak. Hari sudah mulai malam mari kita timbang daganganmu" ucap Pak Somat melihat matahari yang mulai terbenam.
Pak Somat langsung saja meninbang semua hasil kebun Ahmad. Lalu memberikan uangnya dan memotong sedikit untuk membayar utang Delissa.
"Pak, apa boleh aku bertanya?" ucap Ahmad penasaran kenapa Delissa meminjam uang yang cukup banyak kepada Pak Somat.
"Ada apa, Nak?"
"Jika aku boleh tau untuk apa Delissa meminjam uang cukup banyak kepada Bapak?"
"Oh, itu. Waktu pertama kali menemukanmu Delissa tidak punya uang untuk perobatanmu. Makanya Delissa meminjam uang kepadaku dan berjanji akan membayarnya dengan cara memotong uang hasil kebunnya" ucap Pak Somad dengan jujur.
Degh
Hati Ahmad langsung saja sakit mendengarnya. Ahmad tidak menyangka jika Delissa harus meminjam uang kepada Pak Somat untuk biaya pengobatannya.
"Ya, sudah. Bapak pulang dulu ya" ucap Pak Somat langsung saja berpamitan lalu pergi meninggalkan Ahmad.
Sepeninggalan Pak Somat, Ahmat langsung saja duduk termenung di gubuk kecil milik Delissa sambil menatap kebun Delissa yang di penuhi sayur sayuran yang Delissa tanam seorang diri.
"Kenapa ada wanita sebaik kamu, Del. Kamu rela bekerja keras demi pengobatanku yang sama sekali kau tidak kenal. Maafkan aku karna telah merepotkanmu. Aku berjanji akan membayar semuanya" batin Ahmad lalu melangkahkan kakinya kembali ke rumah Delissa.
Namun, saat di perjalanan Ahmad bertemu dengan Tika. Tika yang melihat keberdaan Ahmad langsung saja mendekati Ahmad lalu mencoba mengodanya.
"Kak Ahmad dari mana? kok jalan sendirian?" ucap Tika manja.
Bukannya menjawab Ahmad terus saja berjalan tanpa memperdulikan Tika. Melihat sikap cuek Ahmad, Tika langsung saja menghendus kesal. Tapi, tidak ada kata menyerah untuknya agar mendapatkan pria tampan seperti Ahmad.
"Kak sini biar aku bawain. Nanti tangan gagah kakak lecet" ucap Tika mengambil keranjang yang berisi sayur sayuran yang Ahmad bawa dari kebun.
Karna Ahmad juga merasa tangannya pegal karna membawa keranjang sambil berjalan Ahmad langsung saja membiarkan Tika membawa keranjang bawaannya lalu kembali melangkahkan kakinya tanpa memperdulikan Tika yang kesusahan.
"Kakak tampan, tunggu" ucap Tika mengejar Ahmad sambil membawa keranjang dengan susah payah.
"Apa kau tidak lihat hari mulai malam? aku buru buru jadi cepat jalanmu" ucap Ahmad dingin karna dia juga tidak tega meninggalkan Tika seorang diri di jalan yang sepi itu apalagi hari juga sudah mulai malam.
Mendengar ucapan Ahmad Tika langsung saja mempercepat jalannya sambil tersenyum manja kepada Ahmad. Walaupun Ahmad tidak memperdulikannya tapi, Tika merasa sangat senang karna dia bisa jalan berduaan dengan Ahmad yang sangat tampan bagaikan pangeran.
Selama perjalanan Tika terus saja mengoceh tanpa hentinya. Tika terus saja bercerita tentang dirinya dan juga Delissa walaupun lebih banyak menjelek jelekkan Delissa. Walaupun dia di anggap radio rusak oleh Ahmad tapi Tika terus saja bercerita tiada hentinya.
Bersambung....
Sambil nunggu up jangan lupa mampir di karya temanku ya. Ceritanya sangat menarik dan sangat sayang untuk di lewatkan🥰🥰😚
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 73 Episodes
Comments
Ruk Mini
ulet. bulu
2024-06-23
0