Karna merasa kasihan kepada Delissa, Bu Marni dan Bidan Nita berniat membantu Delissa dengan cara menjual beberapa perhiasan mereka dan akan memberikan hasil penjualannya kepada Delissa.
Namun saat mamasuki toko perhiasan Bu Marni dan Bidan Nita di kejutkan dengan kehadiran para pria mistrerius yang berbadan tegap dan mengunakan jas hitam rapi di lengkapi dengan kaca mata hitam.
"Dimana Tuan Muda?" ucap pria itu langsung to the point kepada pemilik toko itu.
"Dia telah pergi dengan seorang lalaki tua yang sering menjual sayur sayuran di pasar ini. Lihat ini dia tadi menjual ini kepadaku" ucap pemilik toko itu sambil menunjukkan sebuah cincin berlian yang sangat indah.
"Ini cincin pertunangan Tuan Muda. Apa kau tau alamat penjual sayur itu?" ucap Pria itu tersenyum bahagia.
"Saya tidak tau, Tuan. Tapi, dia setiap pagi akan menjual sayurnya ke mari. Tapi boleh saya melihat poto Tuan Muda kembali"
"Boleh. Ini fotonya jika ada yang melihatnya tolong kabari lagi"
"Baik, Tuan"
"Maaf, apa boleh saya melihat foto itu?" ucap Bidan Nita memberanikan diri karna seperti mengenal pria yang ada di foto itu.
"Bo..boleh, Bu. Lihat dengan baik baik. Ini foto Tuan Muda Aldyanta Kusuma yang telah menghilang tiga bulan lalu karna sebuah kecelakaan" ucap pria itu menunjukkan foto seorang pria tampan yang mengunakan stelan jas rapi.
"Saya mengenalnya. Ayo ikut kami sekarang sebelum terlambat" ucap Bidan Nita tegas lalu membawa semua pria itu pergi.
"Siapa?" ucap Bu Marni bingung karna dia belum melihat foto pria itu.
"Ikut saja. Nanti juga kamu akan tau" ucap Bidan Nita tanpa basa basi karna takut kehadiran mereka terlambat.
*****
"Lepaskan, Dia" teriak pria itu ketika melihat Delissa di seret paksa oleh pengawal jurangan Bayu dan juga Ahmad yang sedang bertarung hebat dengan seluruh pengawal jurangan Bayu yang begitu bayak.
"Siapa kalian? jangan mencampuri urusanku!" teriak Jurangan Bayu angkuh.
Pria itu langsung saja menatap Ahmad yang begitu kelelahan melawan seluruh pengawal Jurangan Bayu yang begitu bayak.
"Akhh" teriak Ahmad memegang kepalanya yang tiba tiba sakit ketika melihat para pria berjas rapi itu.
"Kakak" teriak Delissa langsung saja melepaskan gengaman Jurangan Bayu lalu mengampiri Ahmad yang sedang memegangi kepalanya karna kesakitan.
Delissa terus saja menenangkan Ahmad yang terus berteriak kesakitan tanpa memperdulikan luka di kakinya karna di seret paksa oleh pengawal Juragan Bayu.
"Serang mereka" teriak pria misterius itu mengepalkan tangannya geram karna melihat keadaan Ahmad yang begitu kacau.
Seluruh angota Pria itu langsung saja menyerang pengawal Jurangan Bayu dengan membabi buta. Walaupun kalah jumlah tapi mereka bisa mengalahkan seluruh pengawal Juragan Bayu dengan mudahnya.
"Kakak, Kakak kenapa" ucap Delisa menitikkan air matanya ketika melihat Ahmad terus meraung kesakitan.
"Arghhh" teriak Ahmad terus saja memegangi kepalanya.
"Kamu yang tenang, Nak. Coba tarik napasmu pelan lalu buang. Rilekskan pikiranmu, Nak. Jangan terlalu memaksa ingatanmu" ucap Bidan Nita mencoba menenagkan Ahmad.
"Ayo Tuan Muda, kita akan ke rumah sakit" ucap Pria itu mencoba melepaskan Delissa yang terus memeluk Ahmad.
"Arghh" teriak Delissa karna pria itu memegang tangan Delissa yang sakit karna gengaman pengawal Jurangan Bayu tadi yang begitu kuat.
"Jangan kau sentuh wanitaku!" Teriak Ahmad menatap tajam pria itu.
Pria itu yang melihat kemarahan Ahmad langsung saja menunduk ketakutan. Seperti singa yang bertemu pawangnya. Tadi pria itu membabat habis seluruh penganwal Juranga Bayu tanpa rasa takut sedikitpun. Tapi, mendengar teriakan Ahmad saja dia langsung ketakutan.
"Kakak, aku tidak apa apa. Kakak yang tenang ya" ucap Delissa terus menitikkan air matanya sambil mengelus kepala Ahmad yang kesakitan.
"Delissa" ucap Ahmad tersenyum lalu memeluk tubuh Delissa sambil menitikkan air matanya.
"Kakak" ucap Ayu dan Nana yang masih ketakutan.
"Sini, sayang" ucap Ahmad langsung saja memeluk ketiga wanita yang sangat berarti di dalam hidupnya.
Ahmad langsung saja mencium kening ketiganya secara bergantian sambil menitikkan air matanya. Melihat itu semua pria misterius itu langsung saja terdiam menunduk dengan mata berkaca kaca.
"Tuan, Muda" ucap ketua seluruh pria misterius itu mencoba mendekati Ahmad.
"Ervan" ucap Ahmad tersenyum.
"Tuan Muda" ucap Ervan tersenyum sambil menitikkan air matanya langsung saja memeluk Ahmad.
"Terima kasih, Van" ucap Ahmad tersenyum langsung saja membalas pelukan Ervan.
Melihat itu semua orang yang berada di sana langsung saja terkejut. Tak kalah dengan Jurangan Bayu dan semua pengawalnya yang telah di tahan oleh seluruh anak buah Ervan.
"Dugaanku benar Tuan Muda masih hidup. Aku telah mencari keberadaan Tuan Muda kemana saja. Tapi, Tuan Muda ternyata ada di sini" oceh Ervan tersenyum bahagia.
"Kak, minum obatnya dulu" ucap Delissa memberikan obat kepada Ahmad.
"Maaf bisa saya periksa obatnya?" ucap Ervan.
"Tidak perlu. Kau tidak perlu memeriksa apapun yang di berikan Nyonya Mudamu" ucap Ahmad tersenyum lalu meminum obat yang Delissa berikan.
Mendengar ucapan Ahmad, Ervan langsung saja tersenyum sambil menatap Delissa. Cantik hanya itu kata kata yang dia ucapkan dalam hatinya. Ervan menatap kecantikan Delissa yang begitu alami tanpa ada polesan bedak sedikitpun.
"Lebih baik kita bicara di dalam" ucap Bu Marni melihat semuanya hanya berdiri di hamparan sinar matahari.
"Baiklah" ucap Ervan tersenyum lalu memberi kode kepada seluruh angotanya untuk mengurus Jurangan Bayu dan juga seluruh pengawalnya.
Ervan langsung saja kedalam rumah Delissa yang begitu kecil. Dia menatap seluruh rumah Delissa yang sangat sempit. "Apa Tuan Muda selama ini tinggal di tempat kumuh seperti ini? Tapi dia sangat bahagia" batin Ervan menatap Ahmad yang tersenyum bahagia bersama Ayu dan Nana.
Delissa terus saja diam sambil menatap Ervan bingung. Melihat kebingungan Delissa, Ahmad langsung saja tersenyum lalu memberikan kode kepada Ervan untul menjelaskan semuanya.
"Saya ucapkan banyak terima kasih kepada kalian karna telah merawat Tuan Muda Aldyanta. Dia adalah Putra dari keluarga Kusuma yang telah nenghilang tiga bulan lalu karna sebuah kecelakaan. Saya selaku asisten pribadinya terus saja mencari keberadaannya selama ini. Saya sangat bersyukur karna kalian telah menyelamatkannya" ucap Ervan dengan sopan.
Mendengar ucapan Ervan, Delissa langsung saja menunduk sedih. Dia langsung saja menatap Ahmad yang sebenarnya adalah Aldyanta dengan penuh kesedihan. Delissa semakin sadar jika dia dan Aldyanta tidak mungkin bersatu karna perbedaan kasta yang begitu jauh.
Aldyanta yang sadar dengan tatapan Delissa langsung saja menatap Delissa dengan penuh kesedihan. Dia juga menatap Delissa dengan penuh kesedihan. Karna dia juga sadar jika ada wanita setelah Delissa dalam hidupnya.
Bersambung....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 73 Episodes
Comments
Ruk Mini
yaaaa..php.kau bankk
2024-06-23
0