Keputusa Aldyanta telah bulat. Dia langsung saja membawa Delissa ke dalam istananya. Walaupun sudah mempunyai wanita lain tapi tidak bisa di pungkiri jika dia juga telah melukis indah nama Delissa di dalam hatinya.
"Tuan, apa Anda yakin datang ke mension dalan keadaan seperti ini?" ucap Ervan menatap penampilan Ahmad yang hanya mengunakan baju kaos oblong dan celana pendek yang kumuh.
"Tidak, kita akan berbelanja terlebih dahulu. Aku pingin tau bagaimana keadaan perusahaan dan juga mensionku selama aku menghilang"
"Anda datang di waktu yang tepat, Tuan Muda"
"Maksudnya?"
Ervan langsung saja tersenyum lalu menceritakan semua yang dia selidiki selama ini. Mendengar itu Ahmad langsung saja mengepalkan tangannya geram sambil mengeraskan rahang tegasnya.
"Apa kau sudah mengumpulkan semua buktinya?"
"Sudah, Tuan. Tapi masih banyak bukti yang belum aku temukan karna terlalu sibuk mencari keberadaan, Tuan. Apa kita akan mencebloskan mereka kedalam penjara?"
"Tidak, penjara adalah hukuman yang sangat mudah untuk mereka. Kita akan ikuti permainan mereka terlebih dahulu. Tapi, kamu harus segera mengumpulkan semua buktinya" ucap Aldyanta tersenyum sinis.
"Baiklah" ucap Ervan menunduk patuh.
******
Aldyanta terus saja tersenyum menatap Delissa yang hanya terdiam sambil menatap ke arah luar jendela kaca mobilnya dari kaca spion depan. Melihat itu Erva langsung saja tersenyum karna menyadari jika Tuan Mudanya sedang di mabuk asmara.
"Kita sudah sampai" ucap Ervan menghentikan mobilnya di sebuah salon ternama.
"Kita di mana, Kak?" ucap Ayu dan Nana menatap kagum salon besar yang ada di depannya.
"Kita akan mengubah Kak Delissa menjadi seorang putri raja" ucap Aldyanta tersenyun sambil menatap Delissa yang masih terdiam.
"Selamat siang, Tuan Al. Senang melihat Anda kembali" ucap Pemilik salon langsung saja menyambut kedatangan mereka.
"Saya mau kamu rias mereka sebaik mungkin" perintah Aldyanta to the point.
"Baik, Tuan. Ayo silahkan" ucap pemilik salon itu langsung saja membawa Delissa dan kedua adiknya masuk.
Sedangkan Aldyanta langsung saja menyusul di belakang mereka. Sama seperti Delissa dan kedua adiknya, Aldyanta juga melakukan perawatan ke seluruh tubuhnya. Karna jujur saja selama tinggal bersama Delissa dia selalu berkebun dan membuat kulitnya menjadi kusam dan sedikit hitam.
Delissa langsung saja menjalani perawatan ke seluruh tubuhnya dengan kebingungan. Karna jujur saja ini pertama kali untuknya untuk menjalani perawatan tubuhnya.
Tapi dengan kesabaran pemikik salon yang menuntunnya dengan baik Delissa akhirnya bisa melakukan perawatan keseluruh tubuhnya dengan sempurna. Dengan keramahan dan kesopanan Delissa membuat pemilik salon dan para karyawan langsung saja akrab dengannya.
"Nona Delissa sangat baik dan ramah. Sangat berbeda dengan Nona Vina yang sangat sombong dan angkuh" ucap salah satu karyawan yang membantu merawat tubuh Delissa.
"Nona Vina itu siapa?" ucap Delissa langsung saja mengingat cincin yang melingkar di jari Ahmad.
"Nona Vina itu..." belum selesai bicara pemilik toko itu langsung saja memberi kode untuk karyawannya aga diam.
"Bukan siapa siapa, Nona. Nanti Nona juga akan mengenalinya" ucap pemilik salon itu tersenyum.
"Kalian sangat mengenali Kak Al ya?" ucap Delissa yang mulai membiasakan diri memangil Aldyanta dengan pangilan Al. Al adalah nama pangilan Aldyanta.
"Ia, Nona. Kami sangat mengenali Tuan Al. Bahkan dulu almarhumah Mommy Tuan Al adalah langanan tetap di salon kami"
"Jadi Ibu kak Al sudah meninggal?"
"Ia, Nona. Mommy tuan Al sudah meninggal lima tahun lalu. Setelah itu Deddy Tuan Al menikah lagi dengan seorang janda beranak satu yaitu Nyonya Julia. Tapi, sangat berbeda dengan Mommy Tuan Al yang sangat ramah dan baik. Nyonya Julia malah sangat sombong dan angkuh"
"Oh, gitu. Jadi Ayahnya Kak Al masih hidup?" ucap Delissa yang penasaran dengan kehidupan Aldyanta yang sebenarnya.
"Deddynya Tuan Al juga sudah meninggal lima bulan lalu"
"Jadi Kak Al anak yatim piatu sama sepertiku ya?"
"Ia, nasib kita sama. Itu makanya kita di pertemukan dan di satukan oleh Allah" ucap Aldyanta tersenyum lalu menghampiri Delissa yang sedari tadi mengorek kehidupannya.
Melihat Aldyanta telah mengunakan setelen jas mahalnya Delissa langsung saja menatap kagum ketampanan Aldyanta yang semakin terpancar. Bagaikan melihat pangeran turun dari langit mata Delissa tidak mau berpaling sedikitpun menatap ketampan Aldyanta yang sangat mengoda matanya.
"Apa sudah selesai?" ucap Aldyanta tersenyum sambil melirik ke arah Delissa yang begitu anggun dan cantik mengunakan gaun pajang namun memiliki lengan pendek namun tertutup.
"Sudah, Tuan. Nona Delissa hanya tinggal menggunakan high heelsnya"
"Baiklah, bias saya yang memakaikannya" ucap Aldyanta langsung saja berjongkok lalu memakaikan High Heels Delissa.
"Kak" ucap Delissa ragu.
"Ada apa?" ucap Aldyanta langsung saja menatap Delissa yang sedang duduk.
"Apa tidak ada sendal yang tidak memiliki tiang seperti itu?" ucap Delissa melihat tumit High Helsnya yang begitu tinggi.
Mendengar ucapan Delissa, Ahmad langsung saja tersenyum. Dia langsung sadar jika Delissa tidak akan bisa mengunakan High hels setingi itu.
"Apa tidak ada sandal yang tidak memiliki tumit?" ucap Aldyanta kepada pemilik salon itu.
"Ini Tuan. Walaupun tidak memiliki tumit tapi sandalnya terlihat sangat mewah dan cocok untuk Nona Muda" ucap pemilik salon itu memberikan sandal lepes namun terlihat sangat mewah.
Aldyanta langsung saja menerimanya lalu memakaikannya di kaki indah Delissa. Melihat perlakuan Aldyanta yang begitu manis. Semua karyawan di sana langsung saja meleleh. Bagaimana tidak seorang pengusaha ternama memakaikan sandal untuk wanitanya di depan umum.
"Kakak" ucap Ayu dan Nana berlari ke arah Aldyanta dan juga Delissa.
"Wah...bidadari bidadari kakak cantik sekali" ucap Aldyanta tersenyum menatap ketiga wanita yang sangat cantik di depannya.
"Kakak tampan sekali" ucap Ayu dan Nana menatal kagum ketampanan Aldyanta yang semakin terpancar.
"Ia dong. Kakak siapa dulu"
"Hehe..Kakaknya Ayu dan Nana" ucap Nana tersenyum bahagia.
"Itu tau. Kakaknya bidadari cantik harus tampan seperti pangeran"
"Lihat kak Delissa juga sangat cantik" ucap Ayu menatap kagum kecantikan Delissa yang semakin terpancar.
"Tuan, ayo kita berangkat. Sebentar lagi acaranya akan di mulai" ucap Ervan tiba tiba datang.
Aldyanta langsung saja membawa Delissa dan kedua adiknya pergi. Terlihat senyuman di ketiganya terus saja terpancar hingga membuat Aldyanta terus saja tersenyum menatapnya.
Hingga akhirnya mobil mereka memasuki area rumah yang memiliki taman depan yang begitu luas. Mata Delissa dan kedua adiknya langsung saja berbinar menatap rumah mewah yang sangat besar di hadapannya.
Mension keluarga Kusuma yang sangat besar dan juga mewah bahkan memiliki perkarangan taman yang begitu luas. Namun, di sana terlihat begitu banyak mobil yang berpakiran bahkan Mension itu telah di rombak menjadi aula pesta yang begitu mewah.
"Ini rumah apa istana kerajaan?" ucap Delissa terus saja menatap mension keluarga kusuma dengan penuh kekaguman.
Bersambung....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 73 Episodes
Comments
Ruk Mini
biasa deh..norse😄😄😄
2024-06-23
0