Ahmad melihat Nana dan Ayu telah pulang sekolah. Dengan cepat Ahmad menghampiri mereka. Sambil membawa sepeda bekas yang telah dia ubah menjadi tampak seperti baru lagi setelah dia perbaiki.
"Na, Yu lihat kakak punya apa?" ucap Ahmad tersenyum bahagia.
"Woah... sepeda baru. Ini sepeda siapa kak?" ucap Nana semangat.
"Ini sepeda untuk kalian"
"Benarkah kak?"
Ahmad langsung saja mengangukkan kepalanya sambil tersenyum "Ia, ini adalah sepeda untuk kalian. Jadi mulai besok kalian tidak perlu sempit sempitan lagi naik becak"
"Terima kasih, Kak" ucap Nana dan Ayu langsung saja memeluk Ahmad.
"Sama sama, sayang. Kalian senang kan? maaf kakak hanya bisa memberikan sepeda bekas untuk kalian" ucap Ahmad menunduk sedih.
"Tidak apa apa kok kak. Kak Delissa selalu bilang kita harus bersyukur atas apa yang kita miliki. Karna jika kita bersabar dan selalu bersyukur maka Allah akan memberikan hadiah yang istimewa suatu saat nanti" ucap Ayu dengan bijak.
"Aamiin. Kakak kalian memang wanita hebat. Dia berhasil mendidik kalian dengan baik" ucap Ahmad tersenyum.
"Kakak dan kak Delissa adalah yang terbaik" ucap Ayu dan Nana sambil mengacungkan kedua jempol mereka.
Ahmad menatap haru kedua anak kecil yang selalu ceria itu. Walaupun mereka serba kekurangan tapi mereka tidak pernah mengeluh sama sekali.
"Kak, aku coba ya" ucap Nana langsung saja menaiki sepedanya.
"Kamu bisa. Coba Ayu dulu yang bawa." ucap Ahmad.
"Ia dik, kakak dulu yang belajar. Biar besok kita bisa langsung naik sepeda ini ke sekolah. Supaya kakak tidak perlu kerja keras lagi untuk bayarin ongkos becak kita" ucap Ayu dewasa.
Mendengar ucapan sang kakak Nana langsung saja menganguk. Nana langsung saja menaiki sepedanya di dampingi oleh Ahmad.
Brukk...
Baru beberapa kali dayung tapi Ayu langsung saja terjatuh. "Kamu tidak apa apa, Na?" ucap Ahmad khawatir lalu mencoba membantu Nana.
"Ada apa?" ucap Delissa keluar rumah dengan panik ketika mendengar ada suara jatuh.
"Ini kak Ayu jatuh dari sepeda" jelas Nana.
Mendengar ucapan Nana, Delissa langsung saja bingung. Karna kedua adiknya tidak mempunyai sepeda selama ini. Tapi, kenapa sekarang ada sepeda. Memang dia tidak tau jika Ahmad mengambil sepeda anak bu Inah dan memperbaikinya karna sedari tadi dia terlalu asik tidur karna badannya terlalu lelah.
"Kakak ini sepeda siapa?" ucap Delissa.
"Kakak tadi memperbaiki sepeda motor suaminya bu Inah dan dia memberikan uang kepada kakak. Tapi kakak lihat ada sepeda ini jadi kakak minta saja sepedanya dan mengembalikan uang yang dia kasih. Kakak coba memperbaikinya dan jadi deh seperti baru lagi" jelas Ahmad.
Mendengar ucapan Ahmad, Delissa langsung saja menatapnya dengan penuh kebahagiaan. Delissa langsung saja tersenyum menatap ketulusan Ahmad kepada kedua adiknya.
"Terima kasih kak" ucap Delissa.
"Untuk apa berterima kasih? apa kamu lupa jika mereka berdua bukan hanya adikmu tapi adikku juga" ucap Ahmad tersenyum.
"Kak ayo kita belajar lagi" ucap Ayu tidak menyerah walaupun dia sudah terjatuh dari sepeda.
Mendengar ucapan Ayu, Ahmad langsung saja mengajarinya kembali. Walaupun beberapa kali jatuh tapi Ayu tetap bangun lagi. Dia tidak mau menyerah sebelum dia bisa menaiki sepedanya. Karna ke gigihannya akhirnya Ayu bisa mengunakan sepedanya dengan lancar.
"Yeachh akhirnya Ayu bisa kak" ucap Ayu semangat ketika dia telah bisa mengunakan sepedanya dengan lancar.
"Yeachh besok kita sekolah naik sepeda. Gak perlu sempit sempitan lagi" ucap Nana semangat.
Delissa hanya menatap bahagia keceriaan kedua adiknya. Semenjak kedatangan Ahmad keluarga mereka semakin berwarna. Ahmad memberikan keceriaan bahkan kasih sayang seorang ayah yang telah lama mereka tidak rasakan.
******
Di pagi hari Ahmad melihat Delissa tak kunjung bangun dari tidurnya. Tak biasanya Delissa seperti itu. Biasanya Delissa akan bangun di pagi hari sebelum Ayu dan Nana pergi ke sekolah.
Karna khawatir Ahmad langsung saja masuk ke kamar Delissa dan menba membangunkannya. Namun, Ahmad begitu terlejut ketiga memegang tangan Delissa. Ahmad langsung memeriksa keadaan Delissa ternyata Delissa demam tinggi.
"Del, kamu demam?" ucap Ahmad khawatir.
"A..aku baik baik saja kak. Nana sama Ayu di mana?" ucap Delissa lemas. Walaupun dirinya sedang demam tinggi tapi Delissa tetap saja memikirkan kedua Adiknya.
"Kamu demam tinggi, Del. Nana dan Ayu sudah pergi ke sekolah. Kamu tunggu di sini dulu. Kakak akan pangilkan Bidan" ucap Ahmad yang khawatir langsung saja berlari ke luar rumah.
Ahmad langsung saja memangil Bu Marni. Sehingga mereka berdua langsumg saja pergi ke puskemas desa untuk memangil Bidan Nita. Selama di perjalanan banyak kaum wanita yang menatap kagum ketampanan Ahmad.
Walaupun sudah beberapa minggu tinggal bersama Delissa. Tapi, Ahmad jarang keluar rumah sehingga banyak penduduk desa yang tidak mengenalnya.
Hingga akhirnya mereka sampai di puskemas. Mereka langsung saja memangil Bidan Nita lalu membawa Bidan Nita ke rumah Delissa. Sesampainya di rumah Delissa, Bidan Nita langsung saja memeriksa keadaan Delissa.
"Bagiamana keadaan Delissa, Bi?" ucap Ahmad khawatir
"Delissa hanya kelelahan. Dia hanya butuh istirahat saja. Ini Bibi ada bawa obat penurun deman. Kamu berikan saja kepadanya. Kurasa ada obat obatan tradisional yang di simpan Delissa. Kamu berikan saja kepadanya" jelas Bidan Nita.
"Ini ada minyak urut. Kamu oleskan saja ke tubuhnya lalu di pijit sedikit agar tubuh ya rileks. Ibu tidak bisa memijitnya karna Ibu ada urusan yang tidak bisa Ibu tnggalkan. Jadi kamu saja yang memijitnya. Dia pasti kelelahan karna terlalu capek kerja di ladang" ucap Bu Marni.
"Baik. Terima kasih ya" ucap Ahmad langsung saja menganguk patuh
"Sudah, kami pulang dulu ya" ucap Bidan Nita dan Bu Marni berpamitan.
Setelah Bidan Nita dan Bu Marni pergi, Ahmad langsung saja pergi kedapur untuk mengambil makanan yang telah dia masak. Karna selalu memperhatikan Delissa memasak mengunakan kayu bakar akhirnya Ahmad juga bisa memasak walaupun tidak seenak masakan Delissa.
Ahmad langsung saja menyuapi Delissa dengan begitu lembutnya. "Kamu makan ya. Kakak tidak bisa melihatmu seperti ini." ucap Ahmad sambil mengusap sudut bibir Delissa yang terkena makanannya.
Delissa menatap lekat wajah tampan Ahmad yang begitu dekat dengannya. Ntah mengapa mata Delissa rasanya tidak bisa berpaling dari pemandangan yang sangat indah itu.
Hingga akhirnya satu demi satu suapan Delissa habiskan dan isi piringnya habis dengan bersih. Ahmad langsung saja memberikan obat yang di berikab Bidan Nita.
"Sekarang kamu tidurlah. Kakak akan pijitin" ucap Ahmad membaringkan tubuh Delissa.
Karna dia juga merasa badannya pegal semua Delissa hanya bisa menurut. Ahmad berlahan mengoleskan minyak itu di kaki Delissa lalu memijitnya dengan lembut.
Bersambung.....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 73 Episodes
Comments