Ketika mau memasak Delissa melihat tidak ada lagi sayuran maupun lauk yang mau di masak. Karna rumah Delissa di desa pedalaman dia hanya berbelanja satu minggu sekali ke pasar utuk kebutuhan mereka.
"Ehem, mau masak apa ya? yang ada cuman bumbu doang" ucap Delissa mulai berpikir.
Lalu dia membuka pintu belakang dan melihat ayam peliharaannya yang sedang berkeliaran. Dia langsung sana mendapat ide lalu mencoba memanggil Ahmad yang sedang bermain dengan Nana dan Ayu.
"Kak.. Kak Ahmad"
"Apa, Del?" ucap Ahmad langsung saja menemui Delissa.
"Tolong ambilkan tali dan jagung nasi ayam itu"
"Untuk apa?" ucap Ahmad bingung.
"Kakak ambi saja jangan banyak tanya"
"Baiklah" Ahmad langsung saja mengambil tali dan jagung yang di minta Delissa.
"Ini" ucap Ahmad memberikan apa yang Delissa minta.
"Ya, sudah kakak tunggu di sini ya. Jangan ribut" Delissa langsung saja membuat jerat ayam dan menaruh jagung di dalam lingkaran tali yang dia buat.
Setelah selesai Delissa langsung saja menghampiri Ahmad yang sedang berdiri di belakang pintu. Ahmad hanya memperhatikan apa yang di lakukan Delissa.
"Itu ayamnya mau masuk perangkap. Aku hitung sampai tiga baru kita tarik talinya bersama sama ya" bisik Delissa terus saja memperhatikan ayam ayamnya.
"Ayo kak. Satu... dua..ti..tarik"
Dengan sigap Ahmad langsung saja menarik tali itu. "Yeachh... ayamnya dapat. Kita jadi makan pakai ayam hari ini" ucap Delissa gembira.
Melihat tingkah Delissa, Ahmad langsung saja tersenyum. Tak lupa Ahmad menatap ayam yang ada di tangan Delissa dengan binggung.
"Siapa yang menyembelih ayamnya?"
"Kakak"
"Apa?" ucap Ahmad terkejut sambil membulatkan matanya. Karna jujur saja dia tidak tau bagaimana cara memotong ayam.
"Kenapa?"
"Kakak tidak tau cara menyemblih ayam"
"Gampang kok, Kak. Tingga menghadap qiblat, baca sholawat terus potong deh lehernya pakai pisau tajam. Setelah itu ayamnya klepek klepek terus itu mati dan kita bersihin" jelas Delissa.
"Kalau teori gampang Del. Prakteknya yang sulit"
"Gampang kok, Kak. Ini pisaunya lalu aku yang pegangin ayamnya"
"Tapi, Del"
"Tidak ada tapi tapian. Aku aja bisa menyemblih ayamnya sendiri masak kakak gak bisa"
"Kalau gitu kamu saja yang menyemblih. Biar kakak yang pegang ayamnya"
"Oh, tidak bisa. Kalau ada pria maka tidak boleh wanita yang menyeblih binatang yang untuk di makan. Karna jika wanita yang menyemblihnya maka pria tidak boleh memakannya. Apa kakak mau kami makan pakai ayam yang enak ini sedangkan kakak makan pakai nasi sama garam?" ancam Delissa sehingga membuat Ahmad mau tidak mau harus menuruti perintah Delissa.
"Ok, kakak yang akan menyeblih ayamnya"
"Gitu dong. Biar aku pegang"
"Udah" ucap Ahmad memejamkan matanya lalu meletakkan pisaunya di leher sang ayam.
"Di lihat lho kak. Jika mata kakak, kakak tutup seperti itu nanti daging ayamnya nambah" ucap Delissa kesal.
"Ia, ia bawel" ucap Ahmad langsung saja membaca bissmillah lalu mencoba menyembelih ayam itu.
"Kan bagaimana Delissa bilang. Gampang kan?"
"Ia, ia" ucap Ahmad.
Ahmad langsung saja membantu Delissa untuk membersihkan dan memasak ayam itu. Walaupun binggung bagaimana cara mengerjakannya tapi Ahmad terus saja memoerhatikan Delissa dan mengikutinya.
Ahmad terus saja menatap kecantikan Delissa yang semakin hari semakin mengodanya. Ntah mengapa Ahmad semakin tidak ingin berpisah dari Dellissa. Tak lupa Ahmad berdoa agar cincin yang melingkar di tangannya bukanlah cincin pernikahannya.
Setelah selesai memasak Delissa langsung saja menata makanan yang dia masak di ruang tamu di bantu oleh Ahmad.
"Kakak masak ayam?" ucap Nana dan Ayu penuh semangat.
"Ia, ayo kita makan. Setelah ini kita akan ke pasar"
"Kita akan ke pasar, Kak. Horee..." ucap Nana dan Ayu penuh semangat. Mereka langsung saja menyantap makanan mereka dengan lahapnya.
*****
Karna jarak dari rumah Delissa ke pasar cukup jauh mereka memilih untuk naik becak. Ahmad di belakang supir sedangkan Delissa, Nana dan Ayu duduk di kursi penumpang.
Ahmad menatap dengan penuh kekaguman suasana desa yang begitu alami. Tak lupa dia melirik ke arah Delissa yang terus saja bercandaria dengan kedua adiknya.
Setiap senyuman yang terpancar dari wajah Delissa membuat detak jantung Ahmad semakin tidak karuan. Apa ini yang di namakan cinta? karna baru kali ini Ahmad merasakan getaran yang berbeda pada dirinya.
Setelah sampai di pasar, Ahmad menatap begitu banyak orang yang berlalu lalang di sana. Namun, mata Ahmad tertuju pada sebuah mobil mewah yang sedang mengantri dalam kemacetan karna kendaraan yang begitu padat di jalan mau menuju pasar.
"Kami di sini saja, Pak" ucap Delissa kepada tukang becak itu lalu turun bersama Nana dan Ayu.
"Kak, ayo turun" ucap Delissa melihat Ahmad hanya diam melamun seperti memperhatikan sesuatu.
"Oh, ia Del" ucap Ahmad tersadar lalu turun dari becak itu. Namun, mata Ahmad tetap saja tertuju kepada mobil itu. Di dalam mobil terlihat wanita cantik dan berpenampilan begitu elegan. Karna terus mencoba mengingat siapa wanita yang menarik perhatiannya itu tiba tiba kepala Ahmad terasa sakit.
"Aww.." pekik Ahmad memegang kepalanya.
"Kakak kenapa? ayo kita duduk dulu di situ" ucap Delissa langsung saja membawa Ahmad dan juga kedua adiknya ke warung yang ada di pinggir pasar.
"Ini kak! kakak minum dulu" ucap Delissa memberikan air mineral ke Ahmad.
"Terima kasih, Del" ucap Ahmad langsung saja menerima dan meneguk air mineral peberian Delissa.
"Apa kepala kakak sakit. Kalau begitu ayo kita ke puskesmas depan" ucap Delissa merasa khawatir.
"Ti..tidak! kakak tidak apa apa. Ayo kita berbelanja" ucap Ahmad menatap segerombolan pria berjas hitam yang terus saja memperhatikan mereka.
"Ada apa?" ucap Delissa melihat Ahmad terus saja memperhatikan ke satu tempat.
"Kamu pegang Nana dengan erat. Kakak pegang Ayu. Sepertinya mereka terus saja memperhatikan kita. Kakak takut mereka ada niaf jahat"
"Baik, Kak" ucap Delissa menganguk patuh karna jujur saja dia juga merasakan hal yang sama seperti Ahmad.
Ahmad mencoba melihat kembali mobil yang di lihatnya tadi. Namun, mobil itu telah pergi. Ahmad tidak mau memikirkan yang tidak tidak tentang wanita yang di dalam mobil tadi. Jika itu istrinya tidak mungkin dia terlihat begitu mesra dengan pria lain di dalam mobil.
Ahmad mencoba melirik cincin yang melingkar di jarinya kemudian langsung saja menepis semua pikiran pikiran yang melintas di pikirannya.
"Ayo ikut kakak" ucap Ahmad langsung saja memegang tangan Ayu lalu berjalan mencoba mengalingkan perhatian para gerombolan pria itu. Delissa langsung saja mengikuti langkah Ahmad karna jujur saja dia juga merasa takut melihat segerombolan orang berjas hitam dan menyeramkan itu.
Bersambung.....
Hai... semuanya, jangan lupa mampir di karya sahabatku ya. Karyanya sangat menarik dan sayang untuk di lewatkan🥰🥰😊
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian jika sudah mampir😘🥰
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 73 Episodes
Comments
Ruk Mini
semangat del .cpt inget bank💪💪💪
2024-06-23
0