Ahmad terus saja menatap cincin yang melingkar di jarinya sambil mencoba mengingat siapa dirinya di masa lalu. Namun hasilnya nihil dia sama sekali tidak mengingat siapa dirinya.
Ahmad langsung saja berdiri dari kasurnya lalu berlahan melangkahkan kakinya menuju kamar Delissa. Ahmad menatap ketiga gadis itu yang tertidur dengan pulasnya.
Berlahan tatapan Ahmad terhenti di wajah Delissa , Ahmad melihat mata Delissa yang begitu sambab. Dari sana Ahmad langsung tau jika Delissa pasti menangis semalam suntuk.
Melihat keadaan Delissa yang begitu rapuh hati Ahmad begitu terluka. Ahmad kembali menatap cincin di jarinya lalu keluar dari rumah Delissa dengan perasaan kesal.
Ahmad berjalan menelusuri jalanan yang begitu sepi dengan cahaya matahari yang masih remang remang. Hembusan angin pagi menembus kulit Ahmad yang hanya mengunakan kaos oblong dan juga celana pendek. Udara pagi yang begitu dinggin tidak mengubah tekat Ahmad. Dia terus saja berjalan menelusuri jalanan dengan kedinginan.
"Nak, Ahmad! mau kemana?" ucap Pak Somat bingung melihat Ahmad berjalan sendirian.
"Eh, Pak Somat. Aku mau ke pasar, Pak"
"Ayo ikut sama Bapak. Bapak juga mau ke pasar"
"Beneran, Pak?"
"Gak! ya benerlah masak ngak" ucap Pak Somat bercanda.
Ahmad langsung saja terkekek kecil lalu membuka pintu depan dan duduk di samping pak Somat. Setelah melihat Ahmad duduk dengan nyaman Pak Somat langsung saja melajukan mobil Pink Upnya.
"Kamu ngapain ke pasar?" ucap Pak Somat binggung melihat Ahmad pagi pagi buta jalan sendirian mau ke pasar.
"A..aku mau jual ini, Pak" ucap Ahmad ragu sambil menunjukkan cincin yang melingkar di jarinya.
"Wah... ini cincin berlian asli. Pasti harganya sangat mahal" ucap Pak Somat kagum melihat cincin yang begitu indah melingkar di jari Ahmad.
"Benarkah, Pak. Apa cincin ini bisa menebus utang keluarga Delissa kepada tua bangka itu?"
"Ini mah lebih, Nak. Bapak akan bantu kamu menjualnya. Nanti kamu kena tipu di pasar"
"Terima kasih ya, Pak"
"Sama sama. Kita sudah kenal jadi Bapak harus membantumu. Lagian Bapak juga tidak setuju juka Delissa yang polos dan mengemaskan itu menjadi istri ke tujuh Juragan Bayu tua bangka itu" ucap Pak Somat kesal karna dia tidak teri.a jika Delissa gadis polos kesayangan desa jatuh ke tanggan pria tua bangka yang mata keranjang seperti Juragan Bayu.
"Apa kamu mencintai Delissa, Nak?" ucap Pak Somat menatap Ahmad lekat.
"Ia, Pak. Aku mencintainya aku sangat mencintainya. Saat membuka mataku yang pertama kalinya aku melihat wajah cantik dan polosnya yang begitu mengemaskan. Tanpa sadar aku telah jatuh cinta sejah pertama kali melihatnya" ucap Ahmad tersenyum membayangkan senyuman Delissa yang selalu terbayang di pikirannya.
"Wah... Jika Delissa sama nak Ahmad baru Bapak setuju. Yang satu cantik dan ceria yang satunya lagi tampan dan bijaksana jadi paket komplit"
"Bapak bisa saja" ucap Ahmad terkekeh kecil mendengar pujian Pak Somat.
Mereka berdua terus saja bercerita sepanjang jalan. Ahmad yang mendengar jika cincin yang di jarinya harganya cukup mahal membuat hati Ahmad langsung saja lega. Akhirnya dia bisa membayar utang utang keluarga Delissa walaupun harus menjual cincin yang menjadi barang yang pengikatnya dengan masa lalunya.
"Nah kita sudah sampai" ucap Pak Somat menghentikan mobilnya.
Ahmad langsung saja menatap keadaan pasar yang begitu ramai walaupun masih pagi pagi buta. Terlihat begitu banyak orang yang berlalu lalang di tengah tegah pasar yang terang karna sinar lampu.
"Kamu tunghu sini ya. Bapak bongkar barang dulu"
Mendengar ucapan Pak Somat Ahmad langsung saja menganguk patuh. Ahmad melihat pak Somat memangil para kuli panggul dan menyuruh mereka membongkar semua barang barang Pak Somat.
"Kalian semua bongkar semua barang barang ini ya. Letakkan di tempat biasa ya" perintah Pak Somat kepada para pemuda yang biasa membongkar barang barangnya.
Semua pemuda itu langsung saja mengangkuk patuh. Lalu membongkar semua barang barang Pak Somat. Setelah memastikan barang barangnya telah aman Pak Somat langsung saja membawa Ahmad ke toko perhiasan.
"Selamat pagi, ada yang bisa kami bantu" ucap pemilik toko itu ramah sambil terus menatap Ahmad.
"Kami mau menjual cincin ini" ucap Pak Somat menunjukkan cincin yang melingkar di jari Ahmad.
"Boleh saya periksa" ucap pemilik toko itu.
"Boleh. Ini" ucap Ahmad langsung saja membuka cincinnya lalu menyerahkannya kepada pemilik toko itu.
"Wah..ini cincin mahal sekali. Kalau saya kira hanya keluarga kusuma yang mampu membeli cincin semewah ini" ucap pemilik toko itu menatap tidak percaya.
"Keluarga Kusuma?" ucap Ahmad mengerutkan keningnya.
"Ia keluarga Kusuma. Keluarga terkaya di kota ini. Tapi saya lihat anda sangat mirip dengan Tuan Aldyanta Kusuma pewaris keluarga kusuma yang meninggal akibat kecelakaan tiga bulan lalu"
"Kecelakaan tiga bulan lalu? bisa anda ceritakan" ucap Pak Somat mulai curiga jika Ahmad adalah Tuan Aldyanta yang di sebut pemilik toko itu.
"Tiga bulan lalu Tuan Muda mau memeriksa perusahaan tambang emasnya yang di sini. Tapi dia mengalami kecelakaan dan mayatnya sampai sekarang belum di temukan. Anda lihat perusahaan yang berdiri kokoh itu? itu adalah salah satu perusahaan Tuan Muda Aldyanta"
Ahmad langsung saja menatap perusahaan yang berdiri kokoh tak jauh dari tempatnya berpijak. Namun, tiba tiba kepalanya begitu sakit melihat perusahaan itu.
"Kamu kenapa, Nak?" ucap Pak Somat panik.
"Aku tidak apa apa. Tolong bayar ini aku sangat membutuhkannya" ucap Ahmad langsung saja memberikan cincinnya kepada pemilik toko itu.
"Baiklah" pemilik toko itu langsung saja mengambil cincin yang di berikan Ahmad lalu memberikan satu amplop penuh uang kepada Ahmad.
"Ayo kita pergi, Pak" ucap Ahmad kepada pak somat.
Pak Somat langsung saja menganguk lalu membantu Ahmad berjalan. Setelah kepergian Ahmad pemilik toko itu langsung saja menghubungi seseorang.
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 73 Episodes
Comments
Reza Indra
Tk terasa air mata udh melelehh.. 😥😥
2023-03-13
1