Setelah Ayu dan Nana pergi ke sekolah. Delisa langsung saja bersiap siap. Melihat Delisa yang sudah rapi Ahmad langsung saja mendekatinya.
"Kamu mau kemana, Del?"
"Aku mau ke apotik, Kak"
"Ngapain? kamu sakit?"
"Tidak, Kak. Aku tidak sakit. Tapi aku ke apotik mau menebus obat Kakak. Kakak mau ikut?"
"Ia deh. Lagian Kakak bingung mau ngapain di rumah sendirian"
"Ya, sudah. ayo" Delisa dan Ahmad langsung saja berjalan keluar rumah. Sesampainya di luar Ahmad tidak melihat satupun kendaraan yang bisa mereka pakai untuk pergi.
"Kita naik apa, Del?"
"Jalan kaki"
"Jalan kaki?" ucap Ahmad refleks.
"Ia, jalan kaki. memangnya kenapa, Kak? lagian jalan kaki di pagi hari kan baik untuk tubuh kita"
"Ya, sudahlah. ayolah kalau begitu" ucap Ahmad langsung saja melangkahkan kakinya mengikuti Delisa.
"Del, ayah sama ibu dimana? kok kakak tidak melihatnya sejak kakak sadar?"
Mendengar ucapan Ahmad, Delisa langsung saja menghentikan langkahnya sambil menarik napasnya pelan. Melihat reaksi Delisa, Ahmad langsung saja merasa tidak enak.
"Apa kakak salah bicara?" ucap Ahmad menatap lekat wajah Delisa.
"Tidak. Kakak tidak salah bicara. Ayah dan Ibu sudah meninggal satu tahun lalu" jelas Delisa mencoba tersenyum.
Mendengar ucapan Delisa, Ahmad langsung saja menganguk mengerti. Ahmad langsung saja melirik ke arah Delisa. Ntah mengapa Ahmad bisa melihat dari senyuman keceriaan Delisa ada tersimpan kesedihan dan juga beban yang sangat berat tersimpan di belakangnya.
"Satu tahu lalu Ayah meninggal karna sakit yang dia derita selama bertahun tahun. Setelah beberapa bulan kematian Ayah, Ibu juga menyusulnya. Ibu terlena TBC karna terlalu lelah bekerja. Dokter bilang ibu bisa sembuh dengan menjalani perawatan di rumah sakit. Karna kami tidak punya uang ibu memilih untuk di rawat di rumah dan menggunakan obat obatan tradisioan. Namun, ibu tidak pernah memperlihatkan sakitnya kepada kami sehingga kami kira ibu baik baik saja. Namun, suatu hari ibu batuh darah. Aku yang melihat itu langsung saja membawanya ke rumah bidan Nita. Tapi, sayang nyawa ibu tidak bisa diselamatkan" jelas Delisa sambil meneteskan air matanya.
"Kamu yang sabar yan, Del. Kakak janji akan menjadi Ayah dan juga Kakak yang baik untuk kalian. Kakak akan membantumu untuk membesarkan Nana dan Ayu" Ahmad mencoba untuk menyemangati Delisa.
Mendengar ucapan Ahmad, Delisa langsung saja tersenyum. Ntah mengapa walaupun tidak tau asal asul Ahmad, tapi Delisa merasa sangat nyaman bersamanya.
"Tapi, kita jalan sudah cukup jauh. Kok kita tidak sampai sampai?" ucap Ahmad sudah merasa lelah.
"Kita baru jalan lima ratus meter kak. Sedangkan apotinya satu kilo meter dari rumah" ucap Delisa tersenyum melihat keringat Ahmad yang sudah bercucuran membasahi baju kaosnya.
Delisa memberikan baju Almarhum Ayahnya untuk di gunakan Ahmad. Kebetulan sekali almarhum Ayah Delisa memiliki badan sama seperti Ahmad sehingga semua pakaiannya pas di tubuh Ahmad.
"Ha... jadi kita harus jalan lima ratus meter lagi, Del?'' ucap Ahmad tak percaya. Karna lelah Ahmad memilih untuk duduk di tepi pasar yang sempit itu.
"Kalau kakak lelah kita berhenti di sana saja" ucap Delisa menunjuk ke ara jembatan beton dimana ada tempat duduk di sana bisa di gunakan untuk mereka istirahan.
"Baiklah" Ahmad langsung saja berdiri lalu melangkahkan kakinya yang sudah sangat pegal.
Sesampainya di jembatan Delissa dan Ahmad langsung saja duduk sambil menatap ke arah aliran sungai di bawah mereka.
"Kakak mau minum?" Delisa mencoba memberikan botol minum yang dia sediakan dari rumah.
"Kamu minum saja dulu"
"Tapi aku lihat kakak sangat lelah" Delisa mencoba mengambil sapu tangan di dalam tas kecil usangnya lalu mengelap wajah tampan Ahmad yang di penuhi keringat.
Ahmad menatap kagum kecantikan Delisa yang begitu alami. Tak ada sedikit polesan bedak di sana. Kecantikan Delisa sangatlah alami.
"Terima kasih, Del"
Delisa hanya tersenyum lalu meminum air mineral dari botol minumnya. Karna tengorokannya sudah kering karna berjalan sejauh lima ratus meter dan ada jalan sepanjang lima ratus meter lagi yang bersedia menanti mereka.
"Apa di sini tidak ada angkutan umum, Del?" ucap Ahmad mulai melangkahkan kakinya lagi mengikuti Delisa.
"Kalau angkutan umum adanya di jalan besar tepat di simpang mau masuk ke desa ini kak. Biasanya orang desa yang tidak mempunyai kendaraan memangil ojek ataupun becak untuk keluar. Tapi, ongkosnya mahal, Kak"
"Jadi Ayu sama Nana ke sekolah bagaimana?"
"Kalau Ayu dan Nana mengunakan becak tapi barengan sama teman temannya yang lainnya. Jadi, ongkosnya agak murah dan bayarnya perbulan"
Mendengar penjelasan Delissa, Ahmad langsung saja menganguk mengerti. Ahmad mencoba terus melangkahkan kakinya walaupun terasa sangat pegal. Beda dengan Ahmad yang kelelahan Delissa malah berjalan dengan girangnya sesekali gadis cantik itu juga berlari kecil ketika melihat binatang binatang cantik yang mereka lewati.
"Kak, lihat burung itu. Cantik sekali kan?" ucap Delisa menunjuk ke arah burung yang sedang hingap di atas dahan pohon.
Tak terasa akhirnay mereka sampai juga di apotik, Delissa langsung saja memberikan resep yang di berkan bidan Nita.
"Kak, aku mau beli resep obat ini"
"Tunghu sebentarnya" pemilik apotik itu langsung saja menerima resep obat yang Delisa berikan. Sambil menungu Delisa mengajak Ahmad untuk duduk di kursi tunggu.
"Delisa?" beberapa orang gadis berseragam abu abu datang menghampiri mereka.
"Hai.. kalian kok sudah pulang sekolah?" ucap Delisa melihat teman temannya yang pulang sekolah lebih awal.
"Kami pulang lebih awal karna hari ini pembagian no ujian. Kamu tau gak semenjak kamu berhenti sekolah keadaan kelas sangat sepi lho tanpa kamu" Mendengar ucapan teman temannya Delisa langsung saja tersenyum terpaksa.
"Eh, ngomong ngomong cowok tampan yang bersamu siapa, Del?" ucap teman teman Delisa menatap kagum ketanpanan Ahmad.
"Oh ia. Kenalkan dia kak Ahmad. Kak kenalkan mereka teman teman Delisa" Delissa langsung saja memperkenalkan Ahmad kepada teman temannya.
"Tampan sekali. Tangannya juga sangat halus" ucap teman teman Delisa bersorak gembira karna bisa bersalaman dengan Ahmad.
"Mbak. Ini obatnya" ucap pemilik apotik memecahkan obrolan para chiby chiby itu.
"Semua berapa, Mbak?"
"Semuanya jadi seratus tujuh puluh ribu, Mbak"
Ana langsung saja mengambil uang di tasnya. Ahmad menatap Delisa dengan tatapan yang tidak bisa di artikan.
"Kami pulang duluannya" pamit Delisa kepada teman temannya.
Teman teman Delisa langsung saja menyetujuinya walupun Delisa harus melayani obrolan mereka terlebih dahulu.
"Mereka teman teman sekolah kamu, Del?" ucao Ahmad.
"Ia, kak. Tapi setelah Ayah dan Ibu meninggal aku memilih untu berhenti sekolah agar bisa membiayai sekolah Ayu dan Nana" Jelas Delisa jujur
Bersambung....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 73 Episodes
Comments
Mas Jono
typo nya lumayan
2024-06-20
0
Reza Indra
Miris banget kehidupan Delisa dn adik²nya..😥😥😥
2023-03-13
1
ALmira
semoga ada kebahagian untukmu del
2022-09-11
1