Ch. 17 ~ Peninggalan Berharga

Tanpa terasa Tian Shan telah begitu akrab dengan Zhang Weilin. Terlihat ketika ia bercerita dengan tingkah lugunya membuat Zhang Weilin sesekali tersenyum lembut disertai ekspresi wajah senang.

Zhang Weilin baru berubah ekspresi saat Tian Shan mengatakan bahwa ia telah memulai latihan beberapa hari yang lalu dan sekarang dirinya telah mencapai tingkat Petarung Senior Bintang 6 namun hanya setengah langkah, belum benar-benar berada di tingkat itu.

Bukan masalah tentang tingkat yang dicapai telah sempurna atau belum. Yang membuat Zhang Weilin merasa terkejut kemudian tersenyum dingin adalah Tian Shan berhasil naik empat tingkatan hanya dalam beberapa hari tanpa seorang guru.

Selain itu, Zhang Weilin tahu benar bahwa bocah didepannya ini mengalami sesuatu hal yang tidak bisa menjadikan dirinya seorang petarung, itu sebabnya Zhang Weilin seakan tidak percaya perkataannya. Setelah beberapa saat berpikir itu adalah hal mustahil meskipun punya banyak sumber daya sekalipun, akhirnya Zhang Weilin berkesimpulan itu hanyalah cerita yang dibuat-buat oleh anak delapan tahun sebagai cerita mimpi belaka.

Setelah menggeleng pelan disertai senyum kecil ia kembali bersikap normal, Zhang Weilin menghela napas pelan sebelum memotong cerita Tian Shan.

“Heh, sudah sudah! Malam sudah larut, sebaiknya kau tidur, besok Ayah akan menemuimu sebelum pergi bersama para tetua. Pastikan bangun tepat waktu!”

Tian Shan mendengus kesal karena ia merasa belum menyelesaikan ceritanya, “Huh, lagi-lagi orang itu akan pergi, pasti akan butuh waktu lama. Kakak sedang dalam misi, orang tua bodoh itu juga akan pergi. Sendirian lagi, dasar menyebalkan.”

Wajah kesalnya jelas terlihat sebelum Tian Shan berjalan menuju kamarnya dengan terus bergumam sendiri.

Zhang Weilin memperhatikan tingkah polos Tian Shan dengan hanya tersenyum tipis sambil tangan kanannya menutup ringan bibirnya.

Malam semakin larut, namun Zhang Weilin tidak merasa mengantuk sedikitpun. Dirinya masih berada di halaman depan, terduduk santai melihat indahnya bulan.

“Lin'er! bukankah ini sudah larut. Kenapa kau tak istirahat? Udara malam tak cukup bagus untuk tubuhmu,” Luo Chen Fang tiba-tiba muncul, hal itu mengagetkan Zhang Weilin.

“Ahh, Ayah sudah pulang. Tidak apa-apa, aku hanya sedang ingin melihat bulan saja. Aku tak bisa tidur setelah bertemu dengan Tian Shan, membuatku merasa seperti ... entahlah Ayah, ehmm!” Zhang Weilin tak berniat melanjutkan ucapannya, padahal dalam hatinya ia ingin mengatakan jika Tian Shan sangat mirip dengan Tian Xing saat kecil dulu.

Chen Fang menyadari perubahan reaksi cucu Tetua Zhang itu tetapi ia segera menepisnya, ia lebih terlihat bahagia ketika mendengar jika anak bungsunya sudah kembali.

“Oh apakah dia baik-baik saja? Apa ada hal aneh padanya, sekarang dia dimana?” kata Luo Chen Fang dengan banyak pertanyaan sekaligus dengan wajah bahagianya.

Zhang Weilin tertawa kecil mendengar berbagai pertanyaan itu, bagaimana tidak, itu seharusnya dilakukan oleh seorang ibu tetapi ini adalah lain.

“Ayah terlalu banyak pertanyaan. Intinya, Tian Shan baik-baik saja, dia mungkin sudah tidur dan aku juga sudah memberitahunya bahwa besok ayah akan pergi untuk waktu yang belum pasti, dia sedikit kecewa tapi kurasa akan baik-baik saja,”

“Hmm, syukurlah. Jika begitu, kau cepatlah istirahat, Ayah akan istirahat duluan untuk besok!” Luo Chen Fang menghela napas pendek kemudian berlalu pergi.

Zhang Weilin hanya mengangguk pelan dengan senyuman ramah. Kemudian kembali mengamati bulan.

Sebenarnya usia Zhang Weilin dan Tian Shan tidak terlalu jauh jika mereka sedang bersama. Terlihat mereka seperti seumuran walaupun nyatanya Weilin lebih tua setahun dibanding Tian Xing. Hanya saja tingkah polah Tian Shan yang masih kekanak-kanakan dan sikap Weilin yang belum sepenuhnya dewasa membuat orang lain berpandangan berbeda.

Namun, jika soal tingkatan petarung. Mereka sebenarnya berada ditingkatan yang sama saat ini, hanya saja Zhang Weilin lebih unggul pengalaman.

Sementara Zhang Weilin masih tetap pada apa yang dilakukannya sejak tadi, Chen Fang terlihat tengah memasuki sebuah ruangan yang berada di bagian lain rumahnya. Yang selama ini tertutup rapat bahkan Tian Xing sendiri tidak diizinkan memasukinya dan bahkan Tian Shan tidak pernah mengetahuinya.

Ruangan itu cukup besar dengan pernak pernik khas wanita dengan warna dinding biru serta berjejer rak buku, disisi lain terdapat barisan gaun wanita. Disamping itu nampak sebuah lemari tanpa pintu yang berisi beberapa senjata, gulungan jurus serta beberapa batu kristal Biru Tua.

Luo Chen Fang terlihat sedang memilih beberapa senjata, namun akhirnya ia menjatuhkan pilihan pada satu senjata yang memiliki penampilan paling mencolok dibanding lainnya.

Sesaat kemudian Chen Fang mengambil sebilah pedang dengan ukiran naga di bilahnya yang berwarna emas serta gagang pedangnya berwarna biru berornamen kepala naga.

“Ahh, cukup lama tidak menggunakanmu. Terakhir kali waktu itu ya! Hmm, kuharap kau lah yang menebas kepala orang yang membunuh putraku!” raut wajahnya penuh kesedihan tetapi tatapannya tajam, Chen Fang seakan mengajak bicara pedang itu yang berkilauan bilahnya ketika di angkat. Itu merupakan senjata kelas tinggi, Pedang Naga Emas.

Setelah memastikan pilihannya ia berniat untuk keluar karena tidak ada hal lain lagi yang perlu ambil. Tapi ketika mulai melangkah, pandangan matanya tidak sengaja tertuju pada benda berbentuk kunci berwarna emas beserta sebuah gulungan di dekatnya yang berwarna biru dengan aura pekat.

Menyadari keberadaan benda itu Chen Fang mengurungkan niatnya untuk keluar dan mendekatinya.

“Oh, ini bukannya benda itu ya, aku tidak ingat kapan aku menaruhnya disini. Ah, apakah aku memang tidak pernah sadar? Lan'er... salahku tidak bisa menjagamu dan sekarang salah satu putramu juga telah mati karena aku tidak becus melindunginya!”

Chen Fang memegang benda berbentuk kunci berwarna emas itu yang terlihat bentuknya menyerupai Bunga Teratai setengah mekar. Jelas raut wajahnya berubah sedih hingga penuh guratan penyesalan di wajahnya ketika memegang benda itu.

“Ah benar juga, kenapa aku bisa sampai lupa. Tian Shan! Jade Teratai Suci! Ah, dasar orang tua bodoh! Kenapa aku bisa melupakan hal sepenting ini. Lan'er, terimakasih telah mengingatkanku, aku bersumpah dengan nyawaku, putra kita Luo Tian Shan akan aku lindungi dengan nyawaku dan membantunya menembus tingkatan petarung paling tinggi sesuai impianmu!“ Tiba-tiba Chen Fang teringat sesuatu ketika tengah meratapi kesedihannya. Benda berwarna emas itu bernama Jade Teratai Suci.

Jade Teratai Suci merupakan Benda Dewa peninggalan Klan Teratai Biru Kuno yang pemilik sebelumnya adalah ibu dari Tian Shan dan Tian Xing. Chen Fang jelas merasa senang dengan penemuannya yang tak disengaja dengan benda peninggalan istrinya itu.

Namun disisi lain yang belum disadarinya bahwa Jade Teratai Suci juga diincar dan tengah dicari oleh tiga organisasi hitam.

Jade Teratai Suci adalah sebuah Pecahan Jalan Surga. Yang memungkinkan seorang Petarung bisa menjadi Dewa Petarung setelah mampu memahami dan berhasil memecahkan apa yang terkandung di dalam Inti Pecahan Jalan Surga. Itulah penyebab Benda ini di buru oleh beberapa Organisasi Hitam yang mengetahui rahasia di dalamnya.

Sebenarnya di dunia ini terdapat 3 Pecahan Jalan Surga yang masing-masing merupakan milik ketiga Klan Kuno. Dengan kegunaan, fungsi serta pemahaman yang berbeda di setiap pecahan. Dan yang berada di tangan Chen Fang saat ini adalah salah satunya.

Memiliki fungsi mampu membangkitkan inti Api Emas setelah seorang petarung menguasai Inti Api tertinggi yakni Inti Api Biru. Sebuah Kunci dari Segel Teratai Staris Visma Deva. Merupakan salah satu Inti Pecahan Jalan Surga yang pertama dan yang terakhir adalah sebagai identitas keturunan terakhir Klan Teratai Biru Kuno.

Teratai Staris Visma Deva adalah hal berbeda dari segel yang terdapat di dalam tubuh Tian Shan, walaupun kenyataannya adalah segel di tubuh Tian Shan adalah bagian kecil dari teknik dewa itu.

Keturunan Klan Teratai Biru Kuno yang berhasil membuka segel dan menguasainya sebelum usia sepuluh tahun sudah dipastikan bahwa ia akan meraih tingkatan paling tinggi di antara seluruh petarung dan hanya lebih rendah satu tingkat dari Dewa Petarung Bintang 10 atau disebut juga Dewa dari dewanya petarung.

Chen Fang cukup memahami kegunaan Jade Teratai Suci bagi masa depan putranya. Tanpa menahan diri ia tertawa panjang dalam reaksi wajah bahagia, kemudian keluar dari ruangan itu dan menyegelnya kembali agar tidak ada yang bisa memasukinya.

“Xiao Shan, meskipun kau menganggap ayah adalah orang tua bodoh. Dan memang itulah kenyataannya! Tapi tidak dengan ibumu. Dia sudah memikirkanmu bahkan sebelum kau lahir. Luo Tian Shan, setelah hari ini kau bukan lagi seorang sampah!“ gumam yakin Chen Fang sambil berjalan menuju kamarnya dengan ekspresi wajah yang berubah-ubah.

Kenyataan yang tidak diketahui Chen Fang tentang putranya ialah dia telah mampu berlatih dan juga telah mampu membangkitkan teknik Teratai Staris Hijau. Dan untuk segel dalam tubuhnya juga telah terbuka.

Kondisi Tian Shan saat ini bisa dibilang seorang genius dari genius manapun diusianya dan masih akan di tambah dengan kehadiran Jade Teratai Suci.

Sesuatu yang akan mengubah jalan takdir Tian Shan suatu hari nanti.

Terpopuler

Comments

dzhittetadhaelamy@gmail.com

dzhittetadhaelamy@gmail.com

sampah

2021-08-24

0

dinik

dinik

waww...

2020-08-06

1

arton

arton

lanjut thorr

2020-06-22

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!