Ch. 6 ~ Hilang Kesempatan

Berbekal keyakinan serta kepercayaan diri tinggi, Luo Chen Fang yang ditemani adiknya menuju ke tempat Raja Obat Sian berada.

Namun mereka tidak tahu bahwa seluruh anggota keluarga Raja Obat Sian telah di bantai habis tak tersisa, sementara keberadaan Raja Obat Sian menghilang tanpa jejak.

Dalam perjalanan, mereka juga tidak menyadari situasi kota-kota yang mereka lewati, karena mereka memang tidak singgah dan lebih memilih istirahat di luar wilayah kota.

“Ketua Fang! Menurut wilayah yang telah kita lewati, seharusnya kita sudah mendekati tempat yang kita tuju. Sebaiknya kita mulai memikirkan alasan dan penjelasan yang tidak bisa Raja Obat untuk menolaknya,” ujar Chen Fei sembari mengunyah roti kering, terlihat ekspresi wajahnya serius dan bersikap waspada meskipun sedang beristirahat.

“Tenanglah...! Aku sudah menyiapkan semuanya jauh jauh hari, ditambah dengan latar belakang istriku pasti dia tidak dapat menolaknya. Sudah, habiskan makananmu dan mari kita lanjutkan perjalanan,” sahut Chen Fang sambil berdiri dan menepuk-nepuk tangannya dari sisa roti kering yang ia santap.

Setelah dirasa cukup istirahat, mereka kembali melanjutkan perjalanan dengan kecepatan yang sama, karena memang jarak antara tempat mereka berada dengan tujuan tidak begitu jauh lagi, mereka tidak butuh waktu lama untuk sampai.

Tapi begitu mereka sampai, raut wajah yang semula cerah dan bahagia, berubah menjadi raut wajah kaget bercampur bingung dan berakhir marah.

Sebab, di depan mereka terhampar mayat mayat anggota keluarga Ahli Obat serta bangunan dan rumah rumah hancur berkeping keping.

“A-apa? Apa yang sebenarnya terjadi? Bagaimana ini bisa terjadi...!” Chen Fang menatap tak percaya, terlihat tubuhnya bergetar menyaksikan pemandangan mengerikan di depannya.

Begitu pula Chen Fei yang sejak kedatangan mereka, hanya diam terpaku tanpa mampu berkata-kata yang juga tubuhnya bergetar, terlihat jelas sorot matanya begitu rumit, campur aduk.

Tidak ada yang tersisa dari tempat itu, bangunan tempat tinggal hancur, tidak ada manusia yang jasadnya utuh, banyak hewan peliharaan yang juga mati tanpa kepala bahkan sebagian organ dalamnya tidak ada.

Lutut keduanya serasa lemas tak bertenaga, menyaksikan kebiadaban tersebut tak membuat keduanya kembali, Chen Fang dan Chen Fei berjalan pelan menyusuri reruntuhan, mereka merasa pasti masih ada yang bisa bertahan hidup sampai saat ini.

Tujuan keduanya kini sedikit berubah, melihat apa yang terjadi membuat keduanya merasa harus mencaritahu anggota keluarga yang masih bernapas, untuk mengetahui penyebab dan siapa yang melakukan kebiadaban itu semua.

Ditengah-tengah kota kecil tempat para ahli obat tinggal itu, masih berdiri sebuah bangunan yang tidak terlalu besar walaupun sebagian bangunan tidak utuh lagi. Chen Fang menatap geram sembari kedua tangannya mengepal melihat semua yang terjadi di tempat itu. Begitu juga Chen Fei yang terlihat tidak sanggup lagi menahan amarahnya.

“Bajingaan...! Siapapun yang berbuat semua ini, akan aku hancur leburkan. Sialan...! Tidak berguna, tidak berguna! Kurang ajar,” seruan Chen Fei menggema di tempat itu yang memang hening tak ada suara apapun. Angin yang berhembus ringan seolah semakin membuat suasana terlihat begitu menyedihkan.

Mereka melupakan tujuan awal mereka datang ke tempat itu dan kini tergantikan dengan amarah, dendam. Sebab mereka tahu benar, sekelas Kota Ahli Obat saja di ratakan dengan tanah tanpa tersisa dan hampir tidak ada tanda-tanda kehidupan. Apalagi klan mereka yang notabene dalam hal pengetahuan dan pengaruh, jauh dibawah Keluarga Ahli Obat.

*****

“Adik Shan, pelan pelan makannya..! Tidak akan ada yang merebutnya darimu,” ujar Tian Xing sambil tersenyum melihat adiknya menyantap makanan dengan lahap tanpa jeda seolah tidak makan berhari-hari.

“Hmfphh ... Ini lezat kak!” sahut Tian Shan tidak begitu jelas sebab mulutnya penuh dengan makanan, sementara kedua tangannya juga tengah memegang potongan paha ayam.

“Aihh, dasar anak ini...! Habiskan semua, habiskan saja ... Jangan sisakan! Kakak sudah kenyang, kakak tunggu di ruang depan. Oke,” desah Tian Xing diiringi senyum lebarnya lalu beranjak pergi meninggalkan adiknya yang masih dengan lahap menyantap semua masakannya.

Beberapa saat kemudian Luo Tian Xing duduk di bangku ruang depan sembari masih tersenyum sambil menggelengkan kepalanya mengingat kelakuan adiknya itu. Tak berselang lama ia membayangkan dalam pikiran, jika adiknya sudah bisa berlatih, mereka berlatih bersama dengan bimbingan ayahnya.

Semua bayangan kehidupan menjadi lebih baik yang akan segera mereka dapatkan membuat Tian Xing beberapa kali terlihat tersenyum bahagia.

“Kakak, aku sudah selesai...! Ehh, Kak Xing sedang melamun apa? Hmm apa jangan-jangan kakak sedang memikirkan Kakak Zhang Weili atau Kakak Sui Ren atau ...?”

“Atau kepalamu...! Siapa yang memikirkan mereka, dasar bocah busukk! Menyebalkan,” sahut Tian Xing memotong perkataan adiknya sembari memukul kepala Tian Shan.

“A-duduh! sakit, sakit ...!”

“Hahaha dasar lemah! Rasakan itu, siapa suruh mengganggu orang sedang berpikir. Hahaha...!” kelakar Tian Xing dengan tawa lebar, terlihat ekspresinya begitu senang.

Dalam tawa senangnya serta tingkah yang bodoh, Luo Tian Xing tak sengaja melirik gelang yang di pakai Tian Shan kemudian menaikkan sebelah alisnya ketika menyadari. Sebab, ia tahu benar sejak kapan adiknya mau memakai pernak-pernik yang biasanya di pakai wanita.

“Sudah, sudah! Hentikan gurauanmu yang tidak lucu itu. Kakak penasaran, kau dapatkan dari mana gelang itu...!” tanya Luo Tian Xing setelah menghentikan tawanya kemudian menunjuk ke pergelangan tangan kanan Luo Tian Shan.

Seketika Tian Shan terdiam dan raut wajahnya berubah cemas, kelihatan kalau dia bingung menjelaskannya.

‘Ceritakan saja semuanya pada kakakmu, tapi jangan katakan tentangku,’ suara Yun Zhizi memecah kecemasan Tian Shan, suara itu tidak dapat di dengar oleh Tian Xing.

“Karena kebodohanku, aku berlari hingga kedalam hutan, sampai menemukan sebuah gua. Karena aku berpikir akan aman di dalam sana dari hewan buas dan setelah aku memasuki gua itu ternyata di dalamnya ada sebuah tempat yang sepertinya pernah di tempati seseorang, bukan saja barangnya yang aneh, tapi semuanya barang wanita lalu aku menemukan gelang ini di atas tumpukan kain. Aku penasaran terus aku mencobanya. Tapi anehnya setelah aku mencoba beberapa kali untuk melepaskan, tetap tidak bisa lepas. Jadi aku memutuskan untuk memakainya dan membawanya pulang,” terang Luo Tian Shan disertai memeragakan dengan gerakan tangannya.

“Ohh...! Mungkin ini salah satu benda pusaka, kita tanyakan nanti setelah ayah pulang. Kau sangat beruntung Adik Shan. Hahaha,” Luo Tian Xing langsung mempercayai cerita adiknya tanpa ragu sedikitpun, ia juga mengacak-acak rambut Tian Shan seperti biasanya.

“Kakak hentikan itu! Aku sudah bukan anak-anak lagi, bisakah kau tak sembarang memperlakukanku,” protes Tian Shan disertai lirikan bodohnya.

PLAK!

“Bicara apa kau ini...! Kau tetaplah adik kecilku yang lucu, hahaha....” sikap Tian Xing masih saja kekanak-kanakan, ia masih menganggap adiknya itu seorang anak-anak.

‘Orang ini! Kapan bisa bersikap layaknya kakak? Dasar kakak bodoh, cih....’ gumam Tian Shan sambil memegangi kepalanya.

Terpopuler

Comments

dinik

dinik

ada sui ren

2020-08-06

1

Dewa Tertinggi Hugo.

Dewa Tertinggi Hugo.

aku mampir thor.. jangan lupa follback ya thor berteman itu indah

2020-05-26

1

puja_surya

puja_surya

aku mampir tor

2020-05-25

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!