Ch. 19 ~ Tekad Luo Tian Shan

Kepergian pemimpin klan bersama dengan beberapa Tetua Api beserta beberapa Petarung Raja memiliki dua tujuan, itu sebabnya ia tidak mengetahui pasti kapan dirinya akan kembali. Sementara kepemimpinan Klan untuk sementara di pegang oleh Tetua Shen Zhang.

Ketika sinar matahari pagi telah mulai nampak, terlihat beberapa aktifitas anggota klan berjalan seperti biasanya.

Setelah Tian Shan menyelesaikan pelatihan ringannya. Wajah berkeringat penuh keyakinan menatap tajam ke langit, Luo Shan bergumam pelan.

“Setahun lagi ya, Hehh.. Berarti tidak ada waktu lagi untuk bermain-main. Aku harus giat berlatih!”

“Tentu saja tidak ada waktu lagi untuk bermain-main. Aku akan mengawasimu, memastikan kau berlatih dengan serius!” Zhang Weilin tiba-tiba muncul dari belakang.

“Ehh, Kak Weilin. Sejak kapan disini? Lalu, apa maksudnya mengawasi?” Tian Shan sedikit terkejut dengan kehadiran cucu Tetua Zhang itu.

Weilin memperlihatkan wajah polosnya ketika sebuah senyuman perlahan mendekati wajah Tian Shan, “Tentu saja sebagai perwakilan kak Xing. Aku sebagai kakak iparmu harus memastikanmu belajar dengan sungguh-sungguh!”

“Ahh, hahahaa akhirnya kakak mengakuinya. Hahaa haha aku akan beritahu Kak Xing kalau diam-diam Kak Weilin menyimpan rasa padanya!” bukannya tersipu karena wajah Weilin mendekat tetapi Tian Shan malah tertawa lebar.

Jelas saja hal itu membuat Zhang Weilin menjadi salah tingkah, “Ehh, bukan bukan... Bukan itu maksudku! Ah dasar bocah nakal!” wajah Weilin terlihat merah merona yang kemudian berlari meninggalkan Tian Shan.

Sementara Tian Shan masih tertawa dengan bahagia sambil mengikuti arah lari Weilin yang terlihat sangat lucu, padahal Weilin tengah malu dengan perkataannya sendiri.

Beberapa saat kemudian.

“Menurut guru, aku harus menyerap beberapa Inti Jiwa tingkat menengah di tingkatanku saat ini. Haishh, jika beli di pasar sumber daya aku tak cukup uang, tapi jika aku pergi berburu hewan petarung tingkat menengah kekuatanku saat ini belum cukup kuat. Ditambah lagi guru sedang tertidur! Hah aku harus bagaimana...!” Tian Shan berbicara sendiri dalam kebingungan dengan sesekali mengacak-acak rambutnya.

Memang pilihan yang sulit baginya, pergi berburu hewan petarung sendirian penuh dengan resiko apalagi jika sampai bertemu hewan petarung tingkat puncak. Kemampuannya saat ini memang sudah berada di Petarung Senior namun belum sepenuhnya.

Dan saat ini ia juga tak memiliki cukup uang untuk membeli Inti Jiwa hewan petarung di Pasar Sumber Daya. Tian Shan belum pernah mengambil misi apapun, uang simpanan yang ia miliki sudah habis untuk membeli Inti Jiwa Hewan Petarung sebelumnya yang merupakan pemberian dari Tian Xing ketika pulang dari menyelesaikan misi.

Ditengah kebingungan yang dialami Tian Shan, Zhang Weilin yang sesaat lalu pergi meninggalkannya begitu saja. Diam-diam masih berada di balik bangunan rumah Tian Shan.

Zhang Weilin mendengar dengan jelas keluhan Tian Shan, ekspresinya berubah normal ketika mengetahui kesulitan yang dialami Tian Shan.

“Uhh, baiklah! Aku akan membantumu diam-diam. Mungkin ini adalah kesempatan untuk membuktikan janjiku pada Kak Xing!” batin Zhang Weilin yang langsung bergegas pergi.

Zhang Weilin berencana akan menyediakan Inti Jiwa Hewan kelas Menengah yang di butuhkan Tian Shan, ia berpikir untuk memberikannya secara diam-diam. Karena bukan tidak mungkin Tian Shan akan menolak jika dia berikan begitu saja.

Dalam pikiran Weilin, ia akan berusaha menyediakan beberapa Inti Jiwa setiap dua hari sekali yang akan ia letakkan di dalam kamar Tian Shan saat malam hari atau saat Tian Shan sedang tidur.

Ia memang berada di tingkat Petarung Senior yang bisa saja membantu Tian Shan berburu namun ia berpikir tak akan berani mengambil resiko itu, sebab Hutan selalu dipenuhi hal tak terduga.

Dengan langkah pasti, Weilin menuju kediaman Tetua Shen Zhang. Sebagai seorang kakek pasti akan membantu kesulitan cucunya, begitu pemikiran Zhang Weilin.

Tetua Shen Zhang memang tak ikut serta dalam misi, sebab sebagai Tetua Api yang paling senior dialah yang bertanggung jawab di gelarnya Turnamen Petarung Muda yang akan diselenggarakan kurang dari setahun lagi.

Zhang Weilin nampak gelisah di depan pintu kamar Tetua Shen Zhang, terlihat ia dalam kebingungan memikirkan penjelasan yang diperlukan.

“Apa yang akan aku katakan pada kakek? Bodohnya aku, terburu-buru membuatku jadi gugup!”

Sementara itu di dalam kamar, Tetua Shen Zhang nampak sibuk dengan tumpukan berbagai kertas dan gulungan. Ekspresinya datar ketika memeriksa satu persatu tumpukan kertas dan gulungan yang ada di hadapannya.

Ia tentu menyadari kehadiran Weilin di depan pintu kamarnya, namun ia hanya tersenyum tipis sesaat tanpa berkeinginan untuk memanggil.

Setelah beberapa saat berpikir, akhirnya Zhang Weilin memberanikan diri untuk masuk. Perlahan ia membuka pintu tanpa mengetuk ataupun memberi salam.

Terlihat raut wajahnya gugup sedangkan tatapan matanya kesana kemari, “Se-selamat pagi kakek. Apakah kakek sedang sibuk....”

“Ahh Cucuku yang manis, kemarilah kemarilah. Duduklah, Kakek tidak terlalu sibuk. Apa ada yang kau butuhkan, katakan!” Tetua Zhang segera menyambut Weilin dengan ekspresi ramahnya yang membuat Weilin tak sempat menyelesaikan perkataannya.

Langkahnya pelan karena gugup, Weilin mendekati kakeknya dan duduk di depannya. Terlihat kedua tangan Weilin saling meremas pelan, wajahnya tertunduk merona.

Selama ini Zhang Weilin tidak pernah meminta bantuan kakeknya dalam hal apapun bahkan ia kerap menolak pemberian kakeknya. Alasan itulah yang membuat ia cukup gugup menghadap kakeknya.

“Kenapa malah diam..? Katakan saja, kakek pasti akan membantu kesulitanmu. Jangan bersikap begitu pada kakek,” Tetua Zhang melihat kegelisahan Weilin, ia langsung menenangkannya dengan perkataan ramah disertai ekspresi wajah sendu.

Beberapa kali Weilin mengatur napasnya. Kemudian mulai membuka suara, “Emm.. Kakek, aku berencana membantu Xiao Shan. Dia membutuhkan Inti Jiwa Hewan Kelas menengah untuk peningkatan pelatihannya, tapi masalahnya aku tidak punya. Aku berpikir kakek bisa membantuku, lagipula aku tidak pernah meminta apapun pada kakek. Jadi aku memutuskan untuk meminta bantuan kakek. Apakah kakek bisa membantuku. Jika tidak juga tidak apa-apa. Aku bisa pergi berburu....”

Tetua Zhang tersenyum di balik wajah datarnya, ia tidak terlalu mendengarkan apa yang dikatakan Weilin. Ia hanya memandangi ekspresi yang ada di wajah Weilin yang selama ini tidak pernah ia lihat.

Ketika Weilin tak melanjutkan perkataannya yang kemudian diam menunduk penuh harap. Tetua Zhang masih memandangi wajah cucunya itu yang terlihat jelas penuh dengan ketulusan ingin membantu namun tidak cukup mampu melakukannya seorang diri.

“Haih... hentikan sikapmu itu. Kakek tak tahan melihatnya. Mana Lin'er yang selalu galak, selalu ketus pada kakek, sejak kapan Lin'er ku jadi lembek begini. Hmm... Tentu saja kakek akan membantu!” Tetua Zhang menghela napas lega, ia mengerti apa yang ingin dilakukan Weilin adalah yang selama ini tak pernah dilakukannya.

Tubuh Weilin langsung tegap dengan tatapan mata setengah melotot, raut wajahnya menyimpan kebahagiaan namun ia tahan, “Terimakasih kakek. Weilin akan giat berlatih dan akan membuat kakek bangga!”

Tetua Zhang berjanji akan membantu menyediakan Inti Jiwa bahkan sebanyak apapun. Tapi Weilin dengan tegas menolak, ia hanya ingin beberapa saja setiap dua hari selama satu bulan. Tetua Zhang tidak terlalu mempermasalahkannya dan menyetujui permintaan cucunya itu.

Setelah keduanya sepakat, Zhang Weilin langsung berpamitan karena ia sadar jika kakeknya sedang sangat sibuk menyiapkan keperluan untuk Turnamen Petarung Muda meskipun kakeknya bilang tidak terlalu sibuk, Zhang Weilin tentu bisa melihat berbagai tumpukan kertas berisi nama-nama peserta dan juga seluruh gulungan syarat pendukungnya.

Zhang Weilin meninggalkan kamar kakeknya dengan senyum bahagia penuh kelegaan.

Sementara itu, Luo Shan tengah berada di ruang baca milik ayahnya. Ia berpikir untuk menambah pengetahuannya selagi ia mencari cara untuk mendapatkan Inti Jiwa Hewan Petarung.

Ruang baca milik ayahnya memang tidak besar namun di dalamnya terdapat berbagai buku yang memuat berbagai macam pengetahuan.

Tian Xing selalu menghabiskan waktu di tempat ini jika sedang libur atau tidak ada misi. Selama ini Tian Shan tidak terlalu tertarik untuk membaca meskipun selalu diajak paksa oleh kakaknya, ia hanya membolak-balik buku yang dipelajari Tian Xing sebelumnya tetapi belum bisa memahami isinya.

Saat ini Tian Shan telah menemukan tekadnya, jadi apapun hal yang bisa membuatnya berkembang akan ia lakukan.

“Ahh, kakak selalu memintaku membaca buku ini. Tapi aku tak pernah ingin tahu isinya. Ah, sepertinya aku akan mulai membaca buku yang ini dulu saja!” desah Tuan Shan menghela napas panjang setelah menemukan sebuah buku yang sangat ia kenal sampulnya.

Buku itu berwarna biru tua yang tidak terlalu tebal, di sampulnya tertulis ‘Ensiklopedi Hewan Petarung’ sedangkan di bagian bawah tulisan itu terdapat tulisan lain yang lebih kecil tertulis ‘Peringkat kemampuan Hewan Petarung yang dikenal beserta rincian ciri bentuk fisik’.

Sebelumnya Tian Shan tidak terlalu memperhatikan judul sampulnya apalagi isinya tapi sekarang ia terlihat cukup bersemangat ketika mengetahui buku tersebut berisi tentang apa.

Dengan penuh semangat, perlahan tapi pasti Tian Shan membalik lembar demi lembar buku tersebut dengan konsentrasi penuh, ia membaca apa yang terkandung di dalam lembaran buku tersebut.

Terpopuler

Comments

Sofandsyah

Sofandsyah

up...up...up.....joozzz...

2020-09-02

1

dinik

dinik

seru

2020-08-06

2

Drexsseleer

Drexsseleer

lanjut thor

2020-06-26

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!