Kondisi Weilin telah membaik dan mampu berpikir tenang setelah ditinggal sendirian didalam kamarnya. Walaupun masih duduk bersimpuh di pojok kamar tidur, sementara kepala tersandar dikedua tangannya yang ditopang kedua lutut.
Kesedihan yang dialaminya itu membuat Weilin kembali terkenang masa lalu bersama Tian Xing.
“Hahaha kemarilah. Kejar aku kalau bisa ... wekk haha,” goda Tian Xing sambil menjulurkan lidahnya disertai sebelah mata tertutup sebelah, katup mata ditarik dengan jari. Itu sebuah ejekan bergurau yang manis.
“Huft, dasar! Awas ya, aku pukul nanti! Berhenti kalau berani...!” geram Weilin sebal namun wajahnya merona bahagia.
Zhang Weilin tersenyum tipis mengingat saat-saat ketika bermain bersama Tian Xing. Begitu manis serta indah, sifat riang dan nakalnya Tian Xing yang sering kali menggoda Weilin 5 tahun lalu. Meskipun masih berlinang air mata, mengingat kembali saat indah bersama itu, nampak wajah sendu itu sedikit merasa bahagia. Namun langsung berubah ketika terngiang kembali perkataan terakhir Tian Xing padanya beberapa waktu lalu.
“Hiks ... Kakak Xing, aku sungguh menyukaimu, meskipun kau selalu menggodaku dan aku selalu marah padamu, tapi aku sangat bahagia, hatiku terasa senang. Aku hanya tidak bisa menunjukkannya padamu. Aku berharap suatu hari nanti dapat terus berada disisimu, aku bermimpi mendampingimu selamanya. Tapi kenapa ... Kenapa mimpiku hancur seketika, seperti langit tak pernah merestui harapanku. Apa yang harus aku lakukan kakak, hiks....” lirih Zhang Weilin sembari memukul-mukul lantai kamar dengan genggaman tangan kanan.
Sesaat kemudian, Weilin teringat dengan pesan terakhir yang disampaikan padanya mengenai Tian Shan.
“Ah Luo Tian Shan, benar! Kakak menginginkanku menjaga Tian Shan. Kak Xing...! Aku telah berjanji padamu, jadi apapun yang terjadi tidak akan pernah aku mengkhianati janjiku padamu. Serahkan Tian Shan padaku, aku pasti akan selalu menemaninya, melindunginya serta menyayanginya seperti kau menyayanginya. Aku tidak akan bisa menggantikanmu di hatinya, tapi aku berjanji akan berusaha menjadi orang yang baik untuknya!“ tekad Zhang Weilin bersamaan mengangkat wajahnya terlihat pandangan keyakinan, kemudian ia mengusap bekas air mata yang ada dipipinya.
Meskipun hatinya masih lemah namun tekad yang telah ia tetapkan, membuatnya harus menjadi kuat. Kuat dalam hal apapun, perasaan, hati, pikiran serta kuat fisik dan kemampuan.
Setelah memantapkan diri, barulah Zhang Weilin keluar dari kamarnya. Yang langsung disambut oleh kedua pelayan wanita yang memang diutus oleh Tetua Zhang untuk berjaga di luar kamar.
“Nona, apakah ada yang bisa kulakukan?” tanya salah satu pelayan wanita.
“Dimana kakek, ah maksudku Tetua Zheng?” tanya balik Weilin tanpa basa basi.
“Tetua Zhang masih berada di ruang pertemuan bersama 8 tetua api lain. Apakah saya perlu panggilkan, nona?” jawab pelayan wanita itu sembari menunduk.
“Ah baiklah, tidak perlu. Aku akan pergi ke tempat Ketua Klan, jika nanti kakek bertanya katakan bahwa aku ada disana!” pesan Weilin sebelum langsung melangkah menuju kediaman Chen Fang. Sementara kedua pelayan itu hanya menunduk dan mengangguk pelan.
Alasan Zhang Weilin ke tempat ketua klan bukan untuk menemui Ketua Chen Fang namun untuk menemui Tian Shan dan ingin mencoba lebih dekat dengannya.
Walaupun sudah saling mengenal namun memang jarang bertemu sebab Weilin kerap melakukan misi begitu pula dengan Tian Shan yang kerap menyendiri di gubuk pohon buatan kakaknya.
Langkah kakinya masih terlihat lemah, Weilin tengah memikirkan jawaban yang tepat ketika ditanya Tian Shan soal kakaknya, ia merasa harus menyembunyikan ini darinya sebelum dia cukup umur hingga mampu membuat keputusan yang tepat.
Pergi menemui ketua klan adalah hal baik yang harus Weilin lakukan, untuk membicarakan penjelasan tentang Tian Xing kepada Tian Shan ketika nanti ia bertanya.
Siapapun yang ditanya haruslah menjawab dengan jawaban yang sama. Dengan begitu perkembangan latihan Tian Shan tidak terganggu.
Langkahnya terlihat ragu sementara kepalanya menunduk memikirkan berbagai hal tentang itu, tanpa terasa bahwa Weilin telah sampai di depan pintu kediaman Ketua Chen Fang.
“Ketua Fang, apakah anda di dalam, saya Zhang Weilin ingin bertemu?” sapa Weilin setelah mengetuk pintu.
Sementara itu di dalam kediaman.
“Ketua Fang, berhentilah cengeng. Lihatlah Nona Weilin, dia begitu tegar. Meskipun aku yakin kesedihannya melebihimu. Temuilah dia, buang perasaan sedihmu itu, kesedihan tak akan mengubah apapun!” bujuk Chen Fei pelan untuk meminta Chen Fang menemui Weilin yang menunggu diluar.
“Kau benar Saudara Fei, aku harus menunjukkan ketangguhanku. Lagipula Tian Shan masih harus aku urus dengan benar dan sekarang Zhang Weilin juga...!” sahut Ketua Fang beberapa saat kemudian setelah kembali tenang.
“Aku ada disini, masuklah!” seru Chen Fang dengan ekspresi tegas seperti biasanya.
“Baiklah, aku akan pergi. Bicarakan hal yang tidak menyinggung tentang kesedihan,” kata Chen Fei perlahan melangkah pergi dan bersimpangan jalan ketika Zhang Weilin masuk, ia hanya menyapa dengan sekali anggukan kepala.
'Heh, sebaiknya aku tidak memberitahunya tentang kematian Tian Xing, meskipun dia tahu bahwa kemungkinan Tian Xing telah tewas di tangan kedua bedebah itu! Aku akan menganggapnya anakku sendiri mulai saat ini, meskipun tidak sampai menikah tapi mereka telah bertunangan. Ya itu lebih baik!' batin Chen Fang sembari tersenyum tipis.
“Ketua klan, apakah saya mengganggumu saat ini, maafkan aku,”
“Sudahlah Lin'er, tidak perlu formal. Panggil aku ayah saja, itu lebih membuatku senang dan lagi, kau tak mengangguku sama sekali. Kemarilah duduk di sampingku,” Chen Fang memotong perkataan Zhang Weilin yang tersenyum canggung seperti salah tingkah.
“Umm ... Iya Ayah!” jawab Weilin setengah tergagap karena canggung, kelihatan kalau ia merasa sungkan.
“Baiklah, sekarang katakan apa tujuanmu menemuiku, aku melihat dari raut wajahmu sedang ada yang kau pikirkan, katakanlah, ayah akan mendengarkan!” tanya Chen Fang ramah sembari tersenyum.
'Aku tahu kau sedang dalam kondisi buruk karena kesedihan, tapi baiknya aku tidak mengungkit apapun itu,' batin Chen Fang menatap ringan Weilin.
“Umm ... Begini Ayah! Aku ingin bertemu Luo Tian Shan, pesan terakhir Kak Xing ketika itu, jika ia tertangkap dan tak kembali, aku harus menjaga dan menggantikannya untuk menemani Tian Shan. Aku telah berjanji akan hal itu! Menurut Ayah bagaimana?” terang Weilin hati-hati dalam menyinggung mengenai Tian Xing sebab takut jika mengetahui kalau Tian Xing kemungkinan telah terbunuh.
“Oh janji yang bagus, aku menyetujuinya tanpa syarat, lagipula kau adalah orang yang paling mengenal Tian Shan setelah Tian Xing. Jadi sebelum Xing kembali, penuhilah janjimu padanya, Lin'er!” Chen Fang tersenyum ramah sembari berpikir untuk menyembunyikan kematian Tian Xing saat ini.
Kedua orang itu saling menjaga perkataan mengenai kejelasan soal Tian Xing, sebab mereka sama tidak tahunya kalau mereka sudah mengetahui situasi sebenarnya meskipun Weilin tidak melihat langsung kepala Tian Xing yang tergantung, tapi menurutnya mustahil bagi tunangannya itu untuk bisa selamat dari kedua orang dari Tebing Utara.
“Setidaknya aku memenuhi janjiku atau mungkin aku mencari pelarian dari perasaanku. Aku tidak yakin tentang itu ayah!” gumam pelan Weilin dengan menunduk pelan.
“Buang jauh-jauh pesimismu itu, seseorang tidak akan bisa membohongi perasaannya tapi seseorang juga tidak bisa mengontrol arah perasaan yang dikehendakinya. Ikutilah kata hatimu! Lin'er, ketahuilah bahwa langit memang biru tapi tak selalu cerah. Hujan memang air tapi air tak selalu hujan,” kata Chen Fang sambil tersenyum ramah diselingi membelai halus kepala Weilin.
“Apa maksudnya itu Ayah? Aku tidak mengerti,” tanya Zhang Weilin penasaran, sementara tatapan matanya seolah ingin penjelasan.
“Saat ini kau tak memahaminya tapi cepat atau lambat kau akan mengerti, itu bukan hanya untukmu tapi juga untukku sendiri. Hehehe,” ujar Chen Fang sambil memiringkan kepala dengan senyum lebarnya.
Ya, memang benar. Kata-kata itu ia ucapkan secara tidak langsung juga memberitahu dirinya sendiri.
“Hmm, baiklah Ayah! Lalu dimana Adik Shan sekarang? Apakah dia sudah tidur?” tanya Weilin setelah mengangguk pelan kemudian celingukan mencari keberadaan Tian Shan yang sedari tadi tidak ia lihat keberadaannya.
“Oh, aku juga tidak tahu. Saat aku pulang dia tidak ada dirumah, mungkin ada di gubuk pohonnya atau gua dipinggir hutan. Dia memang selalu seperti itu kan, setelah menerima perlakuan buruk dari teman sebayanya. Besok siang kau datanglah kemari, mungkin dia akan pulang karena lapar, hehe....” terang Chen Fang meyakinkan sementara tatapannya ke pintu kamar Tian Shan.
“Emm, benar juga kata ayah. Baiklah jika begitu aku akan tidur disini saja. Apakah boleh?” lanjut Weilin setengah malu-malu.
“Oh benarkah? Aku senang mendengarnya, jika begitu kau tidurlah di kamar Tian Xing, biar nanti ku suruh orang untuk membereskannya,” ujar Chen Fang setengah kaget.
“Tidak perlu ayah, biar aku sendiri yang melakukannya. Lagipula rumah ini bisa kuanggap sebagai rumahku juga kan, hihi....” sahut Weilin disertai senyum manis.
“Ah anak yang baik ... Andai saja! Ah sudahlah. Baiklah, istirahatlah Lin'er,” Chen Fang membayangkan sesuatu namun segera ditepisnya.
“Ayah juga, selamat istirahat ayah!” setelah berpamitan, Zhang Weilin langsung menuju ke kamar Luo Tian Xing.
Sementara itu di belantara hutan, Tian Shan sedang tertidur pulas di depan api unggun beralaskan daun talas biru ditemani oleh Yun Zhizhi yang merebahkan badannya di atas batu besar di belakang Tian Shan.
Tinggal di tengah hutan, tidur di pinggir danau air biru serta tidak membawa bekal apapun. Luo Tian Shan melewati hari pertamanya tanpa halangan berarti namun dia tidak akan pernah mengira apa yang akan dia temui keesokan harinya.
Kehidupan ini orang yang menang adalah orang yang bertahan hidup diatas keyakinan akan kemampuan sendiri. Tidak ada keterbatasan selagi masih ada kemauan. Jiwa yang tangguh adalah mereka yang pergi menantang diri dengan segala resiko kegagalan tinggi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 36 Episodes
Comments
dinik
semangat Siau xing
2020-08-06
0
Jingege54
semangat kk 🖒🖒🌟🌟 up lagi! Semangat berkarya jangan putus semangat! gege menunggu kelanjutannya!
feedback ya kk ke Sweet But Psycho :)
2020-06-09
0