Ch. 11 ~ Kesedihan Chen Fang

Setelah dipastikan tidak ada pergerakan apapun disekitar pintu gerbang Klan, salah satu Hantu Malam mengendap mendekati beberapa Guru Petarung yang bersembunyi di beberapa pohon lalu melemparkan beberapa jarum yang sekali lempar tepat sasaran kearah leher mereka. Mereka tidak menyadari itu dan langsung jatuh tak sadarkan diri.

Sesaat kemudian salah satu Hantu Malam yang berbadan lebih kecil melesat cepat dan berhenti di depan pintu gerbang, dengan sigap melepaskan buntelan kain yang ia bawa serta mengikat rambut dengan seutas tali yang di bagian tengahnya terdapat plakat lambang Tebing Utara.

Tidak butuh waktu lama, setelah berhasil menggantung kepala Luo Tian Xing, kedua Hantu Malam itupun menghilang dengan cepat bagaikan asap tertiup angin secara bersamaan.

Dengan ditinggalkannya sebuah plakat lambang itu menunjukkan peringatan atau lebih tepatnya sebuah tantangan terbuka.

Diwaktu yang sama ditempat lain.

“Luo Gang, sedang apa kau ditempat ini? Apakah Tian Xing bersamamu?” tanya Chen Fang setelah berjarak tidak jauh dari beberapa Guru Petarung yang ditugaskan Tetua Zhang untuk menemukan keberadaan Tian Xing.

“Ahh Ketua Fang, kami sedang menjalankan misi dari Tetua Zhang. Apakah Ketua sudah akan kembali ke Klan..?” sahut salah satu Guru Petarung yang merupakan mantan pembimbing Tian Xing ketika berlatih.

“Haihh, iya. Kami baru saja kembali dari Paviliun Raja Obat, sayangnya tempat itu telah rata dengan tanah dan kami tak menemukan keberadaan Raja Obat Sian!” urai singkat Chen Fang yang wajahnya terlihat lesu.

“Misi apa yang kalian jalani tengah malam begini? Aku lihat kalian semua merupakan Guru Petarung. Jelas ini bukan misi biasa!” selidik Chen Fei setelah menyipitkan mata melihat beberapa orang yang jaraknya tidak terlalu jauh.

Luo Gang tidak langsung menjawab, melainkan diam seribu bahasa. Terlihat jelas di wajahnya bahwa dia sulit menemukan kata-kata untuk menjelaskan.

“Saudara Fei, sudahlah. Mari kita bergegas, biarkan mereka melanjutkan misi mereka!” timpal Chen Fang menengahi keheningan yang terjadi.

“Baiklah Ketua, ada hal yang lebih penting untuk kita lakukan, klan sudah tak jauh lagi. Ayo kita pergi!” kata Chen Fei setelah menghela napas ringan kemudian langsung melesat lebih dulu.

“Baiklah Luo Gang! Pastikan misi kalian berhasil. Tetua Zhang cukup keras jika mendengar kegagalan. Aku pergi dulu...!” saran Chen Fang sambil menepuk pundak Luo Gang pelan, lalu melesat menyusul Chen Fei.

Setelah mereka berdua sudah tak terlihat lagi, barulah Luo Gang mengerang serta menggenggam erat kedua tangannya

“Aargh...! Andaikan ketua tahu jika misi kali ini untuk menemukan keberadaan Tian Xing. Aku tak sanggup lagi menghadap Ketua, jika gagal dalam misi ini....” getaran halus jelas terlihat dari badan Luo Gang yang masih menunduk.

Sementara itu, dengan kecepatan yang mereka miliki serta jarak yang memang sudah dekat, tak butuh waktu lama bagi ketua dan wakil ketua Klan Api Biru itu untuk sampai di pintu gerbang Klan.

Dan yang pertama sampai jelas Wakil Ketua Chen Fei, dia hanya diam mematung setelah melihat sesuatu menggantung di pintu. Sesaat kemudian barulah dia sadar jika itu adalah kepala Luo Tian Xing.

Tak lama kemudian Ketua Klan Chen Fang juga tiba namun belum sempat menyadarinya.

“Ada apa! Saudara Fei berhenti tiba-tiba, bukankah kita harus bergegas menggelar rapat dengan para Tetua Api! Mari....”

Perkataan Chen Fang terhenti ketika mengikuti arah telunjuk tangan Chen Fei yang secara jelas menunjuk sebuah kepala menggantung di ketinggian pintu gerbang.

“Xing, Luo Tian Xing...! Putraku ... Bajingan, kurang ajar! TEBING UTARA?!”

WHONG!!

SWOSH ... DUARR!!

Bersamaan dengan teriakan histeris itu, Chen Fang mengeluarkan semua energi petarungnya yang merupakan Inti Jiwa dari hewan Merak Biru Langit.

Area disekitar tempat itu seketika terguncang hebat menciptakan angin kencang yang diliputi api memutar mengelilingi energi berwarna biru cerah dengan kepala Merak diatas tubuh Ketua Klan.

Bahkan Wakil Chen Fei pun terdorong mundur beberapa meter namun ia mampu menyeimbangkan tubuhnya menggunakan energi petarung yang dimilikinya, kemudian secara perlahan mendekati kakaknya yang masih diliputi amarah.

“Kakak, tenangkan dirimu...! Hentikan ... Perbuatanmu ini bisa memporak-porandakan bangunan luar Klan. Kendalikan dirimu! Aku juga sama marahnya dengan kakak, keponakan yang aku sayangi mati begitu tragis, tapi apakah dengan begini bisa menyelesaikan masalah! Aku mohon hentikanlah, hentikan!?”

“Tidak, aku tidak bisa memaafkan orang yang telah melakukan ini terhadap putraku, Tebing Utara harus membayar dengan darah mereka, aku tak akan puas jika tak mencabik-cabik seluruh Tebing Utara!”

“Tapi kakak, ini Klan Api Biru. Kendalikan diri kakak, aku berjanji akan membantu membasmi Tebing Utara, sekarang hentikan perbuatan kakak, lihatlah apa yang kakak lakukan!” sergap Chen Fei memotong perkataan Chen Fang, sementara disisi lain menunjukkan beberapa bangunan luar Klan mulai hancur berantakan.

Beberapa saat kemudian barulah Chen Fang menghentikan ledakan energi petarungnya dan seketika duduk bersimpuh menangis halus. Terlihat ia begitu terpukul, kesedihannya jelas sangat mendalam.

Secepat itu pula Chen Fei mendekati serta memeluk kepala kakaknya yang terkulai lemah di bawah kepala Luo Tian Xing.

“Kakak, kau adalah seorang pemimpin klan. Apapun keadaannya, kendalikan emosi kakak. Aku sangat tahu apa yang kakak rasakan, tenanglah ... Tenanglah!” lirih Chen Fei yang juga meneteskan air mata.

Tak lama setelah itu, penghuni bangunan luar Klan berhamburan keluar dengan berbagai teriakan, sebab bukan hanya energi kuat yang menerpa tapi juga atap bangunan mereka hancur beterbangan.

Sementara itu di bagian area tengah klan, Para Tetua Api merasakan dengan jelas bahwa itu merupakan energi petarung dari pemimpin klan mereka.

Mereka cukup kaget karena selama ini tidak pernah sekalipun melihat ledakan energi milik ketua klan sehebat itu.

“Apa yang terjadi, energi ini....” ujar salah satu Tetua Api.

“Ini milik Ketua Chen Fang, sungguh energi yang menakutkan!”

“Bukankah ketua sedang pergi bersama Saudara Fei!”

“Apakah terjadi pertempuran di depan gerbang Klan, sebaiknya salah satu dari kita memastikannya,” sergah Tetua Api yang lain sambil menatap kearah gerbang Klan.

Segera para Tetua Api saling bertukar bicara sambil menatap arah gerbang masuk Klan. Mereka tak habis pikir dengan kejadian seperti itu.

“Saudara Luo Yan Sha, sebaiknya kau saja yang memeriksa, apa yang terjadi disana,” pinta salah satu Tetua Api yang memiliki perawakan tubuh lebih kecil dari lainnya.

“Tidak perlu, biar aku sendiri yang kesana, kalian tetap berada disini. Jika terdengar teriakan lagi dari cucuku, mohon Tetua Luo Zhen Zhui dapat menenangkannya," Tetua Zhang tiba-tiba muncul dari arah belakang dengan tangan terlipat kedepan yang disembunyikan dibalik lengan jubahnya.

“Ahh, baiklah Tetua Zhang, berhati-hatilah,” balas Tetua Zhen Zhui, yang merupakan tetua api wanita satu-satunya.

Selesai berbicara secepat itu pula Tetua Zhang menghilang dari pandangan dan telah sampai di tempat Chen Fang serta Chen Fei berada.

“Saudara Fei, apa yang terjadi disini? Sampai membuat seisi Klan ketakutan....” ujar Tetua Zhang sesaat setelah menginjak tanah tanpa menyadari Chen Fang yang sedang menangis.

“Ahh, Tetua bisa lihat sendiri! Aku tidak bisa berkata apa-apa sekarang,” Tetua Fei menunjuk kepala Tian Xing yang tergantung di antara pintu gerbang masuk dibawah plakat Klan Api Biru.

“Oh tidak, Tian Xing...! Apakah itu dirimu! Hng ... Tebing Utara? Jadi benar yang diceritakan cucuku! Hng ... Biadab!” Tetua Zhang terbelalak setelah beberapa saat menyadari kepala yang tergantung beserta plakat klan berbentuk persegi berukuran kecil yang bercorak lambang Tebing Utara berada di bawah leher kepala itu.

“Penjaga, cepat turunkan kepala itu! Letakkan dalam Peti Kayu Perak! Jangan sampai siapapun melihatnya selain kita, pastikan itu!” Tetua Zhang menyuruh penjaga gerbang yang baru saja tiba, menggantikan petugas lainnya sesuai jam bergilir yang ditentukan.

“B-baik Tetua!” sahut salah satu penjaga itu sedikit tergagap mengetahui bahwa itu kepala orang yang sangat berharga bagi masa depan Klan Api Biru.

Setelah semua itu berlalu, Tetua Zhang meminta Chen Fei membawa masuk Ketua Chen Fang dan langsung membawa ke kediamannya.

Tetua Zhang juga berpesan pada orang yang berada di tempat kejadian untuk merahasiakan masalah ini pada Tian Shan ataupun Zhang Weili. Mereka semua cukup patuh dan terlihat ketakutan dengan sikap beserta reaksi Tetua Zhang yang selama ini tak pernah seperti itu.

Kemudian Tetua Zhang bergegas menuju Balai Tetua Klan untuk membahas masalah ini, setelah mendengarkan cerita dari cucunya dan melihat langsung bukti bahwa pelaku penyergapan itu adalah Tebing Utara, semakin menguatkannya untuk segera menyusun rencana pembalasan.

Sementara kondisi Ketua Chen Fang yang sedang terpukul hebat oleh kesedihan serta Chen Fei yang sedang menemani Ketua Fang, praktis pertemuan itu hanya dihadiri oleh 9 Tetua Api dan Tetua Zhang sebagai pemimpin pertemuan itu.

Zhang Weilin yang lebih tua 3 tahun daripada Tian Shan bisa terpukul hebat seperti itu, apalagi Tian Shan yang masih 7 tahun dan memiliki ikatan begitu dekat dengan kakaknya. Hal itu bisa saja menghancurkan semangat berlatihnya atau malah menumbuhkan kebenciannya.

Terpopuler

Comments

dinik

dinik

😭😭😭

2020-08-06

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!