" Silahkan ayah, ibu. " Nadira menaruh sup di atas meja.
" Ini adalah sup daging sapi dan lobak buatanku. Aku paling jago kalau masak sup ini. "
Ibu mengambilkan nasi untuk ayah Sagar.
" Bukan nya Sagar tidak suka lobak? "
" Iya, Sagar bilang, lobak kalau di masak rasanya jadi lembek. "
' apa? Bukan nya dari tadi dia menemaniku memasak. Tapi kenapa dia hanya diam saja. Kenapa dia tidak bilang kalau dia tidak suka sih. Aku kan bisa bikin yang lain juga. ' Batin Nadira.
' Kenapa kamu tidak bilang. Apa kamu tidak akan makan dan mempermalukan aku di hadapan ayah dan ibu, karena tidak tau selera makan suaminya. ' batin Nadira sambil melihat ke arah Sagar.
" Aku suka. Sekarang aku menyukai sup lobak. " Sagar mengambil sup yang ada di mangkuk nya dan segera memakan sup itu dengan ragu ragu.
" Sayang sup nya enak sekali. " Kata Sagar memaksakan senyum nya.
" Ah... Apa kamu mau nambah lagi? " Nadira. Mengambil centong sayur.
" Tidak usah, ini masih banyak sayang. "
Ibu dan ayah Sagar menatap mereka berdua dengan sangat gembira, melihat kedua anak nya begitu harmonis dan hangat.
" Ya Tuhan. Akhirnya Sagar memakan lobak. Memang ya, hangatnya pernikahan bisa merubah segalanya. " Ibu Sagar tertawa senang.
" Sup nya enak sekali, Nadira pintar sekali memasak. Pantas kamu jadi suka makan lobak. " Kata ayah Sagar.
" Apa sih yang Nadira tidak bisa lakukan. " Puji ibu mertuanya.
" Hehehe, tidak ibu. Aku hanya bisa mesak ini saja. " Kata Nadira manis.
' Bisa bisanya dia ber akting seperti itu. ' Sagar menatap Nadira yang bersikap manis di depan kedua orang tuanya. Dia teringat waktu itu Nadira pernah mengatakan jika dia ingin makan berdua dengan nya di rumah. Sagar tersenyum mengingat nya.
****
Sagar membantu merpaikan meja makan setelah mereka semua selesai makan bersama. Sagar mengumpul kan piring piring kotor yang ada di meja. Sengaja melakukan sendiri tanpa meminta bantuan kepada para pelayan, karena hari ini Nadira dan Sagar ingin melayani orangtua nya.
" Stttt.. Ibu sedang lewat."
" Memangnya kenapa? "
" Ibu berfikir jika hubungan kita sedang tidak baik baik saja. Untuk itu cepat belai rambutku. " Sagar tersenyum mengingat kembali saat Nadira tiba tiba datang memeluknya.
"Walau cuma sedikit pun. "
Nadira mengukur pengertian Sagar hanya se ujung jari telunjuk.
" Kenapa kakak tersenyum. Tanganku begini bukan berarti tanda cinta. Tapi ini se ujung jari. " Sagar masih terus ter bayang bayang sikap imut Nadira dia tidak bisa berhenti menahan senyum nya.
" Kamu sedang bertengkar ya dengan Nadira. " Ibu Sagar menepuk pundak Sagar hingga membuat Sagar kaget bukan kepalang.
" Ibu! Ibu jangan se enak nya dengan Nadira walau pun sekarang ibu sedikit lebih dekat dengan dia. Aku saja tidak berani se enak nya dengan dia. "
" Kamu ini. Ibu hanya bertanya apa kamu bertengkar dengan dia. Kenapa kamu malah menjawab dengan omongan seperti itu. Kamu pikir ibu mau ngapain. "
" Semua seperti itu. Ibu harus berfikir kembali saat ibu mau bicara atau berbuat sesuatu jika ibu mau jadi ibu mertua yang baik. "
" Padahal Nadira sangat suka. "
" Itu lah Nadira bu. Jika ibu mengajak dia terlebih dahulu dia pasti akan melakukan nya dengan suka rela bahkan dia tidak akan memikirkan dirinya sendiri. "
' Bahkan Nadira lebih melihat luka kecil di tangan ku dari pada dia melihat luka di lututnya yang lebih parah. ' pikir Sagar.
" Kalian berdua kenapa? Ada sesuatu yang kamu sembunyikan. "
" Sebenarnya kemarin lutut Nadira terluka saat menolongku. Terus aku kelewatan bicara kalau dia bahkan tidak melihat kondisinya malah menghawatirkan aku. Dia terlihat sedih. "
" Ya tuhan aku tidak tau dan tidak menyadari kalau dia terluka seperti itu. Aku harus menemui Nadira. " Ibu Sagar berbalik hendak menghampiri Nadira di dapur yang sedang mencuci piring. Sagar dengan sigap menangkap tangan ibu Sagar.
" Jagan ibu. Lebih baik ibu pura pura tidak tau saja. Aku takut jika dia tau kita menghawatirkan nya dia akan sedih dan terbebani. "
' Karena dia orangnya seperti itu. ' Sagar melepasnya dalam hati.
" Itu sebabnya tolong ibu jangan suka memanggil Nadira kemari karena ibu menyukainya. Dia pasti menuruti ibu dan menyesuaikan diri walaupun batinya tersiksa. "
****
Nadira menghangatkan tubuhnya di perapian aula taman. Dia merasa sangat nyaman berada di sini rumah yang hangat dan juga indah seperti istana di Negeri dongeng.
" Kenapa kamu datang kemari sendirian. "
Nadira menoleh ke belakang melihat kehadiran Sagar.
" Saat seperti ini tolong jangan memarahiku. " Kata Nadira yang kembali menatap api di depan nya. Di susul Sagar yang duduk di sampingnya.
" Seharusnya kakak tuh bilang, terimaksih ya kamu sangat akur dengen ibu ku. Kamu sudah sangat berusaha. "
" Tapi... "
Nadira memelotiti Sagar.
" Iya kamu sudah berusaha. Untuk itu terimakasih kau sudah akrab--"
" Ah sudah lah, untuk apa kakak mengatakan itu jika terpaksa. "
' Apa maksud nya dia bilang aku mengatakan itu semua karena terpaksa. Ah aku bisa gila jika seperti ini. Dia kan pintar kenapa sikap nya jadi lucu seperti ini. ' Sagar menahan tawa.
' Sebaiknya aku jangan tertawa, jika tidak dia akan semakin marah kepadaku. '
' Mengapa dia bersikap seperti itu. Apa dia sengaja melakukan hal bodoh seperti itu supaya terlihat lucu. Huh menyebalkan. Aku dan dia terlihat sama sama bodoh. ' batin Nadira. Di keheningan malam selain suara percikan api mereka berdua hanya bisa perang bicara dalam batin mereka masing masing.
" Nadira.. "
Nadira menoleh ke arah Sagar.
" Aku menikah dengan mu bukan karena sifatmu yang mudah untuk di bereskan. Dulu memang aku pernah berkata seperti itu. Tapi maksudku bukan seperti itu. Mungkin kalau bukan dengan mu aku tidak akan menikah. "
" Iya, perasaanku akan membaik walau itu hanya ucapan saja. Maafkan aku juga, padahal kemarin kakak sudah mengantarkan aku ke rumah sakit. Aku malah marah sama kakak. Oiya, prihal panggilan kakak. Suatu saat aku akan merubah panggilan itu. " Nadira tersenyum.
' Senyuman itu. Senyuman yang ingin aku lihat setiap hari. Dan ingin aku lindungi dalam diam ini. Aku bahkan tidak bisa menyentuh nya. ' pikir Sagar.
" Bagaimana kalau kita akhiri saja akting ini?"
Nadira menatap Sagar penuh tanda tanya. Dia mengingat kembali. Saat dulu Sagar selalu memintanya ber akting di depan semua orang agar hubungan mereka terlihat baik baik saja, yang membuat hidup Nadira tercekik setiap harinya.
' Dulu dia sendiri yang mengatakan aku harus ber akting di depan saudara bahkan semua orang. Tatapan yang selalu memerintah membuatku sangat ketakutan setiap hari. Walau tidak ada perasaan dia mencium dan memelukku di depan semua orang. Aku sangat takut dengan orang ini. Aku takut apa kata katanya ini sungguhan atau hanya ilusiku saja. Aku takut, dengan ucapan nya yang manis. Aku akan terombang ambing kedepan nya. ' Batin Nadira.
Sagar membelai lembut rambut Nadira, dia memegang tengkuk kepalanya dan mendekatkan dirinya ke tubuh Nadira hingga muka mereka begitu dekat.
' Apa kali ini aku bisa melakukan nya tanpa perasaan terpaksa? ' Batin Sagar.
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 68 Episodes
Comments