Bab 19

Nadira sekali lagi tersenyum kepada ibu mertuanya itu. Yang berkali kali menghawatirkan hubungan mereka perdua.

" Apakah dia membuatmu nyaman selama ini? "

" Tentu saja ibu. " Nadira tertawa, supaya ibu mertuanya berhenti menghawatirkan nya.

" Syukurlah. Sepertinya kalian berdua memang benar benar cocok. " Kata ibu Sagar bahagia.

" Sagar itu sangat sulit untuk terbuka. Dia sangat sulit menunjukkan isi hatinya kepada orang lain. Aku pikir dengan sikapnya yang seperti itu bisa membuatmu sedih dan menderita. Dan aku rasa dia jauh lebih merasa nyaman dengan pasangan nya dari pada orang tua nya. "

Nadira hanya diam saja mendengarkan ibunya bercerita.

" Oiya, apa kamu tau. Jauh sebelum kalian menikah, dia pernah bilang kepadaku dan ayahnya. Untuk hal apa pun dia akan menuruti kami berdua tapi, soal pernikahan dia meminta kepada kami untuk menjalaninya sendiri dan kami tidak boleh ikut campur sama sekali. " Kata ibunya yang berubah jadi sedih.

Nadira mengenang mengingat kembali kapan ibu Sagar mengucapkan hal itu kepadanya.

" Waktu itu, ibu mengatakan hal ini di pemakaman Kakak. " Batin Nadira.

" Apa dia pikir, ibunya akan menggunakan pernihannya hanya untuk ber bisnis. Lambat laun ternyata dia membawamu untuk di jadikan istri. Aku sangat bersyukur tapi aku juga sedih. Apa Sagar pikir aku akan melakukan sesuatu kepada wanita yang ia nikahi."

Ibu Sagar membantu mengupas kan bawang. Nadira masih terus melanjutkan memasak tanpa berkata apa pun dan hanya mendengarkan ibu mertuanya bercerita.

" Padahal, apa pun yang terjadi kami akan selalu berpihak kepadanya. " Ibu Sagar mengusap air mata yang hendak jatuh ke pipinya.

" Jangan bilang Sagar ya. Kalau ibu menceritakan ini semua. Sagar itu memang anakku tapi dia itu menakutkan. "

Nadira hanya mengangguk menjawab omongan ibu mertua nya.

" Ibu. "

Nadira dan ibu mertuanya serentak menoleh ke belakang setelah mendengar suara bariton Sagar.

" Jangan bilang apa? " Tanya Sagar.

" Sagar.. " Ibu Sagar terkejut melihat kedatangannya. Dia menatap Sagar dan Nadira bergantian.

' tadi bilangnya hubungan mereka baik baik saja. Tapi lihat lah sekarang. ' batin ibu Sagar, karena ia melihat Nadira tidak begitu senang ketika Sagar datang.

" Karena Sagar sudah datang, ibu pergi dulu. Kalian ngobrol saja berdua. " Ibu Sagar meninggal kan mereka berdua di dapur.

" Kenapa kamu ada di sini? " Tanya Sagar.

" Bagaimana kamu bisa tau aku di sini? " Nadira balik bertanya sambil meneruskan masakannya.

" Ayah yang memberitahu ku. Katanya kamu ada di sini. "

" Ohh.. " Jawab Nadira cuek.

' apa benar ini Nadira? Aku tidak boleh kehilangan bahan obrolan karena dia bersikap seperti ini. ' Batin Sagar.

" Apa kamu tidak ingin bertanya tentang kesehatan ku hari ini? " Tanya Sagar.

" Kamu sendiri kan yang bilang, tidak perlu bertanya. "

Sebetulnya tadi pagi Nadira sudah memeriksa kesehatan Sagar secara diam diam sebelum Sagar terbangun dari tidurnya.

" Terus kalau aku bilang jangan bertanya, kamu tidak akan melakukan nya? Kenapa kamu memasak di sini? Sebaiknya tidak usah. Ayo kita pergi. "

" Kenapa? Terser.... " Nadira menoleh sontak dia kaget setelah mukanya berada tepat di depan Sagar.

" Kenapa kakak begitu dekat sih... Sana menjauh dariku. " Nadira mendorong Sagar agar menjauh dari dirinya.

' sejak kapan dia sedekat ini. ' Batin Nadira.

" Sudah. " Sagar berdiri dua meter dari Nadira.

" Hmm ya, lebih baik seperti itu. Untuk apa aku di sini dan memasak di sini itu terserah aku. "

" Bagaimana aku bisa diam saja, saat melihat orang yang kakinya terluka dia harus berdiri untuk bekerja seperti ini. "

" Tidak usah perhatian seperti itu, lukanya sudah sembuh aku tidak merasa sakit lagi. Sudah lah aku mau masak, lebih baik kakak pergi. "

' selalu saja sikapnya seperti itu. Bahkan dia tidak menanyakan bagaimana perasaanku. Dia selalu melihat dari sisinya saja. ' batin Nadira kesal.

' kemarin dia sendiri kan yang bilang tidak suka sifat orang yang sepertiku, dia pikir aku suka orang sepertinya. Aku menerima semua ini hanya karena masa depan mu. Karena bagaimana pun aku harus menyelamat kan mu. ' Batin Nadira.

" Maaf. "

' Apa aku salah dengar? Dia minta maaf? ' pikir Nadira.

" Maaf, karena masalah kemarin. Gelas pecah itu juga karena aku, dan kaki mu terluka juga karena menghawatirkan aku. Tapi aku malah marah kepadamu. Maafkan aku "

' ya tuhan dia benar benar minta maaf kepadaku. ' batin Nadira senang

" Karena itu, ayo kita pulang. " Kata Sagar lembut.

" Oh, jadi karena itu. Karena kakak mau membawaku pulang ke rumah. Itu sebabnya kakak minta maaf. "

" Bukan begitu maksudku. Aku tidak suka jika kamu seperti ini. "

" Aku juga tidak suka kakak yang seperti ini. Kalau kakak mau pulang. Kakak pulang saja biarkan aku di sini. "

" Kamu ini... Terus saja__"

" Terus saja apa? " Nadira memotong pembicaraan Sagar. Dia berlari menghampiri Sagar dan langsung memeluknya.

" Hei... Ada apa? " Sagar terkejut melihat sikap Nadira yang mendadak memeluknya.

" Stttt.. Ibu sedang lewat."

" Memangnya kenapa? "

" Ibu berfikir jika hubungan kita sedang tidak baik baik saja. Untuk itu cepat belai rambutku. "

Sagar melirik ke arah ibunya yang ternyata memang benar ibunya tengah memandang ke arah mereka berdua. Sagar menurutu perintah Nadira untuk mengelus rambutnya.

********

Nadira mengambil mangkuk untuk memindahkan sup dari panci ke mangkok.

" Ternyata kamu bisa masak juga. " Kata Sagar yang baru menyadari ke ahlian Nadira.

" Kenapa tidak. Sudah sana kakak keluar saja tunggu di meja makan bersama ibu dan ayah. "

' merepotkan saja. ' batin Nadira.

" Setidaknya aku sudah belajar memasak setelah menikah. Memangnya kakak belajar apa setelah menikah. "

Sagar hanya bengong mendengarkan omongan Nadira.

" Keterlaluan, kakak tidak belajar apa apa ya. Padahal setelah menikah aku selalu menyiapkan sarapan pagi untuk kakak, bahkan aku tidak menaruh piring ku di meja makan, karena seperti yang kakak bilang kalau kita harus sendiri sendiri. Dan aku berfikir kakak tidak suka makan bersama. "

" Aku kan sudah pernah bilang kepadamu. Aku tidak terbiasa makan pagi. Aku pikir makanan di meja makan itu milikmu. Karena peralatan makan nya cuma ada satu di meja makan. "

" Aku bilang makan dulu sebelum pergi bekerja. " Nadira meninggikan suaranya.

" Hei, suaramu terlalu kencang. Coba pelankan sedikit. Aku mengerti, mulai sekarang aku akan sarapan terlebih dahulu sebelum aku pergi ke kantor. "

" Idih ogah banget. Kamu menyuruhku menyiapkan sarapan setiap hari mulai sekarang. "

" Mau mu apa? Kenapa kamu baru membicarakan hal ini sekarang. "

" Kakak tidak pernah mengerti perasaan seorang wanita. Walau cuma sedikit pun. "

Nadira mengukur pengertian Sagar hanya se ujung jari telunjuk.

" Kenapa kakak tersenyum. Tanganku begini bukan berarti tanda cinta. Tapi ini se ujung jari. "

" Iya aku tau hanya se ujung jari. "

Sagar tertawa melihat sikap Nadira.

Bersambung....

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!