Bab 4

' Hari ini suamiku meninggal. Aku ingin mengakhiri kehidupanku yang kelam. Aku berharap. Bisa menghapus semua ingatan ku tentang dia. Menghapus segala hal tentang nya. Tapi mengapa malah seperti ini. Mengapa dia pergi? Mengapa dia harus menyelamat kan aku? Tidak... Tidakk.... Aku tidak mau semua berakhir sampai disini... Aku tidak mau berakhir seperti ini. '

*****

Hari ini sagar di semayamkan di rumah duka. Semua orang bersedih teman dekat Sagar, kerabat dan terutama kedua orang tua Sagar.

Nadira masih setia menunggui tempat persemayaman Sagar hingga ia di kuburkan. Karena Hanya kedua orang tua Sagar yang mengetahui bahwa mereka telah bercerai. Tidak dengan keluarga besarnya. Bahkan Nadira harus berpura pura menjaga rahasia ini sekali pun Sagar telah tiada.

Hingga akhirnya Nadira menatap kosong makam di hadapanya yang bertulis kan Sagar Mahendra.

Entah mengapa, semenjak hari pertama di rumah duka Nadira tidak meneteskan air mata sedikit pun. Entah karena ia lelah menangis atau dia hanya bisa menyimpan kesedihanya di dalam hati.

Air hujan mulai menetes turun dari langit seakan langit pun juga ikut menangis menembus baju dan tubuh Nadira.

Nadira menoleh saat ia merasa air hujan tidak membasahi nya lagi.

" Ibu. " Sapa Nadira.

" Kamu pasti sangat lelah. "

" Tidak ibu. "

" Ini.. " Ibu Sagar memberikan sebuah kotak berwarna hitam.

Nadira menerimanya dan membukanya.

' cincin dan dompet? ' batin Nadira.

" Ini adalah peninggalan Sagar yang terakhir saat bersamanya. " Kata ibu Sagar.

" Tidak ibu, ini peninggalan Sagar. Aku tidak pantas untuk menerimanya. "

" Memang tidak baik memberikan barang orang yang telah tida. Apa lagi barang saat terakhir ia meninggal. Tapi coba lihat dan bukalah. "

Nadira mematuhi perintah mantan ibu mertuanya itu dan mulai membuka dompet itu.

Di sana terdapat foto pernikahan mereka yang di pajang di dompet kecil itu.

' Mengapa ada foto seperti ini di dompet nya. ' batin Nadira.

" Bahkan sampai dia tiada, dia masih memegang cincin itu. " Sambung ibu Sagar.

" Aku rasa sebenarnya dia tidak ingin bercerai darimu. "

' tidak mungkin Sagar menginginkan hal itu. ’ batin Nadira.

" Bahkan ia berjanji akan menuruti segala sesuatu yang di inginkan kedua orang tuanya... Apa pun itu. Tapi terkecuali tentang mu. Tentang rumah tangganya dan juga hal. Tentang asmaranya. "

" Kamu tau kan Nadira, Sagar itu orang yang dingin dan pendiam. Dia tidak selalu terbuka dengan siapa pun. Bahkan kepadaku atau ayahnya. Sampai suatu hari dia membawamu untuk di perkenalkan dan ingin dia nikahi. Tidak mudah bagi Sagar untuk membawa seorang gadis. Apa lagi tinggal di dekatnya. Tapi dengan mu dia berbeda. "

" Dia tidak pernah menunjukkan reaksi kalau dia sedang suka. Dan dia tidak pernah menunjukkan kalau dia tidak suka sesuatu. Lebih seringnya dia tidak akan menunjukkan kalau dia lagi suka atau lagi bahagia. Bahkan Sagar memiliki banyak teman dekat. Tapi dia tidak pernah membuka hatinya. Tapi dengan mu dia berbeda. Untuk itu aku sangat ber terimakasih padamu. " Ibu Sagar tersenyum menyentuh tangan Nadira yang dingin.

" Sagar selalu menelfoku untuk tidak berkata kasar padamu, dia juga tidak ingin aku menyusahkanmu apa lagi membuatmu kesulitan. "

' Jadi ini alasan selama ini ibu tidak pernah menunjukkan kasih sayang padaku. Yang selalu aku anggap ibu mertua cuek tapi sangat peduli terhadapku. ' Batin Nadira sedih.

" Aku tau Nadira, kamu ingin bercerai dari Sagar karena hidupmu pasti sangat berat dan kesuliatan. Tapi Sagar tidak bermaksud seperti demikian. Sagar telah pergi. Aku hanya ingin dia pergi meninggalkan dunia ini dengan kenangan yang baik. Termasuk di dalam ingatanmu. Untuk itu... Aku minta maaf untuk segalanya. "

Ibu Sagar mencimum kening Nadira.

" Selamat ulang tahun Nadira. " Sebelum Nadira menjawab, ibu Sagar langsung pergi meninggal kanya sendirian.

'Cerita yang baru pertama kali aku mendengarkanya. Cerita itu, kenapa kakak tidak pernah menunjukkan nya. '

Nadira kembali mengingat ke masa itu, masa dimana mereka memulai semuanya.

Sagar mengulurkan tanganya.

" Ayo salaman. " Pinta Sagar.

" Ahh untuk apa?. " Tanya Nadira saat itu.

Tapi Nadira tetap menjabat tangan Sagar yang begitu hangat.

' Kalau saja saat itu aku mengenalmu. Dan kalau saja saat itu aku tidak salah mengartikan maksud tatapan dingin di wajahmu. Tanganmu begitu hangat dan lembut apa hubungan kita akan berbeda. Apa masa depan di mana kamu meninggal di hadapanku tidak akan terjadi? Hiks... Hiks.. Iya aku ingat di pertemuan pertama kita kau bilang aku cantik.. Sangat cantik.. Kenapa kak. Sekali pun kamu tidak pernah mengatakan semua yang terjadi... Kenapa? '

******

" Terimaksih banyak Sasi. Kamu sudah mau repot mengantar kan aku pulang. Lebih baik kamu sekarang kembali bekerja. "

" Aku sama sekali tidak repot. Aku akan kembali setelah melihat kamu masuk kerumah. " Tutur Sasi.

Sasi adalah teman dekat Nadira sewaktu kuliah dulu. Dan sekarang dia sudah bekerja di salah satu kantor anakan perusahaan Vos.

" Nadira apa itu di meja. Sepertinya buket bunga. "

Nadira menoleh ke arah meja di depan kamarnya. Ya sekarang Nadira kembali ke apartemen di mana dia tinggal bersama Sagar dulu. Karena dia harus membereskan semua barang - barang nya sebelum ia benar - benar pergi dari sana.

Nadira mendekati bunga itu.

" Harum bunga. Bunga ini masih segar. " Batin Nadira.

Nadira mengambil buket bunga mawar merah yang begitu indah.Sama seperti tahun tahun sebelumnya.

' selamat ulang tahun. '

~ Sagar ~ '

Nadira langsung duduk tersungkur tanpa bisa menahan tangisnya ia menangis se jadi jadinya. Hatinya sakit, perasaanya begitu hancur dia sangat sedih. Kemarin sebelum Sagar tiada dia mengucapkan ingin memberikan buket bunga. Dan benar dia memberi Nadira hadiah itu.

' Aku tidak pantas menangisimu. Tapi kenapa? Kenapa kamu melakukan ini semua? Kenapa selama ini kamu bersikap dingin kepadaku? Kenapa kamu menganggap seolah aku tidak ada? Kenapa kamu tidak mengatakan apa pun saat kita hanya berdua, kenapa kamu masih mengirimiku hadiah seperti ini? Kenapa harus buket bunga mawar setiap tahun? Kenapa kak? Kamu membuatku putus asa dengan semua ini. Kamu membuatku menyerah dalam segala hal. Aku ingin tau kak. Ingin tau segalanya tentangmu. Kembali lah ku mohon? ' Nadira tak tahan menahan tangisnya. Sasi memeluk Nadira. Dia tidak bisa berkata apa pun untuk Nadira. Dia berharap dengan memeluknya membuat perasaanya sedikit kuat.

" Istirahat lah Nadira. "

Nadira mengusap air matanya.

" Apa perlu aku temani kamu di sini? "

" Tidak, kamu bisa pulang sekarang. "

" Kamu yakin tidak apa apa jika sendirian? "

Nadira hanya mengangguk.

Nadira merebahkan tubuh nya di atas tempat tidur. Hari ini adalah hari yang paling melelah kan untuk nya. Hari yang begitu panjang yang tidak pernah dia bayangkan sebelum nya.

' Seandainya aku bisa memutar waktu. Mengulang kembali saat saat bersama mu. Menahan mu agar tetap hidup dan bertanya segala hal. ' Nadira memejam kan matanya. Di fikirannya terus berkeliaran sosok Sagar saat terakhir bertemu denganya dia meminta maaf. Dia juga terbayang saat hujan Sagar datang untuk menanyai kabar.

' Dia melakukan itu bukan karena mencintaiku kan? ' Nadira kembali ter duduk.

' Tidak! Jika dia mencintaiku dia pasti tidak ingin bercerai denganku. Dan aku tidak mungkin jatuh cinta kepadanya. '

Nadira meringkuk di atas kasur.

' Tapi apa arti tatapan nya saat itu? Senyuman nya? Bahkan saat terakhir dia hidup kenapa masih menggenggam cincin itu? Tidak! Aku tidak boleh berfikir macam macam. '

' Tapi kenapa? Seandainya waktu itu aku tidak cerboh. Aku tidak berlari ke arahnya. Seandainya aku menunggu 10 menit saja. Ah tidak lima menit saja. Pasti ini semua tidak akan pernah terjadi. Ini salah ku... Hiks... Hikss... Semua salah ku.... "

******

Nadira mengerjapkan matanya dan membuka ponsel nya untuk melihat jam.

' Ahh, aku pasti ketiduran karena terlalu lama menangis. ' pikir Nadira.

'Ternyata sudah pukul 06:00. Badanku trasa segar. Mataku tidak perih seperti habis menangis. Hari ini aku harus memulai kehidupanku yang baru. Hidup tanpa kakak. '

Nadira meletakkan ponselnya. Dia melihat sekeliling nya dan ia merasa tampak ada yang aneh.

' Kenapa seprei nya berubah. Dan bentuk kamar ini kenapa sama seperti sebelum aku meninggalkan rumah ini? ' pikir Nadira bingung. Nadira menyibakkan selimut yang menutupi tubuh nya.

' Astaga. Kenapa aku memakai piama ini ? Piama ini kan sudah lama aku buang. Ini pasti aku sedang bermimpi. ' pikir Nadira dengan senyuman ringan.

' mungkin aku bermimpi karena sangat merindukan nya. Sedih atas kehilangan nya dan sangat merasa bersalah atas kepergian nya. ' Nadira mencubit tangan kirinya.

" Awww. " Pekik Nadira kesakitan.

Nadira melihat ponselnya kembali.

~ 06:05

Rabu, 21 Januari ~

' Dua puluh satu Januari? Apa ini. Aku kan tidur tanggal 10 September. Ini kembali delapan bulan yang lalu? ' Nadira sangat terkejut. Dia masih tidak percaya.

Nadira langsung turun dari tempat tidurnya dan berlari membuka pintu kamarnya.

Nadira masih melihat ruang tamu yang sama persis saat waktu itu. Tidak berubah sedikit pun. Dia kembali berjalan menuju dapur. Dan di sana tidak ada yang berubah. Ini seperti mimpi untuknya. Nadira menghentikan langkahnya seperti teringat sesuatu. Ya dia berlari menuju kamar Sagar. Nadira membuka pintu dengan perlahan.

Gelap! Suasana kamar itu masih terlihat gelap karena gorden yang belum di buka dan tidak ada lampu yang menyala.

Nadira mendekati tempat tidur dengan jantung yang berdegub kencang. Jantungnya sangat berdebar debar saat ini.

Nadira membuka selimut dengan cepat. Berharap tidak ada apa pun di sana. Tapi dia sangat terkejut saat ada seseorang menarik tangan nya hingga ia jatuh ke kasur.

" Apa yang kamu lakukan di kamar ini?. "

Jantung Nadira semakin berdegup kencang.

*******

Bersambung...

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!