Bab 11

" Apa yang kamu bilang! "

" Iya kak, setelah aku pikir pikir, kesehatan kakak itu yang paling utama untuk ku. Karena kakak juga ber arti dalam hidup ku. Jadi izinkan aku ya. " Kata Nadira bersemangat.

Dia semalam berfikir keras. Jika dia bisa merubah takdir, mungkin saja kecelakaan itu tidak akan terjadi. Tapi bisa saja lewat hal lain seperti tiba tiba Sagar terkena sakit parah lalu meninggal atau mati mendadak.

" Sejak kapan kamu perhatian sama aku? Sama kehidupan ku? "

" Sejak aku intropeksi diri. Begini saja. Anggap saja aku ini perawat kakak atau asisten kakak. Pliiiiiisssssss aku mohon. Aku hanya ingin memastikan kesehatan kakak. "

' Sejak kapan sih dia seperti ini. Apa karena soal perceraian itu. ' Batin Sagar pening.

" Kamu tidak usah bersikap berlebihan. Seperti ini. Tenang lah aku tidak akan mengungkit masalah perceraian itu kepadamu. Hentikan semua drama ini. Percuma saja jika kamu melakukan ini semua tidak karena ketulusan hati. " Sagar berdiri meninggalkan meja makan.

" Apa? Kakak kan paling jago dalam hal itu. "

Sagar menghentikan langkah nya.

" Kakak paling jago melakukan hal yang menyakitkan hati. " Teriak Nadira.

" Nadira! " Sagar berbalik Badan.

Nadira berjalan cepat menghampiri Sagar.

" Kalau kamu merasa malu dan menyesal karena surat cerai itu, kamu tidak perlu bersikap begini. Aku akan melupakan nya. Tidak usah bersikap seolah merawat orang yang akan mati. " Ucap Sagar.

" Huwaaaaaa... Jagan bialang seperti itu. Jangan bilang mengobati orang yang akan mati. " Nadira meremas baju Sagar.

" Lau apa? Merawat orang sudah mati? "

" Bukan! Pokok nya jangan bilang orang Mati!!! Jangan bilang soal kematian...! Huh dasar menyebalkan. "

" Apa? Menyebalkan? "

" Ah tidak. Maaf aku sudah bersikap kelewatan. Pokoknya kakak tidak boleh mengungkit soal kematian. Kakak hanya perlu mengizinkan aku untuk menyentuh mu untuk memastikan kakak baik baik saja. "

Nadira tersenyum dan meletakkan kedua tangan nya di dada.

" Selain itu aku tidak akan berharap hal yang lebih. Tenang saja. Aku tidak membutuhkan uang kakak. Aku juga tidak meminta hati kakak jadi tenang saja. Aku kan tidak suka sama kakak. "

Jleebbb..!

' tidak suka? Tidak ada perasaan? Tidak meminta hati? Artinya dia tidak berharap perasaanku padanya. ' batin Sagar.

" Jadi kakak jangan merasa terbebani ya. Aku hanya ingin menyentuh kakak. "

" Apa kamu menginginkan tubuhku? " Goda Sagar.

" Ah tidak tidak...! Bukan memegang secara menjijikkan...aku hanya akan memeriksa mu, tidak ada niatan apap pun sama sekali. "

' kenapa dia diam saja seperti itu? Apa dia tidak melihat ketulusan niatku yang sebenarnya. ' batin Nadira.

" Yah sudah lah, lakukan saja apa pun semaumu. "

" Benarkah? "

" Iya "

" Terimakasih. " Kata Nadira bahagia.

" Untuk apa ucapan itu? " Sagar terseyum

" Aku kan juga akan melakukan hak yang sama seperti apa yang kamu perbuat. "

" Maksut nya? "

" Sama seperti halnya kamu masuk kamar ku, aku juga boleh masuk ke kamarmu. Dan saat ini, kamu ku izinkan menyentuhku tapi aku juga harus boleh menyentuh tubuh mu. "

' apa? ' Nadira berfikiran yang tidak tidak.

" Tidak kak, aku tidak akan menyentuhmu. Tapi kamu harus mengatakan keadaanmu kepadaku dengan jujur. "

" Kenapa kamu mudah sekali berubah pikiran, tadi saja kamu bersih keras. Padahal aku sudah berubah pikiran dan bersemangat untuk memegangmu. "

" Sudahlah anggap saja kakak tidak mendengar apa pun tadi. Tapi apa aku boleh minta sesuatu? "

" Minta apa lagi? "

" Boleh aku menyimpan cincin itu? "

" Untuk apa? Bukan kah kamu juga memilikinya. "

" Tapi aku ingin cincin yang kakak pakai. "

" Bilang saja kamu ingin aku tidak memakai ini. "

" Bukan begitu. "

" Apa dengan melihat ini membuatmu muak ? "

" Tidak! Kita kan bisa menunjukkan bahwa kita sudah menikah dengan berbagai hal. Tidak harus dengan cincin. Aku saja tidak pernah memakainya tapi, teman temanku semuanya tau kalau aku sudah menikah, aku berharap kakak mengerti maksudku. "

Sagar melepas cincin yang ia kenakan dan di berikan kepada Nadira.

" Sudah beres. "

" Iya. "

Sagar melangkah pergi meninggal kan Nadira.

" Kak. "

" Apa ada hal lain? "

" Untuk selanjutnya jangan pernah pakai apa pun di tangan mu. Cincin gelang atau apa saja. "

" Itu saja yang mau kamu katakan? "

" Iya. "

Sagar melangkah pergi meninggal kan rumah. Nadira hanya memandang nya sedih dan merasa tidak enak karena sikapnya kali ini.

" Hati hati di jalan. " Ucap Nadira sedih.

****

Di meja kerjanya Nadira hanya bengong dan melamun memikirkan kejadian tadi pagi. Dia merasa tidak enak hati telah melakukan ini semua kepada Sagar.

' apa aku salah? Tadi dia pergi seperti sangat marah. ' batin Nadira.

" Kamu kenapa? Dari tadi bengong saja. " Sapa Hamid.

" Eh kak Hamid. "

Hamid menaruh buku yang ia bawa di meja Nadira.

" Kamu mikirin suamimu lagi? "

" Em... Kakak pernah tidak mikirin bisa kembali ke masa lalu. "

" Pernah. "

" Jika seandainya kakak beneran bisa kembali ke masa lalu. Apa kakak akan menceritakan ini semua ke orang lain?"

" Mungkin saja. Aku akan menceritakan kepada orang yang benar benar bisa aku percaya. "

' walau aku menceritakan kepada dia, apa dia akan mempercayaiku? Tidak mungkin dia tidak mungkin akan percaya. Bahkan semua orang juga tidak akan ada yang percaya. Lebih baik biarkan saja dia berfikir aku ini aneh. Yang terpenting aku harus fokus untuk menjaga kesehatan dan keselamatan kakak.' pikir Nadira.

Nadira berdiri memandang gedung pencakar langit, dia mentekadkan diri untuk datang ke kantor Sagar. Pikiran nya tidak tenang sedari tadi dia begitu merasa bersalah.

" Aku harus berani. Aku harus minta maaf kepadanya. "

*****

Sagar menidurkan tubuhnya di atas sofa tempat dia bekerja. Hari ini Sagar tidak bisa fokus bekerja karena sibuk memikirkan sikap aneh Nadira yang tidak bisa di fikir secara nalar.

' ada apa sebenarnya. Apa hubungan nya kesehatan dan cincin pernikahan?Apa dia ingin memastikan kapan dia bisa membunuhku? Itu sebabnya dia ingin memeriksa setiap hari. Ahh bukan... Nadira bukan wanita kejam. Lalu apa sebenarnya sikap tidak wajarnya? Apa mungkin.... Kata orang orang dahulu orang yang mau meninggal pasti bersikap aneh seperti memberi pertanda.. '

Sagar mengingat kembali kejadian aneh bersama Nadira, mulai dari tutur kata dan sikap nya.

' kemarin dia bersih keras tidak mau pergi ke rumah sakit. Apa jangan jangan dia sakit keras. Penyakit yang sulit untuk di obati. Itu sebabnya... "

Sagar mengambil ponselnya. Dia mencari nomor Profesor dokter paling handal untuk berkonsultasi tentang masalah ini.

' ah tidak. Aku tidak boleh mencari tau secara diam diam lebih baik aku tanya sekali lagi padanya nanti. ' Sagar meletakkan ponselnya di dadanya.

Kiriiingg....!

~ibu~

" Ya ibu. " Sapa Sagar.

" Sagar, kamu tau tidak kemarin ibu dapat telfon dari siapa ? "

" Memangnya dari siapa? "

" Dari menantuku. Dia bilang dia akan datang kemari. " Kata ibu Sagar dengan gembira. Sagar sudah bisa menebak siapa itu. Karena Sagar adalah anak satu satunya.

' kenapa dia bisa melakukan itu, itu bukan kebiasasnya kan? ' batin Sagar.

" Apa ibu mengancam dia, sehingga dia merasa tidak nyaman? "

" Yang benar saja kamu! Kamu pikir ibu ini apa hah! " Suara ibu Sagar terdengar begitu kencang, sehingga Sagar menjauhkan ponsel dari telinganya kalau dia tidak ingin tuli di buatnya.

" Ibu menelfon karena ibu kangen sama anak kesayangan ibu, ibu juga senang sekali menantu ibu menelfon. Kalau di pikir pikir, aneh juga ya Nadira menelfon. Tidak biasanya. Apa hubungan kalian baik baik saja? Jangan jangan kamu memperlakukan Nadira dengan tidak baik. "

Tok! Tok! Tok!

" Tuan, nyonya menunggu di luar. " Suara sekertaris Sagar di balik pintu.

' ah... Ada apa dia kemari? ' batin Sagar.

" Sagar kenapa kamu diam saja. " Tanya ibunya.

" Ibu, aku matikan telfonnya. Ada tamu. Nanti aku telfon kembali. "

" Dasar anak ini. Ya sudah selamat bekerja. "

Sambungan telfon terputus.

Sagar merapikan baju dan jasnya. Dia berjalan membukakan pintu.

' kali ini aku harus tau alasanmu dengan pasti. '

Sagar menatap Nadira yang Sudah berdiri di depan pintu.

' aduh, aku harus bilang apa ya. ' batin Nadira.

" Masuk. "

Nadira mengikuti Sagar yang membawanya di sofa tempat biasa ia menyambut tamu.

" Aku jarang sekali berada di kantor. Kenapa kamu tiba tiba kemari. Bagaimana jika kamu kemari aku tidak ada di tempat. "

" Iya, lain kali aku akan menghubungimu terlebih dahulu. Ah iya, ini aku bawa kopi. Kakak mau? " Nadira menyodorkan kantong kertas yang berisikan dua kopi.

" Katakan sejujurnya. " Sagar mengambil satu kopi dari dalam kantong.

" Kamu bilang atau aku akan cari tau sendiri. Karena hal seperti itu mudah sekali aku dapatkan. "

" Haaa. " Nadira tidak tau maksud perkataan Sagar.

" Katakan kamu sakit apa? Tenang saja, aku akan mencari dokter terbaik sedunia dan aku akan mencari cara apa pun untuk menyembuhkan mu. "

" Aku baik baik saja kok? Aku tidak sakit. "

" Jujur saja! Bukan nya kamu sakit itu sebabnya kamu seperti ini. "

' ah... Kenapa dia jadi berfikiran seperti ini. ' batin Nadira.

"Katakan apa mau mu. Kamu tidak mungkin datang kemari jika tidak ada sesuatu. "

" Ah itu.... " Nadira bingung harus bicara apa.

' apa aku harus berterus terang kepadanya? Apa dia orang yang benar benar bisa aku percaya? Apa dia bisa percaya kepadaku? Walau pun begitu aku harus berterus terang kepadanya. Aku akan mengatakan apa yang aku bisa.

Bersambung....

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!