Bab 12

" Kak. Sebenarnya aku datang kemari untuk masalah tadi pagi.... " Nadira diam.

" Aku minta maaf. Benar benar minta maaf soal cincin itu tadi pagi. Kakak pasti kecewa kepadaku. "

" Iya. " Sagar menyeruput kopinya.

" Aku tidak masalah kamu mau memakai cincin itu atau tidak. Aku tidak memaksakan. Aku tidak pernah memaksamu untuk memakai cincin itu. Jadi seharusnya kamu juga jaga batasanmu. Aku selama menikah denganmu tidak sekali pun melepas cincin nikah itu. Jika ada orang yang tau tiba tiba aku tidak memakai cincin itu aku harus bilang apa? Iya kalau cuma pertanyaan biasa. Coba kalau sampai keluar berita gosip yang tidak mengenakkan. "

' ternyata begitu ya. Selama ini aku tidak berfikiran sampai ke sana. Aku baru sadar terlalu banyak orang yang memperhatikan hubungan kami. ' batin Nadira.

" Aku minta maaf.. Aku tidak berfikir sejauh itu. " Kata Nadira sedih.

" Satu hal lagi yang perlu kamu tau! Kamu tidak perlu minta maaf atau pun merasa bersalah atas segala hal yang tidak kamu perbuat. Karena aku menikahimu buka untuk itu. Aku harap kamu jangan menyulitkan dirimu dengan pikiranmu yang aneh. Dan semoga kamu tidak mengartikan berlebihan dari semua hal. "

' terimakasih kak. Tapi maaf aku tidak bisa mengembalikan cincin ini. Apa pun yang terjadi. '

" Jadi katakan lah apa alasanmu datang kemari? Apa di mimpimu aku terluka karena cincin itu atau gelang? Tidak aku tidak pernah memakai gelang. "

" Ah kak sebenarnya... " Nadira mulai menangis dan buru buru menyeka air matanya.

Sagar mengambil tisu untuk membantu mengelap air mata Nadira.

" Kamu kenapa? Jangan menangis. Sudah jangan menangis. "

" Kak.... Aku minta maaf... Benar benar minta maaf. "

Hati sagar tersa seperti tertusuk belati saat melihat Nadira menangis seperti itu.

" Kamu sebenarnya kenapa? " Sagar berjongkok di bawah Nadira.

" Nadira lihat aku? Katakan apa yang membuatmu bisa jadi seperti ini? "

Nadira menangis sejadi jadinya meluapkan segala isi kesedihan di hatinya.

" Hiks... Maaf... Karena aku, kakak tidak bisa bekerja. "

" Itu bukan masalah. Katakan, di mimpimu apa aku terluka karena cincin itu? "

Nadira hanya menggeleng dengan pasti.

" Lalu kenapa? Aku janji aku tidak akan melepas cincin itu, apa pun yang terjadi. Saat tidur, ke toilet dan kemana pun walau itu berpisah dengan mu. "

Nadira kembali menangis.

" Bohong! "

" Beneran, mau aku buktikan? " Sagar tersenyum. Nadira hanya mengangguk. Sagar mengambil laptop miliknya dan membukanya.

" Coba lihat ini semua. Di sini ada foto dan video saat aku melakukan kegiatan pekerjaan di mana pun yang di kumpulkan sekertaris ku. Di sana aku selalu memakai cincin itu. Tidak pernah melepasnya. Dan coba kamu lihat jari manis ini. Ada bekas lingkaran cincin, yang artinya aku tidak pernah melepasnya. "

" Benar tidak di lepas ? "

" Coba lihat.. Warna kulitku berbeda kan. " Sagar mengangkat tanganya. Nadira menyentuh tangan itu yang di sambut Sagar dengan menggenggam tangan Nadira.

" Jika kamu se hawatir itu. Tinggal buat saja dimana jangan sampai aku melepas cincin itu. "

" Tapi, bisa saja sesuatu terjadi kan? "

" Aku janji tidak akan keluar kemana pun. "

" Janji jangan pernah melepas cincin itu apa pun yang terjadi walau berpisah denganku. "

" Janji walau di rumah atau pun di luar rumah aku tidak akan melepasnya. Dari awal aku sudah melakukan nya kan. "

Nadira mengambil cincin nya di dalam tas.

" Kalau begitu aku kembalikan cincin nya. Awas kalau sampai di lepas. "

Sagar mengambil cincin itu dan memakainya kembali.

" Maaf kak sudah mengatakan hal itu. "

" Apa kamu sudah tenang ? "

" Iya. "

" Benar ya, aku boleh memakai cincin ini. "

" Kakak juga harus berhati hati. "

" Apa memeriksa ku juga akan di lakukan ? "

" Itu kan sudah kita setujui. "

" Baiklah, gara gara sebuah mimpi.. Ah iya, apa itu benar. "

" Apa? "

" Soal kamu tidak mau bercerai karena kamu ingin berciuman dengan ku. "

Wajah Nadira memerah.

" Tolong kakak jangan ungkit itu. Tolong lupakan. " Nadira menutupi mukanya dengan kedua tangan karena malu. Sagar tersenyum puas melihat sikap Nadira yang seperti ini. Dengan naluri hati Sagar membelai lembut rambut Nadira dengan tulus.

' semoga, dengan begini kamu memandangku bukan seperti orang jahat lagi. Tenanglah Nadira. Tidak apa apa aku tidak akan memukulmu. ' batin Sagar.

' kenapa kakak bersikap lembut begini? Sebelumnya dia tidak pernah seperti ini' batin Nadira.

" Aku pulang dulu. " Nadira berdiri salah tingkah.

" Tunggu. Aku akan mengantarmu sampai ke bawah. " Sagar tersenyum melihat Nadira semakin salah tingkah.

*****

Cuit.. Cuiit.. Cuit... Terdengar kicauan burung gereja di luaran rumah. Mata hari sudah menyembulkan dirinya malu malau.

Nadira terjaga dari tidurnya dan melihat jam masih pukul 06: 02.

" Urusan kemarin sudah terselesaikan dengan baik. " Nadira tersenyum lega.

" Tapi apa? Apa benar kakak menghawatirkan aku? " Nadira mengingat kembali saat Sagar bicara panjang lebar mengira dirinya sedang sakit.

" Oke kalau begitu saatnya aku menghawatirkan kesehatanya. " Nadira turun dari tempat tidur dengan penuh semangat.

" Selamat pagi kakak. "

Sagar bangun dari tidurnya.

" Apa tidur kakak nyenyak hari ini. "

" Kurang nyenyak. Sagar mengelus bahunya."

" Tunggu, apa bahumu... "

Sagar menghentikan tangan Nadira yang hendak menyentuh bahunya.

" Lakukan secukupnya. Kamu ingat kan? Jika kamu menyentuh kulit aku juga akan menyentuh di bagian sama yang kamu sentuh. "

" Ha. "

' padahal dia kemarin bersikap lembut sekali kepadaku? ' batin Nadira cemberut.

" Aku hanya ingin memeriksa kondisi kesehatan kakak. Aku kan sudah bilang kemarin. "

" Aku semalam tidak bisa tidur. Mungkin aku terlalu banyak tidur kesamping. Itu sebabnya bahuku jadi sakit. Nanti juga akan sembuh sendiri. "

" Hari ini kakak ke kantor naik mobil apa di jemput sopir. " Tanya Nadira hawatir.

' bahunya kan sakit, gimana kalau terjadi sesuatu. ' batinnya.

" Aku akan memanggil sopir. " Sagar turun dari tempat tidur untuk segera mandi.

" Yaa. " Jawab Nadira senang dan lega. Nadira sendiri kembali ke kamarnya untuk bersiap.

******

Klikkk ! Pintu rumah terbuka. Nadira segera bangkit dari sofa dan lari menghampiri Sagar.

" Kenapa wajah kakak seperti ini "

" Memangnya kenapa? "

" Muka kakak kusut seperti itu. Apa masih sakit? Apa lebih parah lagi. "

" Tidak, aku sudah tidak merasakan sakit lagi setelah melakukan kegiatan tadi. Aku hanya sedikit lelah dan mengantuk karena semalam kurang tidur. Dan hari ini juga tidak terjadi apa apa tenang saja. Apa sudah puas? " Sagar menundukkan tubuh nya dan mendekat kan wajahnya ke muka Nadira. Nadira tidak bisa bergerak selain mengundurkan kepalanya.

" Harusnya kamu sentuh tubuh ku untuk memastikan apa aku sehat atau tidak. "

Sagar berdiri tegap dan melentangkan tangan nya.

' ingin sekali, tapi aku takut kamu juga akan menyentuhku di area yang sama. ' Nadira bergidik membayangkan nya.

' aku sudah tau dia membayang kan apa ’ batin Sagar dengan senyum geli.

" Kamu pikir aku sama sepertimu? Aku tidak akan berbuat apa pun kepadamu. "

" Memangnya aku kenapa ? "

" Pikiranmu gampang sekali di tebak Nadira."

" Kalau kakak baik baik saja, aku tidur duluan. Selamat malam dan selamat tidur. " Nadira salah tingkah dan memalingkan tubuhnya.

" Nadira tunggu! "

" Iya. "

" Ah tidak, selamat tidur. "

Nadira pergi meninggalkan sagar sendirian

Bersambung....

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!