Nadira mengambil sebuah album foto yang masih tersimpan rapi di dalam laci kamarnya. Nadira membukanya dan melihat satu persatu foto itu. Nadira menatap dengan tatapan kosong. Dia masih tidak menyangka pria yang menikah dengannya, yang ia anggap sebagai dewa penolong. Yang datang melamarnya tiga tahun yang lalu dan berjanji akan menikahinya. Bahkan membuat jantungnya berdebar hingga tidak bisa tidur.
Tiga tahun yang lalu Nadira hanyalah wanita biasa. Dia hanya menganggap semua kehidupan hanya bisa berdasarkan level kekayaan. Nadira sama sekali tidak pernah terfikir kan akan menjalani kehidupan seperti saat ini. Hingga saat itu, dia tengah berlari dan berpapasan dengan Sagar yang saat itu berada di kantor Hairim Tang. Hairim tang adalah anakan perusahaan Vos. Yang di kelola oleh direktur ji Hairim. Hari ini Nadira akan bertemu dengan istri ji Hairim, Karina Hairim.
"Permisi nyonya, hari ini saya akan menggantikan ibu saya." Sapa Nadira ngos-ngosan karena habis berlari menuju ruangan Karina.
"Hmmm yaaah, saya tau." Jawab Karina meletakkan cangkir teh di meja depanya dengan lagak angkuh.
" Ikuti di belakang ku. " Nadira menurut dan mengikuti karina dari belakang.
Keluarga Nadira sudah lama sekali bekerja untuk keluarga Hairim. Ayahnya bahkan sudah bekerja menjadi sopir di keluarga ini selama tiga puluh tahun. Dan kemudian ibunya ikut bekerja menjadi juru masak di rumah itu.
****
Nadira tidak berfikir jika ia akan di ajak menemani Karina ke mall untuk berbelanja baju dan sepatu. Karena sepulang kuliah Nadira langsung pergi menemui Karina tanpa menaruh buku-bukunya.
'Bagaimana ini, bagaimana aku bisa membawa barang-barang itu dan juga bukuku' pikir Nadira.
Karina masih sibuk mencoba sepatu yang ini dan itu.
" Permisi, apa saya boleh minta kantong kresek untuk menaruh buku-bukuku? " Tanya Nadira kepada pelayan boutique.
" Oh iya nona, pasti sangat merepotkan ya dengan membawanya seperti itu." Pegawai tersenyum ramah dan pergi mengambilkan kantong untuk Nadira.
" Nyonya kamu sangat beruntung memiliki anak yang sangat cantik dan juga pandai, lihat dengan melihat nya kamu pasti bangga anak nyonya bisa kuliah di universitas J"
" Ahh.. Bukan saya bukan putrinya. Saya hanya staff biasa yang bekerja pada nyonya Karina."
Para pelayan toko sangat tidak menyangka dia berfikir Nadira adalah anak dari Karina.
" Aku sudah selesai. " Karina berdiri dan langsung keluar dari boutique. Nampaknya dia sangat marah dan tersinggung. Nadira mengejar Karina yang berjalan begitu cepat penuh emosi.
" Nyonya. " Panggil Nadira.
Seketika Karina berhenti dan langsung berbalik.
Plakkkkk!! Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Nadira.
Nadira langsung tersungkur kebawah.
" Belagu sekali ! Kamu pikir dengan pamer tempat kuliahmu itu akan merubah hidupmu! Dasar ****** ! Kamu pikir kamu bisa sukses jika bisa keluar dari Universitas J. " Hardik Karina.
Nadira hanya bisa menangis mendengar omongan Karina yang tanpa memikirkan betapa malunya Nadira saat ini. Di kelilingi tatapan bingung semua orang.
" Kamu pikir kamu siapa? Kalian hanya seorang sopir dan pembantu! Gaji kalian tidak akan sanggup untuk membiayai kuliahmu! Harusnya kamu tau diri dan malu."
Karina langsung masuk lift meninggalkan Nadira sendirian.
Nadira memungut i buku-bukunya yang jatuh berserakan.
Nadira mendongakkan kepalanya saat melihat ada saputangan di hadapanya.
" Lap air mata mu Nadira. " Kata laki-laki tampan dan gagah dengan balutan jaz berwarna navy.
Yah laki-laki ini, yang Nadira anggap dan pikir adalah penyelamat hidupnya.
*******
Dear suamiku Sagar.
Hari ini aku memberanikan diri untuk menulis surat pertama dan terakhir untukmu.
Sudah tiga tahun aku melalui kehidupan bersamamu. Dan kamu sudah mendapatkan apa yang kamu mau.
Mungkin ini sudah saatnya untuk kita mengakhiri hubungan kita ini.
Saat pertama kali kita menikah, kamu mengatakan padaku untuk mendaftarkan pernikahan kita dan juga mengadakan resepsi pernikahan untuk kita. Kalau tidak ada yang terjadi atau perubahan apa pun semua keputusan ada di aku.
Entahlah....
Sejak kapan omongan itu menjadi harapan untukku.
Tapi....
Aku memutuskan untuk berpisah denganmu bukan karena orang lain atau bahkan karenamu.
Aku memutuskan ini karena alasaku sendiri itu masalah ku aku tidak ingin menyalahkan siapapun.
Biarlah aku menghadapi ini sendiri.
Karena aku tidak bisa menikmati kehidupan ini.
Bahkan setelah menikah aku tidak pernah bahagia sedikit pun.
Rumah mewah ini. Tidak ada sentuhan kehangatan untukku dan membuat ku merasa sangat tidak nyaman.
Dan aku rasa kamu pun merasakan itu juga.
Aku tidak pernah berpikir bahwa kita ini sepasang suami-istri.
Kamu membutuhkanku dan kamu juga telah menolong ku.
Persatuan ini akan berjalan tanpa arah.
Jadi mari kita akhiri sampai di sini.
Aku hanya menginginkan satu permintaan untumu.
CERAIKAN LAH AKU SAGAR!
Tolong! Aku mohon Sagar lepaskan aku.
Izinkan aku untuk bahagia.
Untuk masalah uang yang sudah kau keluarkan untukku, aku akan berusaha mengembalikan padamu beri aku waktu aku pasti melunasi nya. Selama ini aku juga sudah berusaha jadi istri yang baik untukmu. Jadi aku mohon pertimbangkan soal hal ini.
~Nadira~
Nadira menghala nafas panjang dan memasukkan surat itu ke amplop putih.
Nadira melihatnya dan ingin meremasnya.
Tidak terasa air matanya mulai terjatuh membasahi pipinya.
'Kehidupan ini sangat kosong. Seperti cangkang tidak ada isinya. Semua hanya di landasi hukum dan selembar kertas.' Nadira mengusap air matanya.
'Kenapa aku jadi seperti ini. Aku tidak mencintai nya. Aku tidak menyayanginya juga tapi kenapa? '
******
"Aku sudah membaca suratmu." Kata sagar yang menyadari kehadiran Nadira. Sagar langsung meneguk es kopi terakhir nya.
" Apa kamu sudah melihat dokumen di mejamu ?"
" Dokumen? "
" Aku menaruhnya di sana? Aku tau kamu ingin bercerai secara baik-baik. "
" Aku minta maaf, ini pertama kalinya aku berani mengutarakan pendapatku."
" Ya aku tau. Ini sudah hampir tiga tahun."
" Itu benar, aku sudah berusaha menyesuaikan diri dengan kakak selama ini."
" Menyesusaikan diri? " Sagar tersenyum kecut.
" Cobalah untuk berfikir lagi selama satu minggu. Setelah satu minggu jika kamu tidak berubah pikiran kita bisa membicarakannya lagi. "
" Apa yang perlu kita bicarakan? Gimana kalau kita serahkan dulu dokumenya ke pengadilan. "
" Meskipun begitu kita tidak akan bisa langsung bercerai dengan begitu saja. Kita masih harus di suruh berfikir ulang dan itu membutuhkan waktu sekitar satu bulan."
" Justru itu, ayo lebih baik tanda tangan sekarang setelah itu kita juga bisa berfikir ulang. "
" Kenapa sih kamu keras kepala sekali. Apa tidak bisa menunggu beberapa hari saja? Hanya satu minggu. Kamu begitu yakin ingin bercerai ya. "
Nadira menggertakkan giginya dan mencoba memberanikan diri.
" Untuk apa berfikir lagi dan bertahan jika tidak ada perasaan cinta. "
Sagar terkejut mendengar penuturan Nadira.
" Kita bisa memulai dan mencobanya mulai sekarang. " Kata sagar
" Baru sekarang kata-kata itu terucap. " Nadira membuang muka.
" Kakak apa pun yang terjadi aku ingin kita bercerai. Lagi pula kita minum teh bersama saja tidak pernah. Kita bertegur sapa jika bukan di depan keluarga saja. Kakak tidak perlu berusaha lagi. "
" Tunggu tiga bulan, sebentar lagi akan ada ulang tahun ayah. Semua akan kacau jika mereka semua tau kita akan berpisah. " Sagar menaruh gelasnya di westafel.
" Setelah tiga bulan, mari kita serahkan dokumen itu ke pengadilan bersama - sama. Seperti apa yang kamu inginkan. "
Sagar berjalan mendekati Nadira.
" Untuk masalah itu, izinkan aku untuk menyimpan dokumen itu. Dan ini. " Sagar meraih tangan Nadira.
" Simpan, walau kamu tidak akan memakainya. " Sagar memberikan cincin pernikananya di tangan Nadira.
" Kita tidak akan pernah tau Nadira, kapan kita akan membutuhkan ini. Lagian selama kita belum ke pengadilan. Kamu itu masih istriku. Kita masih sepasang suami dan istri. "
" Suami istri " Kata hati Nadira.
" Kalau begitu mulai sekarang aku akan pergi dari sini. "
" Untuk apa? Kamu harus tinggal di sini. Atau orang - orang akan tau tentang kita. "
" Kakak tenang saja, selama kita belum ke pengadilan aku akan tetap bersembunyi agar tidak ketahuan. Dan ya, Aku akan datang di hari ulang tahun ayah. "
Sagar baru menyadari Nadira sudah membawa sebuah koper.
" Kamu hanya akan membawa itu. "
" Iya. Lagi pula ini hanya pakaian tidak banyak. Seperti yang kakak katakan sebelum aku kesini. Aku tidak perlu membawa apa apa. Dan aku keluar juga tidak akan membawa apa apa. "
" Mengapa kamu selalu memanggilku kakak? Kita sudah menikah tiga tahun. Tapi panggilan itu tidak pernah berubah. Aku sama sekali tidak terbiasa. "
" Aku pamit dulu kak, jaga diri kakak. "
Nadira membuka pintu apartemen.
" Kembalilah jika di luar tidak nyaman. "
Sekali lagi Nadira menatap Sagar, lelaki yang selama ini ia temani. Yang terkadang kehadirannya membuat jantungnya berdebar tapi tidak sehari pun ia tidak pernah merasakan perasaan sendirian dan kesepian.
Ckklik ! Nadira menutup pintu.
' mulai hari ini, aku akan memulai kehidupanku yang sudah lama terhenti. Hari ini aku adalah Nadira. Dan aku akan menjadi diriku sendiri. Bukan ber status sebagai istri Sagar Mahendra. Hidupku akan di mulai. ' batin Nadira.
bersambung....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 68 Episodes
Comments