'Kalau aku bisa mengubah masa lalu. Apa takdir ini juga bisa berubah ' batin Nadira.
Sagar menatap Nadira yang sedari tadi menatap ke arahnya. Nadira buru buru membuang muka dan salah tingkah.
"Kan masih baru tiga tahun. Kami saja masih merasa seperti pengantin baru." Kata Sagar santai
'Aku saja tidak pernah berfikir ke arah situ' pikir Sagar.
"Wahh, kalau masih pengantin baru hubungan kalian tidak ada bosan bosanya ya." Kata pamannya.
" Bosan gimana? "
" Sudahlah mari kita lihat seberapa naifnya si Sagar ini." Paman Sagar tertawa mencairkan suasana. Kali ini Nadira ikut tertawa.
' Suasana seperti ini pun sama seperti saat itu. ' batin Nadira. ingatan itu masih tersimpan rapi di memori otak nya.
"Oiya Nadira, kalau tidak memiliki anak gimana dengan belajar bekerja, biar bisa mendampingi suami." Kata pamanya.
" Iya biar bisa mendampingi suami yang sekarang menjadi CEO di Departemen Vos. " Timpal bibinya.
"Bibi, Nadira sekarang masih berusia 25 tahun. Dia masih sangat muda untuk menjadi ibu dan juga untuk apa dia harus sibuk bekerja." Jawab Sagar.
"Lagian dia juga masih ingin belajar." Sagar memeluk Nadira dari samping.
"Memangnya mau belajar apa."
"Aerkologi." Jawab Nadira
"Untuk apa belajar seperti itu. Hanya membuang - buang waktu saja dengan mempelajari hal-hal yang tidak jelas. Lagian belajar kan bisa kapan saja. Tapi memiliki anak kan tidak. "
' Hal seperti ini juga terjadi. semua ber urutan dengan sempurna. jika aku bisa menghindar dari garpu itu, aku juga akan mencoba menghindar dari obrolan ini. '
" Ah, tidak kok bibi anu, bibi jangan terlalu berfikir negatif. Bagi saya ini tidak membuang buang waktu. Karena dengan belajar hal seperti itu saya bisa membedakan antara benda kuno yang asli dan mana yang palsu. " Jawab Nadira tegas, yang baru pertama kali ia berani membuka suara. karena setiap merka berkumpul. Nadira lebih banyak diam dari pada berbicara.
" Apa maksudtmu! Tetap saja, Itu tidak akan berguna. " Kata bibinya angkuh, tidak suka mendengar Nadira menjawab tiap omongan nya.
" Tidak bibi, dengan begitu aku bisa meneliti simbol - simbol peninggalan sejarah. "
Sagar menatap Nadira heran. Karena bisanya Nadira hanya bisa terdiam saja.
Nadira kali ini tidak mau diam. Dia harus mengubah takdir berikut nya dia yakin akan kemampuan nya dan akan membuktikan kepada bibi Sagar. Karena Nadira tau bibinya itu pasti tidak akan tinggal diam dan mengalah.
" Maaf bibi. Waktu itu aku ke rumah bibi bersama Sagar saat makan malam ulang tahun paman. Guci yang berwarna biru di ruang tamu bibi itu yang asli sebenarnya tidak ada pegangan nya di sebelah kanan melainkan di sebelah kiri. "
" Apa maksudmu ? "
" Iya bibi, guci itu adalah barang imitasi buatan cina. "
" Dasar anak ini! Asal kamu tau. Aku membelinya seharga tiga puluh milyar. Mana mungkin itu barang imitasi. " bibi terlihat gusar dengan jawaban Nadira, yang membuat nya semakin tidak bisa berkutik.
" Dengan melihat warna saja saya bisa tau mana yang imitasi dan mana yang palsu."
" Beraninya kau. " Bibi memukul meja dengan keras.
" Itu semua yang bisa mengetahui adalah bidang aerkologi bibi. Lain kali jika bibi mau beli barang bisa mengajakku, agar bibi tidak tertipu dengan barang imitasi." Kata Nadira mencoba seramah mungkin.
" Kalau bibi tidak percaya dengan omonganku itu asli atau tidak, bibi bisa membawanya ke laboratorium untuk di cek. Saya akan menyesuaikan jaduwalnya. "
' Oh tidak, aku bicara terlalu banyak. Apa aku sudah tidak sopan. Bagaimana jika kakak marah kepadaku. ' batin Nadira saat semua tamu di meja memandang ke arah nya. Mungkin saja mereka semua ter heran dengan sikap berani Nadira.
selama ini Nadira terkenal seperti boneka Sagar yang bisa mematuhi omongan Sagar tanpa bisa berkata.
Sagar sendiri menatapnya tanpa berkedip. Dan tersenyum ke arahnya.
' Apa itu? Dia baru saja tersenyum kepadaku? ' batin Nadira. karena selama ini Sagar tidak pernah menunjuk kan nya kepada nya.
" Kenapa kamu tidak bilang dari dulu. " Sagar menahan tawanya.
" Buat apa? Karena bibi sudah membelinya dan membayar lunas semuanya. " Jawab Nadira datar.
' Sebenarnya aku diam karena tidak ingin kamu kesulitan dan membuatmu marah kepadaku. ' batin Nadira.
" Sebenarnya saat itu aku mencari tau data si penjual guci itu, tapi orang itu tidak terdaftar di mana pun. Jadi aku tidak bisa mencarinya bahkan namanya seperti hilang di telan bumi. "
" Kenapa kamu baru mengatakan nya di sini? " Tanya bibi.
" Karena saya menghawatirkan paman dan bibi. "
" Perduli apa kamu? "
" Saya khawatir, sama seperti paman dan bibi menghawatir kan soal saya dan kakak memiliki momongan. "
Sagar menatap Nadira kagum dan tersenyum manis.
" Paman, bibi.. Jangan khawatirkan soal momongan. Serahkan itu semua kepada kami. Itu masalah kami. Selagi kami baik baik saja kenapa orang lain harus bingung. karena dengan adanya dia di sisiku aku sudah merasa bahagia. ' sahut Sagar tak tinggal diam, memberikan dukungan kepada Nadira.
' Huh... Selama ini aku mencoba diam saja karena aku ingin semuanya tidak jadi masalah panjang lebar. Tapi hari ini semuanya berantakan karena mulutku, kamu pasti akan jadi bahan obrolan kali ini. ' batin Nadira.
Bibi Sagar menggertakkan giginya menahan amarah.Dia benar benar tidak bisa berkata apa pun lagi. Dia membanting pisau dan garpu nya.
" Aku mau ke toilet! " Kata bibi berdiri meninggal kan meja.
" Aku juga mau menyapa kerabat yang lain. Kalian baik baik berdua di sini ya. " Lanjut paman yang ikut pergi.
' fiuuhh...' Nadira membuang nafas dengan lega. Hari ini ia mengatakan segala hal yang selama ini hanya bisa dia pendam. Walau pun lega. Tapi dia juga tau, pasti di belakang para kerabat akan membicarakan nya. Dan tentunya itu tidak akan baik untuk Sagar kedepan nya.
' Apa kakak akan marah dan membenciku setelah ini. ' pikir Nadira.
" Hebat! " Sagar berkata lembut kepada Nadira.
" Untuk apa? " Nadira gemetar takut Sagar memarahinya.
" Untuk seterus nya kamu harus bisa seperti ini. Kamu harus bisa membalas semua perkataan dan perbuatan mereka. Kamu tidak perlu takut. Ada aku di sini."
Nadira menatapnya bingung.
Nadira mengenang...
" Kenapa sih? Kenapa kamu diam saja. Apa tidak bisa melawan sedikit saja? " Saat itu Sagar pernah bicara padanya seperti itu dengan penuh emosi. Tapi, kali ini laki laki ini berbeda. Tatapan nya lembut, dia tersenyum manis. Yang paling mengagum kan, dia terlihat sangat tampan jika tersenyum seperti ini.
' Sikap nya berubah kepadaku. Apa dia juga sama sepertiku. Kalau begitu aku akan lebih semangat untuk merubah takdir ini. Dimana kejadian saat itu. Saat kamu terbaring kaku di hadapan ku. Dan aku tidak bisa berbuat apa apa selain penyesalan. aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi. ' batin Nadira
****
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 68 Episodes
Comments