Suasana yang tadinya hangat kini menjadi dingin dan hening semua menjadi tegang.
" Siapa yang bilang. " Kata Sagar dingin.
" Aku tidak sengaja mendengarnya. Itu sebabnya aku jadi tau tentang hal ini. Waktu itu aku bertemu dengan Karina istri dari tuan Hairim di Mall. " Bibi Sofiya menceritakan segalanya yang dia dengar dari Karina.
" Keluarga Nadira saya sangat mengenalnya sejak lama. Bahkan mereka sudah saya anggap seperti keluarga sendiri. Saya memiliki putri yang seumuran dengan Nadira. Dan mereka berteman lalu menjadi sahabat baik. Waktu itu Pak Sagar adalah senior mereka. Anakku pernah menyukai Pak Sagar waktu masih kuliah, dan anakku selalu bercerita tentang Pak Sagar kepada Nadira. Tapi entah mengapa malah Nadira yang berpacaran dengan Pak Sagar dan sekarang malah jadi istrinya. " Kata Karina saat bertemu dengan Sofiya di Mall.
Sofiya yang saat itu tidak suka terhadap Nadira akhirnya tertarik untuk mendengarkan cerita Karina. Karina pun tersenyum puas melihat tanggapan terbuka Sofiya.
" Kalau di pikir aneh juga kan. Oiya, waktu SMA juga, anak saya sedang dekat dengan seorang pria. Sampai pria itu selalu mengikuti anak saya terus. Dia mengejar ngejar anak saya. Sampai saya khawatir dia tidak bisa melepaskan anak saya, dan sampai pada akhirnya tiba tiba anak itu dekat dengan Nadira dan berpacaran dengannya. " Jelas Karina.
" Sepertinya dia itu selalu cemburu dengan kesuksesan orang. Dia juga selalu ingin memiliki apa yang di miliki putriku. "
" Kenapa Sagar? Kamu ingin mendengar siapa orang yang mengatakan itu? " Bibi Sofiya menyeruput teh nya dengan santai.
" Aku ingin menyingkirkannya. " Sagar tersenyum mengerikan.
" Aku hanya ingin menguburnya dari dunia sosial saja. Lain kali bibi jangan termakan omongan angin. Karena mudah percaya omongan, bibi sampai tertipu. "
" Aku sudah mencari tau semua omongan itu. " Bibi meletakkan cangkir dengan penuh amarah.
" Bisa bisanya kamu bicara tidak sopan seperti itu kepada bibimu. Asal kamu tau! Aku belum selesai bicara. Kamu tau tidak? Dia itu tukang iri dan rasa cemburunya tinggi. Aku hanya menghawatirkan mu. Jangan jangan dia mendekatimu karena maksud tertentu. Dia tidak bisa melihat orang yang sukses. "
Sagar tertawa ...
" Bibi..... Asal bibi tau... Yang mendekati itu aku. Aku mendekati Nadira dengan maksud tertentu. Bukan dia. Yang mengikuti Nadira dan mencarinya itu aku... " Sagar membayangkan usahanya selama ini saat mengejar Nadira.
" Yang mengajak dia menikah juga aku... Yang cemburu itu aku. Jadi yang memulai semua ini... Yang memulai perasaan semua ini adalah aku. " Kata Sagar menegaskan.
" Jadi...bukan dia? " Bibi Sofiya kaget mendengarnya. Sagar hanya menggelengkan kepalanya.
" Tapi katanya kasus yang dia buat saat SMA itu benar."
" DIA TIDAK MEMBUAT KASUS! " Sagar menggebrak meja. Tidak tahan mendengar ucapan itu.
' tidak! Aku tidak boleh mengatakannya. Nadira pasti sedih kalau ada orang lain yang mengetahuinya. Bahkan dia menyuruh polisi menutup kasusnya agar keluarganya tidak mendengarnya. ' batin Sagar menahan diri.
" Pokonya bibi tenang saja. Kasus yang bibi dengar itu tidak seperti apa yang bibi pikirkan. " Sagar mencoba tersenyum menahan amarahnya.
' ternyata tidak semudah yang aku bayangkan melindungi orang lain secara diam diam. ' batin Sagar.
" Sagar! Kamu ini kenapa? Aku ini benar benar menghawatirkan mu. Apa kamu sudah terhasut oleh dia. "
" Walaupun begitu, itu tidak akan merubah hubunganku denganya. Hubungan kami baik baik saja. Karena itu tolong bibi berhati hati dalam bicara, kalau bibi tidak ingin melihat keponakan bibi menderita jangan sampai bibi melukai Nadira. "
*****""
Sagar meletakkan sepatunya di rak sepatu.
Klikk.. Pintu terbuka. Sagar sudah tau siapa yang datang.
" Kakak ternyata beneran pulang lebih awal. " Kata Nadira saat melihat Sagar sudah sampai rumah terlebih dahulu. Sagar hanya membalasnya dengan memandang Nadira.
" Oiya, bagaimana kabar kakak hari ini ? "
Sagar hanya diam saja dan masih menatap ke arah Nadira.
" Kak... " Nadira melambaikan tangan nya di depan muka Sagar.
" Kakak... " Nadira menyentuh lengan Sagar.
" Ahh.. Iya. " Sagar terbangun dari lamunannya.
" Kakak kenapa? Sampai melamun seperti itu? kakak baik baik saja? apa tadi kakak pulang di antar sopir?"
" Ah tidak. Aku tidak apa apa. Oiya, kamu tidak dingin pulang malam cuma memakai rok pendek seperti itu. "
" Ah tidak kok. Lagian aku kan sudah memakai jaket. "
" Iya tetap saja kan. Lebih baik besok pergi pakai celana. "
" Di dalam ruangan kan hangat tidak dingin kok. Lagian aku di luar cuma sebentar. Aku lebih banyakan di dalam ruangan. "
' Di dalam ruangan hangat katanya. ' Sagar mengingat kembali atas kehadiran Hamid di dekat Nadira.
" Pakai lah pakaian yang nyaman. "
" Dari pada itu sepertinya kakak yang tidak nyaman selalu pakai jaz setiap hari. kapan pun dan di mana pun. apa tidak ada pakaian lain?"
' apa aku terlihat membosankan jika memakai jaz setiap hari? ' pikir Sagar.
Nadira melepas jaketnya dan mengambil minum di dapur, di ikuti Sagar.
" Nadira. "
" Ya. "
" Jangan panggil aku kakak. Memangnya kamu adikku ?"
" Bukan begitu kak. Tapi kakak kan pernah jadi seniorku dulu. "
" Tapi kan kita tidak saling mengenal. "
" Tetap saja. Walau cuma sebentar. "
" Kalau itu sampai terdengar orang lain gimana? Mereka akan berfikir yang tidak tidak. "
" Apa yang salah dengan panggilan kakak sih? Lagian di luar aku tidak pernah memanggil kakak. "
" Iya, karena di luar kamu tidak pernah memanggil ku. "
" Terus kalau bukan manggil kakak aku harus memanggil seperti apa ?"
" Itu kamu pikir sendiri. "
' Dasar orang ini benar benar menyebalkan. Dia sendiri yang bilang jangan manggil kakak. Tapi sekarang aku di suruh memikirkan sendiri. Padahal aku sudah capek capek menyelamatkan hidupnya. ' batin Nadira kesal.
" Ya sudah. Tapi muka kakak jangan seperti itu. "
" Memangnya mukaku kenapa ?"
" Itu... Tuh kan muka itu tu.... "
" Memangnya kenapa dengan mukaku. Sejak lahir mukaku sudah seperti ini. "
" Siapa juga yang menyuruh merubah bentuk wajah kakak. Sudah lah. Santai kan wajah kakak. Jangan tegang seperti itu setiap hari. Kalau kakak memandangku seperti itu, rasanya seperti aku harus menuruti semua perintah kakak. Kalau aku melihat tatapan itu rasanya aku tertekan dan ingin mati. " Kata Nadira sedih.
" Memangnya sejak kapan aku membuatmu seperti itu. "
" Sekarang pun masih dengan tatapan itu. " Teriak Nadira marah.
" Ah.. Capek sekali aku bicara dengan mu. "
" Memangnya kakak pikir aku bicara seperti ini tidak membutuhkan tenaga. " Nadira meneguk air di tangannya.
" Bicara apa kamu. "
" Aku tidak bicara apa apa. " Nadira pergi meninggalkan Sagar.
" Aakkhhh. "
" Nadira awas. " Sagar menangkap tubuh Nadira yang hendak terjatuh karena tersandung kaki meja makan.
Pyaaaarrr!
Gelas yang di pegang Nadira terjatuh karena dia tidak memegang gelas dengan erat.
" Kak? Kakak tidak apa apa? Ya Tuhan kaki kakak terluka. " Nadira berlutut memegangi kaki Sagar yang berdarah karena terkena pecahan beling.
" Nadira bangung. Aku tidak apa apa. "
" Stop. Kakak jangan bergerak. Ini pasti sakit. "
" Nadira cukup. "
" Yang lain apa terluka juga. Jangan bergerak bahaya nanti kakak terluka lagi. "
" NADIRA! CUKUP! Lihat yang terluka itu adalah kamu! Lihat kondisimu! " Sagar membentak Nadira yang lebih memperhatikan kondisinya tanpa memperhatikan dirinya sendiri.
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 68 Episodes
Comments