Bab 10

Nadira terduduk di atas tempat tidurnya sambil memegangi ponselnya. Dengan setengah mengantuk di membuka ponsel lagi. Waktu menunjukkan pukul 02:06.

" Kembali ke masa lalu itu hanya ada di novel dan film. Atau ini semua hanya mimpi saja? Jika aku kembali ini hanya mimpi. Maka aku tidak boleh tidur. Aku tidak boleh kembali ke masa depan. " Nadira mencoba menahan mata nya agar tidak terpejam.

"Oooaaaaaaaammmmm" Berulang kali dia menguap menyandarkan kepalanya pada guling.

" Kalau aku tidur gimana jika aku kembali lagi ke waktu semula. "

Mata Nadira mulai terpejam perlahan. Hingga dia terlelap dalam. Tidurnya.

" Huaaa!!! Aku ketiduran.... Di mana ponselku." Nadira bangun mencari ponselnya. Setelah menemukan nya dia buru buru membuka ponselnya.

" Aku masih di sini? Semua tidak berubah. Aku tidak kembali ke masa depan. " Nadira tersenyum lega.

" Untunglah ini semua bukan mimpi. Ini nyata. " Nadira teringat, dia harus mengecek keadaan Sagar apa dia baik baik saja hari ini apa dia masih sama tetap ada di kamarnya.

Nadira membuka pintu kamar Sagar perlahan. Tapi kamar itu kosong. Kamar sudah tertata rapi. Nadira melangkah kan kakinya memasuki kamar Sagar, demi mencarinya.

"Apa kamu mencariku. " Kata Sagar di belakang Nadira.

" Hehe, kakak. " Kata Nadira kaget melihat Sagar yang tiba tiba muncul dengan hanya mengenakan handuk untuk menutupi area bawahnya.

" Kamu sekarang semakin berani ya. Masuk ke area orang sembarangan. "

' haduh. Aku harus kasih alasan apa lagi kepada orang ini. '

" Kak, gimana kalau mulai sekarang kita tidak perlu membagi area lagi. Biarkan aku masuk ke sini. "

' ah sudah lah... Sudah terlanjur juga. ' batin Nadira.

" Masuk ke area ku? "

" Iya. "

" Oke boleh. "

' hah? Semudah itu? Harusnya dari awal aku melakukan ini semua. ' pikir Nadira.

" Kalau begitu, aku juga boleh masuk ke kamar mu. "

" Tentu saja... Tentu boleh. " Kata Nadira terpaksa.

Nadir megang badan Sagar. Rasanya dingin. Nadira menempelkan telinganya ke dada Sagar untuk mendengar detak jantung nya. Ia takut jika yang berbicara dengan nya saat ini adalah hantu, bukan Sagar yang sesungguhnya karena badanya saja dingin.

" Nadira, apa yang kamu lakukan! "

" Oh tidak. Maaf... Kalau begitu aku permisi dulu. " Pamit Nadira tanpa bersalah.

Sagar mengikuti Nadira dari belakang sampai masuk ke dalam kamar Nadira.

" Kak! Kenapa kamu mengikutiku?"

" Kenapa? Aku hanya ingin masuk ke sini. Bukan kah kamu sendiri yang mengatakan nya. Aku bisa masuk ke sini kapan pun aku mau. "

' dasar tidak tau malu. ' batin Nadira.

" Ya tapi kan kakak masih pakai handuk saja. Lebih baik kakak keluar dan ganti pakaian. Lagi pula aku juga mau mandi. "

" Ya sudah mandi saja sana. "

" Tapi kakak harus keluar " Ndaira mendorong Sagar agar cepat keluar.

" Ingat apa yang sudah kamu lakukan kepadaku kemarin dan hari ini? "

Nadira kembali mengingat saat dia mencium Sagar dan juga meraba raba Sagar dan hari ini dia memegang badan Sagar.

" Tapi aku kan sudah bilang, aku kemarin mimpi buruk."

" Oh, jadi hari ini kamu mimpi buruk lagi seperti kemarin ? "

" Bukan begitu sih, tapi efeknya masih membekas di hati dan fikiran. "

Sagar menatap wajah Nadira penuh selidik.

" Ke rumah sakit gih. Aku akan buat reservasi ke dokter. Biar kamu bisa tenang. "

" Tidak perlu, ini bukan masalah besar kok. "

" Sudah menurut saja. Biar dokter yang menentukan. " Sagar pergi dan menutup pintu kamar. Nadira kembali membukanya dan mengejar Sagar.

" Tidak perlu kak, tunggu satu hari ini saja. Aku akan menenangkan pikiran ku. "

' Menengangkan pikiran? Apa yang mengganjal di pikiranmu?' Sagar hanya bisa bertanya dalam hati.

"Kalau aku butuh bantuan, aku pasti akan bilang. "

" Aku tunggu sampai besok. "

" Iya, besok pagi aku akan bercerita. " Nadira tersenyum

*******

" Coffe latte satu ya. " Nadira mengambil duduk di sudut kafe yang tidak banyak di lalui orang. Ia mengeluarkan buku diary.

Mencatat semua hal yang perlu ia perbaiki.

" Huh, untung saja. Masalah perceraian sudah teratasi dan kita tidak jadi bercerai. Dan tembok pemisah area kita selama tiga tahun hari ini juga sudah terpecahkan. Tapi kenapa ya ada yang masih mengganjal. Lebih baik aku tulis terlebih dahulu kejadian di masa depan. Dan aku akan mencontreng nya jika sudah selesai. Aku sudah memastikan jika aku tidur aku tidak kembali ke masa depan. Dan kejadian serta perkataan banyak yang terjadi ber urutan. Tapi anehnya ada yang berbeda. Laki laki itu siapa yang ada di rooftop.

Ah iya aku ingat, hari di mana tangan kakak di perban dan katanya habis jatuh dari tangga sehingga kakinya patah. Tapi saat dia menemuiku waktu hujan hujan. Dia terlihat baik baik saja. Apakah dia berbohong kepadaku? Tapi untuk apa juga.

Ah iya, yang tau segalanya tentang kakak adalah ibu mertua. Apa lebih baik aku bertanya langsung kepadanya. Terakhir di pemakaman beliau terlihat sangat hangat dan baik. " Nadira membuka ponselnya dan mencari nomor ibu mertuanya, lalu ia menelfonnya.

" Ini seperti menyusun rubik yang susah di atur. Semua acak. Walau pun ibu mertua tidak tau tentang kakak setidaknya aku sudah mencoba yang terbaik untuk menyelamatkan nyawanya. "

" Hallo. " Sapa suara lembut di sebrang sana.

" Halo ibu, ini Nadira. "

" Bu, apa ibu hari hari ini tengah sibuk? "

" Ah tidak nadira, ada apa? "

" Apa aku boleh bermain ke rumah ibu? " Tanya Nadira ragu ragu.

" Apa benar kamu mau ke sini? "

" Iya ibu aku sungguh sungguh. "

" Aku akan menunggumu dengan senang hati Nadira. " jawab ibu Sagar senang.

' aku akan memecahkan dan menyusun potongan rubik ini hingga bersatu sempurna. Dan aku tidak boleh menyerah begitu saja. Aku harus percaya diri dalam melangkah. Semangat ! Ini demi kakak. Sagar tenang lah. Aku akan membuatmu menjadi baik baik saja. Dan akan membuat hidup mu jauh lebih bahagia. '

Pagi ini Sagar menunggu Nadira di meja makan. Dia ingin mendengar penjelasan Nadira tentang kesehatan nya, karena sudah dua hari dia bersikap berubah.

" Aku sudah memberikan waktu kepada mu sampai pagi ini. " Ucap Sagar saat Nadira lewat di dekatnya. Nadira langsung duduk berhadapan dengan Sagar.

" Sekarang katakan apa yang ada di pikiran mu, yang membuat mu tidak tenang akhir akhir ini. "

" Sebenarnya, keanehan pada sikap ku itu semua hal semata karena aku bermimpi buruk. Itu sebab nya aku terlihat aneh. Semalam aku sudah merenung dan intropeksi diri. Bagaimana aku bisa hidup sampai sekarang. Karena itu aku berubah. "

" Kamu yakin hanya itu. "

" Iya.. Tapi.... "

" Tapi apa? "

" Aku takut bermimpi buruk lagi. Oleh sebab itu.... "

" Kenapa tidak di lanjutkan. "

" Aku ingin menyentuh mu setiap hari agar tidak bermimpi buruk. Tolong izinkan. Aku ya kaakkkk. "

Bersambung......

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!