"Tidak mungkin!" Pekik Dewa seakan tak percaya.
"Ada apa Dewa?" Tanya Hana yang terkejut.
"Katakan padaku! Kapan terakhir kamu ketemu Hanif? Secara rumah kalian yang paling dekat karena satu kompleks kan." Tanya Dewa penuh selidik.
"Ehmm... Kalo nggak salah kayaknya lusa aku ketemu dia. Itupun aku ketemu dia di jalan waktu aku pulang dari kantor dan dia mau pergi kayaknya dia buru-buru banget. Kelihatan mukanya kaya was-was gitu sih. Udah itu aja wa." Jelas Hana.
"Emang ada apa sih Dewa?" Tanya Hana kembali.
"Hanif di temukan tewas kemarin di kota sebelah dan dari informasi, dia di perkirakan sudah meninggal dari dua hari yang lalu. Dan satu lagi, di duga semua ini ada campur tangan dari salah satu gengster mafia di kota ini. Keluarga mafia Hutzche! " Jelas Dewa melempar koran yang dia baca. Wajah Dewa terlihat begitu lemas.
"Yang bener kamu wa kalo ngomong!" Pekik Tika yang baru saja menyelesaikan aktivitas mandinya.
"Iya Tik.. aku juga masih bingung bagaimana bisa dia yang terkenal pendiam bisa berhubungan dengan penjahat kelas kakap itu! Bodoh! Aku masih tidak habis pikir." Gerutu Dewa yang merasa cukup kehilangan salah satu sahabatnya sedari SMP dulu.
Memang semenjak Hanif bekerja di salah satu instansi pemerintah, dia dan dewa menjadi sedikit jauh dan tak seakrab sebelumnya. Bahkan Hanif terkenal di antara mereka sering tidak datang ketika mereka sedang menyelidiki atau membahas sebuah kasus. Bahkan ketika acara kumpul-kumpul bersama 'pun kadang ia sering tidak datang dan hanya sesekali saja terlihat. Hanif juga lah orang yang paling susah di hubungi oleh teman-temannya.
"Apa Budi sudah tau wa?" Tanya Hana membuyarkan lamunan Dewa.
"Entahlah Han.." jawab Dewa singkat.
"Dewa, sejujurnya.. aku mempunyai sedikit rahasia tentang Hanif. Tapi entah ini berhubungan atau tidak." Ucap Tika sembari menunduk.
"Hmmm" balas Dewa seakan meminta penjelasan.
"Sebenarnya..dua hari setelah kamu di serang di parkiran cafe tempo lalu, aku sedikit mendengar percakapan lewat telfon yang di lakukan Hanif waktu kita mau pulang dari sana." Ucap Tika.
"Lalu Tik?" Tanya Dewa penasaran.
"Aku hanya dengar kata 'kalau kau tidak bisa menghabisi setidaknya buat dia cacat' dan 'dia tak mau membayar uang sepeserpun'. Dan satu nama lagi yang dia sebut. Anton!" Ucap Tika mengingat-ingat.
"Anton? Maksudmu Anton yang terlibat dalam kasus Ana?" Tanya Dewa dengan raut wajah penuh selidik.
"Entahlah wa, tapi saat waktu kamu bilang pelakunya bernama Anton aku jadi teringat percakapan Hanif dan si pria misterius itu tempo hari. Tapi karena aku fokus ke Ana jadi aku lupa bilang padamu wa." Jelas Tika mengusap air matanya.
"Hmm.. kenapa semua menjadi rumit! Apa tujuanmu sebenarnya nif?! Kenapa kau malah mau mencelakaiku dan mengapa kau juga harus meninggal dengan tragis seperti itu. Apa sebenarnya yang kau sembunyikan bodoh!" Batin Dewa menahan amarahnya.
...****************...
(Di malam peristiwa)
POV : Hanif
Gerimis yang membasahi tanah kering karena panas di bulan maret menyeruak wangi khas musim kemarau. Di senja di bulan maret, dengan suara klakson beradu dengan bisingnya suara riuhnya perkotaan di jam pulang kerja. Hanif yang sudah sedari tadi mengacak-acak kamar kostnya hanya bisa menggerutu. Ia seakan mengutuki dirinya yang sudah salah mengambil langkah.
Akhirnya dengan tas jinjing yang ia dekap berisi uang bergepok-gepok yang di masukannya acak-acakan ke dalam tas itu. uang yang juga bercampur pakaian seadanya yang ia bawa, ia segera bergegas menuju stasiun kereta api. Secarik tiket kereta menuju ke luar provinsi sudah ia genggam erat. Wajahnya yang begitu pias terlihat waspada akan setiap wajah yang berpapasan dengannya. Saat sudah hampir sampai di luar portal kompleks tiba-tiba...
"Hai..Mau kemana Hanif? Kok bawa tas segala?" Tanya salah satu sahabat lamanya dari jendela mobil, Hana. Terlihat ia sepertinya baru saja pulang kantornya.
"Eh-ini.. anu.. Han.. mau ke-ketemu orang penting bentar. Oh iya Han aku buru-buru nih. Nanti aja ya ngobrolnya. Bye..." balasnya segera bergegas mencari taksi yang biasanya mangkal di depan kompleks.
Hana yang merasa aneh 'pun menepikan mobilnya. Bagaimana mungkin ia mau ketemu orang penting dengan celana pendek di padukan kaos rumahan dan hanya memakai topi lusuh sebagai pelengkap sembari menggendong sebuah tas yang cukup besar. Membuat Hana sedikit mengeryitkan dahi. Namun, karena tak mau ambil pusing Hana pun segera bergegas menuju rumahnya yang hanya berjarak empat rumah dari kontrakan Hanif di komplek perumahan itu.
Kembali ke Hanif, ia yang sudah berada di dalam taksi belum juga merasa tenang. Ia terlihat gusar dengan terus memandangi jendela belakang. Sopir taksi pun sedikit curiga dengan kelakuan pelanggannya yang satu ini. Setelah sampai di stasiun kereta api, Hanif pun turun dengan segera dan memberikan tiga lembar uang seratus ribu yang di gulungnya.
"Maaf mas ini kebanyakan. Tarifnya cuma 48.000 mas." Ucap bapak sopir itu mengembalikan dua lembar uang yang di berikan Hanif.
"Ambil saja pak kembaliannya saya buru-buru. Terimakasih!" Ucap Hanif tak menoleh pada bapak itu sama sekali. Ia terkesan tak perduli. Hanif segera turun dan mencari kereta yang akan ia naiki. Namun, tiba-tiba...
Tiga orang langsung mengalungkan lengan kekar mereka ke leher Hanif dan menyeretnya dengan paksa untuk keluar dari stasiun. Berempat mereka ke dalam mobil jeep hitam dengan Hanif diapit oleh kedua lelaki bertubuh besar itu di jok belakang. sampai saat ini ia belum mengetahui hal buruk apa yang akan menimpa dirinya.
"Kau pikir kau bisa lolos! petugas korupsi?! Hahaha" gertak pria yang mengalungkan tangannya ke leher Hanif.
"Bos besar menyuruh kami memburumu dan mengambil uangnya kembali di tambah uang hasil pembayaran atas jasamu menyewa si brengs*k Anton. Di tambah kau harus membayar dendanya juga. Kau sudah tidak bisa di ampuni!!" Imbuh salah seorang pria yang membantu mengikat Hanif.
"Aku minta ampun. Aku salah. Ampuni aku..kumohon... pasti akan ku bayar semuanya..." Rintih Hanif ketakutan.
Dengan rem mendadak mobil pun terhenti. Dengan sekali tarikan Hanif yang bertubuh lebih kecil langsung terhempas keluar dari mobil. Tas yang sedari tadi di gendongnya pun harus terlepas. Ia merasakan nyeri yang luar biasa di bahunya. Di sebuah tanah lapang yang berbatasan langsung dengan hutan, ia kemudian di telanjangi bulat oleh para laki-laki bertubuh bak monster itu. Kedua tangan dan kakinya di ikat dan kemudian dia di hajar di tempat itu hingga wajahnya babak belur. Tak sampai disitu, Hanif yang sudah tak berdaya kemudian di injak-injak oleh ketiga monster itu hingga mengalami pendarahan yang cukup mengerikan. Setelah selesai, Mereka kemudian menaruhnya di atas mobil dan mengaitkannya dengan tali. Ia di perlakukan layaknya seperti barang. Di cuaca gerimis yang dingin ini, Hanif harus telanjang dengan kondisi berdarah-darah di ikat di atas mobil yang melaju kencang.
Saat sudah sampai di sebuah jalanan yang sepi dan jauh dari pemukiman. Salah seorang pria itu kemudian membuang Hanif yang sedang terluka itu ke tengah kebun dengan tanpa sehelai benang dan indentitas yang menempel. Dia di buang dalam keadaan masih hidup dengan rintihan meminta ampun kepada tiga makhluk biadab yang sudah membuatnya di ambang sekarat. Namun, misi mereka nampaknya sudah selesai sampai disitu saja. Mereka meninggalkan begitu saja tubuh yang masih mengeluarkan darah segar dari seluruh inci tubuhnya.
Entah jam berapa ini. Hanif hanya bisa menangis merasakan seluruh badannya yang rasanya sudah seperti hancur. Hanya di temani gelap gulita dan suara dari hewan malam yang menemani tangis penyesalannya. Antara sadar atau tidak sadar. Hanif merasakan ada seorang manusia yang mengangkat dirinya. Rasa bahagia terselip dalam senyumannya. Ia bersyukur karena masih memiliki kesempatan kedua untuk hidup. Samar-samar ia di bawa ke dalam sebuah bangunan megah dengan lampu yang berderet-deret. Senyuman penuh harapan terlukis dari sudut bibir yang bengkak.
Hanif kemudian di baringkan di atas kasur busa dan sebuah suntikan kemudian menembus pergelangan tangannya yang sudah daritadi mati rasa. Dirinya cukup merasa heran karena sejauh dia berada disini tak ada kata-kata atau obrolan yang biasanya terjadi antara para perawat dan dokter. Bahkan ia tidak menemukan riuh orang lain yang di rawat atau intinya dia tidak melihat pasien atau orang lain selain dirinya dan para perawat yang memakai Appron khas dokter.
Tanpa disadari, kini dirinya kini sudah di dorong ke ruangan aneh dengan deretan peralatan kumuh yang sepertinya berkarat dan disana berdiri seorang dokter dengan tubuh tambun dan jenggot putih yang tersembunyi dibalik maskernya. Dengan kaki dan tangan diikat ke ranjang, Hanif benar-benar sudah tidak tahu lagi akan nasibnya kini. Harapan yang tadi sempat tumbuh kini sudah pupus luntur terbawa bersama air mata.
"Mau di ambil bagian mana dulu mr. Fettuchi ?" Tanya seorang perawat yang memakai pakaian suster yang terkesan sangat jadul sekali.
"Kamu..bantu bereskan saja. And jangan banyak bicara." Terdengar suara serak dari pria tambun yang sedang berdiri di samping Hanif.
Tanpa anastesi atau bius sebelumnya, bagian perut dari hanif di bedah begitu saja dengan pisau yang sedikit berkarat di ujungnya. Terlihat garis sepanjang 30 cm melintang dari bagian dada memanjang ke bawah. Terdengar teriakan Hanif menggema ke seluruh sudut ruangan. Dokter dan suster yang mendengar teriakan itu tertawa seakan meraih kepuasan. Seakan mereka bergairah kala mendengar erangan sekarat dari Hanif. Dan tanpa merasa berdosa, mereka dengan santainya bergumul di ranjang matras tua di sebelah ranjang Hanif. Ranjang yang sudah usang dan karat di bagian engselnya itu menjadi saksi bisu betapa sakit jiwa mereka!!
Tiga jam telah berlalu, kini tubuh Hanif sudah kaku tak bernyawa. Organ penting miliknya sudah di pindahkan ke kotak beku mereka. Semuanya sudah di bereskan rapi kembali. Tubuh yang bagaikan sudah tak berharga itu kemudian di bawa menggunakan mobil dan hanya di buang begitu saja di kebun kopi yang berjarak cukup jauh. Hingga akhirnya jasad itu di temukan oleh para warga yang sedang beraktivitas di pagi hari.
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 57 Episodes
Comments
Yuli Eka Puji R
klo ambil organ dengan benda yg ga steril ya malah ngeri thor kan ga steril jdnya
2023-01-13
0
Yuli Eka Puji R
klo lusa ya blm ketemu thor, kemaren atau kemaren lusa thor
2023-01-13
0