Tak jenuh ia memandang wajah putih tegas dengan hidung yang mancung itu. Brewok tipis yang tumbuh di sepanjang garis wajahnya menambah ketampanan laki-laki yang sedang terbaring di sofa butut yang sekaligus kerap menjadi tempatnya melepas lelah. Di ruko milik keluarga besarnya inilah sosok Dewa menyewa tempat untuk dirinya membuka jasa detektif kecil-kecilan sesuai impiannya. Hana terlihat masih betah mematung di sebelah Dewa sembari terus memandanginya. Hatinya benar-benar berdesir tatkala melihat netra yang sedang terpejam di siang yang terik itu.
Ingin hatinya mengelap peluh yang serupa titik-titik air yang menghiasi dahi pria idamannya sedari masa sekolah itu. Namun sayang, rasa canggung antara mereka entah mengapa bertahan terlalu lama. Membuatnya kadang ragu apa yang membuatnya jatuh hati pada pria yang terkenal cerdas namun arogan itu. Kadang pula kecerobohan Dewa dan sikap Dewa yang ingin menyelesaikan semuanya sendiri 'lah yang menjadi penghalang bagi mereka berdua untuk bisa saling mendekati. Namun, entah mengapa sifat itu juga lah yang membuatnya menyukai pria yang gila misteri itu.
Tanpa dirasa wajah kedua insan itu semakin dekat hingga menyisakan jarak beberapa jengkal saja. Dada Hana bagaikan tabuhan genderang perang. Wajah itu terlihat semakin tampan jika di lihat dari dekat. Membuat pikiran liar Hana semakin berkecamuk. Terdengar dengkuran kecil dari laki-laki itu. Kini wajah mereka benar semakin dekat hingga hidung mereka hampir bersentuhan. Wajah putih Hana terlihat memerah karena ulahnya sendiri.
"Ehmmm...."
Sebuah erangan kecil terdengar dari pria yang sedang terlelap itu. Bersamaan dengan lengan kokoh yang tiba-tiba saja merangkul Hana yang sudah beberapa senti saja di hadapan Dewa. Ia terkunci dalam dekapan pria itu! Hana sejenak terdiam sesaat. Ia seakan tak bisa berpikir jernih dalam situasi dilema seperti ini. Hana yang terkenal sebagai salah satu anggota polisi wanita dengan daya pikir intelektual tinggi dan karir yang cemerlang nyatanya bagaikan takluk di dekapan Dewa yang sedang pulas terlelap.
Cklekkkk...
(Suara pintu terbuka)
Hana yang terkejut sontak melepaskan diri secara paksa dari pelukan laki-laki yang juga terkejut dengan apa yang baru saja terjadi. Dewa terkejut karena Hana yang sudah duduk di sofa yang ia jadikan tempat tidur. Dan Hana yang terkejut akan kehadiran Tika yang tiba-tiba juga terlihat Tika yang terkejut melihat Hana dan Dewa yang baru saja terlihat seperti berpelukan.
"Ya ampun!! Apa-apaan ini! Kalian kalo mau nekat kaya gitu, mbok pintu depan itu di tutup dulu.. beruntung kalo cuma aku yang masuk, coba kalo orang lain gimana? Bisa di grebek satu kampung kalian." Ucap Tika ngomel-ngomel pada kedua muda mudi yang terlihat masih betah duduk di atas sofa.
Tika dengan wajah juteknya menghampiri kedua orang yang masih terlihat bingung itu.
"Tuh..kancing bajumu benerin dulu Han. Enak ya? Sampai lupa kancingnya nggak di tutup lagi." Ketus Tika yang sudah mengambil duduk di kursi sofa seberangnya.
Hana yang menyadari kancing bajunya bagian atas sedikit terbuka sontak langsung terkejut dan membetulkannya kembali. Pipinya terlihat sudah merah merona, dirinya bak kehabisan kata-kata. Ia sudah mencoba membantah tuduhan asumsi dari Tika. Namun, Tika yang memang sudah seperti menangkap basah mereka berdua nampak tidak mau percaya sedikitpun dengan pembelaan yang dilakukan oleh Hana. Apalagi dengan situasi yang sepi dan kancing Hana yang terlihat sempat terbuka. Semakin menguatkan dugaan Tika saat ini.
Dewa sendiri seperti tak mau ambil pusing dengan kelakuan dua wanita yang berada di ruang tamu. Dia malah dengan santainya bangkit dan pergi ke lantai atas untuk mandi. Dewa begitu saja meninggalkan dua orang wanita yang sedang beradu asumsi di ruang tamu.
"Aku bilangin papahmu sekalian. Biar kalian di nikahin secepatnya! Nggak baik Han kaya gitu. Kalian ini kan belum nikah. Belum muhrimnya!" Ucap Tika yang masih keukeh dengan praduganya.
"Aku tuh nggak ngapa-ngapain Tika...aku tuh tadi cuma..." Balas Hana seperti kehabisan alibi.
"Cuma apa? Hmmm? Jelas-jelas kalian tadi habis ehem ehem kan? Hayo ngaku? Mau aku telfonin papahmu,? ." Tuduh Tika yang membuat Hana hanya menunduk menahan tangis.
"Apa sih Tik? Kenapa kok Hana sampai nangis gitu?" Tanya Dewa yang turun dari lantai atas. Dia turun dengan pakaian dan dandanan yang sudah rapi.
"Hei! Aku mau tanya juga sama kamu wa! Sekarang jujur sudah kamu apain aja Hana?" Tanya Tika pada Dewa yang sudah duduk di sampingnya.
"Ehm..kenapa kamu nggak tanya sendiri sama Hana? Aku berani jamin aku tidak macam-macam dengannya. Jika kau masih tidak percaya kau boleh lihat cctv di ruangan ini." Usul Dewa membela diri.
Jelas hal itu malah membuat Hana semakin menunduk malu. Ia takut ulahnya tadi malah ketahuan Dewa. Dirinya juga ceroboh karena lupa jika ruangan itu sudah di pasangi cctv.
"Emmmm.... yaudah! iya-iya nggak perlu di cek! Kali ini aku percaya dengan kalian wa, han, untung yang masuk aku Han, coba kalo papahmu. Wahh bisa di buang di hutan Afrika kamu wa, hfttt." Ucap Tika sembari mengelus dada.
"Oh iya... wa, Aku mau pinjem kamar mandimu ya wa, air di kontrakanku mati total." Imbuh Tika yang sudah nyelonong naik ke kamar mandi yang ada di lantai dua. Meninggalkan Hana yang masih memegangi erat ujung baju putih yang membalut kaos hitam yang dia pakai. Tangannya berkeringat dingin. Sementara itu Dewa terlihat sangat tenang dengan situasi yang terlihat canggung ini.
"Jangan khawatir. Aku tidak akan menceritakan tentang kamu yang hampir seharian melihatku tidur Han. Hehehe Lagipula ngapain sih kamu kaya orang kerjaan kaya gitu." Ucap Dewa.
"Lho...kok kamu tahu?? Bukannya kamu tidur?" Heran Hana.
"Iya.. sebenarnya sih nggak tidur-tidur banget sih. Jadi dari kamu datang sampai detik ini aku tahu semua Han. Aku masih ingat." Balas Dewa.
Glekkk..
Ia hanya bisa meneguk air liurnya. Wajah putih mulusnya kembali memerah tatkala ia mendengar penjelasan dari Dewa baru saja. Harga dirinya seakan sudah hilang kabur tertiup angin.
"Jadi...kamu tahu semuanya Dewa?" Ucap Hana dengan suara serak.
"Bagaimana aku bisa lupa saat kau hampir menciumku Putri Hana Chandrika. Hahaha" Batin Dewa dalam hati.
"Tentu saja. Bukankah aku sudah menjelaskan Han. Dan oh iya.. maaf aku sudah mengerjaimu dengan menarikmu tadi. Aku suka dengan parfum milikmu Han. Itu cocok sekali denganmu." Tutur Dewa apa adanya. Dia memang tidak pandai dalam urusan rayu merayu perempuan.
Glekkk..
Kembali Hana hanya bisa meneguk salivanya. Dirinya yang biasanya banyak bicara kini harus diam mematung karena betapa hari ini banyak kejutan yang menghampirinya. Ia hanya tersenyum kecil tersipu malu tatkala mulut manis Dewa memujinya.
Sementara itu, Dewa yang sedang duduk santai mulai mengambil koran di mejanya. Koran tadi pagi yang belum sempat terjamah tangannya. Mata Dewa terus membaca bait demi bait paragraf di surat kabar lokal itu. Namun matanya menangkap sebuah berita yang tertulis dan terpasang besar di bagian atas koran. Berita tentang di temukannya sosok tanpa identitas yang di buang di area perkebunan kopi. Setelah ia lihat dengan teliti nama pelaku, disana tercantum sebuah nama yang tak asing baginya. Sebuah nama yang membuatnya mengernyitkan dahi.
"Tidak mungkin....!!!!"
Bersambung....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 57 Episodes
Comments