Mengapa orangtua Anjani terlihat sangat acuh? Siapa wanita tua itu? Apa hubunganya dengan kasus ini? Dan apa sebenarnya maksut dari catatan yang di berikan ibu-ibu tua itu?
"Ah aku tau sesuatu!!!.", Tiba-tiba Dewa berteriak di dalam mobil.
"Apa dewa?.", Tanya Hana penasaran.
"Kamu lihat sesuatu nggak han? Paham nggak ini apaan??,". Tanya Dewa menyodorkan catatan itu pada Hana.
( 6°58'39"S110°0'0"E B.Mrym )
"Apaan sih ini wa? Aku juga nggak paham. Apa ini semacam kode?.", Ucap budi pun juga penasaran.
"Duh dasar..emang berapa tahun sih kalian hidup di wilayah ini.", Ucap Dewa dengan percaya dirinya.
"Yang jelas dan pasti, itu tadi bukan ibu-ibu biasa. Dia jelas sangat berpendidikan tinggi. Good job guys.. kita dapat satu petunjuk.", Terang Dewa yang sepertinya masih belum di mengerti oleh kedua temannya.
"Coba jelasin Dewa, aku belum paham nih,". Ucap Hana yang sudah tak sabar ingin segera tahu maksud dari pria cerdas yang duduk di jok belakang itu.
"Apa kau yakin wa, mau meneruskan kasus ini? Kau sudah dengar kan, mereka sudah mencabut laporannya di kepolisian. artinya semua yang kita lakukan tak ada yang akan membayar.", Ucap Budi menjelaskan.
"Ini bukan hanya sekedar masalah uang bud. Udah ikuti saja petunjukku. Oh iya..Bud, sepertinya kita harus ke luar kota kali ini. Hehehehe,". Ucap Dewa cengengesan.
"Baiklah, Mau kemana kita pak detektif?,". Tanya Budi yang merasa senang karena jiwa asli dari Dewa sudah muncul kembali bersamaan dengan terbakar semangatnya.
Kemudian Dewa dengan cekatan memasukkan kombinasi nomor dan angka tersebut ke dalam maps di HP nya lalu memberikannya ke Hana dan Budi. Kemudian..
"Alas Roban!!,". Ucap Hana dan Budi hampir serempak.
Melihat kelakuan Dewa itu membuat Hana dan Budi hanya geleng-geleng kepala. Tapi bagaimanapun mereka sudah hafal betul seperti apa jalan pikiran Dewa yang memang kadang tak terduga oleh mereka dan mampu muncul dengan memberikan hipotesis yang tak mampu di bantah sedikitpun. Dan siapa lagi kalau bukan Dewangga.
Sudah satu jam lebih mereka mengendarai mobil. Hari pun sudah mulai beranjak menuju sore hari. Kali ini mereka sudah hampir sampai di daerah alas roban. Sebuah hutan lindung yang konon di sebut-sebut salah satu jalur tengkoraknya jawa tengah. Kabarnya banyak pengendara kendaraan yang mengalami kejadian kurang mengenakkan saat melintasi jalur yang masuk dalam wilayah kabupaten Batang, jawa tengah ini.
Kembali ke Hana dan Budi, Mereka berdua yang duduk di depan mobil terlihat bingung dengan tujuan mereka saat ini terlebih lagi Dewa hanya diam dan memperhatikan jalanan dengan riang. Dan hanya kata 'sabar' yang selalu ia lemparkan ketika di tanya tujuan mereka saat ini. Mata Dewa tak henti-hentinya terus memperhatikan kanan dan kiri jalan melihat warung dan ritel perbelanjaan yang mereka lalui dengan kecepatan santai itu. Tiba-tiba...
"Putar balik!!.", Ucap Dewa mengejutkan Hana dan Budi yang duduk di depan
"Kenapa Dewa?,". Tanya Hana penasaran.
"Putar balik, kita makan di warung soto disitu.". Ucap Dewa sembari menunjuk arah yang dia maksud.
"Soto mana sih wa?,". Gerutu Budi yang merasakan lumayan sudah capek hari ini.
"Lihat! Soto bu maryam!,". Tunjuk Dewa sembari membuka kaca samping.
"Bu Maryam?,".
...****************...
(Di sisi lain)
Di dalam sebuah kantor yang cukup luas dengan satu meja di dan seorang pria duduk dengan sombong dan pria kurus yang berdiri yang tak lain merupakan asistennya pribadinya. Pria tambun yang sedang duduk dengan begitu digdayanya.
"Aku dengar kabar organisasi gagak hitam telah musnah dan semua anggotanya tertangkap?,". Ucap seorang pria dengan jas dan dasi merah dengan aksen bahasa Indonesia yang cukup kaku. Kakinya terlihat di atas meja dengan tangannya memegang sebuah cerutu.
"Iya seperti itulah tuanku, semenjak anda di luar negeri banyak hal yang terjadi di wilayah ini, beruntung kita masih bisa aman dari jangkauan hukum,". Ucap pria yang berdiri di sebelahnya nampak gemetar sembari mencoba menyalakan cerutu di tangan bos nya.
"Bagus. Usahakan semuanya bersih! Jika kau masih ingin kepalamu tetap utuh! Hahaha,". Ketus pria itu dengan wajah angkuhnya.
"Lalu bagaimana kabar si Andre dan Bu Sumi? Apa mereka masih hidup?,". Tanya si Bos itu sembari melempar koran ke atas meja.
"Mereka sudah hangus dalam rumah karena sesaat sebelum penangkapan, terjadi kebakaran hebat yang menghanguskan keduanya di tempat walaupun di temukan di ruangan berbeda,". Jelas si asisten yang bertubuh kurus.
"Hmmm..",
"Lalu...Hhffffttt...Apa kau sudah kirimkan peringatan pada pejabat bermulut besar itu?". Tanya pria itu sembari mengepulkan asap cerutunya ke langit-langit.
"Ss-sudah tuan,". Jawab pria kurus yang berdiri di sampingnya dengan terbata-bata.
"Lalu dimana sisa tubuhnya?,". Tanya bos itu kembali.
"Dia masih belum meninggal tuanku,". Jawab si pria kurus.
"Bagus, tunggu perintah dariku dan jangan bertindak cerobah!,". Gertak bos itu sembari bangkit dan meninggalkan ruangan menuju ke mobilnya. Asistennya dengan sigap mengikuti langkah pria tambun itu.
"Oh iya tuan, saya dengar tadi ada sekelompok polisi datang ke rumah pejabat yang menolak kerjasama dengan pihak kita,". Lapor sang asisten pada bosnya.
"Siapa mereka?,". Tanya bos besar itu menanggapi.
"Menurut info dari mata-mata kita disana, mereka hanya sekelompok polisi muda yang sepertinya kurang mentereng.". Ucap sang asisten.
"Hanya sekelompok kecoa! Jangan hiraukan. Lagipula aku yakin dia tak akan berani memperpanjang masalah dengan kita,". Jawab bos besar.
"Baik tuan, Tapi...".
Bersambung....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 57 Episodes
Comments
nena nurhasanah28
ko ngomongin Bu Sumi sama andre? ada hub apa nih 🤔🤔
2022-08-31
0
Ciaaaaa_sasaa🌻
Seru bngt weh malah abis😭 lanjut kan author😆
2022-08-10
3