Sinar matahari perlahan hangat mulai memasuki ruangan dengan beberapa ranjang berjejer dan hanya berpembatas tirai hijau tinggi. Di sebuah ranjang puskesmas, dekat dengan jendela yang sedikit terbuka, terbaring seorang pria dengan perban di sepanjang lengan dan juga melilit kepalanya. Terlihat darah segar masih sedikit merembes menembus perban dan kapas putih itu.
Dewa mulai mengerjapkan matanya, tangan sedikit menghalangi sinar matahari yang membuat matanya silau. Otaknya berusaha mencerna apa yang sebenarnya terjadi padanya. Terakhir yang dia ingat ialah dia jatuh dan sesaat semuanya menjadi gelap gulita.
Cklekkkk..
"Bagaimana wa? Udah ngrasa mendingan?". Ucap Hana yang masuk dengan pakaian santai membuatnya nampak lebih cantik dan anggun.
"I-iya Han, masih agak pusing sih sama badan agak nyeri dikit". jawab Dewa yang tak berhenti memandangi polwan muda di depannya itu.
"Emm, Kamu sendiri mau kemana Han?,". Tanya Dewa mencoba mencairkan suasana. Hatinya memang selalu kikuk kala hanya berdua dengan wanita berambut pendek dengan lesung di kedua pipinya itu.
"Kamu lupa ya, aku kan mau nemenin si Budi buat ke rumah pak Zul. Inget kan?.", Jawab Hana sembari memeriksa dahi dan beberapa luka di lengan Dewa. Membuat muka Dewa semakin memerah di buatnya.
"A-aku ikut.". Potong Dewa menyela Hana.
"Kalo gitu kamu pulang dulu, terus mandi wa. Baumu udah kaya orang gila yang nggak mandi tujuh tahun. eits, tapi jangan lupa bayar dulu gih administrasi disini. hehehehe..". Ucap Hana sembari mencubit kecil bahu Dewa.
Perlakuan Hana dan situasi semacam ini lah yang sering membuat Dewa terkadang terbawa perasaannya sendiri. Walaupun demikian Dewa harus sadar siapa dirinya. Dia dan Hana bagai langit dan bumi yang hanya bisa bermimpi untuk bersatu. Tentu jika ia ingin mendapatkan Hana, ia harus bersaing dengan banyak pria dengan background yang bukan sembarangan dan pastinya kaya raya semua. Sungguh kondisi yang berbanding terbalik dengan dirinya.
Setelah menyelesaikan administrasi dan segala macamnya, Dewa pun bergegas pulang. Ia sudah di tunggu Budi di ruko kontrakan milik Dewa sedangkan Hana setelah menjenguk Dewa, ia pulang dulu karena ada yang tertinggal katanya. Setelah tiga puluh menit mengendarai ojek online, Dewa sampai juga di ruko sederhananya. Bergegas ia masuk dan segera mencari keberadaan sahabatnya tersebut.
"Kemana sebenarnya si kucrut ini sih! Sembarangan aja. Mana pintu ruko nggak di kunci juga. Hish! ,". Gerutu Dewa sembari mondar mandir tak jelas mencari keberadaan Budi yang tak terlihat sama sekali. Setelah lelah mencari, Dewa pun duduk di sofa ruang kerja di lantai bawah. Ia menyadarkan kepalanya yang masih terdapat kapas dan perban. Tak terasa, Ia pun malah terlelap sejenak.
"Woy!!!" Bentak Budi mencoba mengagetkan Dewa yang sedang terlelap. Ia datang bersama Hana.
"Hish anj*ng lu bud! Bikin orang spot jantung aja lu,". Dewa meloncat saking terkejutnya melihat kedua orang itu tiba-tiba sudah ada di depannya.
"Hehehe, Jadi ikut nggak prend? Kalo nggak jadi gua tinggal lu. Biar aku berdua saja dengan Hana. Hehehehe.", Ucap Budi masih terkekeh melihat temannya yang meloncat kaget karena ulahnya.
"Kampret lu! Aku ikut, Tapi tak mandi dulu ya guys,". Ucap Dewa segera bangkit dari duduknya.
"Kelamaan ah, gausah mandi. Ganti baju aja.". Ketus Budi mendorong Dewa agak cepat sedikit.
"Tapi kan, bau badan bud,". Tutur Dewa polos membuat Hana yang sedari tadi menyimak tertawa receh dengan kelakuan dua Sabahat sejak kecil itu.
"Biarin. Lumayan kan kalo kita butuh obat bius bisa pake bau badanmu. Jadi bisa hemat sedikit.", Ketus Budi kembali.
"Hishh iya iya. Cerewet!.", Ucap Dewa dengan terpaksa.
Setelah berganti pakaian dan memakai seliter minyak wangi, Dewa, Budi, Hana segera berangkat menuju rumah pak zulfi yang berada sekitar lima belas kilometer dari tempat mereka saat ini. Menggunakan mobil, Mereka segera bergegas karena hari juga sudah siang dan panas.
Setelah lama menempuh perjalanan akhirnya mereka pun sampai juga di tempat tujuan. Saat mereka sampai mereka terlihat terheran-heran karena di rumah itu tak ada suasana berduka yang terlihat. Semua nampak berwajah biasa saja bahkan sama sekali terlihat tak ada bendera kuning tanda berduka cita atau atribut apapun dan yang terlihat hanya rutinitas normal saja seperti tidak pernah ada kejadian apapun.
Setelah memencet tombol bel yang ada di pagar, mereka menunggu sejenak hingga sang tuan rumah membukakan pagar. Hingga semua masuk ke dalam rumah, semua hanya diam dengan raut wajah datar cenderung sinis. Hana dan Dewa saling berpandangan karena merasa ada yang tak beres disini.
Mereka di antarkan hingga ke ruang tamu. Ruang dengan furnitur antik menghiasi segala sudut. Ada vas bunga antik, guci-guci kuno dan ada beberapa keris dan tombak yang ikut menghiasi dinding ruangan ini. Ruangan ini terkesan lebih mengerikan dengan adanya lukisan wanita tua dengan jubah hitam dan ada sosok hitam besar samar-samar tergambar di belakang wanita itu. Ekor mata Budi juga menangkap sebuah wadah dari daun pisang di pojok ruangan. Nampaknya ada dupa juga yang sudah di bakar menancap disana.
"Ruangannya bikin aku nggak nyaman wa,". Ucap Hana merangkul lengan Dewa yang juga masih memperhatikan benda-benda yang menurutnya awam baginya.
"Lukisan buruk seperti ini kok di pajang ya Han.", Ujar Budi sambil mencoba melihat dari dekat bungkusan daun pisang itu.
"Mm-mungkin tradisi mereka Han. Kita hargai saja, dan jangan aneh-aneh bud!". Dewa mencoba meredam ketakutan Hana di sampingnya dan mencegah Budi yang mencoba menghampiri benda yang ia duga sebagai sesajen itu.
"Sudah lama?!,". Suara berat seorang pria mengejutkan mereka. Pria dengan rambut cepak dan senyum mengintimidasi. Perawakanya tinggi dengan tubuh gagah nampak sangat berwibawa dengan jas dan dasi yang menempel di tubuhnya.
"Eh, enggak bapak zulfi. Kami baru aja sampai," Jawab Budi kemudian diikuti Dewa dan Hana kompak memberikan senyum.
"Silahkan duduk silahkan duduk. kalo boleh tau, Ada keperluan apa nak kemari?.", tanya pak zulfi seraya duduk di sofa seberang mereka dengan cukup kurang ramah dari raut wajahnya.
"Kami ingin mencari keterangan lagi soal potongan tangan yang di duga milik putri bapak atas nama Anjani..." Terang Budi.
"Sudah!!! Cukup nak. Saya sudah mencabut laporan itu dari kepolisian. Saya anggap putri saya sudah mati karena di culik dan di mutil*si. Dan saya sudah meminta polisi menutup kasusnya.", Ucap pak zulfi dengan suara seakan tak ingin mendengar lagi berita tentang Anjani.
"Tapi kenapa pak? Bukankah itu anak kandung bapak sendiri?.", Sanggah Dewa yang merasa heran dengan keputusan aneh itu.
"Hahaha..itu bukan urusanmu nak! Sekarang pulanglah dan jangan banyak bicara!.", Gertak pak zulfi malah semakin meninggikan nada suaranya.
"Itu benar nak. Pulanglah! Kami sudah tidak ingin mengungkit masalah ini lagi. Anak bandel itu sudah pergi ke akhirat. Aku jadi lega karenanya. Sebaiknya kalian pulang saja kami juga akan segera pergi ke pesta sebentar lagi.", Sela seorang ibu-ibu dari belakang sofa mereka yang ikut campur nimbrung dalam obrolan. Beliau nampak sedang membetulkan posisi gelang emasnya yang cukup besar. Sepertinya itu adalah ibu dari Anjani.
"Tunggu! Apa yang kalian bicarakan! Bahkan jasad anak kalian saja belum di temukan, kalian malah bisa bicara seperti itu. Orang tua macam apa kalian. Hah!!!,". Dewa yang tersulut emosinya dengan berdiri balik membentak kedua orang di hadapan mereka karena merasa seperti di permainkan oleh mereka. Namun, pak zulfi tak sedikitpun bergeming.
"Udin!!! Seret ketiga tamu tak punya sopan ini keluar!.", Panggil pak zulfi pada salah seorang karyawannya. Matanya merah melotot pada Dewa.
"Tidak usah repot-repot mengantarkan pak zulfi yang terhormat. Kami bisa pulang sendiri. Terimakasih!.", Ketus Dewa kemudian menyeret tangan Hana dan mengajak Budi keluar dari rumah pak zulfi tersebut.
Setelah semuanya masuk ke dalam mobil Budi, mereka masih saja berdiam saling memandangi satu sama lain dengan penuh keheranan. Mereka juga tak habis pikir ada orangtua seperti itu yang bahkan masih bisa pergi berfoya-foya padahal raga anaknya saja belum tau dimana rimbanya. Saat mobil sudah mulai mundur dan keluar dari gerbang megah itu, tiba-tiba..
"Tunggu pak polisi!!.", Suara dari wanita paruh baya memghentikan mobil mereka seketika. Wanita gemuk dengan wajah sudah keriput dan memakai baju daster motif bunga dan rambut yang sebagian sudah memutih yang di kuncir asal asalan.
"Iya bu, ada apa?,". Tanya Budi mencoba ramah.
Tak menjawab sepatah katapun wanita itu hanya menyodorkan sebuah sobekan kertas bekas kardus makanan ringan dengan catatan di atasnya. Dengan raut wajah pias dia menyodorkan kertas lecek itu dengan paksa. Terlihat wajahnya seperti sedang menghindari sesuatu. Budi dan Dewa yang menyadari itu segera mengambil kertas itu dan menyimpannya.
"Pergi!.", Ucap wanita tua itu setelah sukses memberikan kertas itu kepada Dewa dan teman-temannya.
Tanpa menunggu lama mereka segera pergi menjauh dari rumah di kawasan elit tersebut dengan di penuhi seribu tanda tanya. Mengapa orangtua Anjani terlihat sangat acuh? Siapa wanita tua itu? Apa hubunganya dengan kasus ini? Dan apa sebenarnya maksut dari catatan yang di berikan ibu-ibu tua itu?
"Ah aku tau!!!.", Tiba-tiba Dewa berteriak seolah menemukan sesuatu di dalam mobil.
Bersambung..
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 57 Episodes
Comments
Yuli Eka Puji R
tetangga saya juga gitu di segala sudut ruangan smp tempat aktifitasnya ada sesajennya dan dupa krn mereka orang hindu bali
2023-01-12
0
Yuli Eka Puji R
gimana mau ada bendera kuning klo mayatnya saja blm di temukan heran dahh
2023-01-12
0
Ciaaaaa_sasaa🌻
pas baca novel yg ini knpa Aku mrinding yah😅
2022-08-10
4