Karena masih berbelit-belit dalam penjelasannya, akhirnya kedua pasutri itu tidak di perbolehkan untuk meninggalkan kantor polisi sampai waktu yang tidak di tentukan. Sementara itu, untuk sedikit menghibur diri. Dewa sore itu pergi bersama Hana untuk menjenguk Ana kecil yang kabarnya sudah siuman. Menyusul Tika yang masih berada disana semenjak siang tadi. Siapa tau mereka bisa sedikit mengorek informasi dari gadis kecil itu. Bagaimanapun anak dua tahun itu lah yang menjadi korban sekaligus saksi kunci di kasus ini.
Saat sampai di ruangan sebuah puskesmas, nampak anak perempuan yang terlihat sedang bersenda gurau dengan Tika. Wajahnya terlihat bahagia dan selalu tersenyum. Meski masih terlihat jelas luka biru di sebelah matanya dan beberapa luka yang terlihat masih basah. Dengan bergelayut manja ia meminta disuapi oleh Tika. Walaupun Tika memang agak tomboy tapi harus di akui memang dialah yang paling bersifat keibuan di antara teman-teman Dewa. Melihat itu Dewa yang baru saja datang mencoba menyapa mereka berdua.
Ana kecil yang masih terlilit perban di siku dan lututnya, terlihat begitu ketakutan saat melihat Dewa dan Hana yang datang menemuinya. Ekspresi wajahnya seakan ingin menangis serta terus berlindung di balik lengan Tika. Bocah dua tahun itu terlihat begitu kurus dengan tulang-tulang yang terlihat jelas. Dengan telaten Tika membujuk Ana kecil yang terlihat meringkuk tak berani menatap Dewa maupun Hana. Melihat hal itu Tika mengajak Dewa dan Hana keluar ruangan terlebih dahulu. Mereka berdua pun memahaminya.
"Bagaimana tik? Apa hasil laboratorium Ana sudah keluar? Aku hanya ingin memastikan karena setelah ini, pasti semua akan di ambil alih oleh kepolisian." Ucap Dewa setelah keluar ruangan.
"Kita patut bersyukur wa, Ana masih bisa bertahan hidup sampai sejauh ini. Ana mengalami malnutrisi atau kurang gizi yang lumayan parah. Tiga tulang rusuknya retak dan dengkul bagian kiri bergeser sekitar 1 cm. Anak itu mengalami trauma berat di kepala mungkin akibat benda tumpul. Di sekarang begitu takut dengan laki-laki, Siapapun itu. Tentu saja itu di sebabkan oleh perlakuan ayah dan om dari Ana sendiri." Jelas Tika memperlihatkan hasil Rontgen dari Ana.
"Selain itu wa, setelah di lakukan pemeriksaan tadi, kami menemukan adanya indikasi pelecehan wa. Entah itu dari om nya atau bisa jadi malah dilakukan oleh ayahnya sendiri. Aku berharap manusia-manusia biadab itu mendapat hukuman setimpal. Dan...oh iya wa, Ana tadi bercerita kalau dulu saat di rumah, Ana tak berani dekat sama orang asing. Apalagi jika ketahuan menangis atau merengek pada orang lain maka ayahnya akan mengancam menyuruh Ana tidur dengan om nya di bawah tanah." Ucap Tika menirukan ucapan Ana.
"Bawah tanah? Itukan rumah satu lantai. Mana mungkin?! Atau.." Batin Dewa dalam hati mempertimbangkan segala kemungkinan.
"Boleh aku masuk ke dalam Tik? Aku pengen ngobrol sama Ana sebentar aja" pinta Dewa.
"Emmm yaudah ayo. Tapi Hana tunggu di luar dulu ya. Kasian Ana kalau terlalu rame. Nggapapa kan Han?" Ucap Tika.
"Oke deh Tik." Balas Hana.
Setelah Dewa masuk, Ana yang melihat Dewa kembali meringkuk menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut. Tubuhnya terlihat menggigil ketakutan. Tika mencoba membujuk Ana kembali dengan mengatakan jika Dewa lah yang menolongnya jadi dia tak perlu takut. Akhirnya dengan sedikit rayuan dan janji setelah ini dapat hadiah boneka dari Dewa, Ana bersedia di temui oleh Dewa.
"Hai Ana.." sapa Dewa bersahabat. akhirnya Ana sedikit tersenyum walau masih terlihat wajah ketakutan dari sudut matanya.
"Om..om..ayah udah di bawa polici ya om.." ucap Ana polos.
"Udah Ana.. sekarang Ana udah bebas. Nanti setelah ini Ana biar di rawat sama tante Tika ya.. nanti kenalan juga sama Tante Hana dia juga baik kok," balas Dewa.
"Sama mama juga di penjala juga kan om... Ana takut, mama cama ayah jahat! Meleka nggak tayang cama Ana!. (Sama mama juga di penjara juga kan om...Ana takut, mama sama ayah jahat! mereka nggak sayang sama Ana!)" Ucap Ana dengan wajah lucunya walau kata-kata itu benar-benar menggambarkan kondisinya saat ini.
"Emmm...eh..om dengar-dengar, katanya di rumah itu juga ada saudaranya ayahnya Ana ya?" Ujar Dewa mencoba memancing ingatan Ana kecil.
"Ohhhh... Kalau Om Joko kata ayah udah pelgi jauuuh banget. Tapi aku seling lho om, lihat Om Joko duduk di luang tamu tapi mukanya putih kaya olang cakit cama nggak mau ngomong om. (Oh kalau Om Joko kata ayah udah pergi jauh banget. Tapi aku sering lho om, lihat Om Joko dudukdi ruang tamu tapi mukanya putih kaya orang sakit sama nggak mau ngomong om.)" Ucap Ana sembari memainkan permen lollipop yang di genggamannya.
"Kalau sekarang adek Ana tau nggak, dimana Om Joko sekarang ini?" Selidik Tika yang juga penasaran.
"Om joko sekalang Boboknya di depan kamal mandi om (Om Joko sekarang boboknya di depan kamar mandi om)" Ucap Ana dengan senyum polosnya.
Bersambung....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 57 Episodes
Comments
Yuli Eka Puji R
2thn dah pinter kaya usia 5thn
2023-01-12
0