Entah mengapa insting Dewa berkata jika kasus kali ini masih sangat janggal. Dengan beberapa pertimbangan, akhirnya Dewa memutuskan untuk kembali lagi ke rumah Ana untuk yang kedua kalinya. Entah mengapa Dewa merasa jika masih banyak misteri di rumah bergaya minimalis di pinggir perkotaan itu. Toh keberadaan satu-satunya orang yang di harapkan bisa menjadi saksi atau bahkan bisa menjadi tersangka dalam kasus ini belum juga di temukan. Kendati pencarian sudah di lakukan oleh banyak pihak namun, batang hidung dari orang yang bernama 'Joko' ini masih belum pasti rimbanya. Untuk Ana pun, bocah itu masih belum bisa dimintai keterangan lebih kompleks lagi mengingat usianya yang masih kecil.
Jam dinding masih menunjukkan pukul 20:53. Dengan mantap Dewa malam itu juga, selepas dari puskesmas menjenguk Ana. Dewa dengan bergegas berangkat sendiri menggunakan motor Vespanya. Ia hanya ingin memastikan bahwa kejanggalan yang ia rasakan itu memang benar adanya. Setelah cukup lama berkendara ia akhirnya sampai juga di rumah kumuh yang siang tadi ia kunjungi. Setelah sejenak memandangi rumah yang terkesan remang-remang itu, Ia pun segera parkir dan turun dari kendaraannya.
"Nyari siapa mas?" Tanya dua orang bapak-bapak yang sedang piket ronda mengagetkannya.
"Wuasssshh!!!! Kaget aku pak, untung jantung saya nggak copot pak" Ujar Dewa sembari memegangi dadanya.
"Hehehe, sampeyan ini nyari siapa mas disini? Orangnya udah di bawa polisi mas tadi siang." Ujar salah satu bapak yang lebih tua itu sembari terkekeh.
"hehehe, eh...Bukannya mas itu yang tadi siang ya?" Timpal bapak yang satunya ikut tertawa melihat reaksi Dewa.
"Iya pak, ini saya yang tadi siang kesini sama temen-temen polisi yang tadi. Saya kesini mau ngambil barang saya pak tadi kayaknya jatuh disini." Ujar Dewa berbohong.
"Oh..yaudah mas silahkan masuk. Mau di temenin nggak mas?" Tawar bapak-bapak yang lebih muda ramah.
"Enggak usah pak, saya masuk sendiri saja nggak apa-apa." Ucap Dewa.
"Oh.. yaudah bapak tunggu di luar ya mas. Apa mas yakin mau masuk sendirian?" Balas bapak-bapak yang lebih tua.
"Iya pak yakin." Jawab Dewa singkat.
"Eh yaudah kami tunggu di depan sini aja ya mas. Bahaya nanti kalo motornya di tinggal gini. Soalnya daerah sini rawan curanmor." Imbuh kedua bapak-bapak itu.
"Iya pak terimakasih." Ujar Dewa segera bergegas masuk ke dalam rumah dengan lampu kuning yang menggantung remang. Dengan pencahayaan alakadarnya Dewa pun masuk ke dalam.
Tak ada penerangan yang baik di dalam rumah ini. Pencahayaan yang redup di sertai sirkulasi udara yang buruk membuat ruang tamu ini sungguh terasa pengap. Entah bagaimana bisa ada orang yang bisa nyaman dengan kondisi seperti ini. Tak mau ambil pusing, Dewa segera kembali menyisir lokasi itu. Dirinya hanya mondar-mandir di ruang tamu. Lagi-lagi, memang disini tak ada tanda-tanda yang aneh. Hanya ada sofa hijau lusuh beserta meja kayu yang biasa. Lemari hias yang berisi botol-botol miras kosong dengan merk ternama yang di jejerkan rapi. Dan selain itu tidak ada lagi.
Hampir lima menit ia berjalan kesana kemari mencoba mencari sesuatu yang bisa di jadikan petunjuk atau bukti. Dingin mulai berhembus perlahan menyelimuti sekujur tubuhnya. Ia kemudian memberanikan diri berjalan ke belakang, tepatnya ke arah dapur. Dewa sekilas teringat dengan cerita Ana siang tadi. Tiba-tiba saja bulu kuduknya meremang saat memasuki dapur dengan lampu kuning redup menggantung di tengah ruangan. nyaris tak ada perabotan di dalam dapur sederhana ini. Dewa mencoba berjalan perlahan mengelilingi area tersebut. Entah, tidak ada yang tahu apa yang dia cari saat ini.
Yang di pikirkannya saat ini ialah Bagaimana bisa ini semua saling berhubungan begitu jauh?? Apakah Anton juga ikut terlibat dalam tewasnya Anjani di kasus yang sebelumnya?? Lalu, apa tujuannya menyerang Dewa yang notabenenya belum pernah bertemu dengannya sebelum kasus ini mempertemukan mereka??
Dan tak terasa, ia sekarang ini sudah berada si depan pintu kamar mandi yang tertutup rapat. Terdengar dari luar, Lirih terdengar suara gemericik air yang sepertinya dari keran di dalam kamar mandi. Dewa berinisiatif ingin memeriksanya. Karena di rasa area ruangan ini terlalu redup, Dewa mencoba meraih Hpnya untuk sekedar di jadikan senter sementara untuknya.
Duakkkk!!!!
"Ah... Sial!" Geram Dewa mengetahui Hpnya lepas dari genggaman dan jatuh di atas keramik putih di bawahnya. Membuat keramik itu sedikit pecah di bagian ujungnya. Namun saat Dewa berjongkok berusaha untuk mengambil Hpnya kembali tiba-tiba....
"Hmm...Bau ini seperti...?!!"
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 57 Episodes
Comments