Mentari pagi telah meninggi, hangat sang surya membasahi setiap inci permukaan tanah surgawi. Riuh ramai masyarakat dari segala lapisan sesang berusaha menggerakkan roda ekonomi. Lalu lalang kendaraan bermotor terdengar bising menggambarkan bagaimana berjalannya kehidupan perkotaan yang sibuk.
Berbeda dengan Dewa yang masih terlelap dalam mimpi. Lelah telah menguasai seluruh lekuk sendinya. Dengan masih memakai jaket dan sepatu ia merebahkan tubuhnya di atas sofa ruang tengah. Dia benar-benar terlelap pulas hingga tak menyadari kehadiran teman-temannya yang sudah lengkap berada di depannya. Dewa tak sedikitpun terusik dengan mereka yang riuh membahas perkara pelik yang sedang mereka hadapi. Perkara yang sudah menjadi konsumsi publik skala nasional.
Tak dirasa, matahari kini sudah gagah berdiri di atas tahta tepat di waktu tengah hari. Dewa kini sudah perlahan membuka matanya, ia mengerjapkan setiap pandangan ke semua sudut ruang tengah. Dirinya kaget mengetahui teman-temannya sudah lengkap duduk mengelilinginya. Dengan es kopi dan camilan lengkap sudah tersedia di atas meja. Mereka terlihat masih asik membahas Dewa yang berhasil membongkar sedikit kejahatan yang di lakukan pasutri sakit jiwa tempo hari. Kasus yang mereka kira hanya merupakan kasus penganiayaan anak di bawah umur nyatanya membuka kasus yang lebih besar lagi seperti mata rantai yang saling terikat.
"Udah bangun wa?" Tanya Hana sembari menahan tawa melihat reaksi Dewa yang seperti orang linglung.
"Kamu kalo tidur kaya kebo wa, susah di bangunin. Hehehe" ketus Budi menimpali.
"Ngapain sih kalian disini?" Tanya Dewa mencoba mengumpulkan setiap kesadaran.
"Kan kita disini mau merayakan keberhasilan kamu dalam mengungkapkan kasus Ana kemarin wa, kamu udah banyak membantu polisi wa, aku salut!" Ujar Budi.
"Apa udah selesai kasusnya ya?" Tanya Dewa kembali sembari menyerobot es yang di pegang hanif.
"Apaan sih wa, jadi ketularan jigongmu kan. Hishh!" Gerutu Hanif merasa jengkel.
"Hehehe, udah wa. Sekarang kan juga tersangka utama juga sudah m*ti. Juga istrinya kemarin di tes kejiwaan dan hasilnya memang si perempuan itu sudah kecanduan mengkonsumsi obat penenang dan membuatnya sering mengalami delusi dan halusinasi yang berkepanjangan. Saat ini dia sudah di tempatkan di rehabilitasi dulu. Mungkin setelah sembuh baru bisa di adili dengan hukuman 25 tahun penjara yang pasti menantinya wa. Lalu, apalagi yang harus di selidiki??" Ucap Budi menjelaskan.
"Lalu, apa yang pengen kamu jelaskan bud subuh tadi?? Dan oh ya.. bagaimana hasil otopsinya Han?? Apa benar itu jenazah Joko-joko itu??" Tanya Dewa kembali mencoba mengingat-ingat.
"Betul Dewa, itu memang tubuh tuan Joko adik dari tuan Anton yang sudah meninggal. Tim forensik menemukan jika DNA mereka cocok wa, sedangkan untuk penyebabnya di duga akibat hantaman di wajahnya yang membuat tengkorak pelipis penyangga mata menjadi retak juga tulang hidungnya hancur dan rahangnya bergeser. Bisa di bilang bagian wajahnya benar-benar hancur berkeping-keping. lebih parahnya korban terlebih dahulu di mutil*si sebelum benar-benar meninggal dunia. Dan oh..iya Dewa.. berbicara soal DNA, aku iseng mencocokkan DNA tuan Anton dengan DNA manusia yang belum diketahui di kasus Anjani. DNA yang juga di duga kuat terlibat di kasus Anjani sebelumnya. Dan kamu tahu, ternyata DNA itu identik wa! Artinya tuan Anton adalah salah satu dalang di balik tew*snya Anjani!" Jelas Hana bersemangat atas temuannya itu.
"Wait! Bagaimana bisa kita menjaring satu ikan di dalam dua jala secara bersamaan dan kita malah melepaskan ikan itu!" Ujar Dewa merasa ganjil dengan semua ini. Semua terasa seperti kebetulan yang terlambat di ketahui olehnya.
"Kamu sabar dulu brother... Aku yakin kamu akan suka dengan apa yang akan aku berikan padamu ini." Ucap Budi menyerahkan sebuah berkas.
Setelah sekilas membaca berkas dokumen itu wajah Dewa berubah menjadi pias. Dirinya tidak pernah percaya apa yang di hadapi mereka akan sebesar ini.
"Jadi wa? Bagaimana menurutmu?" Tanya Hanif menyenggol lengan Dewa.
"Jadi Anton adalah salah satu anggota mafia milik Hutzche Family? Menurutmu begitu bud?" Ujar Dewa memandang langit-langit rukonya.
"Ya benar! Keluarga mafia turun menurun asal Belanda yang bertanggung jawab atas penjualan organ tubuh ilegal ke asia timur, penjualan anak di bawah umur, penyelundupan obat dan bahan kimia terlarang serta banyak kejahatan keji lainnya. Mereka tak segan untuk menghabisi siapapun yang mengancam kelangsungan kerajaan mereka di sini. Di duga banyak anggota mereka yang menyusup di badan pemerintahan pusat maupun daerah. Tujuannya hanya satu, agar semua kejahatan mereka tak terendus sama sekali. Kudengar pemimpinnya yang bernama Nick von Hutzche yang konon berjuluk el Huron (si musang) adalah bos yang bertangan besi dan berdarah dingin! Kuharap kau lebih berhati-hati lagi dalam menerima klien wa." Ucap Budi mengambil kembali berkas itu dan memasukkannya kembali ke dalam tas.
"Aku berharap kita sudahi saja kasus Ana dan Anjani sampai disini wa. Aku takut kita terseret kasus yang lebih rumit lagi. Yang kita hadapi bukan manusia biasa wa." Imbuh Budi yang di kemudian di setujui oleh ketiga temannya kecuali Dewa yang masih terdiam.
"Oh iya.. Dewa..Ana katanya kangen pengen ketemu kamu lho wa." Sela Tika mencoba mencairkan kebekuan antara mereka berlima. Dia yang daritadi diam sedikit merasa canggung dengan suasana yang memanas antara mereka berlima.
"Hmm...Dimana anak itu sekarang tik?" Ucap Dewa bangkit dari duduknya.
"Tuh..." Tunjuk Tika ke arah meja Dewa yang berada di belakang sofa dekat dengan jendela.
Terlihat bocah kecil perempuan itu sedang asik melihat video anak-anak di laptop milik dewa. Dengan headphone ia terlihat berjoget-joget seakan tidak menggubris kelima sahabat yang sedang beradu argumen di sofa depannya. Ia begitu semangat walaupun masih terlihat perban dan gips menjadi aksesoris tubuhnya. Terlihat wajah bahagia tergambar di setiap semburat senyum nya. Kebahagiaan yang belum pernah di rasakan Ana sedari ia lahir. Ketentraman batin yang tidak pernah ia rasakan dari ibu kandungnya sendiri. Terlukis tawa ceria dari bibir mungil miliknya yang masih berhiaskan luka yang masih membiru.
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 57 Episodes
Comments