Setelah bersiap-siap, Dewangga pun pergi dengan motor vespa kesayangannya. Dengan setelan baju biru navy dan celana jeans yang pas si badannya yang atletis, di berangkat menuju cafe langganan mereka. Sepanjang jalan ia terus membayangkan bagaimana merangkai kata-kata untuk mengatakan kalau perusahaan jasa yang mereka kembangkan bersama sudah di ambang kata bangkrut.
Tak terasa dua puluh menit sudah berlalu, akhirnya dia sampai juga di cafe 'Kangen Kopi'. Cafe sederhana bertema outdor dengan balai gasebo yang berjejer rapi. Matanya terus mencari keberadaan keempat sahabatnya. Dan sesaat setelah mengedarkan pandangannya, ia menemukan mereka sedang saling berpandangan serius. Dengan langkah mantap ia menuju salah satu gasebo yang berisi keempat sahabatnya tersebut.
"Woy!! Pada ngapain sih keliatannya serius banget. Hehehe". Ketus Dewa menepuk salah satu temannya, Hanif.
"Eh, lu darimana aja sih. Ngaret banget datengnya." Ketus fita salah satu teman wanitanya yang terkenal memang agak tomboy.
Selain mereka berdua, berhadapan dengan Dewa di sisi jauhnya ada Hana dan Budi. Kedua sahabatnya yang bekerja di kepolisian. Budi di bagian kriminal dan Hana di bagian forensik atau bagian otopsi jenazah yang di kirimkan ke rumah sakit Bhayangkara tempatnya bekerja sekarang. Sedangkan Budi temannya yang satu ini lah yang sering memberikan job dari kepolisian untuk Dewa dan teman-temannya demi membantu polisi dalam kasus-kasus yang cukup rumit untuk di tangani.
"Wa, sini! Wa, Kamu masih ingat nggak kasus remaja yang hilang seminggu yang lalu?". Tanya Budi yang sudah terlihat serius membuka obrolan setelah Dewa mengambil duduk. Temannya yang satu ini memang terkenal tegas dan tak suka berbasa-basi.
"Iya ingat, kenapa sih bud? Kasus anjani itu kan? Yang anaknya salah satu pejabat kota? Emang belum ketemu?" Tanya Dewa santai.
"Nah itu dia wa, kemarin malem pak Zulfi sama bu Retno, orangtuanya si Anjani dapet paket." Terang Budi sembari menyeruput tipis capuccino nya.
"Paket apa bud?" Tanya Hanif yang sudah mulai penasaran.
"Hhffffttt, dengerin baik-baik." Budi mulai membuka berkas dokumen yang ia bawa.
"Tanggal 21 September tahun 2019, Hari Sabtu pukul 22:45. Telah di temukan sebuah paket yang tidak di ketahui siapa pengirimnya. Di letakkan tepat di depan pagar rumah begitu saja. Dengan bungkus kardus yang begitu rapi dan bersih. Karena saat itu pegawai rumah mendapati alamat dan atas nama dari pak zulfi, dia berinisiatif untuk membawanya masuk. Setelah melalui metal detektor kemudian pegawai itu memanggil pak zulfi yang saat itu sedang duduk di ruang tengah bersama keluarga istrinya. Merasa tidak pernah memesan barang online dari ritel apapun, pak Zulfi kemudian menyuruh sang pegawai untuk membuka apa isi dari kardus yang di bungkus begitu rapi itu. Setelah membuka kardus itu pegawai itu langsung meloncat ketika mengetahui ada sebuah tangan kiri yang sudah di bungkus dalam plastik vakum dan sudah di bekukan sebelumnya. Beserta itu juga yang membuat pak zulfi begitu shock ialah terdapat baju kaos merah marun milik anaknya Anjani sesaat sebelum dia hilang. Dan di potongan tangan tersebut tersemat cincin yang pak zulfi hafal betul kalau itu cincin anaknya." Jelas Budi membacakan isi berkas.
"Hanya tangan kiri saja? Ada yang lain lagi?" Tanya Dewa kali ini sudah terlihat antusias. Ia seakan melupakan kesedihannya tadi.
"Ya, dan setelah si periksa petugas, semuanya sangat bersih. Hampir tak ada petunjuk sama sekali wa, itu kenapa kepolisian meminta kita membantu mereka dengan aku sebagai penanggung jawabnya." Terang Budi lagi.
"Menurutmu gimana wa?" Tanya Hanif menyenggol pundak Dewa.
"Untuk sementara, mungkin ada kasus dendam dengan keluarga pak zulfi hingga seseorang tega melakukan hal seperti itu." Ucap Dewa mencoba mengawang segala kemungkinan.
"Tapi kita belum tau semuanya hingga besok kita dapet laporan dari hasil forensik dokter Hana, hehehe" lanjut Dewa melirik Hana yang duduk berseberangan dengannya.
"Huffftttt, besok akan aku usahain ya guys" balas Hana.
"Potongan tangan kiri, kardus yang di bungkus rapi, penculikan, kira-kira apa yang sebenarnya terjadi?" Batin Dewa berkecamuk dalam pikirannya sendiri.
"Besok aku akan le rumah pak zulfi untuk pemeriksaan lanjutan, kamu mau ikut wa?" Tanya Budi seketika memecah lamunan Dewa.
"Oke! Aku ikut.." jawab Dewa spontan.
"Aku juga ikut!" Hana ikut-ikutan mengacungkan jarinya.
"Baiklah buat Hanif dan fita kalian besok cari informasi dari warga sekitar ya. Siapa tau kita dapet petunjuk. Besok malem kita kumpul lagi di kantor detektif. Oke?" Terang Budi.
"Oke!!" Jawab mereka berempat kompak.
Siang itupun di lanjutkan dengan canda tawa antara kelima sahabat itu. Hingga tak terasa waktu berlalu begitu cepat dan sudah beranjak sore. Meninggalkan sinar senja di ufuk barat. Mereka berlima pun berpamitan untuk kembali ke kehidupan masing-masing lagi. Dewa segera berjalan menuju parkiran tempatnya menaruh vespa kesayangannya. Saat sudah tinggal beberapa langkah lagi dari motor antik itu, tiba-tiba..
Srrratttttt...
Sebuah goresan dari senjata seperti badik mengoyak lengan kemeja yang ia kenakan. Luka yang tak terlalu dalam namun cukup panjang. Dan belum sempat ia menoleh ke wajah penyerangnya..
Duaakkkk..bruukkkk
Sebuah tendangan keras menghantam ulu hatinya. Darah mengucur dari dahi yang sepertinya sobek menghantam lantai cor. Pandangannya kabur akibat hantaman itu membuatnya tak bisa fokus melihat siapa gerangan yang menyerangnya. Ia sedikit bersyukur karena seseorang dengan jaket coklat dan masker itu kemudian lari setelah menendangnya tadi karena beberapa orang dari jauh melihat serangan mendadak itu. Namun, hantaman tadi membuat kesadaran Dewa perlahan memudar dan entah mengapa seketika semua menjadi gelap.
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 57 Episodes
Comments
Yuli Eka Puji R
jangan" pelakunya salah satu dr temannya sendiri
2023-01-12
0
Yuli Eka Puji R
bukannya di prolog hana di bagian kriminal ya.... ahhh othornya lali
2023-01-12
0
🐾🐾🎯Chandra Dewi♐🐾🐾
waduh.. blm apa2 dewa udah di serang aj..
2022-08-14
0