Seribu dugaan mulai memenuhi akal sehat Dewa saat ini. Pria dengan tubuh besar itu masih saja di teras rumahnya sehingga Dewa tidak dapat mendekat dan mengecek apa isi karung besar itu. Pria besar itu terlihat mondar mandir tak karuan di depan rumah. Beberapa kali ia menerima telfon dan kemudian wajahnya berubah menjadi gelisah. Dewa tak bisa mendengar apapun karena posisinya yang cukup jauh dan berada di dalam mobil. Hingga terlihat seorang wanita keluar dengan membawa kain yang sepertinya sebuah kaos yang disitu terlihat jelas berlumuran darah yang masih segar. Melihat itu bu surti hampir berteriak namun, berhasil di tenangkan oleh Hana yang ada di sampingnya.
Sementara itu Dewa terus memperhatikan pria besar yang twrus gelisah itu, entah mengapa dia seperti tak asing dan pernah melihatnya. Namun ia masih belum bisa mengingat dengan pasti. Saat sedang serius memperhatikan sepasang suami-isteri mencurigakan tersebut tak lama Tika pun sudah dekat dengan mereka. Dengan mantap Dewa dan Hana turun sementara bu surti tetap di dalam mobil. Dengan ramah Dewa dan Hana berusaha menyapa mereka.
Namun, di luar dugaan sambutan ramah mereka malah di balas dengan makian dari kedua pasutri tersebut.
"Apa mau kalian?! Sudah saya bilang ribuan kali! Mau saya apakan itu terserah saya! Saya orang tuanya! Mas mau apa?!" Bentak ibu-ibu itu dengan nada tinggi.
"Tugas kami hanya meninjau laporan bu, anda juga tidak perlu marah-marah bukan? Dan bisakah kami melihat Anak ibu sebentar?" Ucap Dewa tenang.
"Sudahlah!! Pergi kalian bedeb*h! Semua aparat sama saja, hanya mengganggu saja!" Kali ini si pria yang tadi masuk rumah, keluar menemui Dewa dengan sama marahnya.
Tak berselang lama suami istri itu pergi dengan mengunakan sepeda motor. Dewa yang sudah curiga dengan gelagat mereka yang tidak kooperatif tersebut, segera memerintahkan Hana untuk mengikutinya dengan bu surti menggunakan mobil. Sementara dia, Tika dan satu orang temannya Tika yang baru saja sampai, mencoba menyelidiki setiap sudut tempat kumuh itu.
Berawal dari seonggok benda yang dari tadi sudah Sangat mencurigakan. Yang pertama Dewa cari adalah kain berlumuran darah dan isi karung yang memiliki bau sangat menyengat. Dengan hati-hati Dewa menyobek karung itu dengan pisau lipatnya. Dan seketika karung besar dengan bau menyengat itu terbuka seluruhnya.
Nihil! Tak ada apapun disana. Hanya ada sampah busuk dan beberapa makanan yang sudah basi bercampur dengan pembalut dan popok yang tentu saja menimbulkan bau yang cukup membuat perut siapapun yang menciumnya akan mual. Dewa tak menyerah begitu saja. Ia dan Tika kemudian mengobrak-abrik sampah yang terdapat kain berlumuran darah itu. Dan akhirnya ketemu! Namun, lagi-lagi mereka harus menemui kekecewaan tatkala mereka tidak mendapatkan petunjuk apapun. Walaupun begitu ia tetap mengamankan yang sudah di temukan mereka. Kalau-kalau bisa di jadikan barang bukti. Sampai saat ini, Mereka juga masih menerka-nerka sebenarnya apa yang terjadi pada Ana?
Dewa akhirnya berinisiatif untuk mendapatkan petunjuk lain dengan mencoba mengintip dari beberapa celah yang ada di rumah itu. Rumah yang cukup pengap dengan cahaya yang minim walau saat ini cuaca sedang panas-panasnya. Dewa mencoba memicingkan mata untuk sebanyak mungkin bisa melihat di ruangan yang cukup pekat itu. Sekelebat Dewa mendengar suara yang membuat matanya membulat sempurna.
"Ana?!" Teriak Dewa lirih. Seketika harapannya kembali menyala lagi.
Suara tangis yang begitu lirih mengalun lembut melewati indra pendengar milik Dewa. Rumah itu seakan tak memiliki celah yang cukup untuknya. Dengan mau tidak mau mereka segera menyusun rencana kembali. Yang di pikirkan mereka hanyalah keselamatan anak kecil yang malang itu.
"Mas bantu aku dobrak pintu, Tik kamu minta bantuan warga sekitar ya. Cepetan!" Titah Dewa yang segera di turuti kedua orang di hadapannya.
Setelah cukup lama berusaha, akhirnya dengan bantuan warga sekitar juga. Mereka berhasil membuka pintu kayu itu dengan paksa. Segera Dewa berlari mencari keberadaan Ana di bantu dengan beberapa warga yang juga sudah cukup lama geram dengan hadirnya keluarga itu. Tak butuh waktu lama akhirnya Ana pun di temukan tepat di dalam kamar mandi. Tubuh mungilnya terlihat menggigil dengan balutan kaos singlet putih dan celana pendek saja. Anak berumur dua tahun itu tak bisa bergerak karena kesadarannya yang mulai memudar Dengan kondisi tubuh yang mengalami demam tinggi. Sedikit beruntung dugaan Dewa dan teman-temannya tadi tak terbukti. Ana di temukan dengan keadaan tubuh yang masih lengkap walau masih terlihat luka lebam dan bekas luka cakaran yang mengering menghiasi sekujur kulit putihnya.
Dengan cepat tanggap Tika dan beberapa warga segera membawa Ana ke puskesmas terdekat untuk mendapatkan perawatan pertama. Mereka segera bergegas karena Ana kecil sudah mulai mengalami kejang akibat panas tinggi. Sementara itu Dewa di temani satu orang teman Tika yang bernama Teguh, menyisir ke seluruh penjuru rumah.
Mereka berdua hanya bisa geleng-geleng kepala setelah menyisir ke segala penjuru rumah. Kesimpulan mereka hanya satu. Keluarga ini benar-benar ingin Ana mati!! Di dalam rumah itu tak di temukan sehelai pakaian 'pun. Keadaan rumah benar-benar kosong seperti memang sengaja di tinggal pindah oleh pemiliknya atau sengaja meninggalkan Ana yang tengah sakit sendirian hingga malaikat maut sendiri yang akan menjemputnya. Lebih mirisnya walaupun mempunyai anak kecil di rumah itu, Dewa menemukan hampir tak ada secuil mainan anak-anak yang ada di rumah itu. Dewa berkesimpulan jika Ana benar-benar tak dianggap ada oleh mereka.
Kringgggg.....
"Halo..." Ucap Dewa.
"Aku udah dapet mereka wa, Dan... mereka sepertinya ingin kabur!"
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 57 Episodes
Comments
Ciaaaaa_sasaa🌻
Novel author yg ini bener" ngena vibes nya.. brasa seperti ada di dalam critanya
2022-08-17
4