"Soto mana sih wa?,". Gerutu Budi yang merasakan lumayan sudah capek hari ini.
"Lihat! Soto bu maryam!,". Tunjuk Dewa sembari membuka kaca samping.
"Kita makan disana,'. Ucap Dewa singkat.
Setelah memarkirkan mobilnya mereka bertiga segera masuk ke dalam sebuah ruko yang berderet-deret dengan bangunan semi permanen berukuran sederhana itu. Hana dan Budi segera memesan semangkok soto sapi kepada pelayan warung tapi berbeda dengan Dewa yang seakan gelisah tak seperti biasanya. Ia nampak tak fokus untuk memesan makan. Sepertinya ada hal yang lain yang ingin dia lakukan disini.
"Emmm..mbak permisi, bu Maryamnya ada?,". Tanya Dewa setelah beberapa saat celingak-celinguk mencari sesuatu.
"Eh a-ada mas.. emang mas siapanya ibu ya?,". Tanya pelayan itu balik.
"Saya kerabat jauhnya,". Jawab Dewa sekenanya.
"ohh..Akan saya panggilkan mas, mungkin ibu sekarang sedang di belakang.". Balas pelayan itu ramah.
Setelah beberapa saat menunggu, akhirnya pesanan mereka pun datang jua, terlihat asap tipis dengan aroma kaldu bercampur dengan rempah menyeruak seakan membuat perut mereka menari-nari akibat mencium betapa sedapnya bau hidangan tersebut. Apalagi mereka belum makan sedari jam sepuluh tadi dan sekarang sudah hampir mau Maghrib. Tak menunggu waktu lama mereka dengan lahapnya menyantap hidangan sederhana tersebut. Di padukan dengan gorengan yang masih panas. Sungguh mereka seperti terhipnotis rasanya.
"Ah kenyangnya...,". Seloroh Dewa sembari mengelus-elus perutnya yang sudah penuh terisi lagi.
"Benar-benar enak wa disini makanannya. Kapan-kapan kita kesini lagi yuk Dewa,". Blas Hana menanggapi.
"Cie..cie.. itu wa di ajak berduaan sama Hana disini.. atau jangan-jangan kalian udah jadian???,". Sergah Budi.
"Hush! Lambemu itu bud.. mana mau Hana sama aku,". Jawab Dewa tertunduk menyembunyikan rasa hatinya. Sama halnya dengan Hana yang hanya tersenyum tersipu malu mendengar ucapan Budi. mereka bertiga pun akhirnya tertawa bersama.
"Permisi, ada apa ya mas tadi mencari saya, dengan saya, ibu maryam.". Ucap seorang ibu-ibu yang belum terlalu tua. Mungkin usianya kini masih sekitar 58 tahunan. Memecah guyonan mereka bertiga.
"Oh iya bu, silahkan duduk. Ada beberapa hal yang ingin kami tanyakan.", Jelas Budi to the point. Beliau kemudian mengambil duduk dalam meja kayu di warung makan itu.
"Bu, perkenalkan saya Dewa dan ini Hana dan Budi. Sebelumnya kami ingin meminta maaf terlebih dahulu atas kedatangan kami yang tiba-tiba. Namun, ada beberapa hal yang ingin kami ketahui dari ibu maryam. Jadi kami harap ibu kooperatif,". Jelas Dewa membantu Budi memberi pengertian.
"Apa ibu kenal dengan Anjani anak dari Bapak zulfi?,". Tanya Dewa langsung mencoba mengorek informasi dari wanita paruh baya di hadapannya.
"Ya tentu saya kenal. Bahkan saya sangat mengenalnya lebih dari siapapun,". Jawab ibu maryam dengan wajah berubah menjadi murung.
"Memang ada apa mas-mas ini, tanya seperti itu? Apa ada sesuatu yang menimpa anak saya?,". Tanya bu Maryam spontan.
"Apa mas berdua tau, alamat Anjani dan si zulfi dimana?? Tolong mas katakan pada saya dimana alamatnya sekarang??,". Ucap ibu itu terlihat sangat antusias.
"Anak????,". Sontak pernyataan itu membuat Budi dan Dewa serta Hana melonggo.
"Bi-bisa ibu ceritakan secara detail maksud ibu? Setelah itu akan saya ceritakan semua yang sudah terjadi. Dan akan saya usahakan membantu menyelesaikannya ,". Ucap Dewa masih sedikit terkejut
"Hikss...hiks..hiks.." suara tangisan ibu itu seketika pecah. Beliau mencoba merangkai kembali peristiwa dahulu yang membuatnya selalu bersedih ketika mengingatnya.
"Hikss..hiks..Baiklah ibu akan ceritakan nak... huhhhhhhh...Dulu pada saat tahun '97 saat Anjani berumur satu tahun, tak terduga waktu itu terjadi konflik kelaparan karena paceklik di desa saya. Semuanya serba susah. Bahkan bisa makan satu kali sehari saja sudah bersyukur. Apalagi janda seperti saya, yang hanya mengandalkan tenaga saja untuk mencari sesuap nasi. Tentu saat itu kondisi saya beserta kedua anak perempuan saya bisa dibilang sangat memprihatinkan. Dan pada suatu ketika Anjani mengidap panas tinggi, walaupun sudah di periksakan ke puskesmas namun panas itu tak kunjung juga turun hingga tiga hari. Uang saya pada saat itu benar-benar sudah habis. Bahkan sepeserpun saya tak punya sama sekali. Mau hutang ke tetangga, mereka juga sama susahnya seperti saya. Hingga adik dari almarhum suami saya datang dari kota. Zulfi sialan itu menawarkan bantuan pada saya. Dan karena sudah tak memiliki pilihan lagi dengan berat hati saya menerima bantuan tersebut. Keputusan yang benar-benar saya sesali seumur hidup.", Jelas ibu Maryam seraya menyeka air matanya.
"Lalu bu?,". Tanya Dewa lagi.
"Zulfi dan Rina saat itu belum mempunyai anak mas, jadi zulfi memohon untuk bisa merawat Anjani yang masih berusia satu tahun kala itu. Dan juga kakak anjani yang bernama Ika juga ikut di bawa mereka. Dengan iming-iming kehidupan dan pendidikan yang lebih baik. Namun tanpa saya tahu itu hanya kedok busuk semata. Yang saya kira mereka benar-benar tulus malah nyatanya menusuk dari belakang. Mereka berdua tak lebih baik dari seekor binatang!,". Hardik ibu Maryam. Air matanya kembali jatuh membasahi pipinya.
"Memang apa yang terjadi bu?,". Tanya Hana yang mengelus-elus punggung ibu maryam seakan memberinya kekuatan dan ketabahan.
"Huhhhhhhh... Memang kedua anak saya hidup di rumah yang bagaikan istana. Bahkan ika juga di sekolahkan hingga sarjana sesuai bidang yang ia sukai. Namun, ternyata itu semua tidaklah gratis. Setahun yang lalu, ika diam-diam kabur dan menemui ibu di rumah sekaligus warung ini. Dia hanya mengandalkan bertanya pada salah seorang tetangga saya yang kebetulan juga kerja di perumahan disana. Betapa bahagianya ibu melihat ika setelah puluhan tahun tak bertemu. Namun, kebahagiaan itu tak berlangsung lama ketika Ika menceritakan bagaimana hidup di neraka yang mereka sebut istana itu.",
"Ika menangis saat bercerita tentang ini, jika dia selama tujuh tahun ini. Semenjak dia ada di SMA hingga lulus kuliah, dia terpaksa harus menuruti nafsu bejat zulfi brengs*k itu! Dia melakukannya dengan alasan semua yang Ika nikmati saat itu tidaklah gratis! Bahkan dengan gilanya dia terang-terangan melakukannya di hadapan istrinya. Ika sudah berusaha memberontak, namun setiap kali menolak, selalu saja cambukan dan hantaman mendarat di tubuh dan wajahnya. Dia sudah pernah lapor polisi tapi karena zulfi mempunyai uang, semua laporan dia sanggup ia tutup begitu saja. Membuat Ika menyerah untuk melawannya lagi karena semua sia-sia. Dan yang lebih menyakitkan hati ibu, dia disana hanya di anggap pembantu dan dilarang bekerja diluar rumah apapun alasannya. Bahkan Anjani pun menganggap kakak kandungnya itu hanya sebagai pembantu saja. Dan hingga sekarang ibu belum pernah tau kabar dari kedua anak ibu. Bahkan ibu juga belum pernah melihat cantiknya wajah Anjani sekalipun.". Terang ibu Maryam. Matanya merah padam. Menahan segala kesedihan yang jelas tergambar dalam setiap tetes air mata yang mengalir.
"Sekarang katakan mas, dimana kedua anak saya dan zulfi brengs*k itu berada?!,". Tanya ibu Maryam yang sudah tak sabar lagi ingin bertemu kedua anaknya.
"Kami memang belum pernah bertemu dengan Ika anak sulung ibu, namun jika Anjani, dia hilang sebulan yang lalu dan lusa kemarin potongan tangannya di temukan di depan rumah pak zulfi, seperti disengaja memang di taruh disitu..". Jelas Budi dengan suara parau.
Brakkkk...
"Apa?! Jadi maksudnya Anjani sudah Mati!!,". Teriak ibu itu sembari menggebrak meja.
"Kami belum bisa memastikan itu bu, Namun, masih ada seribu kemungkinan bu.". Terang Dewa mencoba menenangkan.
"Hikss... hiks... hikss.. akan saya bayar berapapun mas asal saya bisa bertemu kembali dengan Ika dan Anjani.. hikss..hikss.. hikss.." ibu maryam kembali terisak.
"Oke, saya akan bantu ibu.". Tegas Dewa sembari menjabat tangan Bu Maryam erat-erat.
"Misi dimulai lagi,". Batin Dewa.
...****************...
"Hei perempuan j*lang sialan!! Kemarilah!!,". Teriak Pak zulfi memanggil salah seorang wanita yang kerja disana. Dia baru saja pulang pesta sendirian. Sementara istrinya, sepertinya dia sedang bermain dengan laki-laki lain di hotel atau mungkin apartemen. Dan itu sepertinya sudah menjadi hal lumrah dimata pak zulfi.
Perempuan dengan baju daster bermotif bunga datang dengan tergopoh-gopoh. Sejatinya dia masih muda namun karena kurangnya perawatan diri menjadikannya terlihat sepuluh tahun lebih tua dari seharusnya.
"Iya om zulfi,". Wanita itu kemudian bersimpuh si hadapan pria dengan mulut berbau alkohol itu.
Bruaakkkk!!!!
Sebuah tendangan keras menghantam dada wanita yang tengah bersimpuh itu. Membuatnya terjengkang ke belakang dengan memegangi dadanya. Hanya menahan isak tangis yang bisa ia lakukan saat ini. Karena jika dia menangis sudah di pastikan dirinya akan mendapatkan penyiksaan lebih kejam daripada hanya tendangan seperti ini.
"Sudah kubilang panggil aku tuan besar!! Jangan pernah panggil namaku dengan mulut kotormu itu!! Sekarang pergi! Siapkan air hangat, aku mau mandi!!,". Ucap pria yang tengah sempoyongan itu sembari mencoba duduk di sofa untuk meregangkan otot-ototnya yang kaku.
"Oh iya, Hei!! Jika ada polisi datang kesini, Jangan kau berikan keterangan apapun tentang adikmu yang hilang itu!! Jika kau berani macam-macam, akan kusobek mulutmu itu dengan silet!! Mengerti!!!,". Ancam pak zulfi dengan menutup matanya.
"Bb-baik tuan besar,". Jawab wanita itu sembari menunduk.
"Dimana Rina? Oh iya aku lupa, pelacur itu sedang bermain dengan pria lain. Dasar pelacur murahan. Kalo bukan karena warisan bapakmu yang banyak, sudah ku buang kau dari dulu dasar wanita brengs*k!!!,". Ucap pak zulfi meracau.
Ting....ting...ting...
(Notifikasi pesan masuk)
"Apa kau sudah siapkan barang pesanan bos besar?"
"Ah sial brengs*k!!! bagaimana aku bisa lupa!!!" Seketika wajah pak Zulfi mulai cemas.
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 57 Episodes
Comments
Yuli Eka Puji R
jangan" yg ngasih petunjuk si ika anak bu maryam
2023-01-12
0
Momo R
apa jgn2 yg beri alamat ke dewa itu kkanya anjani?
2022-08-31
0