Cklekkkk...
Seorang pria tambun dengan wajah sadis dengan gigi yang agak maju baru saja keluar dari sebuah ruangan dengan pintu kayu berukir di basemen bawah tanah sebuah bangunan. Nampak dia sedang membetulkan kembali posisi celananya dan mengaitkan kembali separuh kancing Kemeja yang dia kenakan saat ini. Keringat sebiji jagung nampak membasahi dahi dan lehernya. Nafasnya pun terlihat belum sepenuhnya beraturan. Dia berjalan kembali menghampiri para pengawal pribadi bertubuh kekar kepercayaan bosnya.
Dokk...dokkk.dokk...dokkk...
"Kumohon om, pulangkan aku om..hiks..hiks..hiks..pasti papahku akan membayar om berapapun om minta..asal om mau lepaskan aku.. aku mohon om... kasihanilah aku om.. hikss.. hikss..hikss..,". Terdengar dari balik pintu itu seorang perempuan sedang meminta pengasihan dari pria tambun berwajah garang itu.
"Papahmu!!?? Hahahaha dia tidak akan datang menyelamatkanmu jal*ng!! Bahkan kau itu sudah dia anggap mati setelah ku kirimkan lengan orang lain yang ku buat seperti lengan milikmu pada lusa kemarin!! Jadi berhentilah merengek bocah!!,". Gertak pria itu tegas dari balik pintu. Kemudian ia meraih sekotak rokok di sakunya.
"Kau juga tak akan pernah aku lepaskan sebelum si brengs*k itu membayar semua ganti rugi yang sudah dia sebabkan!! Jangan pernah bermimpi memburu serigala jika kau hanya seekor keledai!! Hahahaha!!!!,". Tawa pria itu. Senyum yang lebar itu memperlihatkan gusi berwarna gelap yang di hiasi gigi-gigi kuning kehitaman. pemandangan yang Sangat menjijikkan.
"Hufffhhhh... Hei!! kalau kalian mau, kalian bisa bergantian memakainya. Sepertinya aku sudah bosan dengan wanita itu. Anggap saja ini hadiah hiburan untuk kalian.". Ucap pria itu kepada keempat pria bertubuh kekar di depannya. Keempatnya pun saling berpandangan satu sama lain yang kemudian masuk ke dalam bilik gudang kecil itu bersama-sama.
Sementara keempat pria kekar itu sedang memuaskan hasratnya pada wanita lemah yang ada di dalam gudang basemen gelap itu, pria yang terkenal sebagai tangan kiri sang ketua itu mengirimkan pesan pada bos besar yang tak lain adalah ketua mafia itu sendiri.
"Bos, si brengs*k itu belum juga memberi kabar balik pada kita. Bagaimana apa yang sekarang sebaiknya kita lakukan? Aku takut semakin lama kita menyembunyikannya, lama kelamaan kita bisa terendus pihak polisi"
Ting....
"Habisi pejabat itu! Aku tak ingin melihatnya lagi. Dia sudah tidak berguna!"
"Lalu bagaimana dengan anaknya yang masih ada disini?"
Ting.....
"Terserah padamu, kau bisa melenyapkannya atau menjualnya. Terserah apapun itu aku tidak peduli."
"Baik bos, selamat malam."
Pria itupun kemudian melipat kembali Hpnya dan memasukkannya kembali ke dalam saku kemeja. Dirinya sejenak terduduk di anak tangga yang menuju lantai di atas. Matanya pun perlahan-lahan mulai terpejam dengan diiringi suara samar-samar lenguhan dan rintihin yang terdengar secara bersamaan bagaikan simphoni dari neraka.
Satu setengah jam telah berlalu, keempat pria kekar itupun sudah keluar dari ruangan dan bergabung duduk bersama bos mereka yang tengah bersandar duduk di tangga dengan santainya.
"Kalian sudah selesai bermain-mainnya?", Tanya pria tambun dengan rokok di mulutnya.
"sudah bos,". jawab keempatnya serempak.
Pria tambun itu kemudian masuk kembali ke ruangan itu, terdengar masih ada rintihan mengalun lirih dari dalam. Rintihan meminta belas kasih dari pria tua menjijikkan di hadapannya. Nampak isak tangis yang belum juga berhenti karena mendapatkan perlakuan yang mengerikan seperti itu. Dan tiba-tiba..
Dorr..dorr..
Seketika suara letupan senjata api menggema dalam ruangan kecil itu. Semua terdiam membisu, Dan seketika itu juga tangisan yang mengalun lirih itu hilang menguap bagai tertiup angin.
...****************...
Jam sudah menunjukkan jam sepuluh malam, mobil dengan warna abu-abu itu pun kini sudah pergi meninggalkan Dewa dan Hana tepat di depan gerbang komplek. Ruko Dewa dan rumah Hana memang tak begitu jauh mungkin hanya seratus limapuluh meter saja. Jadi Dewa menawarkan diri untuk membantu mengantar Hana sampai tepat di depan pintu rumahnya. Keduanya pun berjalan beriringan walau tak ada kata yang terucap. Mereka seakan sibuk dengan angan masing-masing. Hingga tak terasa, langkah kaki mereka sudah sampai di teras rumah Hana yang bersebelahan dengan yayasan yang di kelola oleh keluarganya.
"Emmm.. Dewa, makasih ya udah mau nganterin.."
"Eh..iya Han, sama-sama.". Jawab Dewa canggung. bahkan ia hanya menunduk saja tak berani menatap wanita cantik di hadapannya.
"A-aku permisi dulu..", ucap Dewa seraya berbalik meninggalkan Hana yang masih mematung di depan pintu.
"Dewa...". Panggil Hana lembut.
"Apa Han?", Jawab Dewa menengok Hana yang baru saja memanggilnya.
"Enggak apa-apa deh, kamu Hati-hati ya..dahhh..", ucap Hana melambaikan tangan pada Dewa yang tersenyum padanya. Sejenak keduanya saling bertukar pandangan. Sudah sedari lama Wanita itu menyukai Dewa namun, nampaknya mereka berdua masih betah menikmati masa-masa seperti ini dan belum siap mengungkapkan isi hati masing-masing.
"Ahhhh iya.. terimakasih..", balas Dewa seraya bergegas pulang kembali untuk beristirahat.
Sepanjang langkahnya yang hanya di temani lampu penerangan jalan di sisi kanan dan kirinya, ia terus saja terbayang betapa manis senyuman Hana. Seorang polisi wanita yang mempunyai karir cemerlang, masa depan yang cerah, dan berasal dari golongan atas. Seketika hatinya menjadi gundah kala memikirkan jikalau dirinya yang mempunyai kehidupan berbanding terbalik dengan kehidupan yang nyaris sempurna dari pujaan hatinya itu. Dapatkah dirinya mendapatkan Hana? Atau hanya akan seperti impian bodoh keledai buruk rupa yang bermimpi menjadi kuda putih nan cantik?
Saat sedang termenung ia samar-samar mendengar tangisan seorang wanita. Tangisan yang lebih terdengar seperti kepedihan yang teramat dalam. Telinga dari Dewa mencoba mencari arah dari sumber suara yang cukup janggal baginya. Matanya mencoba mencari pergerakan di dalam titik kegelapan. Perlahan bulu-bulu halus di tubuhnya mulai meremanng.
Karena tak menemukan apapun, Dewa menganggap itu hanya halusinasinya saja. Ia pun segera mempercepat langkahnya. Hawa dingin semakin menyeruak tatkala ia harus melewati sebuah rumah kosong dengan tulisan dijual di depannya. Rumah yang hanya berjarak tiga rumah dari rukonya. Ketika melewati rumah kosong yang belum di huni tersebut, ia melihat seorang wanita muda cantik yang sepertinya sedang menunggu sesuatu.
Parasnya ayu dengan setelan dress merah namun, dari raut wajahnya ia seperti sedang tengah bersedih. Karena sebelumnya teringat suara tangisan yang beberapa menit lalu ia dengar, Dewa hanya mengangguk sembari tersenyum padanya dan langsung saja bergegas jalan cepat menuju rukonya. Dewa ingat betul wajah ayu manisnya yang seperti sedang menitikkan air mata. Saat Dewa sudah beberapa meter melewati wanita muda itu, tiba-tiba....
"To-tolong..."
Dewa pun spontan berbalik menenggoknya, dan.....
Bersambung....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 57 Episodes
Comments