"Jangan pernah memancing ku, Calista Naomi Justin! Atau aku tunjukkan siapa pemimpin nya!!"
Ucapan Samuel sontak menyadarkan Calista. Gadis itu berdiri dan menempelkan tubuhnya ke tubuh Samuel. Jemari tangan lentiknya membelai wajah hingga leher Samuel.
"Apa yang ingin kau tunjukkan padaku, tuan Samuel? hem? Aku ingin melihatnya", tantang Calista dengan wajah begitu menggoda.
Samuel terdiam menatap gadis itu. Wajah Calista benar-benar menantangnya. Mulut terbuka sementara jemari tangannya membuka kancing-kancing kemeja Samuel.
"Shitt..."
Samuel menarik tengkuk Calista kembali me*umatnya dengan liar. Calista pun membalasnya dengan panas. Bahkan jemari tangannya membuka kancing-kancing kemeja kerja Samuel tanpa melepaskan pangutan bibirnya pada bibir laki-laki itu. Sekuat tenaga Calista menahan dirinya agar tidak men*esah.
Calista semakin menggoda Samuel dengan semakin berani, jemari lentik tangannya mengusap lembut milik Samuel yang sudah nampak menegang di dalam sana. Bahkan Calista semakin berani, ketika tangan itu menyelusup ke dalam boxer Samuel, mengusap lembut milik laki-laki itu. Tentu saja sentuhan Calista kali ini berhasil membuat Samuel mengeram.
"Kini kau tahu berhadapan dengan siapa tuan Samuel Geraldo Abraham! Jangan pernah main-main dengan ku!!", ketus Calista menarik tangannya dan mendorong kuat dada Samuel.
Dengan membusung kan dadanya Calista mengambil tasnya melangkah dengan anggun seolah tidak terjadi apa-apa dengannya. Gadis itu keluar ruangan.
Samuel tidak bisa melakukan apa-apa lagi. Tubuhnya sekarang benar-benar merasa tidak nyaman. Ia menyandarkan tubuhnya ke meja sambil mengusap kasar wajahnya yang sudah di kuasai gairah yang membuncah akibat perbuatan Calista.
"Ah, shitt...rasanya tidak enak sekali. Awas saja kau wanita penggoda". Samuel mengumpati Calista.
*
"Samuel brengsek. Laki-laki itu selalu mempermalukan aku", ucap Calista kesal sambil mengambil tisu basah untuk wajah mengelap bibirnya. Membersihkan sisa ciuman Samuel Geraldo. Ciuman panas laki-laki itu masih sangat membekas dan mempengaruhi Calista. Gadis itu menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi, saat naik mobil tadi ia menutup sekat pembatas dengan sopir dan asisten nya yang duduk di kursi depan.
Saat hendak naik mobil Calista minta di antar pulang ke mansion nya. Kepalanya mendadak pusing, sebenarnya ia ingin menangis sejadi-jadinya, namun ia menahannya sekuat tenaga. Calista tidak mau orang lain melihat nya lemah.
*
Calista melangkahkan kakinya dengan anggun ketika masuk mansionnya. Memberikan senyum tipis, membalas sapaan pelayan yang melihatnya pulang.
Sebenarnya sedikit mengejutkan, saat jam masih menunjukkan pukul empat sore, Calista sudah berada di rumah. Tidak seperti biasanya yang akan pulang saat hari sudah gelap. Bahkan tak jarang pulang dini hari karena ia mengisi waktunya dengan bekerja dan menyelesaikan nya di kantor.
Sesaat sampai di kamarnya, Calista melemparkan tas di atas sofa. Membuka heels sembarangan. Tampak wajah sendu ketika menatap dirinya di depan cermin. "Hidupku sangat menyedihkan".
Calista membuka kancing-kancing kemeja kerja nya dan melihat bekas sayatan di dada atasnya. Ia bersyukur tanda itu tak di sadari Samuel saat bersamanya tadi.
Sekarang mata indah itu sudah menitihkan air matanya. "Aku harus menjadi Calista yang kuat. Bukan Calista lemah seperti dulu", ucapnya dengan suara bergetar sambil mengusap lembut sayatan bekas operasi yang di jalaninya beberapa tahun yang lalu.
"Hidupku bertahan hingga sekarang berkat pendonor jantung empat tahun yang lalu. Siapapun dia, aku berharap ia tenang di sana. Tanpa mu aku tidak akan hidup selama ini", lirih Calista terisak.
Ya... sebenarnya Calista sudah memiliki kelainan jantung sejak kecil. Hidup gadis itu bertahan dari obat-obatan terbaik yang di jalani selama hidupnya.
Beruntung saat remaja ia memiliki kekasih yang sangat perhatian padanya. Tepatnya ketika Calista duduk di kelas akhir sekolah menengah atas, ia menjalin hubungan dengan Nathan. Laki-laki yang bagi Calista sangat baik dan mau menerima ia apa adanya meskipun ia sakit-sakitan.
Jalinan cinta mereka terbina cukup lama hingga sembilan tahun. Calista sangat mencintai Nathan begitu pun Nathan. Setidaknya Calista merasakan seperti itu.
Usia Calista dan Nathan terpaut hanya dua tahun, kala itu Nathan sudah menjadi seorang mahasiswa di perguruan tinggi.
Hingga akhirnya Calista mengetahui kebenaran tentang Nathan. Sore itu Calista ingin memberikan kejutan pada Nathan dengan datang ke apartemen kekasihnya itu.
Namun bukan kebahagiaan yang di temui Calista di apartemen kekasihnya itu. Ia malah memergoki Nathan sedang bercinta dengan wanita lain di sofa.
Saat mengetahui kedatangan Calista, laki-laki itu bukannya merasa bersalah dan meminta maaf, ia malah memojokkan Calista dengan kata-kata kasar penuh hinaan.
* Kau pikir aku mau dengan wanita penyakitan seperti mu, hah? Kau pikir aku mau dengan mu, wanita yang sok suci...jual mahal saat aku mengajaknya bercinta? Tidak. Tentu saja aku tidak mau. Untuk apa aku menghabiskan hidupku dengan mu yang menyedihkan ini", ketus dengan kasar Nathan kala itu.*
Kata-kata yang tidak akan pernah Calista lupakan dari laki-laki itu.
Dengan perasaan sakit Calista pergi dari apartemen Nathan pulang ke mansion ayahnya. Lagi-lagi kepedihan yang di dapatkan Calista saat mendengar suara de*ahan dari kamar Justin ayahnya.
Calista memberanikan diri membuka pintu kamar ayahnya. Lagi-lagi Calista terkejut dengan apa yang di lihatnya. Ayahnya sedang bercinta dengan sahabat baiknya Bianca.
Ketika melihat Calista, Bianca langsung menghentikan aktivitas intim dengan ayahnya. Bianca meminta maaf pada Calista. Namun Calista terlalu sakit hati ketika melihat orang-orang yang sangat di sayanginya dengan tega mengkhianati nya.
Calista berlari dengan linangan air mata sambil memegang dadanya yang tiba-tiba sesak. Sakit. Teramat sakit. Itulah yang dirasakan Calista ketika mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Ketika di ruas jalan memasuki pusat kota London, tiba-tiba Calista menginjak rem dalam-dalam karena ia kaget di hadapannya sedang ada perbaikan jalan. Calista tidak menyadari nya sebelum nya. Calista tidak memiliki pilihan selain menginjak rem dengan keras atau kalau tidak ia akan masuk kedalam galian jalan yang dalam.
Hingga tabrakan beruntun tak dapat di elakkan lagi. Tak tanggung-tanggung tujuh mobil terlibat dalam kecelakaan yang mengerikan itu.
Ketika keadaan Calista sudah sangat memprihatikan dengan darah yang mengucur deras di wajahnya, ia tertatih hendak membantu pengendara di belakang nya. Kala itu Calista sudah merasakan dadanya sangat sakit sekali. Bahkan ia menekan dadanya dengan kuat dengan nafas terengah-engah karena sesak. Namun ia tetap ingin menyelamatkan orang di dalam mobil itu. Seorang wanita yang hendak membuka kan pintu untuk Calista agar membantu nya. Namun wanita itu kesulitan karena ia terjepit. Calista melihat wanita itu menggerakkan tangannya dengan wajah kesakitan. Calista melihat semuanya. Hingga setelah itu pandangan mata Calista menggelap dan tak sadarkan diri.
Di saat ia sadar, Calista mendapatkan dirinya sudah berada di rumah sakit. Dan ia sudah menjalani operasi jantung. Justin memberi tahu, Calista sudah menerima donor jantung yang cocok dengannya dari seseorang yang ingin identitas nya di rahasiakan.
Ayahnya dan Bianca lah yang selalu menjaga Calista saat itu.
Meskipun Calista masih belum menerima pengkhianatan Bianca pada dirinya, namun Calista tidak bisa mencegah keduanya yang terlihat saling mencintai.
Saat kondisi Calista sudah membaik. Justin menyampaikan ingin menikahi Bianca. Justin dan Bianca mengaku mereka saling mencintai. Dan Justin bersedia saat itu juga memberikan semua harta yang ia dapatkan bersama Adeline ibu Calista yang sudah lama meninggal sepenuhnya untuk Calista.
Bianca tidak keberatan sama sekali. Karena ia benar-benar mencintai Justin dengan tulus.
Sejak itulah Calista menjadi pemimpin perusahaan Archivvo yang di dirikan Justin. Justin hanya meminta satu dari Calista, jangan pernah menanggalkan nama Justin di belakang namanya. Dan Calista menyetujui nya.
Lambat laun Calista bisa menerima kehidupan baru sang ayah yang memutuskan menetap di Swiss bersama keluarga baru nya. Calista senang melihat ayahnya bahagia. Ternyata Bianca tidak bohong ia benar-benar mencintai ayahnya. Saat ini Calista memiliki dua adik dari pernikahan justin dan Bianca.
...***...
To be continue
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 126 Episodes
Comments
nobita
olh begitu masa lalu nya Calista... menyakitkan ya pemirsahh
2025-01-09
0
Susi Susiyati
pendonornya mngkin sj amber kekasih samuel
2024-05-01
1
Ray
Dan siapakah pendonor jantung itu🤔? Apakah ada hubungannya dengan Samuel🤔?
2022-12-26
0