Ceklek..
Katty masuk keruangan kerja Calista. Calista terlihat sedang sibuk bekerja dengan tumbukan berkas dan MacBook yang menyala di hadapannya.
"Apa kau sudah mendapatkan informasi yang aku minta?"
"Sudah nona. Informasi sudah saya kirimkan semuanya ke email anda.
"Nama laki-laki itu, Samuel Geraldo, ia seorang pelukis yang berdomisili di Madrid", jawab Katty menjelaskan.
Calista yang duduk di kursi kerja nya menatap asisten nya. "Pelukis? Tinggal di Madrid?", ucap Calista memastikan perkataan asisten nya.
"Iya, nona".
Lantas bagaimana menemukan laki-laki itu di sini? Kau harus memberikan cek padanya sebelum ia kembali ke Madrid", perintah Calista", sambil menatap Katty.
"Saya sudah menemukan hotel tempat tuan Samuel menginap, nona. Saya juga sudah mendapatkan kontak beliau. Apa sekarang saya harus menemuinya?"
"Iya. Tunggu apalagi, aku tidak mau berhutang budi pada laki-laki itu. Selesai kan segera!", perintah Calista.
"Baik nona. Kalau begitu saya permisi", ucap Katty dengan hormat.
"Hem.."
Setelah Katty keluar ruangannya, Calista membuka Ipad-nya dan mengetikkan nama Samuel Geraldo di pencarian. Cukup banyak berita online yang memuat tentang laki-laki menyebalkan itu. Terutama tentang prestasinya di dunia yang di gelutinya yaitu melukis. Tidak ada satu berita pun yang menceritakan tentang data pribadi Samuel. Yang ada semuanya tentang pekerjaannya sebagai pelukis dan galery yang ia miliki.
Bahkan laki-laki itu sudah beberapa kali mengadakan pameran lukisan di beberapa galery ternama di negara-negara maju. Harga satu lukisan nya pun sangat fantastis.
Calista melihat satu persatu hasil lukisan Samuel. "Bagus juga. Hm... ternyata dia seniman berwajah dingin dan menyebalkan".
*
Katty menyesap minumannya. Ia sedang berada di sebuah restoran cepat saji yang sudah di sepakati untuk bertemu Samuel.
Sudah tiga puluh menit berlalu laki-laki yang di tunggu belum juga menampakkan dirinya. Katty sudah mengetahui wajah Samuel dari internet.
"Uh, kenapa pelukis itu belum datang juga. Kalau aku tidak berhasil menemuinya hari ini bisa-bisa nona Calista marah besar", batin Katty mengedarkan pandangannya ke pintu masuk kalau-kalau orang yang ingin ditemui nya sudah datang.
Lima menit, sepuluh menit...bahkan satu jam sudah waktu berlalu, Samuel belum juga terlihat di restoran yang sudah di sepakati nya.
"Huhh sebaiknya aku kembali saja ke kantor. Aku akan mencari alasan yang tepat saat nona Calista bertanya nanti", batin Katty hendak beranjak dari tempat duduknya, tepat di saat netra nya melihat sosok laki-laki yang dari tadi tunggu nya.
"Oh my God...diakah orangnya? pelukis itu?", batin Katty tak berkedip menatap Samuel yang baru saja masuk ke restoran dan berbincang sesaat dengan seorang pelayan yang segera mengantarkan nya menuju meja Katty.
"Ehem. Terdengar deheman Katty. "Tuan Samuel, perkenalkan saya Katty asisten nona Calista", ucap Katty ramah memperkenalkan dirinya sambil mempersilakan Samuel duduk Dan menawarkan minuman yang langsung di tolak Samuel.
Laki-laki itu menatap tajam Katty yang duduk di hadapannya. "Calista? Siapa, aku tidak mengenalnya", ketus Samuel. "Aku tidak bisa lama-lama, nona. Urusan ku banyak, jadi jangan berbelit-belit, langsung saja ke inti masalah. Tujuan mu apa ingin menemui ku dan siapa Calista, nona mu itu?"
Terlihat Katty menghembuskan nafasnya. "Nona Calista atasan saya tuan, yang semalam bersama anda di hotel", jawab Katty cepat dan memberikan penjelasan.
Samuel menyadarkan punggungnya dan melipat kedua tangannya ke depan dadanya. "Mau apa lagi wanita itu?"
"Nona Calista ingin memberikan ini kepada tuan", jawab Katty sambil menyodorkan selembar cek ke hadapan Samuel.
Samuel menyipitkan kedua matanya. Dan melihat nominal yang tertera di cek tersebut. Terlihat senyuman sinis di sudut bibirnya. "Aku tidak membutuhkannya. Katakan pada atasan mu itu, berhenti untuk mengganggu ku. Pertemuan pertama sudah menyulitkan ku apalagi yang berikutnya", ketus Samuel berdiri hendak pergi.
"T-api tuan...
"Cek itu untuk mu saja! Terserah mau kau apakan!"
"Tidak bisa begitu tuan", ucap Katty sambil mengejar Samuel.
"Katakan pada nona mu yang bau itu, jangan menemui ku lagi. Aku tidak mau ketiban sial saat bersama nya", ujar Samuel sambil masuk kedalam mobil mewahnya.
Katty menatap Samuel dengan mulut terbuka. Gadis itu tidak bisa berkata-kata lagi. Bahkan ia menggosok matanya menatap mobil jenis sport keluaran terbaru yang baru saja melaju.
"Sepertinya dia bukan pelukis biasa. Penampilan nya, barang-barang yang di pakainya menunjukkan laki-laki itu bukan orang sembarangan", gumam Katty.
"Sebaiknya aku segera memberitahukan kepada nona Calista. Nona Calista tidak suka jika ada informasi penting yang tidak di sampaikan padanya".
Katty masuk kedalam mobilnya. "Hm...apa informasi tentang tuan Samuel penting ya untuk nona Calista..?"
...***...
To be continue
PRNM berbeda dengan novel Emily yang lainnya ya. Biasanya konflik muncul di awal cerita. Untuk PRNM konflik muncul di tengah-tengah cerita, semoga kalian tetap suka dan mengikuti cerita ini🙏
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 126 Episodes
Comments
nobita
tuh kan Katty aja gak nyangka kalo Samuel horang kaya... cek pun dia gak butuh... kasihkan ke akuu aja... ku terima dengan senang hati
2025-01-09
1
Leorzz Bejighar
benar benar seorang yang judes samuel🤣
2023-04-10
0
Ray
Semangat dan sehat selalu buat Outhor🙏💪😘
2022-12-26
0