Tubuh Calista gemetaran. Ia sangat kenal suara itu. Calista semakin memeluk erat lengan Samuel. Samuel merasakan perubahan Calista.
Samuel dan Calista yang sedang membelakangi si pemilik suara, membalikkan tubuhnya. "Tentu saja aku datang kalau yang mengundang ku paman Lexy".
Seketika laki-laki yang berada di hadapannya terkejut melihat siapa yang bersama Samuel. Sorot matanya tak berkedip menatap Calista. Samuel menyadarinya. Sementara di samping laki-laki itu berdiri wanita berambut pirang yang sangat seksi. Wanita itu menghunuskan tatapan tak kalah tajamnya dengan tunangannya kala menatap Calista.
Sama halnya dengan Calista. Namun gadis itu cepat-cepat menguasai dirinya agar bersikap tenang.
"Sayang...kenalkan Nathan sepupu ku dan tunangannya Irene", ucap Samuel sambil memeluk mesra pinggang Calista.
Nathan menatap tajam Calista. Namun Calista biasa-biasa saja. Calista tersenyum pada keduanya. "Sayang...aku haus", ucap Calista dengan manja sambil mendekatkan bibirnya pada telinga Samuel. Gesture tubuh keduanya nampak begitu intim. Siapa yang melihat, pasti sangat yakin Calista dan Samuel memiliki hubungan spesial.
"Ayo kita ambil minuman. Kau ingin minum apa, hem?", jawab Samuel dengan mesra masih memeluk pinggang Calista menjauh dari Nathan dan Irene yang semakin menunjukkan tidak suka nya pada Calista.
"Bukankah sepupu mu, belum bisa melupakan tunangannya yang telah meninggal dunia? Kenapa sekarang ia dengan wanita itu? Sejak kapan Samuel memiliki kekasih?!", ketus Irene terlihat kesal.
"Kau pikir aku pengasuh nya? Kau tanya saja sendiri!", jawab Nathan kesal.
*
"Sekarang tidak ada siapa pun, lepaskan tangan mu!", tegas Calista saat ia dan Samuel posisinya jauh dari semua orang.
"Bukankah kita sepasang kekasih selama di sini. Jadi bersikap lah selayaknya pacar ku", jawab Samuel tanpa melepaskan tangannya dari pinggang Calista.
Calista hendak meneguk wiski. Tapi gelas di tangan gadis itu di rebut paksa oleh Samuel.
"Hei...aku tidak mau berurusan dengan gadis mabuk yang akan menyulitkan ku", ketus Samuel.
"Hanya satu gelas sloki saja", ucap Calista dengan cepat mengambil gelas lainnya. Dan kali ini yang di ambilnya minuman alkohol lainnya. Calista meneguk vodka hingga tandas.
"Kau ini keras kepala sekali. Kalau kau mabuk...aku akan meninggalkan mu dipinggir jalan", ancam Samuel sambil merapatkan tubuhnya ke tubuh Calista. Sepintas keduanya terlihat sedang bermesraan, padahal sesungguhnya Samuel sedang mengumpati kebodohan Calista yang menentangnya.
"Aku ke toilet sekarang. Kau sangat cerewet sekali", ucap Calista sambil mengusap lembut rahang Samuel.
Samuel dapat mencium bau alkohol dari mulut Calista. Samuel mengetatkan rahangnya. Laki-laki itu tak menjawab apapun, sorot matanya menatap punggung putih mulus Calista yang menjauh darinya.
Sementara dari sudut ruangan sepasang mata menatap Calista tak berkedip. Sorot mata itu begitu tajam dan sulit untuk diartikan. Sekitar lima menit berlalu, pemilik sorot mata tajam itu melangkahkan kakinya.
*
Calista mengusap sudut matanya yang berair. Sebenarnya sedari tadi gadis itu menahan sekuat tenaga agar air matanya tak tumpah.
Nathan. Laki-laki yang paling di bencinya tiba-tiba muncul di hadapannya. Ternyata ia sepupu Samuel.
Calista bukan menangisi karena laki-laki brengsek itu bertunangan, tapi lebih tepatnya Calista benci kenapa harus bertemu lagi dengan laki-laki itu. Yang kembali mengingat kan Calista akan luka lamanya yang kembali menganga.
Calista mengusap air matanya. "Kau Calista yang baru. Bukan Calista yang lemah dan menyandarkan hidupnya pada laki-laki brengsek yang pura-pura mencintaimj", ucap Calista memberikan semangat pada dirinya sendiri.
Calista menegakkan tubuhnya dengan sempurna, dan melukis kan senyuman di wajahnya. Gadis itu mencuci tangannya dengan air yang mengucur di wastafel.
Namun tiba-tiba...
"Sejak kapan kau berhubungan dengan Samuel, Calista?!"
"Kenapa kau masuk kemari. Apa kau tidak bisa membaca peraturan di luar, hah!", ketus Calista cepat-cepat membalikkan badannya hendak pergi.
Tapi..
Nathan mendorong tubuh Calista hingga ke dinding. Seketika Calista merasakan dingin di punggungnya yang terekspos menempel di keramik dinding toilet. Nathan menghimpit tubuh Calista hingga gadis itu kesulitan untuk bergerak.
"Lepaskan aku, brengsek. Kau jangan macam-macam atau aku akan berteriak", ancam Calista dengan tegas. Calista menghunuskan tatapan tajam yang sudah diliputi amarah yang membuncah.
"Kau semakin cantik sekarang Cali. Apa kau tidak merindukan ciuman ku, hem?"
"Lepaskan aku!", teriak Calista saat Nathan semakin mendekat kan wajahnya.
Brugh
Brugh
"Apa yang kau lakukan pada kekasih ku, bajingan!!"
Samuel tiba-tiba datang dan langsung memukul wajah Nathan dengan tangan terkepal.
Nathan menatap Samuel dengan seringai di wajahnya. Laki-laki itu tidak membalas pukulan Samuel. "Kau mimpi kalau bisa mengambil hati Calista. Calista tidak akan pernah melupakan aku!"
Ucapan Nathan seketika memantik amarah Samuel yang tiba-tiba langsung panas. Laki-laki itu kembali mengepalkan tangannya hendak melayangkan kembali pukulan ke wajah Nathan yang tersenyum sinis.
Namun Calista segera memeluk erat pinggang Samuel. "Jangan perduli kan dia, sebaiknya kita pergi dari sini", ucap Calista meredam emosi Samuel.
"Awas saja kalau kau berani menyentuh kekasih ku. Aku tidak akan tinggal diam. Kau tidak pernah berubah. Urusi saja tunangan mu itu!", ketus Samuel sambil menggenggam erat jemari tangan Calista meninggalkan Nathan yang mengusap ujung bibirnya yang berdarah akibat pukulan Samuel sepupunya sendiri.
"Aku tidak takut ancaman mu, brengsek! Calista hanya milik ku. Sampai kapan pun Calista milik ku...!"
...***...
To be continue
Mumpung hari Senin bagi VOTE ya 🙏
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 126 Episodes
Comments
RossyNara
laki gak tau diri dulu aja kamu buang terus sekarang mau ambil lagi, oh tidak akan bisa Calista udah ada pawangnya yang baru.
2024-08-20
0
Ray
Untung Calista berpisah dari Nathan , ternyata lelaki bajingan😡🙏
2022-12-26
0
D
Tenyata sepupu sam ,manyannya calista..bakal rame nih
2022-08-13
0