Hari telah berganti minggu, dan selama itu Joana sudah sedikit berubah. Dia lebih perhatian pada suaminya, dan tentu saja hal tersebut membuat Bizard merasa bahagia.
Namun, pagi ini karena mendapat telepon mendadak dari sang sekretaris. Joana langsung pamit, setelah ia selesai menghabiskan sarapannya.
"Sayang, ada apa?" tanya Bee.
"Ada investor datang hari ini, aku lupa, Bee."
"Kalau begitu mau aku antar?"
"Tidak perlu, kamu lanjutkan saja sarapannya, aku berangkat dulu yah," ujar Joana dengan gerakan terburu-buru, dia mendekat ke arah suaminya untuk sekedar mencium pipi Bizard.
"Hati-hati, Jo. Jangan ngebut bawa mobilnya," ucap Bee memperingati istrinya yang kini sudah melangkah keluar. Wanita itu menoleh, lalu menganggukkan kepala.
"Iya," jawabnya singkat.
Bee tersenyum tipis, dia merasa senang karena ada perubahan yang cukup siginifikan setelah mereka bicara malam itu. Dan tepat hari ini, Bianca akan mulai bekerja, rencananya Bee ingin menjemput wanita itu, supaya Bianca tidak perlu kesulitan mencari letak perusahaannya.
Pria tampan itu segera menghabiskan sarapannya. Kemudian kembali ke kamar untuk mengambil tas dan kunci mobil. Dengan ulasan senyum, Bizard membawa kendaraan roda empat itu untuk pergi bekerja.
Sementara di rumahnya, Bianca tengah berdandan, dia memakai kemeja yang begitu pas di tubuhnya, dan juga rok mini sebatas paha. Gips yang terpasang di kakinya kini sudah dilepas, itu artinya dia sudah bisa bergerak bebas.
Bianca tersenyum lebar saat mendengar suara klakson mobil, dia sangat yakin bahwa itu adalah Bizard yang berjanji ingin menjemputnya.
"Saatnya memainkan peranmu, Bi. Kamu harus bisa menggodanya dengan cara apapun, bila perlu suguhkan tubuhmu untuknya. Hidupmu sudah hancur, maka buat dia hancur bersamamu!" Dengan tekad yang kuat, Bianca pun menyeringai penuh.
Dan seperti dugaannya, saat dia keluar rumah mobil berwarna silver milik Bee sudah terpikir di sisi jalan. Dengan langkah riang, wanita cantik itu menghampiri Bizard.
"Selamat pagi, Tuan," sapa Bianca saat Bee membukakan pintu dari dalam. Pria itu pun tersenyum tipis membalas sapaan Bianca.
"Masuklah!"
Bianca mengangguk antusias, dia masuk ke dalam mobil dan duduk di samping Bee. Saat itu Bee belum menyadari penampilan Bianca, tetapi begitu wanita cantik itu sudah sukses duduk, Bee langsung memelototkan matanya.
Paha mulus Bianca terbuka karena rok mininya semakin naik. Sementara bulatan indah itu terpampang jelas. Dan hal tersebut sukses membuat Bee gelagapan.
"Bianca," panggil Bee sebelum ia menyalakan mesin mobil. Sang pemilik nama pun menoleh sambil memberikan senyum terbaiknya.
"Ya, Tuan."
"Maaf sebelumnya, tapi apa kamu tidak memiliki baju lain? Baju itu terlihat sangat kecil di tubuhmu," tanya Bee sedikit ragu.
"Bajuku memang rata-rata seperti ini, Tuan, lagi pula bukankah nanti aku pakai seragam? Ini hanya dipakai sebentar kan, Tuan?"
Cih, benar juga apa yang dikatakan Bianca. Kenapa dia tidak kepikiran ke sana. Namun, apa dia masih bisa waras melihat pemandangan itu selama di perjalanan?
"Tuan, kenapa melamun? Anda tidak suka yah, saya berpakaian seperti ini? Kalau begitu biar saya cari yang lain saja. Tuan tunggu sebentar yah." Bianca pura-pura ingin turun dari mobil Bee, tepat seperti harapan Bianca pria itu mencekal pergelangan tangannnya.
"Tidak usah, kita langsung berangkat saja. Lagi pula apa yang dikatakan kamu benar, nanti di sana ada seragam," jelas Bee akhirnya. Karena dia pun merasa tak enakan dengan Bianca.
Wanita itu menghela nafas sambil tersenyum. Sementara di dalam hati, dia terus menyeringai karena selangkah lebih maju untuk menggoda Bizard.
Setelah itu tidak ada perdebatan lagi di antara keduanya. Bee mencoba fokus membawa mobil itu menyusuri jalan raya, meskipun beberapa kali matanya melirik ke samping.
Dia sedikit menelan ludah saat Bianca mengubah posisi duduknya dengan mengangkat satu kaki dan bertumpu di atas paha.
Astaga! Bee rasanya sedikit frustasi dengan pemandangan indah di sampingnya. Kenapa bisa Bianca memiliki kulit semulus itu, bahkan terlihat lebih cerah dari milik Joana.
Sial, ada apa dengan mataku?!
"Tuan, kenapa anda terlihat tegang begitu, apa anda belum sarapan?" tanya Bianca memecah keheningan.
Bee langsung tersadar. Dia menggeleng cepat. "Tidak, aku sudah sarapan di rumah bersama istriku."
"Sarapan apa? Pasti istimewa yah?"
"Hanya nasi goreng."
"Kenapa tidak minum susu? Bukankah biasanya pria menyukai susu untuk sarapan?"
Glek!
Bee melirik Bianca yang bergerak, sedikit membusung hingga membuat dua buah daging sintal itu semakin memanjakan matanya.
"Aku jarang meminumnya."
"Kalau begitu biar saya yang buat anda minum susu setiap hari."
Bee membola, dia menatap Bianca yang tersenyum sumringah. Entah siapa yang salah, dia yang berpikir ke mana-mana, atau Bianca yang bicara dengan kalimat ambigu.
"Maksudnya?"
"Maksudnya saya akan buatkan Tuan susu setiap di tempat kerja."
Oh, astaga! Ini sih otak Bee yang salah.
***
Awas jangan nyanyi🙄🙄🙄
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 117 Episodes
Comments
Ani Suwarni
godaan syaithonnirrojim /Joyful//Facepalm/
2024-01-31
1
Ani Suwarni
seharusnya bee mikir ini perempuan baik" atau ada maksud lain....dilihat dari cara berpakaiannya,polah tingkahnya seharusnya bee sudah tahu....
2024-01-31
0
ainun
susuin bi .sampe gumoh hahahha
2024-01-10
0