Setelah mengukur jalan raya menggunakan kendaraan roda empat milik Bee, akhirnya mereka sampai di rumah sakit Puri Medika, sebuah rumah sakit yang dipimpin oleh adik kembar pria tampan itu—Derrick Mojave Tanson.
Bee kembali membantu Bianca, dan meminta satu kursi roda pada perawat. Mereka menunggu beberapa saat, hingga Bianca dipanggil sesuai nomor antrian.
Wanita itu masuk ke dalam sebuah ruangan untuk melakukan serangkaian pemeriksaan.
"Kira-kira kapan saya bisa lepas gips, Dok?" tanya Bianca, merasa tak betah dengan kondisinya, karena dia tak bisa bergerak leluasa.
Sang dokter tersenyum.
"Beberapa Minggu lagi, Nona, anda harus rajin kontrol dan jangan lupa makan makanan sehat."
"Tidak bisa dipercepat yah?" keluh Bianca dengan mimik wajah sendu, ingin membuat Bee kembali merasa bersalah. Dengan begitu, Bee akan terus memperhatikannya.
"Sabar yah, anda harus optimis. Karena kunci dari sehat itu keyakinan untuk sembuh," ujar sang dokter menyemangati Bianca. Dia tidak tahu saja, kalau wanita itu sedang mencari perhatian Bizard.
Bianca mengangguk pelan sebagai jawaban, sementara Bee hanya diam dan mendengarkan, entah kenapa akhir-akhir ini pikirannya bertambah semakin kacau. Hingga dia suka sekali melamun dan melamun.
Setelah selesai mengantar Bianca kontrol, Bizard kembali mengantar wanita itu untuk pulang. Awalnya di dalam mobil itu tidak ada yang bersuara, hingga Bianca memutuskan untuk bertanya.
"Apa, Tuan, sudah sarapan?" tanya wanita cantik itu penuh perhatian. Hingga membuat Bee menoleh, menatap Bianca yang tengah menampilkan senyum terbaiknya. Pria itu sedikit terkesima dengan binar di mata Bianca, tetapi ia segera menepisnya dengan memalingkan wajah.
"Belum."
"Lho kenapa? Bukannya Tuan bilang, Tuan sudah punya istri? Apa dia tidak memasak?"
"Ah, bukan seperti itu dia mendadak ada pekerjaan ke luar kota, jadi tidak sempat untuk memasak," jawab Bee apa adanya, kemudian fokus kembali ke jalan raya.
"Bagaimana kalau kita sarapan dulu? Kebetulan saya juga belum sarapan, Tuan, saya tadi terburu-buru takut anda datang lebih cepat," tawar Bianca.
Bee terdiam sesaat, ada benarnya juga kalau mereka sarapan bersama. Apalagi Bianca harus minum obat, hingga akhirnya pria itu pun menyetujui ide Bianca.
"Boleh, kalau begitu kita cari restoran terdekat."
Bianca mengangguk sambil terus menatap Bee, semakin diperhatikan pria itu semakin terlihat tampan. Apalagi Bee tipikal pria yang ramah terhadap siapa saja.
Joana benar-benar beruntung memiliki dia, dia begitu baik.
Tak berapa lama kemudian, mobil yang dikemudikan oleh Bee sampai di salah satu restoran cepat saji. Pria itu mengajak Bianca untuk mengisi satu meja di sudut ruangan, kemudian memesan beberapa makanan.
Perut Bee benar-benar terasa keroncongan, saat masakan sudah tertata rapi di atas meja. Aromanya begitu sedap hingga membuat ia menatap lapar dengan lidah yang terkadang menjulur menjilati bibirnya.
Bee sudah ingin mengangkat sendok, tetapi tiba-tiba Bianca menghentikannya. "Tunggu, Tuan!"
Pria itu mengangkat wajah dengan kening yang dipenuhi tanda tanya. "Ada apa?"
Tangan Bianca tergerak, kemudian menggulung kemeja Bizard yang tadi sempat berantakan, agar tidak terkena kuah makanan.
"Bajumu nanti kotor," ucap Bianca setelah selesai melakukan tugasnya. Lagi-lagi dia tersenyum, membuat Bee kesusahan menelan salivanya.
Seperti de javu, dia teringat akan Joana yang tidak pernah lagi memberikan perhatian-perhatian kecil padanya. Bahkan, hanya menemani makan saja, wanita itu terus tertawa dengan ponselnya.
"Terima kasih."
Tak sampai di sana, Bianca benar-benar menunjukkan aksinya dengan berpura-pura tulus pada Bizard. Dia menyendokkan makanan, kemudian melayani pria itu layaknya dia adalah seorang istri. Membuat pria yang tengah haus akan perhatian itu merasakan sesuatu yang lain. Dia mulai nyaman. Hingga tak ada kecanggungan apapun antara kedua orang itu.
"Makanannya enak, Tuan," ungkap Bianca seraya mengulum senyum. "Aku baru pernah makan makanan seenak ini."
"Benarkah?"
"Iya."
"Kalau begitu kamu boleh membungkusnya. Biar aku yang bayar."
"Ah tidak-tidak, aku hanya memuji makanannya, tidak ingin merepotkan, Tuan," tolak Bianca.
"Tidak apa-apa, uangku tidak akan habis hanya untuk membeli satu bungkus makanan di restoran ini."
Bianca terkekeh kecil, membuat wajahnya tampak semakin cantik.
"Aku juga bisa masak lho."
"Oh yah?"
"Tuan mau mencoba masakanku?" tawar Bianca dengan bola mata yang berbinar penuh harap. Bizard menyukai sorot mata itu, terasa teduh dan menenangkan. Hingga dia terus menatap Bianca, kemudian menganggukkan kepala.
Kena kau!
"Oke, setelah aku bekerja di kantor Tuan, aku akan memasakkan makanan. Yang pasti jauh lebih enak dari masakan manapun," ucap Bianca, dengan maksud tertentu.
Namun, Bizard yang tak begitu paham dengan perkataan Bianca, hanya bisa tersenyum dan berkata. "Ya, nanti aku coba."
***
Komen euy komen, awas kalo ga komen🥱🥱🥱
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 117 Episodes
Comments
JandaQueen
komen
2024-09-06
0
Cipika Cipiki
yeuh komen 😅
2024-05-31
0
ainun
kejar terus bi .biar lepas dari joana tuh si be
2024-01-10
0