"Aku tidak bisa datang malam ini," ucap Bianca dalam sambungan telepon. Dia berdiri di depan jendela kamar kontrakannya dan sedang menghubungi sang sahabat—Bella, seorang wanita yang bekerja di club' yang sama dengannya.
Selama ini dia menekuni pekerjaan tersebut, karena tidak ada satupun pekerjaan yang mampu dia lakukan, selain menemani para pria hidung belang untuk minum anggur dan melakukan foreplay.
"Kamu benar-benar melakukannya, Bi?" tanya Bella penasaran.
"Kamu tahu bagaimana bencinya aku pada wanita itu. Apalagi setelah melihat pesta anniversary pernikahan mereka. Enak saja dia dia bahagia, sedangkan aku di sini menderita. Aku tidak akan membiarkan itu semua bertahan lama!" ujar Bianca dengan menggebu dan wajah yang tampak geram. Tangannya pun mengepal kuat, seolah ingin merampas semua yang dimiliki Joana selama ini.
"Aku tahu, Bi. Tapi kamu harus hati-hati, jika dia tahu siapa kamu, pasti dia tidak akan diam saja, aku hanya takut kamu celaka," balas Bella memperingati sahabatnya.
Namun, Bianca yang sudah memiliki hati sekeras batu itu tampak tak peduli lagi dengan dirinya. Dengan membalas dendam, dia rasa semua rasa sakitnya selama ini akan terbayar.
Dia yang terbiasa hidup sebatang kara, seolah tak lagi sayang pada nyawa. Namun, sebelum menyusul ayah dan ibunya, dia ingin melakukan sesuatu untuk membuat kenangan terburuk pada wanita bernama Joana.
"I don't care, Bel. Sekarang aku sudah bisa masuk dalam kehidupan pria itu. Aku akan menjalankan semuanya sesuai rencana. Aku harap kamu selalu mendukungku."
"Of course. Aku selalu mendukung apapun yang kamu lakukan, tapi tidak dengan membahayakan nyawamu. Madam sudah sangat menyayangi kamu, jadi pikirkan baik-baik untuk ke depannya."
"Ya, aku akan datang ke sana setelah kaki sialanku ini sembuh."
"I can't wait."
"Oke, aku tutup dulu ya, Bel. Aku ingin segera istirahat."
Dan panggilan pun terputus. Bianca dan Bella memang dibesarkan di tempat yang sama, dipungut sebagai remaja liar oleh Madam Gevanya, dan dijadikan wanita penghibur di salah satu club' malam di kota mereka.
Namun, Bianca yang memiliki paras begitu cantik, lebih beruntung karena dijadikan anak kesayangan Madam Gevanya. Sehingga dia tidak seperti Bella, yang kini sudah menjajakan mahkotanya untuk sembarang pria.
Sedikitpun Bianca tidak pernah ada niat untuk pergi dari tempat yang telah membesarkan dirinya. Meskipun dia sadar betul, bahwa pekerjaan itu salah.
Namun, setelah kepergian sang ayah di saat ia usia remaja, membuat dia tidak lagi merasa berharga. Ditolak ke sana ke mari, membuat dia seolah tak memiliki siapa-siapa lagi di dunia ini.
Sumpah demi apapun, dia sangat benci saat mengenang semua masa lalu kelam itu. Dia selalu menjadi seseorang yang begitu lemah, karena dia hanya bisa menangis dan menangis ketika ingat dengan kedua orang tuanya.
"Pa, Ma, maafkan Bianca. Maafkan Bianca jika mengambil cara yang salah, aku melakukan ini semua karena aku tidak akan pernah tenang, jika melihat dia bahagia dia luar sana, sementara aku harus hidup seperti ini. Dia harus menerima hukuman," gumam Bianca sambil menatap langit-langit kamar, tatapan wanita itu kosong, dengan uraian air mata yang keluar dengan begitu lancang.
Selama ini, dia hanya merindu dalam kesepian yang terus menyapa hatinya. Tidak ada kehangatan keluarga yang mampu meredam semua amarah yang kian meletup, hingga membuat dia terus memikirkan cara untuk melakukan balas dendam yang setimpal.
"Aku akan melakukan segala cara!"
***
Jangan lupa komen oey🙄🙄🙄
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 117 Episodes
Comments
Yus Nita
owalah nduk...
udah tau tinggal sebatang kara, kenapa harus memelihara dendam segala
2024-06-08
0
Mama david
ok.....ok....lanjut baca lagi
2023-12-29
0
dementor
ahsyiaaap mom ular...
2023-06-27
1