Bizard sampai di tempat kerjanya. Di ambang pintu, dia bertemu dengan rekan sesama pengacara, pria bernama Ronald. Ronald adalah seseorang yang paling dekat dengan Bizard saat di tempat kerja. Bahkan Bee sudah menganggap Ronald sebagai kakaknya.
Karena pria itu bisa menjadi teman, sahabat, keluarga, bahkan menjadi salah satu tempatnya berkeluh kesah.
"Kamu juga baru datang, Bee?" sapa Ronald sambil menepuk bahu Bizard dengan cukup keras.
Pria yang dipanggil namanya langsung mengangkat wajah, kemudian memberikan senyum yang begitu khas. "Iya, Ron. Ada sesuatu yang harus aku lakukan lebih dulu. Jadi, aku datang sedikit terlambat. Bagaimana denganmu?"
Mereka melangkah bersama untuk sampai di ruangan masing-masing. Kebetulan ruangan mereka bersebelahan.
"Aku antar anak sekolah dulu, sekalian istri cek kehamilan juga, aku kan suami dan ayah siaga," jawab Ronald diiringi tepukan dada, tanda bangga.
Pria yang memiliki usia dua tahun lebih tua dari Bizard itu memang sudah berkeluarga. Bahkan kini istri Ronald sedang mengandung anak kedua mereka.
Mendengar jawaban Ronald, Bizard hanya bisa tersenyum getir. Kapan dia akan memiliki waktu seperti itu dengan Joana?
"Kamu kenapa, Bee? Ada masalah?" tanya Ronald, melihat Bizard yang terlihat murung. Sebagai seseorang yang paling dekat dengan pria itu, Ronald sering mendapatkan pertanyaan dari Bizard seputar keluarga. Namun, sedikit pun Bee tidak pernah menjelek-jelekkan Joana.
Meskipun Ronald tahu, bahwa sang teman tengah merasa jengah dengan istrinya yang gila kerja.
Sebagai teman yang baik, Ronald hanya memberikan beberapa saran, tetapi sepertinya sampai sekarang keadaan tak berubah sedikitpun.
Bizard menggelengkan kepala.
"Tidak, Ron. Aku hanya sedang lelah saja, beberapa hari ini banyak sekali pekerjaan yang harus aku kerjakan," jawab Bee bohong. Padahal kedua bola matanya berkata lain. Dan Ronald bisa melihat itu.
Ronald pun kembali mengusap bahu Bizard, sebelum masuk ke dalam ruangan masing-masing dia berkata. "Kalau ada masalah jangan sungkan untuk berbagi denganku. Nanti siang kamu bisa membicarakannya, seperti biasa aku akan menjadi pendengar terbaik untukmu."
Bizard terdiam, dia benar-benar terlihat sangat menyedihkan sekarang. Namun, demi menutupi itu semua, dia pun mengangguk sambil tersenyum.
"Terima kasih, Ron."
***
Jam makan siang telah tiba. Seperti kesepakatan tadi pagi, keduanya pun pergi menggunakan mobil Bizard untuk makan siang berdua.
Satu meja di sudut ruangan menjadi pilihan mereka. Saat itu tempat makan yang mereka kunjungi terlihat sangat ramai, karena para pekerja kantoran silih berganti datang.
Setelah memilih menu, Ronald pun berinisiatif untuk bertanya lebih dulu. Menciptakan obrolan, sebelum pesanan mereka datang.
"Coba ceritakan, ada apa?"
Bizard menghela nafas panjang, kemudian menggeleng pelan. "Tidak ada, Ron. Lebih baik kamu saja yang bercerita tentang keluarga kecilmu."
"Hei, kenapa malah aku yang disuruh bercerita? Jelas-jelas aku melihat kamu yang punya masalah. Kenapa? Apa istrimu masih belum berubah?" tebak Ronald akhirnya.
Bizard terlihat gamang. Antara ingin bercerita tentang Joana atau tidak. Namun, Ronald sepertinya semakin menuntut jawaban, hingga akhirnya Bizard pun menganggukkan kepala.
"Dia sedang pergi ke luar kota. Semakin hari, aku merasa semakin diabaikan. Apa aku salah jika aku marah karena istriku tidak melayaniku dengan baik, karena alasan sibuk bekerja? Aku tahu dia lelah, tapi aku juga merasakan hal itu, Ron ...."
"Kamu tahu bagaimana aku di kantor. Bukankah aku banting tulang untuk membahagiakannya, tapi sedikitpun dia tidak berinisiatif untuk membalas semua apa yang aku lakukan. Apa aku salah jika ingin diperlakukan adil? Sebagai seorang pria, aku pun ingin diperlakukan sama. Aku ingin diberi perhatian, kasih sayang, cinta, walaupun itu hanya seujung kuku, sumpah, aku bisa membalasnya lebih dari apa yang dia lakukan padaku, karena aku benar-benar tulus mencintainya," jelas Bizard panjang lebar, tentang hubungannya yang mulai dingin.
Dia memang terlihat tegar saat mengatakan itu, tetapi jauh dalam lubuk hatinya dia merasa sangat lemah. Dia bagai pengagum yang mengemis cinta.
Ronald menepuk-nepuk bahu Bizard pelan.
"Sabar, Bee. Mungkin sekarang kamu sedang diuji. Pernikahan kalian baru satu tahun, coba kamu lebih terbuka lagi dengan istrimu. Ajak dia bicara, keluhkan semuanya dan carilah solusi. Ingat, pakai kepala dingin dan hindari emosi. Istrimu juga bekerja, karena lelah, tingkat emosionalnya akan lebih tinggi, jadi kamu harus lebih sabar menghadapinya."
"Kami sudah sering bicara, Ron. Apa mungkin aku yang bermasalah? Apa Joana seperti itu karena aku yang terlalu menuntut?"
"Coba kamu introspeksi diri lagi. Dan tanyakan padanya, apa kekuranganmu? Tapi kalau memang dia keras kepala, kamu juga harus jauh lebih tegas, jangan mau terus mengalah. Kamu kepala keluarga, kamu berhak menentukan yang terbaik untuk kalian berdua."
Bizard terdiam, merenungi semua ucapan Ronald. Benar apa yang dikatakan pria itu, seharusnya dia pun lebih tegas terhadap Joana.
Dia tidak bisa terus menerus memendam semuanya.
"Tuan, permisi," ucap salah satu pelayan yang membawa pesanan mereka. Membuat obrolan itu terputus, karena makanan sudah tertata rapih di atas meja.
"Makan dulu, nanti kita lanjutkan," ujar Ronald, dan Bizard pun mengangguk sebagai jawaban.
***
Peluk Ulernya ahh😌😌😌
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 117 Episodes
Comments
Yus Nita
ternyata kehidupan kang Bee memprihatin kan.
awas suami sel8ngkuh Joana
karena kurang di prrhatikan dilayani 😁😁😁
pelakor siap mengincar di luaran sana
ntar nyesal
2024-06-09
0
LENY
Jgn bodoh Bee msh bnyk wanita tg lbh baik dari Joana blm lagi orang tuanya gak menganggap Bee menantu☹
2024-04-04
0
Irahsantoso
aku paling kasihan sama anak uler yg satu ini.
2023-09-07
1