Selama di perjalanan mereka terus mengobrol, tentang kehidupan pribadi dan apa saja yang bisa dibicarakan, hingga Bianca bercerita tentang dirinya yang tidak diterima oleh pihak keluarga, baik dari pihak ibu, maupun pihak ayah.
Hidup tanpa saudara, Bianca terlihat begitu menyedihkan, karena tidak ada yang dapat diajak bicara apalagi berkeluh kesah.
"Setelah Papa tidak ada, mereka seperti hilang ingatan. Mereka tidak lagi mengenalku, Tuan, jadi aku pasrah, tanpa bisa memilih akhirnya aku hidup sendiri di kota ini."
Bianca menundukkan kepala, dengan air mata yang sudah mengalir, kini dia benar-benar menunjukkan kesedihan yang nyata. Namun, ada senyum tipis yang menghiasi bibirnya saat Bee mengulurkan beberapa lembar tisu ke hadapannya.
"Jangan menangis, kita memang memiliki kehidupan yang tidak bisa ditebak."
Bianca mengambil tisu di tangan Bizard.
"Terima kasih, Tuan. Dan ucapan anda benar, terkadang kita terlalu sibuk merancang banyak impian, hingga kita lupa ada garis tangan Tuhan yang tak bisa ditentang."
Bizard bisa merasakan kesedihan itu, saat Bianca menatap matanya dengan lekat. Ada ribuan luka yang terpendam, tetapi wanita itu masih bisa tersenyum, sama seperti dia sekarang.
"Aku bisa menjadi teman bicaramu, kalau ada keluhan, bicaralah ... jangan sungkan. Aku akan menganggapmu sebagai klien yang sedang membutuhkan bantuan," ucap Bee, mencoba menghibur Bianca.
Hingga wanita itu pun tersenyum. Senyum yang terlihat begitu menyejukkan, hingga dia pun ikut tersenyum pula.
"Oh ya sebelumnya kamu bekerja di mana?" tanya Bee, mencoba untuk mengalihkan pembicaraan mereka. Dia tidak ingin membahas lebih jauh lagi, atau Bianca akan semakin sedih.
"Kemarin saya bekerja di sebuah cafe, tapi tidak tahu kenapa, tiba-tiba saya dituduh mencuri, dan akhirnya saya dipecat. Mungkin, diam-diam ada yang tidak suka pada saya," ucap Bianca dusta, dia semakin pandai berbohong saat berhadapan dengan pria ini, dan sekarang entah sudah kebohongan ke berapa yang dia lontarkan.
Semua itu dia lakukan, karena ingin membuat Bee semakin berempati padanya. Benar saja Bee tampak terperangah, ternyata nasib Bianca tak seindah paras wajahnya.
Pria dengan tampang klimis itu menghela nafas, "kisah hidupmu benar-benar naas. Bahkan sekarang kamu tidak bisa berjalan gara-gara aku."
Bianca terkekeh.
"Tapi aku tidak menyesal bertemu denganmu, Tuan. Anda orang yang asyik, aku menyukaimu," ucap Bianca terang-terangan, hingga membuat Bee tiba-tiba membeku. Dia menelan ludahnya kasar, dan melirik ke arah Bianca.
"Jangan salah paham, aku menyukaimu karena Tuan memang orang baik. Tidak seperti kebanyakan pria di zaman sekarang," sambung Bianca, membuat seluruh urat syaraf di tubuh Bee melemas seketika.
Dia langsung tersenyum kikuk, merasa malu sendiri karena berpikir Bianca memiliki maksud dan tujuan lain dari perkataannya itu. Bahkan saking malunya, bulu di tubuh Bee meremang-remang, sebuah kebiasaan yang sudah dia miliki sejak lama.
Hingga tak terasa, kendaraan roda empat itu sudah memasuki area rumah Bianca. Bee membelokkan mobilnya ke arah kiri untuk masuk ke dalam gang yang lebih sempit, dan berhenti tepat di depan gapura.
"Tuan, sekali lagi terima kasih," ucap Bianca, dan Bee mengangguk sebagai jawaban.
Wanita itu pun turun, kemudian melangkah pelan-pelan untuk sampai di ambang pintu. Bizard tampak tersenyum tipis saat melihat Bianca melambaikan tangannya, dan masuk ke dalam rumah.
Sementara ia melanjutkan perjalanan untuk sampai di perusahaan dan mulai bekerja.
"Sebentar lagi dia akan kembali, siap-siap saja," gumam Bianca tepat di belakang pintu.
Tepat seperti tebakannya, tak berapa lama kemudian, ada seseorang yang mengetuk pintu rumah kontrakannya. Bianca tersenyum puas, dia sengaja meninggalkan ponsel di mobil Bizard, dan sekarang pria itu pasti ingin mengembalikan benda pipih itu kepadanya.
"Permisi, Bianca, ini aku," ucap Bee, kemudian melirik arloji mahal yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Iya, sebentar," balas Bianca seraya mengikat rambutnya tinggi-tinggi dengan gelungan yang terlihat asal, hingga banyak anak rambut yang menjuntai. Sementara tubuhnya hanya berbalut hot pants dan tank top yang menonjolkan belahan dadanya.
Ceklek!
Pintu terbuka.
"Ada apa?" tanya Bianca dengan suaranya yang terdengar begitu lembut di telinga.
Sementara Bizard langsung terpaku dengan penampilan wanita cantik yang ada di hadapannya.
Glek!
Dia adalah pria normal.
***
Ulernya aman ga Bee?🥱
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 117 Episodes
Comments
Queen Mother
Gegara baca cerita keluarga uler, kemaren malam kamar mandiku paling belakan kemasukan uler,, hiiiiyyy kabooooorrro
2023-09-22
0
himawatidewi satyawira
bulu jempol kaki kah othor?🤔
2023-07-11
0
Lyana Gunawan
bee kamu kaya kucing 🤭
2023-04-22
0