Walau bagaimanapun mereka adalah sepasang suami istri. Bee hanya pria normal, yang tidak akan mungkin menolak jika sang istri menawarkan sesuatu yang begitu memabukkan.
Apalagi malam ini Joana sengaja berdandan cantik dan memakai pakaian seksi. Bee yang sudah jarang disentuh, begitu merindukan belaian penuh hasrat itu.
Pria bertampang klimis itu melepas semua rasa marah di dadanya, berharap setelah ini Joana dapat berubah.
Malam itu mereka benar-benar menyatu dengan gairah yang begitu menggelora. Berpeluh bersama, Bee berhasil membuat Joana melenguh dalam kungkungannya.
Bee tak peduli pada rasa lelah di tubuhnya . Dia ingin melepas semua dahaga yang selama ini menyelimuti kerongkongan hasratnya.
Hingga akhirnya mereka tumbang bersama. Bee mengecup kening Joana begitu dalam, mengalirkan semua cinta yang dia punya.
"Terima kasih, Sayang." Pria tampan itu berguling ke samping menarik tubuh Joana agar masuk dalam dekapannya.
Nafas mereka masih terdengar terengah-engah. Joana menengadah, kemudian mengulum senyum. Karena dia berhasil meluluhkan hati suaminya.
Dia sangat yakin, bahwa Bee memang tidak akan pernah bisa marah.
"Sama-sama, Bee."
Pria itu memberi jeda sejenak, agar Joana merasa tenang. Sebab setelah ini dia ingin mengajak wanita itu untuk bicara. Bee memiringkan tubuhnya, mengangkat tangan untuk mengurai rambut Joana yang basah.
"Bisa kita bicara, Jo?" tanya Bee, meminta izin pada istrinya dengan suara yang begitu lembut. Dia mengusap wajah wanita yang dicintainya itu dengan gerakan pelan.
"Kamu masih marah padaku? Aku benar-benar minta maaf, Bee. Aku tidak sengaja, aku janji tidak akan mengulanginya," jawab Joana membalas tatapan Bizard dengan sendu.
"Bukan hanya itu, Jo. Apa kamu tidak sadar, hubungan kita akhir-akhir ini begitu dingin?"
"Dingin bagaimana?"
Bee menghela nafas, ternyata Joana sama sekali tak menyadarinya.
"Kamu sudah jarang membuat sarapan, pulang terlambat atau tidak menyambutku sama sekali. Kamu tidak pernah lagi mengirim pesan untuk mengingatkan aku ini dan itu, kamu tidak punya waktu untuk kita liburan. Kamu selalu sibuk bekerja, arisan dan sebagainya. Apa sesempit itu waktu berdua kita, Jo? Apa aku terlalu menuntutmu?"
Joana terdiam, mencoba mereka ulang kesehariannya dengan Bizard. Mereka memang sudah jarang melakukan hal-hal kecil bersama. Namun, baginya itu tidak masalah, yang penting di luar sana dia terlihat sempurna.
Orang kan tidak tahu, bagaimana saat dia di rumah.
"Bee, pekerjaanku semakin menumpuk. Sebagai direktur utama, aku tidak bisa berleha-leha. Terkadang aku merasa pusing dan lelah, aku butuh hiburan, jadi aku keluar dengan teman-teman. Lagi pula aku 'kan tidak macam-macam."
"Tapi bagaimana dengan aku?"
"Sayang, maafkan aku. Aku akan berusaha untuk merubah semuanya. Tapi kamu jangan marah-marah terus yah. Aku tidak suka."
"Benar kamu ingin berubah?"
Joana menganggukkan kepala.
"Aku akan berusaha, karena aku mencintaimu, Bee."
Pria tampan itu pun akhirnya tersenyum, dia menarik kepala Joana, lalu mencium bibir wanitanya. "Aku lebih mencintaimu, Jo. Aku ingin terus berjuang bersamamu."
Mendengar itu, Joana tersenyum tipis, kemudian memeluk erat tubuh Bizard hingga akhirnya mereka benar-benar terlelap.
Berbeda dengan seseorang yang ada di sudut lain. Saat ini Bianca tengah menikmati sekaleng soda yang dibawa oleh Bella—sahabatnya. Ya, saat ini keduanya tengah berada di depan rumah kontrakan Bianca.
Karena Bella sedang mengunjungi wanita cantik itu.
"Aku ingatkan sekali lagi, jangan pakai hati, yang ada kamu akan tersiksa sendiri," ujar Bella, dia menatap ke atas di mana langit membentang bertabur bintang.
Mendengar itu, Bianca berdecih, tujuannya hanya balas dendam, mana mungkin dia memakai hati untuk meluluhkan Bizard.
"Cih, aku sudah tidak punya hati! Jadi jangan bicara omong kosong, lagi pula aku tidak mungkin mencintai pria bekas musuhku!" Dia masih teringat jelas, saat Joana menyeringai di depannya, saat kasus kematian sang ayah akhirnya ditutup oleh pengadilan, dan membebaskan wanita itu.
Bella menoleh ke arah Bianca yang sedang menatap kosong pada objek di sekitar mereka. "Tuhan maha membolak-balikkan hati, Bi. Kamu harus ekstra hati-hati, apalagi pria itu dikenal baik dan ramah pada siapa saja."
"Jangan bawa-bawa Tuhan, Bel."
"Kita hidup di bumi, mau seperti apapun kita, kita diciptakan oleh Tuhan!"
"Tapi kenapa Tuhan tidak baik padaku? Kenapa hidupku harus seperti ini?"
Bianca menatap sahabatnya dengan sorot mata menuntut. Bella tahu, bahwa Bianca masih saja tidak terima dengan nasibnya. Dia pun akhirnya menarik kepala Bianca untuk bersandar di bahunya, dia sudah menganggap Bianca seperti adiknya sendiri.
"Semua orang memiliki jalan cerita yang berbeda, Bi. Andai semua sama, dunia ini pasti sangat monoton. Dan air mata tidak akan pernah ada fungsinya," ujar Bella, menenangkan Bianca, hingga membuat wanita itu sedikit berpikir, ah ternyata memang ada benarnya juga.
***
Ini masih awal, jadi masih banyak misteri ye🤣 ceilah gue main misteri-misterian. Dahlah jangan lupa komen pokoknya!
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 117 Episodes
Comments
JandaQueen
komen lagi
2024-09-06
0
Yus Nita
jangan buat rasa sabar dan sayang seseorang menjadi benci.
karena kelak kanu akan menyesal Joana.
2024-06-09
0
Ani Suwarni
karena kamu kurang bersyukur
2024-01-31
0