Di dalam mobil saat perjalanan pulang menuju rumah Bianca. Tiba-tiba Bizard mendapatkan telepon, yang ternyata dari istrinya—Joana.
Pria itu pun memasang earphone ke telinga, kemudian menggeser icon berwarna hijau untuk menerima panggilan tersebut.
"Halo, Sayang," sapa Bizard lebih dulu, sementara matanya hanya fokus ke depan. Dia sama sekali tidak sungkan memanggil istrinya dengan mesra, meskipun ada orang lain di sampingnya.
Bianca hanya melirik sekilas, kemudian mengalihkan pandangannya pada jalan raya.
"Halo, Bee. Aku sudah di jalan. Kemungkinan aku menginap 2 sampai 3 hari, tidak apa-apa 'kan?" jawab Joana, kini dia sedang duduk manis di dalam mobil yang dikendarai oleh sekertarisnya. Menuju kota di mana mereka akan melakukan kerja sama.
Semua itu sudah biasa terjadi, bahkan sebelum mereka menikah, Bee memang sudah sering ditinggal ke luar kota oleh Joana.
Wanita itu super sibuk, sampai Bizard kesulitan untuk memperkenalkan Joana pada kedua orang tuanya, yaitu Ken dan Zoya. Namun, pria itu selalu percaya bahwa Joana mampu menjadi istri yang baik, karena dia sangat mencintainya.
"Ya, nevermind, Jo. Yang penting kamu hati-hati, dan jaga diri kamu baik-baik, aku akan menunggu kamu pulang seperti biasa," jawab Bizard, berusaha untuk tersenyum. Meskipun dalam hatinya, terus merasa kesepian.
"Terima kasih, Sayang. Oh iya, apa kamu sudah sarapan? Jangan sampai telat lho."
Kali ini Bizard tersenyum tulus mendapatkan pertanyaan seperti itu. Rasanya sudah lama sekali Joana tidak memberikan perhatian kecil pada dirinya, walau hanya sekedar tentang makan.
"Sudah, Sayang. Aku habis mengantar wanita yang waktu itu aku tabrak untuk kontrol, dan aku sekalian sarapan."
Di ujung sana Joana menautkan kedua alisnya.
"Baguslah. Jadi, aku tidak terlalu kepikiran. Kamu juga hati-hati ya, jangan sampai mudah dibodohi oleh orang," jelas Joana, menyindir sikap suaminya yang terlalu baik pada orang lain. Karena dia merasa tidak suka.
Mendengar itu, senyum di bibir Bizard sirna seketika. Dia melirik Bianca sesaat, kemudian menghembuskan nafas pelan. "Iya, Sayang."
"Ya sudah, aku tutup ya, Bee."
Suara Joana mulai terdengar ketus.
"Iya."
Jawaban singkat itu menutup panggilan mereka berdua. Bizard melepas earphone, dan gerakan itu membuat Bianca menoleh.
"Apakah itu istri anda, Tuan?" tanya Bianca, seperti biasa memulai percakapan antara dirinya dan Bizard, agar mereka lebih dekat.
Bee mengangguk kecil sambil tersenyum tipis. "Kamu benar, dia baru saja berangkat untuk pergi ke luar kota."
"Dia wanita karir yah?"
"Ya, dia seorang direktur utama," jawab Bee bangga.
Namun, alih-alih memuji Joana, Bianca malah berkata. "Hebat sekali Tuan bisa mengizinkan seorang istri untuk bekerja. Apa Tuan tidak merasa kesepian di saat dia pergi lama seperti itu?"
Pertanyaan Bianca benar-benar menohok, hingga membuat Bizard membeku seketika. Kalau boleh jujur, pria mana yang sanggup ditinggal-tinggal oleh istrinya? Pria mana yang mengizinkan istrinya bekerja, sementara dia masih sanggup betul memberikan kebutuhan lahir untuk rumah tangga mereka.
Sumpah demi apapun, dia sangat iri dengan biduk rumah tangga ketiga saudara kembarnya yang sudah lebih dulu menikah. Memiliki pasangan yang saling mengerti, juga anak yang mampu membuat mereka tersenyum bahagia, pelepas lelah setelah seharian bekerja.
Namun, karena tak ingin mengumbar aib antara dirinya dan Joana. Bizard lebih memilih untuk menggelengkan kepala.
"Kami sudah sepakat tentang masalah ini, jauh sebelum kami menikah. Jadi aku tidak akan keberatan," jawab pria itu dengan tersenyum penuh paksaan.
Bianca menggerakkan tangannya, kemudian mengusap bahu Bizard dengan lembut. "Wanita itu sangat beruntung, karena Tuan benar-benar suami idaman. Aku berharap kelak aku bisa memiliki suami seperti Tuan. Baik dan juga bertanggung jawab."
Bizard terdiam, Bianca adalah orang yang kesekian kalinya bicara seperti itu. Namun, sungguh dia malah merasa semakin tertekan dengan kesabarannya terhadap Joana. Karena sekalipun wanita itu tak dapat berubah.
Dia melirik ragu tangan Bianca yang masih bertengger di bahunya. Kemudian mengangkat wajah hingga tatapan mereka tak sengaja bertemu, Bizard langsung gelagapan dan mengalihkannya dengan membuang muka.
"Kami beruntung karena saling memiliki, Nona. Tidak ada yang paling unggul di antara kami," ucap Bizard akhirnya.
Membuat Bianca sadar, bahwa Bizard adalah tipe pria setia.
***
Like, komen, jangan lupa, baca terus ya, nanti tak kasih paham semuanya, pelan-pelan oke🤣 ndlosor terus kek uler, no sragal-srugul.
Kalo kalian ingat, ngothor pernah singgung nama Joana di part-nya Om Dokter, judulnya 'makan malam' ada yang masih inget?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 117 Episodes
Comments
Queen Mother
Belom bacaaa Thor
2023-09-22
0
Lyana Gunawan
setia klo kebutuhan biologis dll di penuhi, lah ini mah masih abu"
2023-04-22
0
nuna_jhs94
Pepet trs bia
2023-04-03
0