Seminggu kemudian.
Joana sudah tampak rapih dengan setelan kerjanya. Sebelum memasak dia menyiapkan terlebih dahulu pakaian suaminya, kemudian menaruhnya di ranjang. Sebab kini Bee sedang berada di dalam kamar mandi.
"Sayang, pakaianmu sudah ada di tempat biasa. Aku ke dapur yah, mau buat sarapan," teriak Joana.
"Iya, Sayang," sahut Bee.
Wanita cantik dengan tampilan yang selalu modis itu keluar dari kamar. Tidak ada asisten rumah tangga di sana, Joana melakukan semuanya serba sendiri, karena dia tidak ingin menghambur-hamburkan uang.
Lebih baik uang yang dia punya ditabung untuk masa depan, serta memenuhi gaya hidupnya. Sebab Joana termasuk kaum sosialita, yang tak bisa memakai barang-barang murah.
Joana hendak membuat omelette sayur, dia sudah mengambil bahan-bahan dari lemari pendingin, tetapi ponselnya malah berdering dengan nyaring.
Karena takut ada yang penting, Joana langsung menerima panggilan tersebut, yang ternyata dari sang sekretaris.
"Halo, Dylan, ada apa pagi-pagi sudah telepon?"
"Halo, Bu, maaf sebelumnya, saya ingin mengabarkan kalau kita ada pekerjaan ke luar kota secara mendadak. Ibu diminta segera datang," jelas Dylan apa adanya, setelah mendapat panggilan dadakan dari presdir tempatnya bekerja. Yang tak lain, dan tak bukan adalah ayah dari Joana sendiri.
"Kenapa mendadak sekali sih, Lan?"
"Saya juga tidak tahu, Bu, Asisten Tuan Evans yang menghubungi saya."
"Ya sudah kalau begitu, tunggu saya yah."
"Baik, Bu."
Kemudian panggilan itu pun terputus, niat untuk membuat sarapan gagal, karena Joana harus secepatnya datang ke perusahaan.
Joana kembali masuk ke dalam kamar, tetapi tepat pada saat itu, Bizard keluar sambil menggulung kemejanya sampai ke siku.
"Sayang, ada apa? Kenapa kamu terlihat tergesa-gesa?" tanya Bee, menatap Joana yang berlalu begitu saja melewati dirinya.
"Hari ini aku harus ke luar kota, Bee. Daddy memberikan pekerjaan secara mendadak. Maafkan aku yah, lebih baik kamu sarapan di kantor saja," jawab Joana dengan mimik wajah penuh rasa bersalah.
Bee menghela nafas, kemudian menganggukkan kepala.
"Ya sudah, ke mari biar aku bantu."
Pria itu kembali masuk ke dalam kamar, kemudian membantu istrinya untuk berkemas. Melihat itu, Joana tidak bisa untuk tidak tersenyum, karena Bizard selalu sabar untuk menghadapinya.
"I love you, Bee," ungkap Joana, kemudian mencium bibir Bee lebih dulu. Pria itu tampak tersenyum, menyambut bibir sang istri dengan ciuman lembut. Ada sedikit pertautan di sana, hingga Joana kembali menarik dirinya.
"I love you more, Joana."
***
Bizard sudah memiliki janji dengan Bianca, bahwa dia akan menemani wanita itu untuk kontrol. Semalam Bianca menghubunginya melalui pesan singkat, dan mengirim lokasi rumah kontrakan wanita itu.
Hingga kini kendaraan roda empat yang dikemudikan oleh Bee, sampai di sebuah rumah kecil yang berjajar dan memiliki tiga pintu.
Bizard : [Aku sudah di depan rumah yang kamu maksud.]
Di ujung sana, Bianca langsung tersenyum lebar, karena Bee benar-benar tidak lepas tanggung jawab. Dia pun bergegas untuk keluar sambil menyanggah kakinya dengan satu tongkat.
Hingga dari dalam mobil, Bee bisa melihat Bianca yang keluar dari pintu kedua. Wanita itu tampak kesulitan, membuat Bee tak bisa diam saja.
Dia keluar kemudian menghampiri wanita berambut pirang itu.
"Biar saya bantu," ucap Bee yang membuat Bianca terkejut. Dia berjengit, kemudian menoleh ke belakang.
Hingga dia bisa melihat wajah Bee yang terlihat begitu tampan.
Tak dipungkiri bahwa Bianca menyukai paras dan juga postur tubuh Bee, tapi sayang, tujuannya hanya untuk membalas dendam, bukan untuk mencintai pria bekas musuhnya.
"Terima kasih, Tuan," ucap Bianca.
Bee membantu untuk mengunci pintu, kemudian memapah wanita itu, dengan sengaja Bianca memeluk lengan Bee erat, memberikan sentuhan yang membuat seorang pria merasa nyaman.
Pria itu menarik pelan tangannya, karena ia tak ingin terlalu dekat dengan Bianca. Namun, jangan kira Bianca tidak tahu, dia sungguh merasa bahwa kini Bee tengah menghindari sentuhannya.
"Maafkan saya, Tuan, saya membuat anda tidak nyaman. Kaki saya memang masih terasa sakit untuk diajak berjalan."
Bee tahu Bianca merasa tersinggung.
"Ah, tidak. Aku hanya tidak ingin terjadi fitnah, karena saya sudah menikah," jelas Bee dengan gamblang.
Bianca tersenyum kikuk, "saya mengerti, kalau begitu biar saya jalan sendiri."
"Tapi—"
Belum sempat Bizard melanjutkan ucapannya, Bianca sudah melepaskan pegangan tangannya, kemudian berjalan ke arah mobil dengan susah payah.
Bee menghela nafas berat, kemudian menyusul wanita itu. Sebelum Bianca menggapai handle pintu, Bee lebih dulu membukanya.
Bianca menatap Bee dengan tersenyum manis.
"Terima kasih, Tuan. Anda benar-benar pria yang baik, istri anda sangat beruntung mendapatkan anda."
Pujian itu terdengar begitu indah di telinga pria berumur 27 tahun itu. Namun, apakah benar Joana beruntung memilikinya? Sedangkan di setiap keadaan, wanita itu seolah tak membutuhkan dirinya. Yang dipikirannya hanya kerja, kerja, dan kerja.
Joana, Joana, sepertinya suamimu tidak bahagia. Batin Bianca.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 117 Episodes
Comments
Cipika Cipiki
pelitnya udah keliatan di part atas, waktu beli makan ajah dia sendiri makan steak daging eh suaminya di kasih nasi goreng 😄
2024-05-31
3
LENY
JOANA KAYA TAPI PELIT AMPUN GAJI PEMBANTU AJA GAK MAU GELO BENER PERCUMA DIREKTUR. SMG BEE CEPAT SADAR. JOANA JG GAK COCOK KAYAKNYA SAMA KEL BEE YG BAIK2 SEMUA
2024-03-31
0
Mama david
ampyuunnn joana pelitnya kebangetan
2023-12-29
1