20. Tidak Terima Dengan Maharaja.

Disinilah aku bersimpuh di depan singgahsana raja, tetapi beliau belumlah hadir disini. Seperti kata Raden Rawikara tadi, jika raja memang tertarik yang menjawab dengan teka-tekinya sehingga mau menemuiku. Tapi menurutku ya pasti mau sih, ini kan lagi ada acara di istana, raja pasti memiliki waktu luang selain untuk bersantai.

Raja datang bersama seorang berbadan kekar, kutebak dia adalah jendral kerajaan, tidak lupa aku memberikan hormat padanya dan kembali duduk bersimpuh. Seperti sedang menjadi tersangka saja seperti ini.

Rahang tegas itu kembali membuatku menatap dua kali kearahnya, seperti saat pertama kali kami bertemu. Aura itu adalah aura penuh kewibawaan, meski usianya belumlah tua.

"Kau bisa menjawab teka-tekiku?"

"Mohon baginda untuk tidak menyebarkan dahulu jawabanya pada siapapun."

"Aku tidak menyangka yang datang kesini adalah seorang gadis, dan lebih tidak menyangka Kau akan mengucapkan kalimat itu tanpa ragu."

Satu hal yang aku syukuri adalah Raja tidak mengingatku, sebagai gadis yang mengucapkan kalimat tidak sopan waktu itu. Tapi kan saat itu aku juga tidak tahu jika dia adalah raja.

"Apa jawabannya? Jika kau berhasil menjawabnya, aku akan menghadiahimu banyak koin emas."

"Maaf baginda hamba tidak menginginkan koin emas. Hamba hanya ingin baginda tidak menyebarkan jawaban dari teka-teki itu pada siapapun."

"Mengapa kau sangat yakin jika jawabanmu itu benar?"

Mungkin selain Raden Rawikara, raja juga menjadi orang yang diidolakan banyak gadis. Sudah kukatakan siapapun pasti akan dibuat memandang dua kali ke arahnya. Tapi sikapnya itu yang tidak kusukai menganggap seorang wanita sebagai mawar beduri.

Kau hanya perlu memandangnya tanpa harus mengengamnya, karena semakin mengenggamnya justru luka semakin dalam yang akan kau rasakan.

"Karena hamba tidak bodoh. Hamba tahu yang Baginda maksud adalah wanita bukan?"

Dia mengangguk, bersama dengan seulas senyuman yang tidak kuketahui artinya.

"Tapi sajak Baginda itu salah."

"Dimana salahnya?"

"Apakah selamanya semua wanita akan menjadi mawar berduri? Hamba sebagai seorang wanita sangat tersinggung dengan sajak yang Baginda buat."

Jenderal yang tadi mengikuti Maharaja, menampilkan seringaian seperti ingin memakanku mentah-mentah. Mungkin karena kalimatku ini terlalu berani, tapi bodoamatlah aku kesal sekali dengan raja satu ini. Selalu wanita yang disalahkan padahal jelas sekali kasalahan itu terletak dimana.

"Aku juga dilahirkan dari rahim seorang wanita, aku membuat sajak itu bukan tanpa alasan."

"Lalu apa yang mendasari Baginda membuat sajak mengerikan itu? Apakah Baginda membenci seorang wanita? "

"Aku hanya ingin mengingatkan kepada semua orang untuk tidak jatuh cinta terlalu dalam dengan seorang wanita. Jangan harap bisa berpikir jernih jika itu sudah terjadi."

"Jadi nanti Baginda tidak akan jatuh cinta dengan istri Baginda?"

"Tidak! Aku hanya akan memberikan cintaku untuk tanah Kahuripan."

"Jika seperti itu tidak adil rasanya, istri Baginda memberikan cinta yang terlalu dalam tapi Baginda tidak membalasnya. Bukankah justru itu adalah cikal bakal dari mawar yang mulai mengeluarkan durinya?"

"Tapi pada dasarnya memang mawar itu berduri."

"Tapi tidak semua wanita disebut mawar berduri. Tidak ada wanita yang menginginkan jabatan tertinggi untuk disanjung, tidak ada Baginda!"

"Lalu mereka menginginkan apa?"

"Cinta, hanya cinta yang mereka inginkan."

Aku benci mengatakannya, cinta itu hanyalah omong kosong tapi kenyataannya semua wanita menginginkan cinta yang cukup untuk dirinya. Cinta itu menjadi alasan utama untuk bertahan, tanpa adanya cinta tentu suatu hubungan tidak akan terjalin dengan harmonis.

"Cinta itu hanyalah sebuah nafsu semata."

"Itulah perbedaannya, jika lelaki menginginkan jabatan, harta dan juga wanita maka seorang wanita hanya menginginkan satu yaitu cinta. Hanya itu Baginda... " Aku mengambil nafas sebelum melanjutkan kalimatku. "Lalu mengapa mawar itu bisa berduri? Duri itu ibarat ketidak senangan dalam hatinya, jika benci sudah tertanam maka kebencian itu yang akan membuatnya melukai orang lain yang ia benci."

"Tapi mawar berduri itu justru hanya berlaku untuk lelaki yang memiliki jabatan tinggi, seorang petani desa tidak mungkin memiliki istri seorang mawar berduri. Bukankah itu membuktikan bahwa wanita bukan haus cinta tetapi juga haus jabatan."

"Tidak Baginda, tetap masih sama seperti yang hamba katakan. Wanita yang memiliki suami seorang pejabat tinggi memiliki lebih banyak kebencian dihatinya, ketimbang istri seorang petani. Mereka yang memiliki jabatan tinggi tidak pernah puas hanya dengan satu wanita, karena memiliki banyak harta mereka bisa melakukan apapun. Dari situlah duri itu muncul, siapa yang tidak sakit jika suaminya tidak hanya memiliki satu istri bahkan sering pergi kerumah bordil?"

Itulah yang aku benci di zaman ini, orang yang memiliki jabatan tinggi kebanyakan memiliki lebih dari satu istri. Uang mereka banyak dan bebas melakukan apapun. Mereka tidak pernah membayangkan bagaimana sakitnya di duakan, ditigakan bahkan diempatkan.

Tidak adil rasanya jika kita hanya harus mencintai dan mengabdi untuk satu orang saja, tapi orang itu justru membagi cintanya dengan banyak wanita. Mengapa pihak wanita yang selalu dirugikan.

"Tapi itu seharusnya sudah menjadi resiko yang akan dia ambil, menikah dengan orang yang memiliki jabatan tinggi sudah seharusnya menyiapkan hati untuk diduakan."

"Dan dari kalimat Baginda ini semakin membuatku yakin, jika selain haus kekuasaan semua lelaki juga haus akan nafsu tanpa memikirkan orang lain yang sedikitpun."

Srett,

Jenderal di belakang raja mengeluarkan pedangnya, dan bersiap melangkah ke arahku. Tapi kegiatannya itu terhenti saat raja mengangkat kedua sebelah lengannya pertanda untuk jenderal itu tetap berada di posisinya.

Bukan maksudku untuk menyinggung raja, aku juga sudah berkata pada Raden Rawikara untuk tidak melewati batasanku tapi orang didepanku ini menguji terus kesabaranku.

Dan benar saja kan orang-orang di zaman ini mudah sekali mengunuskan pedang guna membunuh seseorang, aku padahal tidak menyakiti raja. Aku hanya mengemukakan pendapatku yang mungkin sedikit menyingunggunya tapi sudah dihadiahi sebailah pedang tajam.

"Mungkin hanya itu permintaan hamba dari menjawab teka-teki Baginda, yaitu jangan beritahu pada siapapun jawabannya."

"Mengapa Kau meminta seperti itu, bukankah satu kotak koin emas lebih berharga?"

"Hamba tidak haus harta Baginda, tolong berhenti manjatuhkan harga diri hamba."

"Lalu untuk apa Kau memintaku merahasiakan jawaban itu?"

"Nilai kaum wanita akan semakin rendah karena sajak mengerikan itu dibuat sendiri oleh orang nomor satu di negeri ini. Tidakkah Baginda memikirkan mereka para budak wanita akan semakin diinjak-injak, dan para gadis akan turun harga dirinya, jika semua lelaki berpikir hal yang sama seperti Baginda."

Dia memejamkan matanya sejenak, entah dia mendengarkan lalu sadar dengan kalimatku ini atau tidak. Yang pasti aku hanya tidak ingin jika sampai itu terjadi. Diskriminasi kaum wanita tidak boleh semakin menjadi-jadi.

"Apakah Kau membenciku, karena aku tidak berpikir terlalu panjang sebelum membuat sajak itu?"

Dia sudah sadar jika dia salah, tetapi dia tidak memberikanku hukuman. Dari nada bicaranya dia juga tidak seperti orang yang marah.

Syukurlah Maharaja ini bukanlah orang arogan yang mau menangnya sendiri, jika tidak pasti aku sudah dipenggal karena dianggap sudah menyinggungnya.

"Hamba tidak seberani itu untuk menaruh kebencian pada Baginda."

...════════ ❁ཻུ۪۪ ═══════...

...Dont forget to click the vote button!...

...════════ ❁ཻུ۪۪ ═══════...

Jika ada pertanyaan tuliskan saja di kolom komentar, terima kasih sudah mampir di cerita ini silahkan tunggu episode selanjutnya ^_^

And, see you.

Terpopuler

Comments

* bunda alin *

* bunda alin *

keren 👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻

2022-09-22

0

OKEY

OKEY

Saya sdh baca kak yg bab ini. Kalo gak salah sdh bc smp Maheswari haid tp dikira keguguran.

2022-08-04

1

lihat semua
Episodes
1 01. Laki-laki Tidak Setia.
2 02. Transmigrasi ke Masa Kerajaan.
3 03. Maheswari.
4 04. Bagai Pinang di Belah Dua.
5 05. Siapa Dia?
6 06. Zaman Raja Airlangga.
7 07. Tidak Berharap Terpilih.
8 08. Lelaki Tidak Bertanggung Jawab.
9 09. Jangan Harap Bisa Menindas.
10 10. Perhatian Aneh.
11 11. Bukan Orang Bodoh.
12 12. Kesalahan Paham.
13 13. Dimana-mana Ada Orang Jahat.
14 14. Mulai Peduli.
15 15. Bertambah Buruk.
16 16. Ratu Drama.
17 17. Orang Itu Adalah Raja.
18 18. Permaisuri?
19 19. Teka-teki Raja.
20 20. Tidak Terima Dengan Maharaja.
21 21. Emansipasi.
22 22. Tidak Bisa Kalah.
23 23. Kurang Peka.
24 24. Apakah Itu Sebuah Kenyataan?
25 25. Jangan Berulah Lagi!
26 26. Cerdas.
27 27. Niat Jahat.
28 28. Jangan Ikut Campur.
29 29. Kesepakatan.
30 30. Keras Kepala.
31 31. Keberanian.
32 32. Luas Biasa.
33 33. Jangan Membayakan Dirimu!
34 34. Misi Berhasil.
35 35. Tidak Ada Yang Tahu Jalan Hidup Seseorang.
36 36. Kejaten.
37 37. Menemukan sosok yang tepat.
38 38. Sedikit Heran.
39 39. Sakit Hati.
40 40. Lekang.
41 41. Salah Paham.
42 42. Tukang Drama.
43 43. Kesayangan.
44 44. Surat Panggilan.
45 45. Bertemu Maharaja.
46 46. Belajar.
47 47. Sekali Dayung Dua Pulau Terlampaui.
48 48. Bentuk Perthatian.
49 49. Pembalasan.
50 50. Kasta Itu Penting.
51 51. Wanita Pilihan Raja.
52 52. Adalah Kau.
53 53. Wanita.
54 54. Aku Akan Melindungimu.
55 55. Pemandangan Indah.
56 56. Arti Kebahagiaan.
57 57. Luka Yang Terlalu Dalam.
58 58. Tidak Ada.
59 59. Sejati.
60 60. Siapa Yang Berani Mengusik Milikku, Akan Mati!
61 61. Ketulusan Maharaja.
62 62. Pahlawan.
63 63. Menerima Takdir.
64 64. Wacana.
65 65. Keputusan Yang Berat.
66 66. Apakah Aku Bisa?
67 67. Berita Besar.
68 68. Ternyata Aku Mencintaimu.
69 69. Aku Tahu Hatiku Untuk Siapa.
70 70. Aku Yakin.
71 71. Sore Hari Yang Indah.
72 72. Lebih Cepat Lebih Baik.
73 73. Pernikahan Impian.
Episodes

Updated 73 Episodes

1
01. Laki-laki Tidak Setia.
2
02. Transmigrasi ke Masa Kerajaan.
3
03. Maheswari.
4
04. Bagai Pinang di Belah Dua.
5
05. Siapa Dia?
6
06. Zaman Raja Airlangga.
7
07. Tidak Berharap Terpilih.
8
08. Lelaki Tidak Bertanggung Jawab.
9
09. Jangan Harap Bisa Menindas.
10
10. Perhatian Aneh.
11
11. Bukan Orang Bodoh.
12
12. Kesalahan Paham.
13
13. Dimana-mana Ada Orang Jahat.
14
14. Mulai Peduli.
15
15. Bertambah Buruk.
16
16. Ratu Drama.
17
17. Orang Itu Adalah Raja.
18
18. Permaisuri?
19
19. Teka-teki Raja.
20
20. Tidak Terima Dengan Maharaja.
21
21. Emansipasi.
22
22. Tidak Bisa Kalah.
23
23. Kurang Peka.
24
24. Apakah Itu Sebuah Kenyataan?
25
25. Jangan Berulah Lagi!
26
26. Cerdas.
27
27. Niat Jahat.
28
28. Jangan Ikut Campur.
29
29. Kesepakatan.
30
30. Keras Kepala.
31
31. Keberanian.
32
32. Luas Biasa.
33
33. Jangan Membayakan Dirimu!
34
34. Misi Berhasil.
35
35. Tidak Ada Yang Tahu Jalan Hidup Seseorang.
36
36. Kejaten.
37
37. Menemukan sosok yang tepat.
38
38. Sedikit Heran.
39
39. Sakit Hati.
40
40. Lekang.
41
41. Salah Paham.
42
42. Tukang Drama.
43
43. Kesayangan.
44
44. Surat Panggilan.
45
45. Bertemu Maharaja.
46
46. Belajar.
47
47. Sekali Dayung Dua Pulau Terlampaui.
48
48. Bentuk Perthatian.
49
49. Pembalasan.
50
50. Kasta Itu Penting.
51
51. Wanita Pilihan Raja.
52
52. Adalah Kau.
53
53. Wanita.
54
54. Aku Akan Melindungimu.
55
55. Pemandangan Indah.
56
56. Arti Kebahagiaan.
57
57. Luka Yang Terlalu Dalam.
58
58. Tidak Ada.
59
59. Sejati.
60
60. Siapa Yang Berani Mengusik Milikku, Akan Mati!
61
61. Ketulusan Maharaja.
62
62. Pahlawan.
63
63. Menerima Takdir.
64
64. Wacana.
65
65. Keputusan Yang Berat.
66
66. Apakah Aku Bisa?
67
67. Berita Besar.
68
68. Ternyata Aku Mencintaimu.
69
69. Aku Tahu Hatiku Untuk Siapa.
70
70. Aku Yakin.
71
71. Sore Hari Yang Indah.
72
72. Lebih Cepat Lebih Baik.
73
73. Pernikahan Impian.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!